Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 7



Abel


membawa Laura kedalam kamar.


“Kenapa


kamu menolongku?” Kata Laura.


“Sebenarnya


aku juga tidak ingin menolongmu tapi adikmu menelfonku dan dia menangis meminta


tolong agar aku segera pulang. Kamu bisa tenang, jangan khawatirkan papa kamu.


Aku yang akan menghadapinya.” Kata Abel.


“Papa


pasti akan melakukannya lagi padaku karena aku memang bersalah.” Kata Laura sambil menangis.


“Aku


tidak akan membiarkan siapapun untuk melukaimu apalagi membuatmu menangis


seperti ini, percayalah padaku. Apakah kamu ingin aku disini menemanimu?” Tanya


Abel.


“Dia akan


membawaku ke ruang rahasia.” Kata Laura.


“Apa? Apakah


kamu pernah kesana sebelumnya?” Tanya Abel.


“Pernah


tapi aku tidak ingin kesana lagi, sangat menyakitkan hingga membuatku gila.” Teriak Laura.


“Tenanglah,


tenanglah aku bersamamu disini. Aku akan melindungimu.” Kata Abel sambil


memeluk Laura.


“Dia


sangat marah padaku.” Kata Laura.


“Aku


tidak akan membiarkan dia melukaimu lagi, bisakah kamu menunjukkanku dimana


ruangan tersebut?” Tanya Abel.


“Aku


tidak tau dimana karena begitu aku bangun, aku sudah didalam ruangan itu.” Kata


Laura.


“Apa


mungkin ada didalam rumah ini atau di tempat kerja papa kamu?” Tanya Abel.


“Jangan


teruskan usahamu untuk mencarinya karena kamu bisa dalam bahaya.”


Kata Laura.


“Disanalah


tersimpan semua rahasia dia dan kita harus segera menghentikannya.” Kata Abel.


“Aku


tidak mau, aku masih ingin hidup dengan tenang.” Kata Laura.


“Aku akan


melindungimu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, percayalah padaku.


Aku mohon kasih tau dimana keberadaan ruang rahasia milik papa kamu.” Kata


Abel.


“Apa yang


akan kamu lakukan? Kenapa kamu sangat ingin mencari tau dimana keberadaan ruang


rahasia milik papa.” Tanya Laura.


“Disanalah


“Sebenarnya


aku juga tidak tau dimana lokasi persisnya, karena saat itu tiba-tiba aku sudah


berada disana.” Kata Laura.


“Apa yang


kalian lakukan disana?” Tanya Abel.


“Papa


menghukumku karena aku melakukan kesalahan. Sepertinya ruangan itu


sangat luas namun yang aku tidak begitu ingat,


aku melihat banyak tumpukan album foto dan ada brankas pula.” Kata Laura.


“Apakah


ada orang lain lagi yang tau selain kamu?” Tanya Abel.


“Tidak


ada, hanya aku dan papa saja disana.” Kata Laura.


“Oh


begitu ya, dimana sebenarnya ruangan itu?” Tanya Abel.


“Meskipun


kamu menemukannya tetap saja tidak bisa membukanya karena menggunakan sidik


jari papa.” Kata Laura.


“Dari


mana kamu tau?” Kata Abel.


“Papa


lebih suka menggunakan sidik jari daripada kata sandi, lihat saja di kantornya


semua menggunakan kata sandi mulai dari brankas dan lemari yang ada di


ruangannya.” Kata Laura.


“Benar


juga ya, tidurlah dan jangan memikirkan apa yang terjadi padamu tadi. Mulai sekarang


jika mau pergi kemanapun dan akan melakukan apapun hubungi aku ya.” Kata Abel.


“Jangan


khawatir padaku, aku bisa mengatasinya sendiri.” Kata Laura.


“Baiklah.”


Kata Abel sambil memeluk Laura.


**


Abel kembali


ke kamarnya.


“Untung


saja dia sudah tidur, sebenarnya aku juga ketakutan dengannya tapi aku harus


berani menghadapinya.” Kata Abel dalam hati.


Lalu ada


pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


“Selamat


malam nyonya Abel, bisakah kita bertemu? Ini saya Jackson Lee.”


“Jackson?


Dari mana dia mendapatkan nomorku? Untuk apa dia meminta bertemu denganku ya?


Besok saja aku menemuinya.” Kata Abel dalam hati.


Setelah itu


dia pergi tidur.