Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 30



Abel dan Laura


berada didalam pesawat, namun Abek sangat cemas dengan keadaan Jackson.


“Ma.” Panggil Laura.


“Iya ada apa?”


Tanya Abel.


“Mama khawatir


dengan keadaan Jackson Ahjushi ya?” Tanya Laura. (Ahjushi merupakan panggilan


untuk paman).


“Iya aku


sangat khawatir dengannya.” Kata Abel.


“Jangan


khawatir, dia baik-baik saja kok. Cepat matikan ponsel milik mama.” Kata Laura.


“Baiklah.”


Kata Abel, karena lelah Abel pun ketiduran. Kemudian Laura pergi ke belakang


dan disana dia bertemu dengan salah satu pramugari.


“Ini untukmu,


setibanya di bandara segera pergi menuju ke alamat ini.” Bisik pramugari.


“Tempat apa


ini?” Tanya Laura.


“Tempat milik


tuan Jackson.” Kata pramugari.


“Kenapa dia


memberi alamat yang berbeda dengan alamat yang dia berikan kepada ibuku?” Tanya


Laura.


“Tuan Jackson


bilang bahwa tempat itu lebih aman untuk kalian berdua.” Kata pramugari.


“Kenapa kamu


dengan mudah memberikan alamat ini kepadaku? Apakah kamu sangat mempercayaiku?”


Tanya Laura.


“Semua


keputusan ada di tanganmu, kamu bisa pergi ke alamat tersebut, kamu juga bisa


pergi ke alamat yang diketahui oleh nyonya Abel.” Kata pramugari, lalu


pramugari tersebut pergi meninggalkan Laura.


“Apa yang


sebenarnya direncanakan oleh Ahjushi? Apa jangan-jangan alamat yang diketahui


oleh mama juga diketahui oleh papa? Ahhhhh aku bingung harus memihak siapa, aku


memang sangat membenci papa dan muak melihatnya namun dia adalah satu-satunya


seseorang yang sedarah denganku, sedangkan Abel hanyalah ibu tiriku namun dia


begitu mempercayai dan melindungiku dari papa. Haruskah aku pergi ke alamat


ini? Sepertinya aku harus memihak Abel, lebih baik aku pergi ke alamat yang


dari pramugari tadi saja.” Kata Laura dalam hati.


**


Setibanya di


bandara. Abel dan Laura segera naik taksi menuju alamat yang diberikan oleh


pramugari.


“Pak, tolong


ke alamat ini.” Kata Laura kepada supir taksi.


“Loh kenapa ke


alamat itu? Bukankah kita harus ke alamat yang diberikan oleh Ahjushi.” Tanya


Abel.


“Tidak, kita


harus ke alamat itu saja karena lebih aman. Ahjushi memberikan alamat itu


kepadaku melalui pramugari di pesawat tadi.” Kata Laura.


“Apa? Kenapa?


Kenapa dia memberikan alamat itu melalui kamu? Kenapa bukan kepadaku langsung?”


Tanya Abel bingung.


“Sudahlah


lebih baik kita secepatnya kesana.” Kata Laura.


“Baiklah, ayo


pak kita jalan sekarang.” Kata Abel.


Di tengah


perjalanan, taksi mereka sedang di ikuti oleh mobil yang mencurigakan.


yakin pramugari tadi adalah orang suruhan Jackson?” Tanya Abel.


“Tentu saja.”


Kata Laura.


“Apakah kamu


punya foto pramugari tadi?” Tanya Abel.


“Tunggu, tadi aku


sempat mengambil fotonya diam-diam. Ini foto pramugari tadi.” Kata Laura


menunjukkan foto kepada Abel.


“Wanita


ini sepertinya aku pernah melihatnya. Ah benar aku pernah melihat wanita ini di


kantor Jio. Laura-a sepertinya pramugari tadi adalah orang suruhan papa kamu.”


Kata Abel.


“Lalu


bagaimana ini?” Tanya Laura.


“Mobil


dibelakang sepertinya sedang mengikuti kita. Pak tolong lebih cepat sedikit.”


Kata Abel.


“Ma


lebih baik kita turun saja, aku curiga supir taksi ini juga orang suruhan


papa.” Bisik Laura.


“Bagaimana


caranya kita berhenti? Pasti dia tidak akan berhenti.” Kata Abel sangat panik.


“Aku


ada ide, aku akan berpura-pura sakit lalu minta dia menurunkan ke rumah sakit.”


Kata Laura.


“Baiklah.”


Kata Abel.


“Aaaaah


aduh kepalaku sakit ma ah ah ah.” Rintih Laura sambil berpura-pura kesakitan.


“Laura-a


ada apa denganmu? Apa yang sakit?” Tanya Abel.


“Aku


tidak kuat ma, sakit sekali kepalaku.” Kata Laura.


“Bisakah


kita pergi ke rumah sakit pak, cepat tolong bawa ke rumah sakit. Anak saya


sedang kesakitan.” Kata Abel.


“Rumah


sakit sangat jauh dari sini nyonya.” Kata supir taksi.


“Kalau


begitu tolong antarkan ke apotek saja ya, saya mohon anak saya sedang


kesakitan.” Kata Abel.


“Hmmmm


baiklah.” Kata supir taksi.


“Sayang


bertahanlah.” Kata Abel.


Setibanya


di depan apotek.


“Bawa


saja tas mu dan tinggalkan kopernya.” Bisik Abel.


“Tapi


koperku berisi tas dan baju branded ma. Hmmmm baiklah padahal semua barangku


limited edition, nanti kamu harus membelikanku.” Kata Laura.


“Aku


akan membelikanmu. Ayo cepat kita keluar.” Bisik Abel.


“Kalian


berdua tidak sedang berpura-pura sakit untuk mencoba kabur kan?” Tanya supir


taksi.


“Laura-a


ayo kita cepat lari dari sini.” Kata Abel.


Akhirnya


Abel dan Laura berlari secepatnya, sedangkan supir taksi tersebut mengejarnya.