
Jo dan anak-anaknya tiba dirumah. Alin mengamuk kepada Jo bahkan dia menampar suaminya didepan anak-anaknya.
Plak Plak Plak
“Tega sekali kamu melakukan itu kepada papaku?” Tanya Celine.
“Ada masalah apa?” Tanya Rafa.
“Kamu barusan memanggilku kamu? Aku ibumu yang selama ini merawatmu.” Kata Alin.
“Lalu apakah pantas seorang ibu menampar suaminya didepan anak-anaknya?” Tanya Celine.
“Kalian benar-benar telah ditipu oleh papa kalian, papa kamu ada hubungan khusus dengan si Marcella yang sering kalian puji itu.” Kata Alin.
“Aku tau kalau memang papa ada hubungan karena masalah pekerjaan, mama saja yang mengada-ngada.” Kata Celine.
“Celina buka mata dan hatimu nak, papa kamu itu sedang tidak beres.” Kata Alin.
“Kamu tidak punya hak untuk menilai seperti apa papaku.” Kata Celina.
“Sudah Celine, masuklah kedalam kamar. Ini urusan papa dengan mama kamu.” Kata Jo.
Dari balik dinding, Yudi dan kedua anaknya sedang memperhatikan Jo dan istrinya yang sedang bertengkar.
“Lanjutkan saja pertengkaran kalian.” Kata Yudi.
“Cepat baku hantam lagi, ayo cepat.” Kata Yanti.
“Saya suka pertengkaran keluarga ini.” Kata Yanto.
“Seandainya ada ibu, pasti dia sangat senang.” Kata Yanti.
“Tentu saja.” Kata Yudi.
Jo dan istrinya masih terus saling adu mulut.
“Jawab pertanyaanku mas, ada hubungan apa kamu dengan si Marcella?” Tanya Alin.
“Hubunganku dengan dia hanyalah urusan pekerjaan, lagipula kamu tau apa tentang pekerjaan.” Kata Jo.
“Kamu bilang dia membantuku keluar dari penjara? Itu hanya alasanmu saja kan? Dia pasti selingkuhanmu kan mas?” Tanya Alin.
“Kamu pikir aku tidak tau, jika hubunganmu dengan dia hanya sebatas rekan kerja lalu untuk apa kamu check in berdua di hotel bersama wanita itu? Bahkan kamu membelikan banyak barang untuknya, kamu benar-benar menyebalkan mas, kenapa kamu tega melakukan itu kepadaku mas kenapa mas kenapa?” Bentak Alin.
“Baguslah kalau kamu mengetahuinya jadi aku tidak perlu mencari alasan lagi.” Kata Jo.
“Apa? Jadi kamu mengakuinya mas? Kamu jahat sekali mas, kamu tega sekali denganku, aku ingin kamu berpisah dengannya mas.” Kata Alin.
“Sayang sekali aku tidak bisa, dia sangat berharga untukku dibandingkan dirimu.” Kata Jo.
“Jadi kamu lebih memilih dia dibandingkan aku mas?” Tanya Alin.
“Tentu saja, dia cantik, kaya, pintar dan ya tidak bisa dibandingkan denganmu lah pastinya.” Kata Jo.
“Kamu akan menikahinya?” Tanya Alin.
“Memang itu rencanaku dengannya.” Kata Jo.
“Kamu tidak akan pernah bisa menikahinya selama masih ada aku, selama aku masih menjadi istrimu.” Kata Alin.
“Aku akan menceraikanmu, gampang kan.” Kata Jo.
“Tidak bisa seenaknya, kalau begitu anak-anak akan ikut denganku.” Kata Alin.
“Mereka anak kandungku, ingat ya aku bisa saja melaporkanmu kembali ke pihak kepolisian atas pembunuhan si Ayu, kamu bisa bebas karena bantuan Marcella jadi inilah bentuk terima kasihku kepadanya dengan menikahinya.” Kata Jo.
“Kamu benar-benar tidak waras ya mas, sudah gila kamu mas.” Kata Alin.
“Aku tidak peduli dengan semua perkataanmu lagi.” Kata Jo.
“Aku tidak ingin berpisah.” Kata Alin.
“Kenapa? Kamu takut ya dengan ancamanku barusan?” Kata Jo.
“Karena kalau aku berpisah, itu tandanya aku kalah dari si Marcella.” Kata Alin.
“Kalau begitu kamu tidak boleh melarangku untuk menikahinya.” Kata Jo.
Lalu Alin pergi begitu saja.