
"Setelah ini kita ketemu sama jamal bisa?"Tiba-tiba pertanyaan itu mengejutkan Dahlia sampai hanya bisa menoleh dan mematung.
"Ga salah Mas?"
"Apa yang salah,ada yang aneh mungkin pertanyaanku?"Kembali melempar ke Dahlia.
"Iya aneh seeh mas,lagian ngapain mau ketemu Jamal.Kan aku sudah putus sama dia!"Jelasnya yakin.
"Setidaknya aku bisa ngobrol sama dia dan jelasin sebenarnya?"Kembali menjelaskannya.
"Menjelaskan kalau salah paham dan mas Anjas bilang kalau kita ga jadian gitu.Mau cari mati aku sama dia!"Serangnya dengan menyesal.
Tersenyum sinis nyatanya aku berhasil membuatnya bimbang,jelas itu akan aku godain dia kalau makin menyesal ga mau lepas dari aku.Seketika bertanya malahan mendekap tangannya.
"Kamu yakin butuh aku untuk menyelesaikannya?atau kamu udah berpaling dari Jamal hanya untuk aku?"Menatap penuh arti.
"Eeeenggaaa,ga gitu.Saya kecewa aja sama dia.Kenapa malahan mas Anjas tuh berbalik menolongku!"Bingung juga melihat keadaan ini.
"Kamu harus tahu,kenapa orang yang selalu membela seseorang dengan tulus bahkan lebih dari yang kamu bayangkan adalah ingin selalu melindungimu.Kamu tahu kan? Siapa yang aku lindungin saat ini!"Masih membuat senyuman untuknya.
Ia menggelengkan kepala sama sekali tak mengerti.
"Ya kamulah.Dahlia sayang!"Sambil mengecup tangannya.
Matanya kembali melotot serta mematung,secepat itu mas Anjas menambatkan hatinya buat aku.Ga mungkin apa ini jebakan atau hanya siasatnya supaya aku luluh sama dia.Engga,engga semudah itu.
"Mas,maaf ya kalau untuk urusan masalah putus sama Jamal trus aku deket dan jatuh cinta sama mas Anjas aku belum siap.Aku masih bingung tentang kehidupanku saat ini."
"Okey ga masalah,itu adalah pilihan yang akan kamu pilih.Tapi setidaknya kamu tinggal disini.Aman dari kegilaan Jamal atau siapapun.Masak aku tinggal sendiri seeh,ya butuh kamulah!"Lagi membuatnya heran.
"Trus aku tinggal disini gitu,ga bayar atau aku bayar tiap bulan."
"Ga usah,dengan satu syarat?mau tahu apa!"
"Apa?"
"Kamu keluar dari pekerjaanmu dan menjadi asistan pribadiku,mau kan.Seru lho itu?"
Asistan pribadi?asistan pribadi buat apa,kelihatannya mas Anjas tuh hidupnya enak dan selalu kemana-mana santai dan aku lihat kaya,ngapain nyari asistan model kayak aku seeh,ga tahu apa aku cinta banget sama kerjaanku dihotel.
"Haaaah,,,asistan?pribadi?ga salah.Apa mas Anjas sekedar bercanda saja!"
Ia semakin mendekat dan menatap tajam-tajam rasa tak percaya tengah dirasakan oleh Dahlia.Dia pasti ga tahu apa yang akan aku kerjakan nanti disini.Jadi aku butuh orang yang baik dan bisa diajak kerja sama bukan yang hebat dan mampu mengalahkan setiap tugas menjadi miliknya.
"Engga,ada kerjaan yang akan membuat kita semakin kerja keras bersama.Nanti kamu juga tahu!"
"Tapi kan aku dihotel masih lama kontraknya,kalau aku keluar dengan tiba-tiba gimana!kena masalah aku mas!"
"Ga bakalan,aku kenal kok sama orang yang menerima kamu kerja.Santai aja,semua pasti beres.Sekarang kamu siap-siap ya.Kita ada urusan penting,kamu aku angkat jadi asistan pribadiku sekarang,oke!"Sambil mendekap dagunya gemas lalu bergegas untuk gani baju kelantai atas.
