
Hari itu Abel
dan Laura pergi ke bandara. Setibanya di bandara.
“Kamu kenapa?
Pasti kamu merindukan papa kamu ya?” Tanya Abel.
“Aku hanya
berpikir apakah aku bisa tinggal disana dengan baik? Apakah aku bisa
beradaptasi dengan baik disana?” Tanya Laura.
“Kamu pasti
bisa, kamu punya aku, aku akan melakukan yang terbaik.” Kata Abel meyakinkan Laura.
“Setelah
tinggal disana, apakah kamu akan menikahi Jackson?” Tanya Laura.
“Kenapa kamu
bisa berpikir sejauh itu?” Tanya Abel.
“Sepertinya
dia sangat menyukaimu, dia bahkan melakukan banyak hal untukmu.” Kata Laura.
“Aku tidak
semudah itu membuka hati setelah semua luka yang aku lalui.” Kata Abel.
“Kamu berhak
hidup bahagia bersama seseorang yang mencintaimu dengan tulus.” Kata Laura.
“Benarkah?
Apakah kamu sudah mengucapkan salam perpisahan kepada Ken?” Tanya Abel.
“Dia hanya
temanku.” Kata Laura.
“Hei kamu kira
aku tidak tau, aku juga pernah muda. Sepertinya dia sangat menyukaimu,
bagaimana denganmu?” Tanya Abel.
“Aku hanya
menganggapnya sebagai teman.” Kata Laura.
“Benarkah?
Coba lihat ke belakang, dia melihatmu. Temui dia sebentar.” Kata Abel. Kemudian
Laura menemui Ken.
“Apa kamu
benar-benar akan pergi?” Tanya Ken.
“Tentu saja.”
Kata Laura.
“Coba lihat
ini, papa kamu sudah bebas.” Kata Ken sambil menunjukkan foto Jio yang tengah
makan di sebuah restoran.
“Papa.” Kata Laura.
“Apakah papa
kamu tau bahwa kamu akan pergi ke luar negeri?” Tanya Ken.
“Dia bahkan
tidak peduli denganku, aku ingin bebas darinya.” Kata Laura, kemudian dia
segera pergi menghampiri Abel.
“Ayo kita
cepat pergi.” Ajak Laura.
“Tapi kita
belum saatnya check in.” Kata Abel.
“Kita bisa
menunggu didalam.” Kata Laura.
“Ah baiklah,
tunggu sebentar aku mau menelfon Jackson dulu.” Kata Abel.
“Papa sudah
bebas, aku tidak ingin papa menemukanku.” Kata Laura.
“Apa?
Bagaimana bisa dia bebas secepat itu?” Tanya Abel.
“Kita harus
meninggalkan bandara secepatnya, papa pasti dengan mudah menemukan kita.” Kata Laura.
“Jangan
“Tunggu
sebentar, Jackson menelfonku.” Kata Abel. Abel pun menerima telfon dari
Jackson.
“Hallo, kamu
dimana? Jio sudah bebas, kita harus pergi sekarang juga.” Kata Abel.
“Hallo istriku
sayang.” Kata Jio.
“Jio, apa yang
kamu lakukan? Dimana Jackson? Cepat katakan padaku dimana Jackson?” Tanya Abel.
“Kamu bisa
memilih salah satu sayang, kamu bisa menyelamatkan Jackson namun serahkan Laura
kepadaku. Dengan begitu kita bisa hidup dengan damai sayang hahahaha.” Kata Jio.
“Tidak akan,
aku tidak akan membiarkan Laura tinggal denganmu.” Kata Abel.
“Baiklah kalau
begitu, ucapkan selamat tinggal kepada Jackson.” Kata Jio.
“Jangan berani
melakukan apapun kepada Jackson. Aku bahkan bisa melakukan hal yang bisa
membahayakan kepada kedua anakmu. Kedua anakmu ada di tanganku saat ini.” Ancam
Abel.
“Kurang ajar,
kamu berani mengancamku ya.” Kata Jio.
“Karena kamu
juga memanfaatkan kelemahanku untuk mengancamku. Jackson bahkan bukanlah
tandinganmu.” Kata Abel.
“Jadi kamu
mengancamku ya.” Kata Jio.
“Cepatlah
pergi bersama Laura, aku akan menghampirimu kesana, tunggulah aku disana. Cepat
pergi dan jangan khawatirkan aku.” Teriak Jackson.
“Jackson
Jackson kamu baik-baik saja kan?” Tanya Abel, namun panggilan tersebut
dimatikan.
“Aku harus
secepatnya pergi dengan Laura.” Kata Abel dalam hati.
“Laura-a.”
Panggil Abel.
“Iya ma,
bagaimana? Jackson dimana sekarang?” Tanya Laura.
“Dia akan
menyuruh kita untuk pergi terlebih dahulu, ayo kita pergi sekarang.” Kata Abel.
“Apakah
Jackson dalam bahaya?” Tanya Laura.
“Dia baik-baik
saja kok, ayo kita pergi sekarang.” Kata Abel.
“Kita harus
menyelamatkan dia dulu, dia pasti sedang bersama papaku kan?” Tanya Laura.
“Dia menyuruh
kita untuk pergi terlebih dahulu.” Kata Abel.
“Lalu kamu
percaya begitu saja? Apakah kamu tidak khawatir dengannya? Papaku bisa
melakukan apa saja ma.” Kata Laura.
“Jangan
khawatir, Jackson bukan tandingan Jio, dia punya banyak orang yang bisa
membantunya. Kita harus pergi sekarang juga.” Kata Abel sambil menarik tangan Laura.
Akhirnya Abel
dan Laura memutuskan untuk pergi ke luar negeri terlebih dahulu.