
Mereka tiba di kota.
“Ayo kita turun.” Kata Yudi.
“Dimana temanmu?” Tanya Ayu.
“Dia memberiku alamat, aku akan menghampirinya.” Kata Yudi.
“Lalu aku sama anak-anak bagaimana?” Tanya Ayu.
“Kita tinggal di kos saja ya.” Kata Yudi.
“Baiklah.” Kata Ayu dengan ekspresi sedih dan kecewa.
Mereka pun mencari tempat kos dengan harga yang sangat murah, hampir seharian mereka berkeliling namun tidak menemukan tempat yang di inginkan.
Mereka pun kelelahan dan istirahat di tempat ibadah.
“Bu aku lelah, badanku panas.” Kata Yanti.
“Sabar ya sayang, kamu minum obat ya biar panas kamu cepat turun.” Kata Ayu.
“Bapak belikan makan dulu ya. Yanto tolong jaga adik dan ibumu ya.” Kata Yudi.
“Baik pak.” Kata Yanto.
“Memangnya kita mau kemana sih bu? Sepertinya kita tidak ada tujuan, oh iya bu guruku tadi mengirim pesan kepadaku untuk menanyakan kenapa aku dan Yanti tidak masuk sekolah.” Kata Yanto.
“Buang saja nomormu agar tidak ada yang menghubungimu.” Kata Ayu.
“Pasti mereka akan menganggap kita kabur bu dan teman-temanku pasti akan membicarakanku.” Kata Yanto.
“Makanya kita pergi dan kita tidak akan pernah kembali ke desa kita.” Kata Ayu.
“Ibu yakin ini keputusan yang baik untuk kita sekeluarga?” Tanya Yanto.
“Tentu saja, ibu juga tidak tahan dengan semua ucapan tetangga dan ibu-ibu pemetik teh. Mereka selalu membicarakan bapak dan ibu, mereka mengatakan bahwa keluarga kita adalah keluarga pembawa masalah, jorok, jelek dan masih banyak lagi.” Kata Ayu.
“Itu ujian untuk keluarga kita bu.” Kata Yanto sambil memeluk ibunya.
Tidak lama kemudian, Yudi datang membawa makanan dan juga obat untuk Yanti.
“Yanti, sekarang kamu makan lalu minum obatmu ya.” Kata Yudi.
“Biar ibu suapi ya, kamu harus makan dan harus sehat pokoknya.” Kata Ayu sambil menyuapi makan anaknya.
“Yanto kamu juga makanlah.” Kata Yudi.
“Lalu bapak dan ibu bagaimana?” Tanya Yanto.
“Bapak dan ibu tidak lapar kok.” Kata Yudi.
“Bapak makan sama Yanto ya, biar ibu makan sama Yanti. Kita kan harus makan bersama dan harus sehat.” Kata Yanto.
“Baiklah.” Kata Yudi sambil tersenyum melihat anaknya yang semakin dewasa dalam berpikir dan menyikapi kondisi keluarganya.
**
Yudi pergi menemui temannya, sedangkan istri dan kedua anaknya tinggal di tempat kos yang sangat sempit dan kecil. Yudi tiba di tempat kerja temannya yang bernama Arif.
“Arif.” Panggil Yudi.
“Hei Yud, akhirnya kamu sampai juga di kota. Istri sama anakmu dimana sekarang? Ayo ikut aku kedalam, sepertinya kamu kelaparan.” Kata Arif.
“Tidak perlu Rif.” Kata Yudi.
“Tidak apa-apa, ayo ikut aku.” Kata Arif. Arif mengajak Yudi ke dapur, disana Arif memberikan makan untuk Yudi.
“Terima kasih banyak, tapi aku boleh tidak kalau makananku aku bungkus saja untuk anakku.” Kata Yudi.
“Boleh kok, biar disiapkan sama istriku saja. Oh iya jadi teman bos ku memang sedang membutuhkan satpam untuk dirumahnya. Nanti istrimu bisa jadi art dirumah itu, rumahnya sangat besar dan mereka sangat kaya raya, aku yakin pasti dia akan memberikan gaji yang banyak untukmu.” Kata Arif.
“Aku mau, aku mau melakukan apapun. Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?” Tanya Yudi.
“Besok dirumah majikanku ada pesta, dan teman majikanku pasti datang. Besok kamu kesini lagi ya dan ajak juga istrimu.” Kata Arif.
“Baiklah, aku bekerja apapun pasti mau.” Kata Yudi.
Setelah itu Yudi kembali pulang menemui istri dan anak-anaknya.