
Hari itu
Abel berangkat ke luar negeri untuk menghampiri Celo, dia ditemani oleh
Jackson.
“Seharusnya
kamu tidak perlu menemaniku, cukup antarkan aku sampai bandara saja.” Kata
Abel.
“Tidak
apa-apa, aku khawatir denganmu.” Kata Jackson.
“Aku
pergi dulu ke toilet ya.” Kata Abel.
“Baiklah,
aku tunggu disini.” Kata Jackson.
Saat Abel
menuju ke toilet, Jackson khawatir dengan Abel akhirnya dia mengikutinya
diam-diam. Tidak lama kemudian Abel kembali ke Jackson.
“Ayo kita
berangkat, sudah saatnya check in.” Kata Jackson.
“Baiklah,
tunggu aku akan mengambil tiket dan pasporku.” Kata Abel. Saat Abel mengambil
paspor miliknya ternyata tidak ada didalam tas begitu juga dengan tiketnya.
“Loh
kenapa tiket dan paspor milikku tidak ada, aku ingat sekali tadi aku menaruhnya
didalam tas.” Kata Abel bingung dan panik.
“Apa
jangan-jangan ada di tas kamu yang lain atau tertinggal dirumah?” Tanya
Jackson.
“Tidak
mungkin, tunggu dulu. Tadi aku saat di toilet tidak sengaja menabrak seseorang,
apa mungkin tas milikku tertukar?” Tanya Abel.
“Aku
yakin pasti Jio menghalangimu untuk bertemu dengan Celo, pasti dia mengirim
seseorang untuk mengambil tiket dan paspor milikmu.” Kata Jackson.
“Mana
mungkin ini ulah Jio, dia bahkan ada didalam penjara.” Kata Abel.
“Jio
punya banyak orang kepercayaan yang bisa dia jadikan bawahannya. Tenanglah dan
jangan khawatir, aku akan segera mengurus paspor dan tiketmu secepatnya.” Kata
Jackson.
“Terima
kasih banyak.” Kata Abel.
“Sekarang
aku antar kamu kembali pulang ya.” Kata Jackson.
Kemudian
Jackson mengantar Abel kembali pulang.
**
Setibanya
Abel dirumah.
“Jangan
cemas, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu. Sekarang masuklah
lalu istirahatlah.” Kata Jackson.
“Terima kasih
banyak.” Kata Abel.
Kemudian Abel
masuk kedalam rumah. Abel mendengar Laura sedang menelfon seseorang, karena
penasaran akhirnya Abel diam-diam mendengarkan perbincangan Laura.
“Aku baik-baik
saja, aku sudah mengurusnya dengan baik jadi dia tidak bisa pergi.” Kata Laura.
Seketika Abel
langsung curiga bahwa Laura yang mengambil paspor dan tiket pesawatnya.
“Laura-a.”
Panggil Abel.
“Mama.” Kata Laura
sangat kaget.
menelfon siapa?” Tanya Abel.
“Kenapa kamu
masih disini? Bukankah kamu sedang pergi mengunjungi Celo?” Tanya Laura.
“Tiba-tiba
paspor dan tiketku hilang entah dimana, sepertinya ada yang sengaja
mengambilnya.” Kata Abel.
“Lalu kamu
menuduhku mengambil paspor dan tiket milikmu? Lagipula untuk apa aku
mengambilnya?” Tanya Laura.
“Aku tidak
ingin menuduhmu tapi mendengar pembicaraanmu barusan membuatku curiga
terhadapmu.” Kata Abel.
“Aku sedang
menelfon temanku, haruskah aku memberitahumu dengan siapa aku menelfon? Memang
benar kata orang bahwa kamu mengambil hak asuhku demi menguasai semua harta
milik papaku, akulah yang lebih berhak atas semua itu, kamu hanyalah orang
asing.” Kata Laura.
“Aku berusaha
untuk menyayangi dan menerimamu sebagai anakku tapi apakah ini balasanmu
kepadaku?” Tanya Abel.
“Aku muak
melihatmu dan aku jijik melihatmu bertingkah seolah ibuku.” Kata Laura, lalu
dia pergi ke kamarnya.
“Astaga kenapa
dia seperti itu, ini semua pasti karena pengaruh Jio. Aku harus menemuinya agar
menjauhi Laura.” Kata Abel dalam hati.
Keesokan
harinya, Abel menemui Jio.
“Istriku
semakin cantik ya padahal suaminya sedang tersiksa seperti ini. Sepertinya kamu
sangat bahagia.” Kata Jio.
“Apa yang kamu
katakan kepada Laura?” Tanya Abel.
“Seburuk
apapun kelakuan ayahnya tetap saja seorang anak masih membutuhkan sosok seorang
ayah. Kamu pasti menuduhku kenapa sikap Laura kepadamu menjadid berubah kan?
Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya membuat pikiran dia terbuka dan berpikir
bagaimana seharusnya bersikap. Sekeras apapun usahamu untuk memisahkanku dengan
Laura, tetap saja dia pasti akan kembali kepadaku karena hanya aku yang dia
miliki.” Kata Jio.
“Kamu telah
mencuci otak Laura menjadi buruk dan kasar. Aku tidak tega melihat dia memiliki
sikap sepertimu, itulah kenapa aku sebisa mungkin menjauhkanmu darinya.” Kata
Abel.
“Memangnya
kamu siapa? Meskipun kamu telah mengambil hak asuh Laura, tetap saja dia tidak
bisa melakukan apapun tanpa bantuan dan arahanku.” Kata Jio.
“Aku tau apa
yang terbaik untuk Laura dan Celo dan pilihan serta keputusanku jauh lebih baik
dibandingkanmu.” Kata Abel.
“Mana mungkin
anak seorang pembunuh bisa yakin akan mendidik anaknya dengan baik?” Tanya Jio
yang membuat Abel kaget dan panik.
“Apa
maksudmu?” Tanya Abel.
“Jangan
berpura-pura bodoh, bukankah ayahmu adalah seorang pembunuh dan memiliki banyak
wanita? Kamu anak dari wanita selingkuhan ayahmu kan? Pantas saja keluarga
ayahmu sulit menerimamu.” Kata Jio.
“Tutup mulutmu
dan jangan bicara sembarangan.” Kata Abel. Kemudian Abel segera pergi meninggalkan
Jio dengan sangat kesal.