Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 41



Abel mengajak Laura makan berdua, didalam mobil Abel mengambil ponsel Laura.


“Kembalikan ponselku.” Kata Laura.


“Kamu akan berterima kasih kepadaku jika ponselmu aku bawa. Aku heran kenapa Adele memasang pelacak dan penyadap suara di ponselmu, ada rahasia apa diantara kalian berdua?” Tanya Abel sambil menonaktifkan penyadap suara dan mematikan lokasi di ponsel milik Laura.


“Jadi bu Adele selama ini melacakku dan menyadapku, pantas saja dia tau semua yang aku lakukan.” Kata Laura.


“Sekarang aman aku sudah menonaktifkannya, nanti setibanya dirumah aktifkan kembali aplikasi tersebut.” Kata Abel.


“Kamu mau mengajakku pergi kemana memangnya?” Tanya Laura.


“Nanti kamu akan mengetahuinya.” Kata Abel.


Setibanya di sebuah kafe, ternyata Abel mengajak Laura bertemu dengan Lily. Sebelumnya Lily menelfon Abel untuk bertemu dengan Laura, akhirnya Abel mengajak Laura menemui Lily.


“Laura putriku sayang.” Kata Lily langsung memeluk Laura.


“Bagaimana kabarmu sayang? Apakah kamu baik-baik saja? Mama yakin pasti Abel memperlakukanmu dengan sangat baik kan.” Tanya Lily.


Laura teringat dengan ucapan Adele bahwa Adele melarang Laura bertemu dengan Lily karena jika Laura melanggar maka Adele akan memberitahu kepada Lily tentang anak kandung Lily dan mengatakan kepada Lily bahwa anaknya adalah korban bully dari Laura. Tentu saja hal ini membuat Laura ketakutan, sejujurnya dia sangat menyayangi Lily maupun Abel karena hanya mereka berdualah yang bersikap baik kepadanya, namun Adele mengancam kepada Laura jika dia melanggar semua permintaan Adele maka orang-orang yang Laura sayangi akan berada dalam bahaya.


“Baik, kenapa kamu jauh-jauh menemuiku?” Tanya Laura.


“Mama sangat merindukanmu sayang.” Kata Lily.


“Karena kita sudah bertemu, aku akan kembali pulang. Ayo kita kembali pulang.” Kata Laura mengajak Abel kembali pulang.


“Duduklah, ibumu merindukanmu bahkan dia jauh-jauh datang kesini karena ingin menemuimu. Bukankah kamu pernah mengatakan ingin bertemu dengannya.” Kata Abel.


“Aku bahkan tidak peduli dengannya, begitu juga dengannya yang sama sekali tidak peduli denganku. Aku bisa pulang sendiri.” Kata Laura lalu dia meninggalkan tempat tersebut.


“Aku tidak apa-apa, cepat kejarlah Laura. Terima kasih banyak ya, setidaknya aku lega karena bertemu dengannya. Tolong jaga dia dari Jio.” Kata Lily.



“Jangan khawatir, aku akan menelfonmu kembali.” Kata Abel.


“Laura cepat masuk mobil sebelum mama kamu melihatmu.” Panggil Adele.


“Ah baiklah.” Kata Laura. Setelah itu Adele membawa Laura kembali pulang.


Setibanya dirumah, ternyata Abel sudah tiba terlebih dahulu.


“Laura, mama ingin bicara denganmu.” Kata Abel.



“Laura sangat kelelahan jadi dia harus segera istirahat.” Kata Adele.


“Ini penting.” Kata Abel.


“Kesehatan nona Laura jauh lebih penting saat ini.” Kata Adele.


“Aku ibunya dan dia anakku, aku lebih berhak atas dia.” Kata Abel.


“Seorang ibu tentunya paham apa yang seharusnya dilakukan demi kebaikan anaknya. Masuklah ke kamar Laura, kamu harus segera istirahat karena nanti sore kamu ada les bahasa.” Kata Adele.


“Laura ini sangat penting, mama ingin bicara denganmu.” Kata Abel sambil menghampiri Laura namun Adele menahannya.


“Jangan lupa bahwa aku adalah ibu kandungnya.” Bisik Adele.


“Tapi aku adalah wali sah nya dia jadi aku juga berhak atas Laura.” Kata Abel.


“Kalau begitu segeralah memiliki anak sebelum suamimu memiliki anak dari wanita lain.” Bisik Adele.


Karena kesal Abel pun menampar pipi Adele.


“Kamu menamparku? Semoga kamu tidak menyesal karena telah menamparku. Permisi.” Kata Adele.



“Dia semakin lama semakin menyebalkan, berani sekali dia berkata seperti itu. Bahkan dia mengatur kehidupan Laura, sepertinya dia ingin memisahkan aku dengan Laura. **Bahkan gayanya saja benar-benar menyebalkan seperti orang kaya saja, dia semakin sombong saat ini, apa dia tidak ingat dulu dia hanyalah seorang pelayan dirumah tuan Park.” Kata Abel dalam hati.