Truth and Revenge

Truth and Revenge
Episode 23 (From Visual to Devil)



Marcella mengantar Celine pergi ke sekolah.


“Loh tante menyetir sendiri? Tidak diantar supir?” Tanya Celine.


“Apa kamu bilang? Kamu panggil aku apa barusan?” Tanya Marcella.


“Tante? Lalu aku harus memanggil apa?” Tanya Celine yang sibuk bermain ponselnya.


“Panggil aku mama lah, aku kan ibumu sejak menikah dengan papa kamu. Kamu suka membuli ya di sekolah?” Tanya Marcella.


“Apa? Aku membuli? Tidak kok, mana mungkin aku melakukan hal itu.” Kata Celine.


“Kamu tidak mau mengakui? Aku punya buktinya loh, aku bisa saja melaporkan kejadian itu ke pihak polisi.” Kata Marcella.


“Silahkan saja, aku tidak takut kok dengan ancamanmu.” Kata Celine.


“Baiklah, kita lihat saja nanti.” Kata Marcella.


“Aku tidak menyangka ya, kamu berubah dalam sekejap. Dulu saja kamu sangat baik dan perhatian denganku dan juga kakakku tapi sekarang kamu berani mengancamku, papaku pasti tidak akan tinggal diam jika mengetahuinya.” Kata Celine.


“Untuk apa aku berbuat baik kepada anak nakal sepertimu, tidak tau aturan dan suka seenaknya sendiri.” Kata Marcella.


Kemudian Celine mengeluarkan ponselnya dan ternyata tidak ada sinyal sama sekali.


“Ponselku kenapa ini kok tidak ada sinyal sama sekali, loh dompetku kemana ya kok tidak ada apa jangan-jangan ketinggalan ya.” Kata Celine.


“Hanya aku yang bisa mengaktifkan sinyal di ponselmu dan kamu pasti mencari ini kan?” Tanya Marcella sambil membawa dompet milik Celine.


“Jadi kamu yang mengambilnya? Berikan padaku, cepat berikan.” Bentak Celine.


“Kamu berani membentak orang tua ya? Wah apakah orang tuamu tidak pernah mengajarimu untuk bersikap sopan kepada orang yang lebih tua?” Tanya Marcella.


“Cepat berikan kepadaku.” Bentak Celine.


Lalu Marcella menghentikan mobilnya dan menyeret Celine keluar.


“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku.” Bentak Celine.


Kemudian Marcella menampar pipi Celine dengan sangat kencang.


Plak


“Aaaaaaaaaw apa yang kamu lakukan barusan? Kamu menamparku?” Bentak Celine.


“Sekali kamu berani padaku, atau tidak menuruti semua ucapanku, kamu akan mati di tanganku.” Bisik Marcella sambil menjambak rambut Celine yang membuat Celine menjadi ketakutan.


“Lepaskan rambutku.” Kata Celine.


“Jadi apa keputusanmu? Kamu mau menuruti semua keinginanku atau kamu akan membantahku?” Tanya Marcella.


“Aku akan menurutimu.” Kata Celine.


“Ini uang saku untukmu, gunakan sebaik mungkin.” Kata Marcella lalu dia meninggalkan Celine di pinggir jalan.


“Tunggu, lalu aku pergi ke sekolah naik apa dengan uang segini? Mana cukup untuk ongkos naik ojek online?” Tanya Celine.


“Kamu punya kaki kan?” Kata Marcella.


“Jadi kamu mau menyuruhku untuk berjalan kaki ke sekolah? Aku kan bisa terlambat.” Kata Celine.


“Aku tidak peduli denganmu, daripada kamu disini lebih baik berlari agar tidak terlambat kan.” Kata Marcella lalu langsung masuk kedalam mobilnya.


**


Dirumah.


Celine mengadu kepada papanya atas perlakuan Marcella.


“Papa.” Panggil Celine.


“Ada apa? Papa sedang berolahraga.” Kata Jo.


