
Keesokan harinya, Yudi mendaftarkan kedua anaknya sekolak di sekolah yang sama dengan Celine anak kedua majikannya.
“Kalian mulai besok sudah bisa bersekolah lagi di sekolah keinginanmu.” Kata Yudi kepada anaknya.
“Terima kasih banyak ya pak. Aku senang sekali rasanya.” Kata Yanti.
“Terima kasih pak, kita pulang sekarang yuk pak. Aku khawatir dengan ibu.” Kata Yanto.
“Aku harus membantu pekerjaan ibu.” Kata Yanti.
“Ayo kita pulang sekarang.” Kata Yudi.
Setibanya dirumah.
“Ibu.” Kata Yanti sambil memeluk ibunya.
“Wah sepertinya kamu sedang bahagia ya.” Kata Ayu.
“Tentu saja karena aku besok bisa sekolah lagi.” Kata Yanti.
“Besok kamu pergi ke sekolahnya naik apa?” Tanya Ayu.
“Tadi aku membeli sepeda motor bekas sayang agar bisa dipakai anak-anak pergi ke sekolah.” Kata Yudi.
“Pakai uang apa mas?” Tanya Ayu.
“Aku ada sedikit tabungan sayang.” Kata Yudi.
“Tabungan apa mas?” Tanya Ayu.
“Sudahlah jangan khawatir, aku kembali ke pos dulu ya.” Kata Yudi.
“Ah baiklah.” Kata Ayu.
“Bu. aku bisa bantu apa?” Tanya Yanto.
“Sekarang kalian kembali ke kamar saja ya dan belajarlah untuk besok. Tapi ibu yakin kalian tidak akan ketinggalan pelajaran karena kalian kan anak ibu yang sangat pintar.” Kata Ayu.
“Tidak apa-apa kok bu, aku bisa bantu apa?” Tanya Yanto.
“Sudahlah, kalian kan pasti capek jadi istirahatlah saja. Ibu sedang memasak makanan enak, nanti ibu akan menyisakan untuk kita sekeluarga ya.” Kata Ayu.
“Yeeeee terima kasih bu.” Kata Yanti.
“Yanti pasti lelah kan, istirahatlah dikamar.” Kata Ayu.
“Baik bu.” Kata Yanti.
**
Pagi itu, Alin marah besar karena cincin rubi miliknya tidak ada ditempat. Akhirnya dia menuduh semua art nya.
Semua art pun berkumpul mulai dari Tika, Yudi, Ayu dan supir pribadi mereka yaitu Agus.
“Bukan saya nyonya, saya saja tidak tau bentuk cincin milik nyonya. Lagipula saya juga tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam kamar nyonya kan.” Kata Ayu.
“Bisa saja saat tidak ada orang dirumah lalu kamu masuk kamarku dan mengambil cincinku.” Kata Alin.
“Bagaimana jika kita cek saja di kamar mereka.” Kata Jo.
“Ada apa ma?” Tanya Rafa anak pertama Jo dan Alin.
“Cincin rubi milik mama hilang dan pasti ada yang mengambilnya.” Kata Alin.
“Lalu mama menuduh art?” Tanya Rafa.
“Tentu saja, siapa lagi yang mengambil cincin mama kalau bukan para art. Bisa saja salah satu dari mereka yang mengambilnya kan.” Kata Alin.
“Hmmmm ada-ada saja keributan di pagi hari. Aku berangkat sekolah dulu ma.” Kata Rafa.
“Iya sayang, sama celine juga kan?” Tanya Alin.
“Tentu saja.” Kata Rafa.
“Baiklah, cepat pergilah ke sekolah nanti terlambat loh.” Kata Alin.
Setelah itu Alin dan Jo masuk kedalam kamar Ayu dan Yudi dan ternyata tidak ada dikamarnya.
“Tidak ada nyonya, saya tidak mengambilnya.” Kata Ayu.
“Kalau begitu sekarang kita cek ke kamar anakmu.” Kata Jo.
“Apa? Jadi tuan dan nyonya menuduh anak saya? Anak saya tidak tau apa-apa tuan.” Kata Ayu.
“Mereka selalu didalam kamarnya.” Kata Yudi.
“Kita buktikan setelah kita geledah kamar anakmu.” Kata Jo.
Akhirnya mereka menuju ke kamar Yanti Yanto dan tetap tidak ditemukan cincin tersebut.
“Lalu dimana cincin milikku? Cepat katakan dimana cincinku?” Tanya Alin kepada Ayu sambil mencekik Ayu.
“Maaf saya tidak tau nyonya.” Kata Ayu.
“Nyonya tolong lepaskan istri saya, wajahnya saja masih sakit akibat tumpahan kopi kemarin.” Kata Yudi, akhirnya Alin melepaskan Ayu.
“Kenapa nyonya dan tuan tidak melihat cctv saja?” Tanya Tika.
“Aku sudah mengeceknya dan tidak ada pasti pelaku sudah menghapus video rekaman cctv.” Kata Alin.
“Kenapa nyonya dan tuan tidak mengecek Tika dan Agus?” Tanya Yudi.
“Mereka tidak mungkin melakukannya.” Kata Jo.
“Lalu kenapa tuan dan nyonya hanya menuduh saya dan istri saya?” Tanya Yudi.
“Silahkan cek kamar saya juga tuan nyonya.” Kata Tika.
“Ok baiklah aku akan mengecek kamar kalian juga.” Kata Alin.