Truth and Revenge

Truth and Revenge
Episode 1 (From Visual to Devil)



Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak kembarnya laki-laki dan perempuan. Ayah mereka bernama Yudi, ibu mereka bernama Ayu, anak kembar mereka bernama Yanti dan Yanto. Mereka tinggal di sebuah desa, Yudi dan Ayu bekerja sebagai pemetik teh dan hidup mereka serba kekurangan. Sedangkan kedua anaknya duduk di bangku SMP kelas 3. Hari itu mereka sedang menikmati sarapan bersama.


“Setiap hari selalu makan mie instan, aku bosan.” Kata Yanti.


“Kapan kita makan yang bergizi pak bu.” Kata Yanto.


“Makanlah apa yang ada sayang, ibu dan bapak tidak punya cukup uang untuk membeli makanan yang bergizi.” Kata Ayu.


“Hari ini ibu bisa datang ke sekolah kita kan? Wali kelasku ingin bertemu dengan ibu karena sudah 3 bulan aku dan kak Yanto tidak bisa membayar uang spp.” Kata Yanti.


“Sampaikan pada gurumu bulan depan bapak akan melunasi uang spp nya.” Kata Yudi.


“Mau bayar pakai apa? Pakai daun teh?” Bentak Ayu sambil melempar nasi ke wajah suaminya.


“Berani sekali kamu melawanku hah? Kamu istri tidak tau diri, seharusnya kamu lebih pandai mengatur keuangan.” Bentak Yudi.


“Apa kamu bilang? Mengatur keuangan? Justru kamu suami yang tidak tau diri karena membuat hidupku dan anak-anakku jadi menderita. Aku menyesal menikahimu.” Bentak Ayu.


“Tutup mulutmu atau aku akan merobek mulutmu.” Bentak Yudi.


“Robek saja kalau berani, mulai hari ini aku tidak akan mau membantumu bekerja lagi. Aku akan pergi dengan anak-anak untuk mencari laki-laki kaya raya dan aku akan menikahinya.” Ancam Ayu.


“Jangan bicara seperti itu, aku juga sedang berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak untuk kita.” Kata Yudi.


“Aku muak melihatmu, kamu hanya bisa membuatku menderita. Aku akan pergi bersama anak-anak. Ayo cepat kemasi semua barangmu.” Kata Ayu kepada kedua anak mereka.


“Aku ibunya.” Bentak Ayu.


“Ibu Bapak cukup cukup.” Bentak Yanto, sedangkan Yanti hanya bisa menangis.


“Maafkan ibu nak, maafkan ibu.” Kata Ayu sambil memeluk Yanti.


“Besok bapak akan membawa kalian ke kota, kita akan pindah kesana. Bapak akan meminjam uang kepada pemilik kebun teh, lalu kita mulai hidup di kota. Bapak akan mencari pekerjaan disana, percayalah bapak akan membuat hidup kita menjadi bahagia dan serba berkecukupan. Sekarang kalian pergilah ke sekolah namun jangan katakan kepada gurumu kalau besok kita pindah ke kota. Cukup diam dan anggap tidak terjadi apa-apa, kalian mengerti kan?” Kata Yudi.


“Baiklah pak.” Kata Yanto.


“Jangan asal bicara saja, buktikan pada kita bahwa kamu bisa membuat kita bahagia.” Kata Ayu.


“Percayalah kepadaku sayang.” Kata Yudi kepada istrinya.


Akhirnya Yanti dan Yanto pun pergi ke sekolah, sedangkan Yudi dan istrinya mengemasi semua barangnya.


“Mas kamu yakin akan mendapat pekerjaan di kota? Lalu apakah pemilik kebun akan memberikan pinjaman kepada kita? Hutang kita saja masih belum lunas.” Kata Ayu.


“Percayalah kepadaku, setelah kita pindah ke kota tidak boleh ada satupun orang yang mengetahui keberadaan kita. Kita akan berangkat dini hari agar tidak ada yang mengetahui kita.” Kata Yudi.


“Baiklah, aku kasihan dengan anak-anak mas. Bahkan kita tidak pernah memberikan makanan yang layak setelah kejadian itu. Seandainya dulu kamu tidak tertipu dengan temanmu itu pasti kita tidak akan kehilangan harta dan rumah kita. Meskipun kejadian itu sudah sepuluh tahun yang lalu, tapi aku masih ingat dengan jelas mas.” Kata Ayu.


“Sudahlah lupakan, kita harus bangkit dan aku janji akan mendapatkan banyak uang. Aku akan melakukan apapun demi keluarga kita.” Kata Yudi.