
Jo tiba di apartemen Marcella, Jo langsung masuk kedalam karena telah mengetahui kata sandi apartemen Marcella. Jo langsung memeluk Marcella yang hanya memakai handuk karena baru saja mandi.
“Ah lepaskan aku.” Kata Marcella.
“Aku minta maaf sayang.” Kata Jo.
“Kenapa kamu harus membawa istrimu? Dia benar-benar membuatku kesal saja.” Kata Marcella lalu melepaskan pelukan Jo.
“Aku janji akan menuruti semua keinginanmu sayang. Waw kamu habis mandi ya? Tubuhmu sangat wangi dan sangat indah untuk dipandang.” Kata Jo.
“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu saat ini.” Kata Marcella.
“Kamu mau pergi memangnya? Mau kemana memangnya?” Tanya Jo.
“Ada yang harus aku urus dan itu bukan urusanmu.” Kata Marcella.
“Padahal aku ingin menginap disini, aku butuh asupan energi darimu sayang.” Kata Jo sambil mencium punggung indah Marcella.
“Ah ah ah lepaskan aku, kamu sangat tidak sabaran ya. Memangnya istrimu tidak bisa memuaskanmu?” Tanya Marcella.
“Tentu saja berbeda denganmu sayang.” Kata Jo.
“Bukankah milikku dan milik istrimu sama saja?” Tanya Marcella.
“Milikmu jauh lebih menggoda, beri aku energi dulu sebelum kamu pergi, ayolah sayang.” Rayu Jo.
“Astaga, tapi aku baru saja mandi. Kita bertemu nanti malam saja, aku buru-buru sayang.” Kata Marcella.
“Hmmmm baiklah kalau begitu, jangan lupa ya nanti malam.” Kata Jo.
“Harusnya aku yang bilang seperti itu, justru kamu yang sering berbohong kepadaku.” Kata Marcella.
“Hehehe maafkan aku sayang.” Kata Jo.
“Cepat pergilah, aku harus ganti baju lalu pergi.” Kata Marcella.
“Baiklah, sampai jumpa nanti malam.” Kata Jo.
**
Dirumah Jo.
Alin sangat kesal dengan suaminya, dia bahkan membanting semua barang-barang yang ada dirumahnya.
“Hei apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu membanting barang-barang pemberianku, kamu pikir semua barang ini tidak dibeli dengan uang, kamu bisanya hanya membuang uangku saja. Kalau tidak karena orang tua kita, aku tidak akan menikahimu.” Bentak Jo.
“Berani sekali kamu mengatakan hal itu kepadaku mas, bahkan keluargaku saat itu membantu keluargamu sekarang tega sekali kamu mengatakan ini kepadaku.” Kata Alin.
“Apa yang sebenarnya kamu rencanakan dengan Marcella? Atau ada hubungan apa kamu dengan Marcella? Bahkan anak-anak jauh lebih membela wanita itu daripada aku ibunya.” Kata Alin.
“Jangan bicara sembarangan tentang dia, harusnya kamu sadar diri selama ini apa yang telah kamu perbuat sehingga anakmu lebih membela orang lain daripada ibunya sendiri.” Kata Jo.
“Aku minta kita pisah mas, aku tidak mau menjadi korban atas ulahmu.” Kata Alin.
“Korban? Korban apa? Jangan menyalahkan diriku ya, bukankah kamu sendiri yang ingin menghabisi nyawa Ayu saat itu, aku hanya sebagai saksi mata dan aku tidak ikut melakukan aksi.” Kata Jo.
“Dasar laki-laki kurang ajar, aku minta pisah mas dan anak-anak harus ikut denganku.” Kata Alin.
“Apa? Anak-anak? Memangnya mereka mau ikut denganmu?” Tanya Jo.
“Tentu saja karena aku ibunya.” Kata Alin.
“Kita lihat saja nanti.” Kata Jo.
Kemudian Alin langsung menghampiri kamar Celine.
“Celine, cepat kemasi semua barangmu.” Kata Alin.
“Memangnya kenapa? Ada apa?” Tanya Celine.
“Kita harus segera pergi dari sini sayang, kita tidak tinggal lagi dengan papa kamu, papa kamu memiliki wanita lain, dia selingkuh sayang. Mama akan pisah dengan papa kamu, mama akan membawamu dan kakakmu pergi.” Kata Celine.
“Lalu aku harus ikut dengan seorang pembunuh? Sama saja nyawaku terancam.” Kata Celine.
“Berani sekali kamu mengatakan hal itu pada mama kamu?” Tanya Alin.
“Sampai kapanpun, aku dan kak Rafa akan tinggal dirumah ini, dirumah papa. Kalau mama mau pergi, silahkan.” Kata Celine.
“Berani sekali kamu ya, aku ibumu.” Bentak Alin.
“Selama ini hanya papa yang selalu ada untukku, mama selalu sibuk dengan urusan mama. Bahkan kamu bukanlah ibu kandungku.” Kata Celine.
“Hah? Apa yang kamu katakan? Siapapun yang mengatakan hal itu padamu, itu tidaklah benar sayang.” Kata Alin.
“Mama tidak pernah melahirkan, papa menikahi mama setelah aku lahir dan kakakku saat itu tinggal di luar negeri.” Kata Celine.
“Meskipun kamu bukanlah anak kandungku, tapi mama selalu menyayangimu sayang sama seperti anak kandung mama sendiri.” Kata Alin.
“Cukup, silahkan keluar dari kamarku.” Kata Celine.
“Celine Celine dengarkan penjelasan mama nak.” Kata Alin.
“Tidak perlu.” Kata Celine.