Ga habis fikir deh,mau ada acara penting apa sampai aku harus ganti baju.Padahal kan aku ga punya baju yang bagus buat kerja,astaga mas Anjas itu ya bikin kesal aja.
Perlahan keluar dengan tampilan elegan dengan kemeja longgar berwarna hijau muda serta celana katun berwarna abu-abu pensil dan sepatu boath mejadi pilihannya untuk segera turun memainkan ponselnya.Berjalan turun kebawah sambil memasukkan tangannya disaku ketika ia menoleh dan menunggu didepan kamar milik Dahlia yang sempat membuatnya menunggu.
"Lama juga ya kalau wanita tengah dandan,hehehe!"Heran juga sambil membuang muka menanti kedatangannya.
Didalam kamar ia kebingungan mencari pakaian yang pas untuknya,sampai garuk-garuk kepala.Apa mas Anjas udah keluar dari kamarnya,bingung pastinya mencari-carinya.
"Gimana ini,pake baju model apa hari ini ya?"Bingungnya bikin penasaran Anjas untuk mendekati kamarnya seraya mengetuk pintunya.
Tok,,,tok.,,,tok,,,tok,,,
Sontak kaget mendengar ketukan pintu beberapa kali,sampai membuat raut wajahnya shock dibuatnya.
"Haaaah,,,sapa tuh!"
"Dahliaaa,,,buruan dong.Aku tunggu ya!"Panggilnya lantang.
"I-iya pak,,,,sebentar!"Jawabnya kebingungan.
"Masih lama ga?"
"Ga tahu seeh pak!"Haduuh,,,gimana neeh,bergegas untuk membuka pintunya.
Cekleeek ,,,malahan belum siap dan kaget melihat ketampanan sang atasannya tampil elegan dan tentunya segar.Apalagi parfumnya sungguh membuatnya terlena seketika.
"Eeeh,,,Mas,,,maaf ya.Aku bingung mau pake baju apa buat memenin mas Anjas.Jadi lama deh!"Meringis menjawab.
"Boleh aku masuk mungkin,aku carikan baju yang pas buat kamu ya!"Mengumbar senyum berharap Dahlia mau memberikan ruang sedikit untuknya.
"Ooooh silahkan mas!"Sambil memberikan jalan untuk masuk kedalam.
Melangkah dan melihat beberapa baju berantakan diatas ranjang,membuatnya sedikit berfikir seraya menoleh melihar wajahnya yang panik tapi segera ia tepis dengan jawaban yang pas.
"Ga usah panik lagi,kita ga ketemu klien besar kok.Masih ada waktu beberapa minggu buat ketemu klien kita yang baru.Kita hanya ketemu sama orang yang dekat sama Thy Than,ga masalah kok.Atau aku carikan biar kamu tetep pede ya."
Senengnya sampai ia mengangguk lepas merasakan kelegaannya mendapatkan hal special yaitu dicarikan pakaian untuknya sampai akhirnya segera memadupadankan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dengan palet putih serta rok panjang sampai kemata kakinya.
"Ini aja,kamu pasti anggun sama aku jalannya.Gimana mau kan."Memberikan kepadanya.
"Serius saya pake ginian pak?"Tanya lagi.
"Iyaaa,,,ga usah aneh-aneh aja okey!"Sambil gemas memegang dagunya.Perlahan pergi meninggalkan Dahlia tengah salah tingkah karena sikap sok romantis yang diberikan oleh Anjas seorang.
Menutup pintunya,gimana ya.Cantiknya pas tapi masih ga enakan sama aku ya udahlah bentar lagi juga berubah kalau dia sering-sering sama aku jalannya.Berjalan sambil membaca sebuah kartu nama seorang wanita yang pasti masih asing buatnya.Ya jelas karena aku kan sahabatan sama mas Rafan aja sama mba Natalia.Kalau ini siapanya ya?sambil berjalan menuju kursi sofa menunggu selesainya Dahlia keluar memakai pakaian pilihannya.
"Huuuhh,,,udah bener ga ya?"Sambil mengurai rambutnya sedikit curly memanjang serta memakai make up natural dan tak terlalu mencolok sehingga membuatnya tetap anggun cantik dan saat membuka pintu kamarnya.
