Truth and Revenge

Truth and Revenge
Episode 26 (From Visual to Devil)



Keesokan paginya.


Marcella dengan tenangnya berdandan sambil mengenakan baju mewah, suaminya yang baru saja bangun pun tampak merasa pusing dan kebingungan. Tiba-tiba dia mengeluh kesakitan di bagian kedua kakinya.


“Aduh kakiku kenapa ya kok sakit sekali bahkan tidak bisa digerakkan sayang, tolong aku sayang. Antarkan aku ke rumah sakit sayang kakiku sulit digerakkan, atau suruh si Yudi mengantarku ya hari ini.” Kata Jo.


“Yudi dan kedua anaknya pulang kampung mas, dia bahkan mengatakan kepadaku kalau dia berhenti bekerja disini, dia bilang ingin membuka usaha di kampung halamannya, jadi tadi aku memberinya uang pesangon kepadanya.” Kata Marcella.


“Lalu kenapa dia tidak bilang kepadaku?” Tanya Jo.


“Dia terburu-buru mas, sudahlah jangan terlalu disesali, lagipula kita kan bisa mencari art baru lagi.” Kata Marcella.


“Tidak semudah itu untuk mencari art baru sayang, lalu siapa yang akan memasak dan juga mengurus rumah?” Tanya Jo.


“Memangnya kamu tidak pernah menyuruh Celine dan Rafa untuk mengerjakan pekerjaan rumah?” Tanya Marcella.


“Mana mau mereka melakukan itu dan aku mana mungkin menyuruh mereka melakukan itu, atau kamu yang mau memasak?” Tanya Jo.


“Memangnya aku pembantu kamu?” Bentak Marcella.


“Sayang antarkan aku ke rumah sakit, bantu aku ya, aku sulit bergerak. Apa yang terjadi denganku ya?” Tanya Jo.


“Aku mau pergi mas untuk menghadiri acara dengan ibu-ibu di club golf, kamu minta tolong Rafa saja.” Kata Marcella.


Tiba-tiba Celine berteriak di dapur.


“Yantiiiiiiiiii Yantooooooo.” Teriak Celine.


“Kamu kenapa sih pagi-pagi ribut?” Bentak Marcella.


“Dimana Yanti sama Yanto? Kenapa di meja makan tidak ada makanan?” Tanya Celine.


“Yanti, Yanto dan Yudi tidak kerja lagi dirumah ini untuk seterusnya, kalau kamu mau makan ya masak saja sendiri, oh ya sekalian buatkan sarapan untuk papa kamu.” Kata Marcella.


“Tapi kan kamu istrinya, dan kamu juga sebagai ibuku harusnya kamu yang menyiapkan makanan untuk keluarga ini.” Kata Celine.


“Enak saja kamu kalau ngomong.” Kata Marcella.


“Beri aku uang, aku mau makan diluar saja.” Kata Celine.


“Minta saja ke papa kamu.” Kata Marcella, lalu dia pergi keluar.


Kemudian Celine menghampiri ayahnya dikamar.


“Papa? Papa kenapa seperti ini? Papa sakit ya?” Tanya Celine.


“Bantu papa, bawa papa ke rumah sakit.” Kata Jo.


“Aku panggil kak Rafa dulu ya pa.” Kata Celine.


Celine menghampiri kamar kakaknya dan ternyata kakaknya sedang jatuh pingsan sambil mengeluarkan busa di mulutnya akibat pemakaian obat terlarang.


“Kakak bangun kak, kak tolong bangun kak. Aduh bagaimana ini? Aku telfon mama saja.” Kata Celine.


Akhirnya Celine menelfon Alin, dan beberapa saat kemudian datanglah Alin lalu membawa Jo dan Rafa ke rumah sakit.


Marcella pergi ke rumah sakit namun dia menemui Rafa terlebih dahulu. Marcella menampar Rafa berulang kali.


Plak Plak Plak


“Auuuuu apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu menamparku.” Teriak Rafa.


“Berani sekali kamu memakai obat-obatan terlarang itu? Dan bahkan kamu memakainya didalam rumah hah? Dasar anak tidak tau diri, kamu bikin malu keluarga saja, aku akan melaporkanmu ke polisi.” Kata Marcella.


“Jangan, aku tidak mau masuk penjara. Tolong bantu aku.” Kata Rafa memohon kepada Marcella.


Tiba-tiba datanglah Alin dan Celine.


“Rafa apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memohon kepada dia?” Tanya Alin.


“Dia mau melaporkanku ke polisi ma.” Kata Rafa.


“Jangan lakukan itu Marcella, dia hanya perlu rehabilitasi saja dan tidak perlu sampai lapor ke polisi. Memangnya kamu mau kalau banyak orang yang mengetahui masalah ini?” Tanya Alin.


“Siapapun yang membuatku malu, pasti akan aku singkirkan.” Kata Marcella.


“Sebenarnya mau kamu apa sih?” Bentak Celine.


“Berani sekali kamu membentakku?” Bentak Marcella.


“Aku tidak takut denganmu.” Kata Celine.


“Oh iya bagaimana kalau kalian bertiga satu penjara saja ya? Rafa karena kasus penggunaan obat-obatan terlarang, Celine kasus pembulian dan kamu Alin kasus pembunuhan terhadap Ayu.” Kata Marcella sambil tertawa.


“Jangan lakukan itu aku mohon.” Kata Alin.


“Apa jaminannya? Apa yang bisa kamu lakukan agar aku tidak melaporkan kalian ke polisi?” Tanya Marcella.


“Aku akan berpisah dengan suamiku dan aku pergi menjauh dari keluargamu.” Kata Alin.


“Jangan ma, aku tidak mau papa dan mama berpisah.” Kata Celine.


“Demi kita bertiga sayang.” Kata Alin.


“Hanya itu saja?” Tanya Marcella kepada Alin.


“Lalu kamu mau apa lagi memangnya?” Tanya Alin.


“Aku dengar apartemen itu atas nama kamu ya? Aku ingin apartemen itu atas nama aku, memang itu pemberian mas Jo tapi itu kan juga ada uangku sebagian, apartemen itu kan sangat mahal.” Kata Marcella.


“Kamu benar-benar licik ya, aku akan berikan apartemen itu atas nama Celine.” Kata Alin.


“Baiklah kalau begitu, Celine masih belum cukup umur jadi pasti jatuh ke atas nama wali dia, dan wali dia adalah aku. Terima kasih Alin.” Kata Marcella dengan senyum sinisnya.


“Kenapa waliku adalah kamu?” Tanya Celine.


“Papa kamu sendiri yang mengubahnya.” Kata Marcella lalu dia keluar dari kamar Rafa dan menghampiri suaminya.