“Masalah apa? Masalah sekolah? Atau masalah keuangan? Kalau masalah itu semua sudah di atur sama mama Marcella.


“Asal papa tau, dia memperlakukanku dengan sangat buruk pa. Tadi dia menamparku pa bahkan dia menurunkanku di pinggir jalan dan akhirnya aku jalan kaki pa. Dia memberiku uang saku sangat sedikit pa bahkan ponselku saja tidak diaktifkan pa sinyalnya, dia sengaja menonaktifkan sinyal di ponselku pa. Aku tidak suka dengannya pa.” Kata Celine.


“Kamu jangan mengada-ngada Celine, mana mungkin dia melakukan itu kepadamu.” Kata Jo.


“Lihat pa ponselku tidak ada sinyalnya.” Kata Celine menunjukkan ponselnya kepada papanya.


“Lah ini apa? Ini sinyalnya ada Celine, kamu jangan seperti itu padanya. Dia itu mengurus semua keperluanmu loh bahkan jauh lebih baik daripada mama Alin.” Kata Jo.


“Tapi tadi tidak ada pa sinyalnya. Oh iya dimana mama Alin? Kenapa aku tidak melihatnya?” Tanya Celine.


“Dia pindah ke apartemen, mama Marcella membelikannya apartemen.” Kata Jo.


“Aku tidak percaya, pasti Marcella mengancam mama Alin. Pa aku tinggal dengan mama Alin saja ya pa.” Kata Celine.


“Mana mau dia menerimamu setelah kamu memperlakukan dia dengan buruk.” Kata Jo.


“Daripada aku tinggal dengan si Marcella yang jahat itu.” Kata Celine.


“Jaga ucapanmu, nanti kalau dia mendengarnya bagaimana?” Tanya Jo.


“Bukannya dia sedang diluar ya pa?” Tanya Celine.


“Papa tidak tau, sepertinya sudah kembali pulang.” Kata Jo.


“Aku ke kamar dulu ya pa.” Kata Celine.


“Iya.” Kata Jo.


**


Marcella memberikan sesuatu kepada Yanti dan Yanto.


“Ini untuk kalian berdua.” Kata Marcella.


“Wah terima kasih banyak nyonya, wah ada pakaian wah ada makanan juga.” Kata Yanti.


“Ini terlalu banyak nyonya, kami tidak pantas menerimanya.” Kata Yanto.


“Kalian bisa berbagi makanan itu dengan ayah kalian, selamat makan.” Kata Marcella.


“Nyonya baik sekali kepada kami, terima kasih banyak.” Kata Yanti.


“Terima kasih nyonya.” Kata Yanto.


“Sama-sama, aku kedalam dulu ya.” Kata Marcella sambil mengelus rambut Yanti dan Yanto.


Dari balik dinding, Celine melihat Marcella yang sedang memberikan sesuatu kepada Yanti dan Yanto. Tentu saja Celine merasa sangat iri dan kesal dengan Marcella, kemudian dia menghampiri Marcella.


“Wah baik sekali kamu sama si pembantu itu? Pembantu jelek, kotor dan bodoh seperti mereka mendapatkan barang berharga darimu, sedangkan aku mendapat perlakuan yang buruk.” Kata Celine.


“Ini salah satu permintaan maaf atas kelakuanmu terhadap mereka, selama ini kamu kan yang membuli mereka di sekolah?” Kata Marcella.



“Jangan mengarang cerita ya kamu, dasar licik.” Bentak Celine.


“Celine apa yang kamu katakan kepadanya? Ternyata memang benar kalau kamu yang mengarang cerita buruk tentang Marcella ya.” Kata Jo tiba-tiba datang.


“Tapi pa dia itu.” Kata Celine.


“Masuklah kedalam kamar, besok kamu harus bangun pagi kan.” Kata Marcella.


“Dasar bermuka dua.” Kata Celine.


“Celine.” Bentak Jo.


“Cukup mas, jangan memarahinya.” Kata Marcella.