Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 42



Keesokan harinya. Adele sedang menyiapkan makanan.


“Kamu bangun sepagi ini? Kamu mau pergi kemana memangnya?” Tanya Abel.


“Aku mau mengantarkan Laura pergi ke sekolah kelas vokal.” Kata Adele.


“Bukankah Laura tidak menginginkannya kembali sekolah ditempat tersebut.” Kata Abel.


“Jadi kamu tidak tau apa keinginan Laura saat ini? Dia masih ingin bernyanyi sampai saat ini dan aku berhasil mendaftarkan di sekolah vokal yang dia inginkan.” Kata Adele.


“Kemarin aku mendaftarkan Laura tapi ditolak karena pengaruh Jio.” Kata Abel.


“Lalu kamu hanya diam saja tanpa melakukan apapun? Jangan khawatir, serahkan urusan Laura kepadaku.” Kata Adele.


“Tapi aku juga ibunya.” Kata Abel.


“Selama ini aku tidak pernah bertemu dengan Laura dan wajar jika saat ini urusan Laura aku yang mengurusnya, aku mohon percayakan semua urusan Laura kepadaku. Kenapa kamu tidak pergi berlibur bersama suamimu dan biarkan Laura aku yang mengurusnya.” Kata Adele.


“Bagaimana jika kalian berdua juga ikut?” Tanya Abel.


“Dengan senang hati.” Kata Adele.


**


Abel menemui Lily.


“Ada apa tiba-tiba menemuiku? Hari ini aku akan kembali ke Korea, aku sudah cukup lega melihat Laura.” Kata Lily.


“Apakah kamu pernah bertemu dengan Adele ibu kandung Laura?” Tanya Abel.


“Pernah, aku dengar jika dia dulunya pernah bekerja dirumah tuan Park lalu jatuh cinta dengan Jio. Apakah kamu merasa Jio menyembunyikan Adele? Dia wanita licik jadi kamu harus berhati-hati dengannya.” Kata Lily.


“Bagaimana kamu tau jika Adele wanita licik?” Tanya Abel.


“Aku sempat menyelidiki dia saat itu karena setelah aku menikah dengan Jio, dia menghilang begitu saja dan setauku dia telah menerima banyak uang dari tuan Park. Tuan Park tidak memberinya namun Adele lah yang mengancam akan memcemarkan nama baik keluarga tuan Park sehingga Adele memeras tuan Park. Tapi setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya dan keluarga tuan Park bilang bahwa saat itu Adele telah meninggal. Banyak hal tak terduga dan rahasia dalam keluarga tuan Park. Tapi aku pernah mengikuti Jio pergi ke luar negri dan disana dia bertemu dengan seorang wanita di sebuah hotel, aku juga sempat mengambil foto wanita itu. Aku dengar Adele melakukan operasi plastik agar tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Tapi dari foto ini jelas sangat berbeda dari foto Adele saat masih bekerja di rumah tuan Park dulu. Makanya aku sangat yakin bahwa Adele melakukan operasi plastik dan dia masih hidup, bisa saja dia saat ini sedang bersama Jio.” Kata Lily sambil menunjukkan foto Adele.


“Apa lagi yang kamu ketahui tentang Adele? Jika memang dia masih hidup kenapa dia tidak menemui anaknya selama ini dan dengan mudahnya dia menyerahkan Laura kepada Jio dan keluarganya bahkan kamu yang merawatnya.” Kata Abel.


“Aku yakin Adele melakukan semua itu demi menguasai semua harta keluarga tuan Park termasuk semua aset JK Group. Dia bukan wanita biasa dan sangat licik.” Kata Lily.



“Adele dan Jio sama-sama licik.” Kata Abel.


“Oh iya bagaimana kabar Celo? Dia ada dimana sekarang?” Tanya Lily.


“Dia tinggal bersama Jio, aku ingin mengambilnya namun tidak semudah itu.” Kata Abel.


“Kasihan sekali jika Celo tinggal bersama Jio dan pengasuhnya saja.” Kata Lily.


