
Jo semakin hari semakin heran dengan kondisi kesehatannya yang tak kunjung sembuh. Dia pun berinisiatif untuk memeriksakan dirinya ke salah satu temannya yang seorang dokter tanpa sepengetahuan istrinya. Dia meminta bantuan kepada Rafa untuk mengantarnya ke rumah temannya.
“Kita mau kemana sih pa?” Tanya Rafa.
“Kita ke rumah temannya papa yang juga seorang dokter, papa ingin konsultasi saja terkait kesehatan papa yang tidak kunjung sembuh.” Kata Jo.
“Kenapa papa tidak berobat ke luar negeri saja sih pa? Papa kan bisa tinggal di luar negeri untuk beberapa hari sambil berobat dan di terapi di rumah sakit luar negeri.” Kata Rafa.
“Sebenarnya papa pergi ke temannya papa ini tanpa sepengetahuan Marcella.” Kata Jo.
“Papa curiga dia yang membuat papa jadi seperti ini? Bukannya dia sangat ingin papa segera sembuh ya? Bahkan dia sampai rela bolak balik ke rumah sakit mengantar papa berobat dan selalu menemani papa, memang aku tidak menyukainya tapi setidaknya dia peduli dengan kesehatan papa.” Kata Rafa.
“Iya papa mengerti, sudahlah jangan banyak tanya cepat antarkan papa ke rumah teman papa.” Kata Jo.
“Iya pa.” Kata Rafa.
Setibanya di rumah sakit tempat teman Jo bekerja sebagai dokter.
“Bantu papa turun ya.” Kata Jo.
“Iya pa, aku antar sampai kedalam ya pa, aku akan menemani papa juga ya.” Kata Rafa.
“Tidak usah, tunggu saja didalam mobil. Jangan sampai tertangkap oleh siapapun terutama Marcella.” Kata Jo.
“Tapi dia pasti akan mengetahui kemana papa pergi.” Kata Rafa.
“Tidak akan.” Kata Jo.
Kemudian Jo menemui temannya.
“Hai selamat datang, apa yang sebenarnya terjadi? Sejak kapan ini?” Tanya Afan teman Jo.
“Sudah lama tapi aku tak kunjung sembuh.” Kata Jo.
“Oh iya sebelumnya selamat atas pernikahanmu ya, maaf aku tidak bisa datang saat itu.” Kata Afan.
“Ah iya terima kasih banyak.” Kata Jo.
“Boleh aku cek obat yang kamu minum setiap harinya?” Tanya Afan.
“Boleh, ini obatku. Padahal aku selalu minum obat dengan teratur dan juga rutin terapi tapi kondisiku tetap saja malah semakin parah, aku jalan saja kesakitan.” Kata Jo.
“Sabar pasti sembuh kok, ini siapa yang menyiapkan obatnya? Resepnya dari dokter siapa atau rumah sakit mana?” Tanya Afan.
“Istriku yang menyiapkan semuanya, aku tinggal meminumnya saja.” Kata Jo.
“Wah istri idaman sekali ya.” Kata Afan.
“Hehehehe, jadi apa yang akan kamu lakukan dengan obatku? Kamu tidak ingin memeriksaku?” Tanya Jo.
“Tidak perlu, mendengar ceritamu kemarin sudah cukup kok. Mungkin nanti untuk pertemuan selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk sementara jangan minum obat dulu ya tapi perbanyak minum makan dan minum air putih saja sama setiap hari berlatih untuk bergerak.” Kata Afan.
“Iya, tunggu jadi kamu melarangku meminum obat? Istriku akan marah kepadaku Fan.” Kata Jo.
“Jadi kamu datang kesini tanpa sepengetahuan istrimu?” Tanya Afan.
“Nanti akan aku kabari ya tapi tolong jangan minum obat dari istrimu dulu.” Kata Afan.
“Lalu aku harus bilang apa kepada istriku? Ehmmm tapi tidak jadi masalah sih, aku bisa saja membohonginya hehe.” Kata Jo.
Setelah itu Jo segera kembali pulang ke rumahnya.
**
Setibanya dirumah.
“Dari mana? Kenapa tidak mengabariku? Tidak bisa menggunakan ponsel ya?” Tanya Marcella.
“Sayang, aku keluar sebentar tadi untuk membeli sesuatu untukmu. Selamat ulang tahun istriku sayang.” Kata Jo sambil memberikan cincin diamond yang membuat Marcella menjadi luluh.
“Astaga jadi kamu pergi untuk membeli ini mas? Tapi kan kamu sedang sakit? Jangan membuatku khawatir dong mas.” Kata Marcella.
“Hehehehe, bagaimana kamu suka tidak dengan cincin pemberianku?” Tanya Jo.
“Tentu saja aku menyukainya mas, terima kasih banyak ya mas. Cincinnya bagus sekali loh mas.” Kata Marcella.
“Ini spesial untukmu karena modelnya aku request sendiri loh.” Kata Jo.
“Aku masuk dulu ya pa.” Kata Rafa.
“Iya sayang terima kasih ya untuk hari ini.” Kata Jo.
“Rafa yang mengantarmu mas?” Tanya Marcella.
“Iya tadi Rafa yang mengantarku.” Kata Jo.
“Kan ada supir kenapa tidak minta tolong sama supir saja sih mas? Memangnya Rafa tidak sibuk ya?” Tanya Marcella.
“Masuk yuk kedalam.” Kata Jo.
“Iya, kamu sudah makan belum? Makan dulu ya setelah itu minum obat.” Kata Marcella.
“Iya sayang.” Kata Jo.
Marcella sedikit curiga dengan suaminya, akhirnya dia mengecek mobil yang dipakai suaminya pergi, Marcella mengecek riwayat perjalanan terakhir di mobil suaminya.
“Ternyata dia memang benar dari toko perhiasan, tapi tetap saja aku curiga dengannya.” Kata Marcella.
Saat Marcella mengecek mobil suaminya, Jo menelfon Afan.
“Hallo Fan bagaimana?” Tanya Jo.
“Obat yang kamu gunakan itu fungsinya bukan untuk menyembuhkan penyakitmu, tapi obat itu akan membuatmu menjadi lumpuh dan jika berkepanjangan akan membuatmu mengalami kebutaan. Jadi tolong hentikan konsumsi obat tersebut, aku akan memberimu resep obat dan akan mengirimkannya langsung kepadamu ya.” Kata Afan.
“Tidak perlu, aku sendiri saja yang akan mengambilnya.” Kata Jo.
“Oh begitu ya, baiklah.” Kata Afan lalu menutup telfonnya.
“Kurang ajar Marcella, jadi dia ingin aku mengalami kelumpuhan, pasti dia akan segera menyingkirkanku dan menguasai perusahaanku. Sialan, berani sekali dia mencoba mengkhianatiku, lihat saja pembalasanku.” Kata Jo dalam hati.