Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 25



Hari itu


Abel berangkat ke luar negeri untuk menghampiri Celo, dia ditemani oleh


Jackson.


“Seharusnya


kamu tidak perlu menemaniku, cukup antarkan aku sampai bandara saja.” Kata


Abel.


“Tidak


apa-apa, aku khawatir denganmu.” Kata Jackson.


“Aku


pergi dulu ke toilet ya.” Kata Abel.


“Baiklah,


aku tunggu disini.” Kata Jackson.


Saat Abel


menuju ke toilet, Jackson khawatir dengan Abel akhirnya dia mengikutinya


diam-diam. Tidak lama kemudian Abel kembali ke Jackson.


“Ayo kita


berangkat, sudah saatnya check in.” Kata Jackson.


“Baiklah,


tunggu aku akan mengambil tiket dan pasporku.” Kata Abel. Saat Abel mengambil


paspor miliknya ternyata tidak ada didalam tas begitu juga dengan tiketnya.


“Loh


kenapa tiket dan paspor milikku tidak ada, aku ingat sekali tadi aku menaruhnya


didalam tas.” Kata Abel bingung dan panik.


“Apa


jangan-jangan ada di tas kamu yang lain atau tertinggal dirumah?” Tanya


Jackson.


“Tidak


mungkin, tunggu dulu. Tadi aku saat di toilet tidak sengaja menabrak seseorang,


apa mungkin tas milikku tertukar?” Tanya Abel.


“Aku


yakin pasti Jio menghalangimu untuk bertemu dengan Celo, pasti dia mengirim


seseorang untuk mengambil tiket dan paspor milikmu.” Kata Jackson.


“Mana


mungkin ini ulah Jio, dia bahkan ada didalam penjara.” Kata Abel.


“Jio


punya banyak orang kepercayaan yang bisa dia jadikan bawahannya. Tenanglah dan


jangan khawatir, aku akan segera mengurus paspor dan tiketmu secepatnya.” Kata


Jackson.


“Terima


kasih banyak.” Kata Abel.


“Sekarang


aku antar kamu kembali pulang ya.” Kata Jackson.


Kemudian


Jackson mengantar Abel kembali pulang.


**


Setibanya


Abel dirumah.


“Jangan


cemas, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu. Sekarang masuklah


lalu istirahatlah.” Kata Jackson.


“Terima kasih


banyak.” Kata Abel.


Kemudian Abel


masuk kedalam rumah. Abel mendengar Laura sedang menelfon seseorang, karena


penasaran akhirnya Abel diam-diam mendengarkan perbincangan Laura.


“Aku baik-baik


saja, aku sudah mengurusnya dengan baik jadi dia tidak bisa pergi.” Kata Laura.


Seketika Abel


langsung curiga bahwa Laura yang mengambil paspor dan tiket pesawatnya.


“Laura-a.”


Panggil Abel.


“Mama.” Kata Laura


sangat kaget.


menelfon siapa?” Tanya Abel.


“Kenapa kamu


masih disini? Bukankah kamu sedang pergi mengunjungi Celo?” Tanya Laura.


“Tiba-tiba


paspor dan tiketku hilang entah dimana, sepertinya ada yang sengaja


mengambilnya.” Kata Abel.


“Lalu kamu


menuduhku mengambil paspor dan tiket milikmu? Lagipula untuk apa aku


mengambilnya?” Tanya Laura.


“Aku tidak


ingin menuduhmu tapi mendengar pembicaraanmu barusan membuatku curiga


terhadapmu.” Kata Abel.


“Aku sedang


menelfon temanku, haruskah aku memberitahumu dengan siapa aku menelfon? Memang


benar kata orang bahwa kamu mengambil hak asuhku demi menguasai semua harta


milik papaku, akulah yang lebih berhak atas semua itu, kamu hanyalah orang


asing.” Kata Laura.


“Aku berusaha


untuk menyayangi dan menerimamu sebagai anakku tapi apakah ini balasanmu


kepadaku?” Tanya Abel.


“Aku muak


melihatmu dan aku jijik melihatmu bertingkah seolah ibuku.” Kata Laura, lalu


dia pergi ke kamarnya.


“Astaga kenapa


dia seperti itu, ini semua pasti karena pengaruh Jio. Aku harus menemuinya agar


menjauhi Laura.” Kata Abel dalam hati.


Keesokan


harinya, Abel menemui Jio.


“Istriku


semakin cantik ya padahal suaminya sedang tersiksa seperti ini. Sepertinya kamu


sangat bahagia.” Kata Jio.


“Apa yang kamu


katakan kepada Laura?” Tanya Abel.


“Seburuk


apapun kelakuan ayahnya tetap saja seorang anak masih membutuhkan sosok seorang


ayah. Kamu pasti menuduhku kenapa sikap Laura kepadamu menjadid berubah kan?


Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya membuat pikiran dia terbuka dan berpikir


bagaimana seharusnya bersikap. Sekeras apapun usahamu untuk memisahkanku dengan


Laura, tetap saja dia pasti akan kembali kepadaku karena hanya aku yang dia


miliki.” Kata Jio.


“Kamu telah


mencuci otak Laura menjadi buruk dan kasar. Aku tidak tega melihat dia memiliki


sikap sepertimu, itulah kenapa aku sebisa mungkin menjauhkanmu darinya.” Kata


Abel.


“Memangnya


kamu siapa? Meskipun kamu telah mengambil hak asuh Laura, tetap saja dia tidak


bisa melakukan apapun tanpa bantuan dan arahanku.” Kata Jio.


“Aku tau apa


yang terbaik untuk Laura dan Celo dan pilihan serta keputusanku jauh lebih baik


dibandingkanmu.” Kata Abel.


“Mana mungkin


anak seorang pembunuh bisa yakin akan mendidik anaknya dengan baik?” Tanya Jio


yang membuat Abel kaget dan panik.


“Apa


maksudmu?” Tanya Abel.


“Jangan


berpura-pura bodoh, bukankah ayahmu adalah seorang pembunuh dan memiliki banyak


wanita? Kamu anak dari wanita selingkuhan ayahmu kan? Pantas saja keluarga


ayahmu sulit menerimamu.” Kata Jio.


“Tutup mulutmu


dan jangan bicara sembarangan.” Kata Abel. Kemudian Abel segera pergi meninggalkan


Jio dengan sangat kesal.