“Bagaimana jika kamu menemuinya? Pasti Celo sangat senang bertemu denganmu.” Kata Abel.


“Apakah mungkin Jio memberiku ijin bertemu dengan Celo?” Tanya Lily.


“Ancam saja kalau perlu. Aku bisa membantumu jika mau.” Kata Abel.


“Jangan, lebih baik hiduplah dengan tenang bersama suamimu dan juga Laura.” Kata Lily.


“Baiklah kalau begitu, kabari aku jika kamu membutuhkan bantuanku.” Kata Abel.


**


“Bukankah kemarin mama bilang padaku jika papa telah memblacklist namaku dari sekolah ini.” Kata Laura.



“Kamu tidak di blacklist hanya saja jika yang mendaftarkanmu adalah Abel maka sekolah ini tidak menerimamu dan jika yang mendaftarkanmu adalah aku, kamu pasti akan diterima putriku sayang. Tapi aku bilang pada mereka jika itu semua adalah rencana Jio dengan begitu Abel tidak akan menuduhku. Ayo kita masuk.” Kata Adele.


“Aku tidak keberatan jika aku tidak sekolah disini.” Kata Laura.


“Hanya aku yang berhak memutuskan kamu mau sekolah disini atau tidak, kamu adalah hidupku dan kamu adalah cerminanku putriku sayang.” Bisik Adele sambil menarik rambut Laura.


“Lepaskan, rambutku jadi berantakan dan kusut.” Kata Laura.


“Sebaiknya kamu minta mobil baru dari Abel, dia kan saat ini menjadi istri konglomerat jadi pasti memiliki uang yang sangat banyak. Kamu adalah putrinya, jangan mau diberi mobil bekas dia. Oh iya aku juga butuh ponsel baru, jadi mintalah kepada Abel untuk membelikan kita berdua ponsel baru dan sama. Mengerti?” Kata Adele.


“Minta saja sendiri padanya.” Kata Laura.


“Dia tidak semudah itu memberikan padaku, jika melalui kamu pasti dia akan setuju.” Kata Adele.


“Itu bukan urusanku, lagipula Abel sangat baik jadi cobalah minta darinya dengan baik-baik.” Kata Laura lalu dia pergi masuk ke kelasnya.


“Semangat belajarnya ya sayang.” Teriak Adele. Setelah itu dia kembali pulang ke rumah, namun dia tidak sengaja menabrak salah satu siswa sehingga membuat Adele terjatuh.


“Hei kamu sengaja ya menabrakku? Dasar menyebalkan.” Kata Adele sambil menjambak rambut siswa tersebut.


“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Kata siswa tersebut.


“Sepertinya kamu orang miskin, aku akan memberitahu gurumu kalau kamu berperilaku buruk di sekolah ini.” Kata Adele.


“Jangan, maafkan aku, aku tidak sengaja.” Kata siswa tersebut.


“Kalau begitu berlututlah dan meminta maaflah kepadaku dengan benar.” Kata Adele.


“Apa? Apakah harus sampai seperti itu.” Kata siswa tersebut.


Tiba-tiba Abel datang.


“Masuklah, sepertinya kelas akan segera dimulai.” Kata Abel kepada siswa tersebut.


“Kenapa kamu membiarkannya begitu saja? Dia sangat tidak sopan dan harus diberi pelajaran.” Kata Adele.


“Dia kan tidak sengaja dan sudah meminta maaf dengan baik. Tidak seharusnya kamu memperlakukan dia seperti itu kepadanya.” Kata Abel.


“Kamu sedang apa disini?” Tanya Adele.


“Aku ingin menemui guru kelasnya Laura.” Kata Abel.


“Urusan sekolah Laura biarlah aku yang mengurusnya.” Kata Adele.


“Memangnya aku tidak boleh ikut campur? Aku juga wali sahnya Laura loh dan sekaligus ibunya, pihak sekolah pasti membutuhkan walinya dan tidak peduli itu ibu kandungnya atau bukan. Permisi.” Kata Abel.


“Sial, lihat saja nanti.” Kata Adele dalam hati.