
Abel dan Laura
berada didalam pesawat, namun Abek sangat cemas dengan keadaan Jackson.
“Ma.” Panggil Laura.
“Iya ada apa?”
Tanya Abel.
“Mama khawatir
dengan keadaan Jackson Ahjushi ya?” Tanya Laura. (Ahjushi merupakan panggilan
untuk paman).
“Iya aku
sangat khawatir dengannya.” Kata Abel.
“Jangan
khawatir, dia baik-baik saja kok. Cepat matikan ponsel milik mama.” Kata Laura.
“Baiklah.”
Kata Abel, karena lelah Abel pun ketiduran. Kemudian Laura pergi ke belakang
dan disana dia bertemu dengan salah satu pramugari.
“Ini untukmu,
setibanya di bandara segera pergi menuju ke alamat ini.” Bisik pramugari.
“Tempat apa
ini?” Tanya Laura.
“Tempat milik
tuan Jackson.” Kata pramugari.
“Kenapa dia
memberi alamat yang berbeda dengan alamat yang dia berikan kepada ibuku?” Tanya
Laura.
“Tuan Jackson
bilang bahwa tempat itu lebih aman untuk kalian berdua.” Kata pramugari.
“Kenapa kamu
dengan mudah memberikan alamat ini kepadaku? Apakah kamu sangat mempercayaiku?”
Tanya Laura.
“Semua
keputusan ada di tanganmu, kamu bisa pergi ke alamat tersebut, kamu juga bisa
pergi ke alamat yang diketahui oleh nyonya Abel.” Kata pramugari, lalu
pramugari tersebut pergi meninggalkan Laura.
“Apa yang
sebenarnya direncanakan oleh Ahjushi? Apa jangan-jangan alamat yang diketahui
oleh mama juga diketahui oleh papa? Ahhhhh aku bingung harus memihak siapa, aku
memang sangat membenci papa dan muak melihatnya namun dia adalah satu-satunya
seseorang yang sedarah denganku, sedangkan Abel hanyalah ibu tiriku namun dia
begitu mempercayai dan melindungiku dari papa. Haruskah aku pergi ke alamat
ini? Sepertinya aku harus memihak Abel, lebih baik aku pergi ke alamat yang
dari pramugari tadi saja.” Kata Laura dalam hati.
**
Setibanya di
bandara. Abel dan Laura segera naik taksi menuju alamat yang diberikan oleh
pramugari.
“Pak, tolong
ke alamat ini.” Kata Laura kepada supir taksi.
“Loh kenapa ke
alamat itu? Bukankah kita harus ke alamat yang diberikan oleh Ahjushi.” Tanya
Abel.
“Tidak, kita
harus ke alamat itu saja karena lebih aman. Ahjushi memberikan alamat itu
kepadaku melalui pramugari di pesawat tadi.” Kata Laura.
“Apa? Kenapa?
Kenapa dia memberikan alamat itu melalui kamu? Kenapa bukan kepadaku langsung?”
Tanya Abel bingung.
“Sudahlah
lebih baik kita secepatnya kesana.” Kata Laura.
“Baiklah, ayo
pak kita jalan sekarang.” Kata Abel.
Di tengah
perjalanan, taksi mereka sedang di ikuti oleh mobil yang mencurigakan.
yakin pramugari tadi adalah orang suruhan Jackson?” Tanya Abel.
“Tentu saja.”
Kata Laura.
“Apakah kamu
punya foto pramugari tadi?” Tanya Abel.
“Tunggu, tadi aku
sempat mengambil fotonya diam-diam. Ini foto pramugari tadi.” Kata Laura
menunjukkan foto kepada Abel.
“Wanita
ini sepertinya aku pernah melihatnya. Ah benar aku pernah melihat wanita ini di
kantor Jio. Laura-a sepertinya pramugari tadi adalah orang suruhan papa kamu.”
Kata Abel.
“Lalu
bagaimana ini?” Tanya Laura.
“Mobil
dibelakang sepertinya sedang mengikuti kita. Pak tolong lebih cepat sedikit.”
Kata Abel.
“Ma
lebih baik kita turun saja, aku curiga supir taksi ini juga orang suruhan
papa.” Bisik Laura.
“Bagaimana
caranya kita berhenti? Pasti dia tidak akan berhenti.” Kata Abel sangat panik.
“Aku
ada ide, aku akan berpura-pura sakit lalu minta dia menurunkan ke rumah sakit.”
Kata Laura.
“Baiklah.”
Kata Abel.
“Aaaaah
aduh kepalaku sakit ma ah ah ah.” Rintih Laura sambil berpura-pura kesakitan.
“Laura-a
ada apa denganmu? Apa yang sakit?” Tanya Abel.
“Aku
tidak kuat ma, sakit sekali kepalaku.” Kata Laura.
“Bisakah
kita pergi ke rumah sakit pak, cepat tolong bawa ke rumah sakit. Anak saya
sedang kesakitan.” Kata Abel.
“Rumah
sakit sangat jauh dari sini nyonya.” Kata supir taksi.
“Kalau
begitu tolong antarkan ke apotek saja ya, saya mohon anak saya sedang
kesakitan.” Kata Abel.
“Hmmmm
baiklah.” Kata supir taksi.
“Sayang
bertahanlah.” Kata Abel.
Setibanya
di depan apotek.
“Bawa
saja tas mu dan tinggalkan kopernya.” Bisik Abel.
“Tapi
koperku berisi tas dan baju branded ma. Hmmmm baiklah padahal semua barangku
limited edition, nanti kamu harus membelikanku.” Kata Laura.
“Aku
akan membelikanmu. Ayo cepat kita keluar.” Bisik Abel.
“Kalian
berdua tidak sedang berpura-pura sakit untuk mencoba kabur kan?” Tanya supir
taksi.
“Laura-a
ayo kita cepat lari dari sini.” Kata Abel.
Akhirnya
Abel dan Laura berlari secepatnya, sedangkan supir taksi tersebut mengejarnya.