Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 17



Abel semakin khawatir dengan


kondisi Laura. Abel mengejar Laura.


“Tunggu.” Kata Abel.


“Lepaskan aku, jangan ikut campur


dengan urusanku.” Kata Laura.


“Ikut aku sekarang juga.” Paksa


Abel.


“Tidak mau, lepaskan aku.” Bentak


Laura.


Namun Abel berhasil membawa Laura.


Abel menuju ke rumah sakit untuk


memeriksakan luka memar di tangan Laura.


“Untuk apa pergi ke rumah sakit?”


Tanya Laura.


“Lukamu harus di obati.” Kata Abel.


“Aku tidak butuh, lebih baik


antarkan aku pulang.” Kata Laura.


“Kamu ingat kan jika papa kamu


pernah berkata padaku jika semua urusanmu adalah urusanku juga.” Kata Abel.


“Apa? Jangan karena kamu menikahi


papaku lalu kamu bisa mengatur semua urusanku.” Kata Laura.


“Percayalah padaku, sampai


kapanpun aku akan disampingmu untuk melindungimu.” Kata Abel sambil menggenggam


tangan Laura.


“Aku tau sebenarnya kamu


sebenarnya anak baik dan penurut namun orang tuamu salah mendidikmu.” Kata Abel


dalam hati.


“Kita masuk dulu lalu kita


periksakan lukamu, lukamu butuh perawatan. Memangnya kamu mau memiliki bekas


luka seperti itu apalagi kamu masih muda.” Kata Abel.


Selesai ke rumah sakit, Abel dan


Laura kembali ke rumah.


“Jangan kahwatir, lukamu


baik-baik saja jika kamu rutin meminum obat dan mengoleskan salep.” Kata Abel.


“Apakah kamu ingin pergi ke suatu


tempat atau melakukan sesuatu?” Tanya Abel.


“Aku muak dengan rumah itu dan


seluruh orang yang ada didalamnya.” Kata Laura.


“Setiap orang tidak bisa memilih


ingin terlahir dari siapa dan keluarga yang seperti apa tapi banyak orang yang


menginginkan kehidupan sepertimu. Bertahanlah.” Kata Abel.


“Bahkan tidak ada yang


menyayangiku termasuk orang tuaku sendiri.” Kata Laura.


“Anggaplah aku sebagai ibumu, sejak


aku menikahi papa kamu, saat itu juga aku menerimamu dan Celo sebagai


anakku.” Kata Abel.


“Memangnya sampai kapan kamu bisa


bertahan dengan papaku yang seperti itu? Bagaimana jika dia tau kalau kamu


mengalami keguguran? Pasti papa akan sangat murka denganmu.” Kata Laura.


“Jangan khawatir, aku baik-baik


saja.” Kata Abel.


**


Tiga bulan kemudian, Jio


ditangkap oleh polisi terkait pembunuhan terhadap ibu kandung Celo yang


bernama Yeri Han. Abel menyerahkan semua bukti bahwa Jio telah membunuh


Yeri Han. Abel telah menemukan bukti melalui buku diari Yeri Han dimana di buku


diari tersebut tertulis bahwa Jio menculik dan menyiksa Yeri Han dengan


alasan mencoba kabur darinya setelah membawa beberapa uang tunai dan emas


batang milik Jio, selain itu Yeri Han mencoba membawa Celo oleh karena itu


Jio menculik dan menyembunyikannya di ruang rahasia. Bahkan ditemukan abu


milik Yeri Han sehingga pihak kepolisian yakin bahwa Jio adalah pelakunya. Namun


Jio dan pengacaranya mengajukan keberatan karena dia merasa tidak bersalah.


**


pembunuhan Yeri Han. Abel dan Laura turut hadir dalam persidangan


tersebut, sedangkan Celo pergi ke luar negeri bersama bibi Kang, Abel sengaja


mengirim Celo ke luar negeri agar dia tidak mengetahui berita tentang


ayahnya.


Jio tidak berhasil


mendapatkan bukti bahwa dia tidak bersalah, justru Lily tiba-tiba datang dan


memberikan kesaksian.


“Nama saya Lily Han akan


memberikan kesaksian terkait kasus ini. Jadi saat itu saya terpaksa


berpura-pura hamil Celo karena Jio mengancam saya akan menyiksa putri


saya yaitu Laura, akhirnya saya menyetujuinya dan setelah Celo lahir


saya membawa Celo kembali ke rumah namun mendiang Yeri Han masih saja


mengganggu mantan suami saya dan saya terganggu, akhirnya saya mendatangi


kediamannya untuk memberi peringatan namun setibanya disana, saya justru


menemukan mendiang Yeri Han dalam keadaan pingsan dan berlumuran darah. Saya membawanya


ke rumah sakit lalu karena disana ada pihak keluarga sehingga saya kembali ke


rumah, namun keesokan harinya saya ditangkap polisi karena tuduhan membunuhnya.


Saat itu saya ingin melakukan autopsi terhadap mendiang namun pihak keluarga


mengatakan bahwa mereka telah memakamkannya. Saat saya selidiki keluarga


mendiang ternyata berada di luar negeri semua. Ini saya lampirkan bukti pesan


pribadi saya kepada mendiang. Mendiang tidak pernah membalas pesan saya, saya


juga melampirkan foto bahwa saya tidak pernah menyakiti mendiang. Setelah saya


mengantarnya ke rumah sakit, saya kembali ke kediamannya dan saya tidak melihat


lagi bekas noda, lalu rumah tersebut kosong termasuk semua pakaian mendiang.” Kata


Lily.


Berdasarkan kesaksian Lily


tersebut, akhirnya Jio terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman penjara


selama 15 tahun.


Lily dan Abel sangat puas


dengan keputusan tersebut.


“Kamu pikir dengan aku masuk


penjara, kamu bisa aman? Lihat saja pembalasanku. Aku bisa dengan mudah keluar


dari sini karena aku adalah Jio, Park Jio tidak semudah itu aku bisa


masuk penjara.” Kata Jio kepada Lily.


“Aku akan segera mengajukan hak


asuh atas Laura dan Celo.” Kata Lily.


“Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan


bukanlah ibu kandung Laura.” Kata Jio.


“Aku tidak peduli, aku selama ini


telah mengaggap Laura sebagai putri kandungku. Selamat membusuk didalam


penjara.” Kata Lily, lalu dia pergi meninggalkan Jio.


Setelah itu Abel menghampiri Jio.


“Masuklah kedalam mobil, aku akan


menemui ayahmu sebentar.” Kata Abel kepada Laura.


“Apakah kamu yakin akan


menemuinya?” Tanya Laura.


“Jangan khawatir.” Kata Abel.


Kemudian Abel menemui Jio.


“Untuk apa kamu menemuiku? Dasar


kurang ajar. Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menghentikanku apalagi


menghancurkanku.” Kata Jio.


“Buktinya kamu bisa kalah dariku,


jangan khawatir aku akan menggantikanmu sebagai CEO JK Group, dan aku akan


menjadi wali Laura dan Celo.” Kata Abel.


“Dasar kurang ajar, setelah kamu


membunuh anakku lalu kamu menghancurkanku. Lihat saja pembalasanku.” Kata Jio.


“Tutup mulutmu, justru kamu yang


membuatku kehilangan anakku. Lagipula dia tidak ingin lahir sebagai anakmu.” Kata


Abel.


“Hei hei hei awas kamu.” Teriak


Jio.