
Adele menghampiri Laura.
“Laura, keluarlah cepat.” Kata Adele.
“Kamu? Sedang apa kamu disini? Aku dan papaku akan pergi dan tidak ada urusan lagi denganmu.” Kata Laura.
“Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, ayo cepat ikutlah aku sekarang juga.” Kata Adele.
“Aku tidak mempercayaimu.” Kata Laura.
“Ibu kandungmu masih hidup.” Kata Adele.
“Apa? Jangan membohongiku, memangnya kamu siapa? Kamu tau apa tentangku dan keluargaku.” Kata Laura.
“Dia menunggumu dan sangat ingin bertemu denganmu. Selama ini papa kamu telah menyembunyikan ibu kandungmu.” Kata Adele.
“Tidak, tidak mungkin.” Kata Laura sambil berteriak.
“Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu. Memangnya kamu tidak ingin bertemu dengan ibu kandungmu?” Tanya Adele.
“Jika memang benar ibuku masih hidup kenapa dia tega melakukan itu padaku? Kenapa dia selama ini bersembunyi dan tidak menemuiku? Aku sangat membencinya. Aku hanya mengenal Lily dan Abel sebagai ibuku dan aku tidak peduli dia masih hidup atau tidak.” Kata Laura.
“Mungkin ini saat terakhir dia bertemu denganmu.” Kata Adele.
“Dimana dia sekarang?” Tanya Laura.
“Cepat ikut aku.” Kata Adele.
Akhirnya Laura ikut pergi bersama Adele. Adele membawa Laura pergi ke bandara. Jackson dan Abel memang menyuruh Laura dan Adele pergi kembali ke Korea dan tinggal bersama. Sebelumnya Adele mendatangi Abel dan Jackson untuk meminta bantuan agar bisa bertemu dan tinggal bersama Laura. Akhirnya Abel membantu Adele, selain itu Abel memberikan yayasan rumah sakit dan sekolah atas nama Adele karena dia lebih berhak, namun Adele menyerahkannya atas nama putrinya yaitu Laura karena dia merasa bahwa dirinya sangat terancam oleh Jio.
**
Setibanya di bandara.
“Kenapa pergi ke bandara? Kamu membohongiku kan?” Tanya Laura.
“Tidak, sama sekali tidak. Kita akan pergi ke Korea dan bertemu dengan ibumu. Dia menantimu dan sangat menyayangimu.” Kata Adele sambil menggandeng tangan Laura.
“Lepaskan aku, aku bahkan tidak mengenalmu. Bagaimana aku bisa percaya denganmu.” Kata Laura.
Tiba-tiba Adele melihat ada Jio dari kejauhan, Adele pun memeluk Laura. Seketika Laura terkena peluru pistol.
“Akulah ibumu, maafkan aku.” Kata Adele lalu dia pingsan.
“Apa maksudmu? Kamu kenapa? Darah? Arghhhhhh tolong bantu aku, tolong selamatkan dia.” Teriak Laura.
Adele pun segera dibawa ke rumah sakit.
“Siapa yang berani menembak dia? Apa yang dia katakan tadi ya? Dia bicara tidak jelas, aku hanya mendengar maafkan aku, dia bicara apa sebenarnya. Semoga dia baik-baik saja, karena dia tau dimana keberadaan ibuku yang sebenarnya.” Kata Laura.
“Pasien harus segera di operasi.” Kata dokter.
“Baiklah, lakukan yang terbaik untuknya.” Kata Laura.
“Baik, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien.” Kata dokter.
**
Adele telah dipindahkan ke ruang inap, tidak lama kemudian datanglah Abel dan Jackson.
“Laura, bagaimana keadaannya?” Tanya Abel.
“Untuk apa kamu datang kesini? Pasti kamu kan yang melakukannya? Pergi, aku sangat kesal denganmu dan tidak ingin melihatmu lagi. Disaat dia ingin mengajakku bertemu dengan ibu kandungku, kamu menghalanginya.” Kata Laura sambil mendorong Abel.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Jackson kepada Abel.
“Tidak apa-apa.” Kata Abel.
“Apa yang dikatakan Adele kepadamu?” Tanya Jackson kepada Laura.
“Dia bilang akan mengajakku bertemu dengan ibu kandungku dan tinggal bersamanya.” Kata Laura.
“Jadi kamu tidak tau siapa ibu kandungmu?” Tanya Jackson.
“Tidak, saat dia tertembak dia bilang maafkan aku. Setelah itu dia pingsan.” Kata Laura.
“Dialah.” Kata Abel.
“Jangan katakan yang sebenarnya, biarlah Adele sendiri yang mengatakan kepada Laura, bukankah itu keinginan dia saat itu.” Bisik Jackson kepada Abel.
“Aku yakin ini pasti ulah Jio dan sekretaris Kim.” Bisik Abel.
“Lebih baik kalian berdua pergi, aku tidak ingin melihat kalian.” Kata Laura.
“Aku akan menunggu sampai Adele sadar kembali.” Kata Abel.
“Apa? Aku tidak percaya denganmu, bisa saja kamu akan membuatnya semakin parah.” Kata Laura.
“Kamu benar-benar tidak ada sopan santun sama sekali dengan ibumu ya, dia sangat khawatir denganmu dan bahkan menganggapmu seperti anak sendiri. Tapi kamu malah seperti itu.” Kata Jackson sangat kesal dengan Laura.
“Apa? Ibu? Dia hanya orang asing bagiku. Dia hanya ingin membuat keluargaku hancur, baguslah jika kamu menikahinya. Aku yakin keluargamu juga akan hancur karena dia.” Kata Laura.
“Jaga ucapanmu.” Bentak Jackson.
“Kenapa tidak sekalian menamparku?” Tantang Laura.
“Sudah mas jangan seperti padanya.” Kata Abel.