Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 29



Hari itu Abel


dan Laura pergi ke bandara. Setibanya di bandara.


“Kamu kenapa?


Pasti kamu merindukan papa kamu ya?” Tanya Abel.


“Aku hanya


berpikir apakah aku bisa tinggal disana dengan baik? Apakah aku bisa


beradaptasi dengan baik disana?” Tanya Laura.


“Kamu pasti


bisa, kamu punya aku, aku akan melakukan yang terbaik.” Kata Abel meyakinkan Laura.


“Setelah


tinggal disana, apakah kamu akan menikahi Jackson?” Tanya Laura.


“Kenapa kamu


bisa berpikir sejauh itu?” Tanya Abel.


“Sepertinya


dia sangat menyukaimu, dia bahkan melakukan banyak hal untukmu.” Kata Laura.


“Aku tidak


semudah itu membuka hati setelah semua luka yang aku lalui.” Kata Abel.


“Kamu berhak


hidup bahagia bersama seseorang yang mencintaimu dengan tulus.” Kata Laura.


“Benarkah?


Apakah kamu sudah mengucapkan salam perpisahan kepada Ken?” Tanya Abel.


“Dia hanya


temanku.” Kata Laura.


“Hei kamu kira


aku tidak tau, aku juga pernah muda. Sepertinya dia sangat menyukaimu,


bagaimana denganmu?” Tanya Abel.


“Aku hanya


menganggapnya sebagai teman.” Kata Laura.


“Benarkah?


Coba lihat ke belakang, dia melihatmu. Temui dia sebentar.” Kata Abel. Kemudian


Laura menemui Ken.


“Apa kamu


benar-benar akan pergi?” Tanya Ken.


“Tentu saja.”


Kata Laura.


“Coba lihat


ini, papa kamu sudah bebas.” Kata Ken sambil menunjukkan foto Jio yang tengah


makan di sebuah restoran.


“Papa.” Kata Laura.


“Apakah papa


kamu tau bahwa kamu akan pergi ke luar negeri?” Tanya Ken.


“Dia bahkan


tidak peduli denganku, aku ingin bebas darinya.” Kata Laura, kemudian dia


segera pergi menghampiri Abel.


“Ayo kita


cepat pergi.” Ajak Laura.


“Tapi kita


belum saatnya check in.” Kata Abel.


“Kita bisa


menunggu didalam.” Kata Laura.


“Ah baiklah,


tunggu sebentar aku mau menelfon Jackson dulu.” Kata Abel.


“Papa sudah


bebas, aku tidak ingin papa menemukanku.” Kata Laura.


“Apa?


Bagaimana bisa dia bebas secepat itu?” Tanya Abel.


“Kita harus


meninggalkan bandara secepatnya, papa pasti dengan mudah menemukan kita.” Kata Laura.


“Jangan


“Tunggu


sebentar, Jackson menelfonku.” Kata Abel. Abel pun menerima telfon dari


Jackson.


“Hallo, kamu


dimana? Jio sudah bebas, kita harus pergi sekarang juga.” Kata Abel.


“Hallo istriku


sayang.” Kata Jio.


“Jio, apa yang


kamu lakukan? Dimana Jackson? Cepat katakan padaku dimana Jackson?” Tanya Abel.


“Kamu bisa


memilih salah satu sayang, kamu bisa menyelamatkan Jackson namun serahkan Laura


kepadaku. Dengan begitu kita bisa hidup dengan damai sayang hahahaha.” Kata Jio.


“Tidak akan,


aku tidak akan membiarkan Laura tinggal denganmu.” Kata Abel.


“Baiklah kalau


begitu, ucapkan selamat tinggal kepada Jackson.” Kata Jio.


“Jangan berani


melakukan apapun kepada Jackson. Aku bahkan bisa melakukan hal yang bisa


membahayakan kepada kedua anakmu. Kedua anakmu ada di tanganku saat ini.” Ancam


Abel.


“Kurang ajar,


kamu berani mengancamku ya.” Kata Jio.


“Karena kamu


juga memanfaatkan kelemahanku untuk mengancamku. Jackson bahkan bukanlah


tandinganmu.” Kata Abel.


“Jadi kamu


mengancamku ya.” Kata Jio.


“Cepatlah


pergi bersama Laura, aku akan menghampirimu kesana, tunggulah aku disana. Cepat


pergi dan jangan khawatirkan aku.” Teriak Jackson.


“Jackson


Jackson kamu baik-baik saja kan?” Tanya Abel, namun panggilan tersebut


dimatikan.


“Aku harus


secepatnya pergi dengan Laura.” Kata Abel dalam hati.


“Laura-a.”


Panggil Abel.


“Iya ma,


bagaimana? Jackson dimana sekarang?” Tanya Laura.


“Dia akan


menyuruh kita untuk pergi terlebih dahulu, ayo kita pergi sekarang.” Kata Abel.


“Apakah


Jackson dalam bahaya?” Tanya Laura.


“Dia baik-baik


saja kok, ayo kita pergi sekarang.” Kata Abel.


“Kita harus


menyelamatkan dia dulu, dia pasti sedang bersama papaku kan?” Tanya Laura.


“Dia menyuruh


kita untuk pergi terlebih dahulu.” Kata Abel.


“Lalu kamu


percaya begitu saja? Apakah kamu tidak khawatir dengannya? Papaku bisa


melakukan apa saja ma.” Kata Laura.


“Jangan


khawatir, Jackson bukan tandingan Jio, dia punya banyak orang yang bisa


membantunya. Kita harus pergi sekarang juga.” Kata Abel sambil menarik tangan Laura.


Akhirnya Abel


dan Laura memutuskan untuk pergi ke luar negeri terlebih dahulu.