Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 9



Setibanya didepan ruang kerja Jio, Abel segera masuk.


 “Ada apa tiba-tiba


kamu datang kemari? Bukankah seharusnya kita bertemu di kafe?” Tanya Jio.


 “Tidak apa-apa, aku


hanya ingin menemuimu karena merindukanmu.” Kata Abel.


“Astaga, tapi aku ada


meeting setelah ini, bagaimana?” Tanya Jio.


“Pergilah, aku akan


menunggumu disini sambil menikmati teh di kantormu.” Kata Abel sambil memeluk suaminya.


“Baiklah, apakah kamu


baik-baik saja dengan kehamilanmu?” Tanya Jio.


“Aku baik-baik saja kok,


pergilah dan jangan khawatirkan aku.” Kata Abel.


“Sampai jumpa nanti.” Kata


Jio sambil mencium kening istrinya dan disaat itulah Abel mengambil


ponsel Jio di saku jas suaminya.


Ketika Jio keluar, Abel


segera membuka ponsel suaminya dan menghapus aplikasi penyadap suara


tersebut dari ponsel suaminya.


“Huft syukurlah,


aku tidak boleh ketahuan oleh dia kalau aku sedang menyelidiki ruang


rahasianya.” Kata Abel dalam hati. Setelah itu Abel meletakkan ponsel suaminya


di atas meja kerjanya.


Abel melihat lihat


sekeliling ruang kerja Jio dan dia tampak asing dengan salah satu lukisan di


ruangan kerja Jio.


“Lukisan ini, tampak asing


bagiku tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Ah benar Laura


pernah menggambar sketsa seorang wanita dari belakang. Apa jangan-jangan wanita


ini adalah ibu kandung Laura? Lalu kenapa dia menggantungnya di ruangan


kerjanya.” Tanya Abel dalam hati. Kemudian dia melihat dibalik lukisan tersebut


dan ternyata ada sebuah tombol berupa on/off, saking penasarannya Abel pun


menekan tombol on dan setelah itu dinding dibalik lukisan tersebut memunculkan


sebuah layar dimana untuk membukanya membutuhkan sidik jari.


“Apa ini? Apa jangan-jangan


ini ada hubungannya dengan ruang rahasia milik Jio? Aku yakin pasti ruang


rahasia itu ada di ruang kerja Jio.” Kata Abel dalam hati. Kemudian


Abel segera kembali pulang dengan alasan tidak enak badan.


**


Selesai meeting, Jio kembali


ke ruangannya dan dia kaget karena ponselnya tergeletak diatas


meja kerjanya.


“Kenapa ponselku ada


tadi ponselku memang tertinggal ya, sepertinya aku harus melihat rekaman cctv


di ruanganku.” Kata Jio. Betapa kagetnya Jio saat melihat rekaman cctv


tersebut.


“Apa ini? Jadi Abel


menyelidiki dimana ruang rahasia milikku? Dia tidak akan bisa membuka dan


masuk kedalamnya karena hanya aku yang bisa. Apa yang dia rencanakan?Lebih baik


aku harus segera menemuinya sekarang juga.” Kata Jio. Dia pun


segera kembali pulang ke rumah.


Setibanya dirumah.


“Abel Abel Abel dimana kamu?” Teriak Jio.


“Dia sedang sakit pa karena kelelahan.” Kata Laura.


“Sakit?” Tanya Jio.


“Iya sepulang dari kantor


papa, dia mengeluh kesakitan katanya kelelahan.” Kata Laura.


“Masuklah ke kamar dan


belajarlah.” Kata Jio sambil mengelus rambut putrinya.


Jio menghampiri istrinya namun istrinya tertidur.


“Apa yang kamu


sembunyikan dariku? Apakah kamu akan mengkhianatiku? Dia tidak akan berani


mengkhianatiku.” Kata Jio.


**


Keesokan paginya.


“Mas semalam kamu pulang


jam berapa? Maaf aku kelelahan jadi aku tertidur.” Kata Abel.


“Apa yang kamu lakukan di


kantorku kemarin? Kamu pikir kamu bisa mengkhianatiku dan bermain di


belakangku? Kamu tidak tau kan kalau aku memasang cctv di ruanganku? Apa yang


sedang kamu cari?” Tanya Jio. Abel merasa terjepit posisinya, tiba-tiba dia


memeluk suaminya.


“Maafkan aku mas,


seharusnya aku mengatakannya langsung padamu.” Kata Abel sambil sesenggukan.


“Apa yang kamu cari


sebenarnya?” Tanya Jio.


“Tidak ada, aku hanya


takut kamu akan meninggalkanku. Aku curiga jika kamu sedang berkencan dengan


wanita lain, aku tidak ingin itu terjadi mas karena aku sangat mencintaimu.”


Kata Abel berpura-pura.


“Astaga, aku  tidak akan


berpaling darimu. Jika kamu curiga padaku lebih baik tanyakan saja


padaku. Oh iya kenapa kamu tertarik dengan lukisan yang ada di ruanganku?” Tanya Jio.


“Lukisanmu sangat bagus, siapa dia mas? Itu lukisan gambar seorang wanita.” Tanya Abel.


 “Bukan siapa-siapa, aku hanya menyukai lukisan itu lalu membelinya.” Kata Jio.