Truth and Revenge

Truth and Revenge
Bagian 3



Abel


kembali pulang, karena kelelahan dia pun bersiap-siap untuk tidur.


“Aku


mengandung anak Jio tapi kenapa dia membuatku tersiksa dengan semua


kebohongannya. Aku harus bertahan demi anakku, bagaimanapun juga aku tetap


harus melahirkan anak ini dan membesarkan anak ini, setelah anak ini lahir aku


harus berpisah dengannya dan kembali ke Indonesia. Aku akan tinggal berdua


dengan anakku, aku tidak ingin anakku tinggal bersama seorang ayah seperti Jio.”


Kata Abel dalam hati.


Tiba-tiba


Jio datang.


“Ada yang


ingin aku tanyakan padamu mas.” Kata Abel.


“Aku


lelah, aku ingin istirahat.” Kata Jio.


“Apakah


kamu yang melakukan hal itu kepada Soo Ah? Apakah kamu juga yang menjebakku?” Tanya


Abel.


“Kamu


bicara apa sih, mana mungkin aku tega melakukan hal seperti itu.” Kata Jio.


“Lalu


siapa lagi kalau bukan kamu? Bagaimana mungkin mobilku bisa ada di lokasi


kejadian? Bisa saja saat aku sedang pingsan karena mabuk, lalu kamu menggunakan


mobil milikku dan menabrak Soo Ah lalu kamu ingin menghilangkan jejak dengan


menjatuhkan mobilku ke jurang.” Kata Abel.


“Jangan


bicara sembarangan, sudahlah aku mau tidur karena besok aku ada meeting dengan


investor kaya raya dari Amerika, dia akan bekerjasama dengan JK Group.” Kata Jio.


“Buktikan


dulu jika itu bukan ulahmu.” Kata Abel.


Tiba-tiba


Jio mendekati Abel, Abel pun merasa ketakutan. Ternyata Jio mencium dan


memeluk mesra istrinya.


“Lepaskan


aku.” Bentak Abel.


“Terima


kasih telah mengandung anakku.” Bisik Jio.


“Dari


mana kamu tau bahwa aku sedang mengandung?” Tanya Abel.


“Aku tau


segalanya tentangmu, bahkan kamu pergi kemanapun pasti aku mengetahuinya. Jaga


dirimu dengan baik, aku tidak ingin kamu stres dan memikirkan apapun.” Kata Jio.


**


Keesokan harinya.


“Aku mau


ikut denganmu mas.” Kata Abel.


saja, aku tidak ingin kamu kelelahan. Karena kamu sedang mengandung anakku jadi


kamu harus patuhi peraturanku.” Kata Jio.


“Apa? Abel


hamil?.” Gerutu Laura dalam hati.


“Laura dan Celo sebentar lagi kalian akan memiliki seorang adik.” Kata Jio.


“Benarkah?”


Tanya Laura dengan ekspresi datar.


“Kamu


sebagai seorang kakak harus menjaganya dengan baik.” Kata Jio.


“Tentu


saja.” Kata Laura.


“Hari ini


aku boleh ikut papa kan ke kantor? Bukankah hari ini papa akan bekerjasama


dengan investor kenalan papa.” Kata Laura.


“Baiklah,


kalian ikutlah semua untuk menemani papa.” Kata Jio.


Setelah itu


mereka pun datang ke perusahaan Jio.


Abel sedang pergi ke toilet. Tiba-tiba


Laura mengunci pintu Abel dari luar dan mematikan lampunya. Setelah itu


dia segera berlari menuju tempat ayahnya.


“Dimana


ibumu?” Tanya Jio.


“Aku


tidak tau, aku tidak melihatnya.” Kata Laura.


“Menyebalkan, di


acara penting kenapa dia harus menghilang.” Kata Jio.


Di sisi


lain, Abel berteriak minta tolong.


“Tolong


saya, didalam ada orang yang terkunci.” Teriak Abel sambil menggedor pintu. Tiba-tiba


ada seorang laki-laki yang mendengar teriakan Abel dan membuka pintu tersebut.


“Terima


kasih banyak.” Kata Abel.


“Kamu


baik-baik saja?” Tanya laki-laki itu.


“Aku


baik-baik saja. Terima kasih banyak.” Kata Abel.


“Mari aku


bantu berdiri, apakah ada yang terluka?” Tanya laki-laki itu.


“Tidak,


aku bisa sendiri kok. Pergilah sepertinya anda terburu-buru.” Kata Abel.


“Baiklah,


maaf aku harus pergi karena ada urusan.” Kata laki-laki itu. Kemudian laki-laki


itu pergi meninggalkan Abel.