
Abel
membawa Laura kedalam kamar.
“Kenapa
kamu menolongku?” Kata Laura.
“Sebenarnya
aku juga tidak ingin menolongmu tapi adikmu menelfonku dan dia menangis meminta
tolong agar aku segera pulang. Kamu bisa tenang, jangan khawatirkan papa kamu.
Aku yang akan menghadapinya.” Kata Abel.
“Papa
pasti akan melakukannya lagi padaku karena aku memang bersalah.” Kata Laura sambil menangis.
“Aku
tidak akan membiarkan siapapun untuk melukaimu apalagi membuatmu menangis
seperti ini, percayalah padaku. Apakah kamu ingin aku disini menemanimu?” Tanya
Abel.
“Dia akan
membawaku ke ruang rahasia.” Kata Laura.
“Apa? Apakah
kamu pernah kesana sebelumnya?” Tanya Abel.
“Pernah
tapi aku tidak ingin kesana lagi, sangat menyakitkan hingga membuatku gila.” Teriak Laura.
“Tenanglah,
tenanglah aku bersamamu disini. Aku akan melindungimu.” Kata Abel sambil
memeluk Laura.
“Dia
sangat marah padaku.” Kata Laura.
“Aku
tidak akan membiarkan dia melukaimu lagi, bisakah kamu menunjukkanku dimana
ruangan tersebut?” Tanya Abel.
“Aku
tidak tau dimana karena begitu aku bangun, aku sudah didalam ruangan itu.” Kata
Laura.
“Apa
mungkin ada didalam rumah ini atau di tempat kerja papa kamu?” Tanya Abel.
“Jangan
teruskan usahamu untuk mencarinya karena kamu bisa dalam bahaya.”
Kata Laura.
“Disanalah
tersimpan semua rahasia dia dan kita harus segera menghentikannya.” Kata Abel.
“Aku
tidak mau, aku masih ingin hidup dengan tenang.” Kata Laura.
“Aku akan
melindungimu dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, percayalah padaku.
Aku mohon kasih tau dimana keberadaan ruang rahasia milik papa kamu.” Kata
Abel.
“Apa yang
akan kamu lakukan? Kenapa kamu sangat ingin mencari tau dimana keberadaan ruang
rahasia milik papa.” Tanya Laura.
“Disanalah
“Sebenarnya
aku juga tidak tau dimana lokasi persisnya, karena saat itu tiba-tiba aku sudah
berada disana.” Kata Laura.
“Apa yang
kalian lakukan disana?” Tanya Abel.
“Papa
menghukumku karena aku melakukan kesalahan. Sepertinya ruangan itu
sangat luas namun yang aku tidak begitu ingat,
aku melihat banyak tumpukan album foto dan ada brankas pula.” Kata Laura.
“Apakah
ada orang lain lagi yang tau selain kamu?” Tanya Abel.
“Tidak
ada, hanya aku dan papa saja disana.” Kata Laura.
“Oh
begitu ya, dimana sebenarnya ruangan itu?” Tanya Abel.
“Meskipun
kamu menemukannya tetap saja tidak bisa membukanya karena menggunakan sidik
jari papa.” Kata Laura.
“Dari
mana kamu tau?” Kata Abel.
“Papa
lebih suka menggunakan sidik jari daripada kata sandi, lihat saja di kantornya
semua menggunakan kata sandi mulai dari brankas dan lemari yang ada di
ruangannya.” Kata Laura.
“Benar
juga ya, tidurlah dan jangan memikirkan apa yang terjadi padamu tadi. Mulai sekarang
jika mau pergi kemanapun dan akan melakukan apapun hubungi aku ya.” Kata Abel.
“Jangan
khawatir padaku, aku bisa mengatasinya sendiri.” Kata Laura.
“Baiklah.”
Kata Abel sambil memeluk Laura.
**
Abel kembali
ke kamarnya.
“Untung
saja dia sudah tidur, sebenarnya aku juga ketakutan dengannya tapi aku harus
berani menghadapinya.” Kata Abel dalam hati.
Lalu ada
pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Selamat
malam nyonya Abel, bisakah kita bertemu? Ini saya Jackson Lee.”
“Jackson?
Dari mana dia mendapatkan nomorku? Untuk apa dia meminta bertemu denganku ya?
Besok saja aku menemuinya.” Kata Abel dalam hati.
Setelah itu
dia pergi tidur.