Truth and Revenge

Truth and Revenge
Episode 2 (From Visual to Devil)



Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Mereka pun diam-diam pergi meninggalkan desa itu dan pergi ke kota. Mereka berjalan menuju terminal bus. Namun karena tiba di terminal pukul 4 pagi dan bus belum beroperasi, akhirnya mereka tertidur di terminal.


“Bu aku lelah sekali.” Kata Yanti.


“Tidurlah di pangkuan ibu nak.” Kata Ayu.


“Pakailah jaketku.” Kata Yanto sambil memberikan jaketnya untuk adiknya. Yanto memang sangat menyayangi adiknya, begitu sebaliknya. Karena ibu bapaknya selalu sibuk bekerja sehingga Yanto yang sering bersama adiknya.


“Terima kasih kak.” Kata Yanti.


“Bapak akan mencari makanan untuk kalian, tunggulah disini ya.” Kata Yudi.


“Aku akan ikut bapak saja.” Kata Yanto.


“Jangan, jaga ibu dan adikmu saja disini ya.” Kata Yudi.


“Baiklah pak, bapak hati-hati ya dan jangan terlalu lama.” Kata Yanto. Akhirnya Yanto memilih untuk tetap ditempat untuk menjaga adik dan ibunya.


“Kita mau kemana sih bu?” Tanya Yanto.


“Merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak dibandingkan di desa.” Kata Ayu.


“Bagaimana dengan sekolahku dan Yanti bu?” Tanya Yanto.


“Nanti setelah bapak mendapatkan pekerjaan, ibu janji akan menyekolahkan kalian lagi. Ibu memiliki beberapa perhiasan pemberian nenekmu dulu. Ibu akan menjualnya jika kondisi kita mendesak tapi jangan bilang kepada bapakmu ya.” Kata Ayu.


“Simpan saja bu, aku dan bapak bisa mencari pekerjaan bersama kok nanti.” Kaa Yanto.


“Tidak, bekerja adalah tugas bapak dan ibu. Untuk sementara kamu bisa belajar sendiri ya, kamu dan adikmu kan pintar jadi ibu yakin kalian tidak akan ketinggalan pelajaran. Kalian pintar kan karena menurun dari ibu.” Kata Ayu.


“Baiklah bu, yang penting kita sekeluarga harus selalu bersama ya bu. Aku tidak keberatan tinggal dimana saja asalkan bersama ibu dan bapak.” Kata Yanto.


“Terima kasih anakku, ibu dan bapak janji akan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya demi kalian. Ingat selalu pesan ibu, kalian harus sekolah dan menjadi orang yang sukses dan pintar lalu hasilkan uang yang banyak.” Kata Ayu.


“Pasti bu, ibu tidurlah sambil menunggu bapak datang.” Kata Yanto.


“Tidak, ibu bisa manahan kantuk kok. Kamu cepat tidurlah, bersandarlah pada ibu.” Kata Ayu. Akhirnya Yanto tertidur sambil bersandar di bahu ibunya.


Tidak lama kemudian Yudi datang membawa makan dan minum untuk istri dan kedua anaknya.


“Sayang aku membawa makanan dan minuman.” Kata Yudi sangat semangat.


“Nasi bungkus lagi?” Tanya Ayu kecewa.


“Nanti setelah aku mendapatkan banyak uang, aku akan membelikan makanan untukmu dan anak- anak kita.” Kata Yudi.


“Biar anak-anak saja yang memakannya, aku bisa menahan lapar kok yang penting anak-anak dulu yang makan.” Kata Ayu.


“Sementara kita hemat dulu ya, bagaimana kalau kita makan satu bungkus untuk berdua?” Tanya Yudi.


“Baiklah.” Kata Ayu.


“Aku akan menyuapimu sayang, aku tidak ingin anak-anak bangun.” Kata Yudi.


Akhirnya Yudi pun memakan makannnya sekaligus menyuapi istrinya.


“Nanti tujuan kita kemana mas? Kita kan tidak ada tujuan.” Kata Ayu.


“Aku akan menemui temanku, dia bekerja sebagai satpam keluarga kaya raya. Dia bilang ada lowongan juga, nanti aku akan meminta bantuan kepadanya.” Kata Yudi.


“Temanmu bisa dipercaya tidak? Aku hanya tidak ingin kita tertipu lagi seperti waktu itu mas.” Kata Ayu.


“Percayalah padaku, aku bahkan senekat ini membawa kalian pergi ke kota.” Kata Yudi.


“Pakai cincinku mas untuk modal kita di kota nanti, sementara jual saja cincinku ini.” Kata Ayu.


“Ini kan cincin pemberianku? Kamu yakin?” Tanya Yudi.


“Demi anak-anak dan juga demi kita aku tidak masalah mas, tapi berjanjilah kepadaku suatu saat kamu akan memberikanku yang lebih bagus dibandingkan itu.” Kata Ayu.


“Aku akan membelikan cincin berlian untukmu nanti.” Kata Yudi.