Ia mencari keberadaan Anjas yang ternyata terlihat tengah memainkan ponselnya setelah menatap kartu nama tersebut.
Dahlia pun menghampirinya serta menyapa sang pria saat masih sibuk tanpa melihat keberadaan sudah diketahui.
"Mas,,aku udah siap!"Jawabnya membuatnya mendongak keatas lalu melongo dibuatnya.
"Haaah,,,siapa neeh!"Tanya Anjas kaget melihat tampilan yang makin feminim.
Ia malah ketawa renyah melihat terpananya sang pria tersebut,segera Anjas bangun dan membalas senyuman itu.
"Ka-mu udah siap?"Ikutan bingung kok bisa beda banget seeh,heran deh kalau penampilannya kayak gini terus bakalan aku seriusin kamu.
Tatapan mematung tapi senyum tetep saja menjadi prioritas utama sang Pria untuk menyentuh tangan Dahlia.Sebuah ucapan pun dia katakan.
"Kamu yakin mau nemenin aku?"
"Lho katanya ngajak aku kerja,ya aku mau mas.Apa aku nanti beneran jadi asistan pribadinya mas Anjas?"Kembali bertanya.
Tersenyum sambil mengangguk,juga masih mikir juga apa benar aku akan mengajaknya sebagai team kerjaku atau engga.Hehehh ,,ga mungkin dong.
"Ya udag ayoo,jalan!"Rangkulnya berjalan keluar tanpa menolak lagi,tapi aneh banget sampai kayak gini romantis lagi.
Duuuh ga kuwat kalau lama-lama jalan sama mas Anjas,bisa jadi apa aku nanti dibuatnya.Pintu pun dibukakan special untuk Wanita special serta mempersilahkan untuk segera turun menuju carpot garasi.
Herannya sudah ada dua mobil tengah terparkir yaitu BMW sport keluaran terbaru dengan warna hitam metalik sampai membuat Dahlia terperangah dibuatnya.
"Tadi pas kita terlelap oleh mimpi kita masing-masing mereka datang tanpa permisi yaudah,diterima aja.Kita naik yang ini ya!"Pilih Anjas menjatuhkan pilihannya sama mobil BMW sport hitam metalik untuk siap ia jalankan bersama kedekatan ini.
Sempat pula ia menoleh dan melihat sebuah mobil unik yang membuatnya tersenyum simpul.Aku juga pengen naik mobil itu.Ya mini cooper berwarna merah dengan palet warna hitam membuatnya seakan menjadi berharap untuk menikmati jalan-jalan lain kali.
"Gimana kamu suka kan,nyaman kan?"Saat mereka udah duduk manis dan merasakan sensasi naik mobil keren sport milik Anjas.
"Nyaman mas,ga bakalan aku lewatkan moment seperti ini!"Sambil tersenyum menyambutnya.
"Kita berangkat sekarang ya.Nanti kamu mengaguminya dijalanan ya."Lagi-lagi dagu Dahlia menjadi sasaran kegemasan Anjas sampai kaget dan malu lagi dibuatnya.
"Iyaa mas!"Jawabnya sambil ikutan konsetrasi melihat jalanan kota.
Entahlah sekarang aku berada dalam lingkaran model apa saat ini.Apa aku menjadi bagian dari mas Anjas akan dalam waktu yang cukup lama.Apalagi senyuman itu kembali menoleh dan kembali membuat sebuah obrolan.
"Kayaknya kamu canggung versi kedua ya.Sampai ga bisa diajak ngobrol ya?"
"Haaaah,,,apa mas?"Menoleh kaget saat dia tengah memulai percakapan itu.
"Kamu masih ga percaya ya,sekarang dekat sama aku.Lagian kan dekat dengan orang baru itu banyak tantangannya kan?kamu belum tahu pasti siapa aku sebenarnya kan!"
"Iya mas,kenapa bisa mas Anjas mengajakku terlibat dalam urusan yang menurut saya bukan bagian dari pekerjaan saya?"Tanya balik.
"Karena aku tahu dimana kekuatan yang akan aku berikan sama kamu.Kamu harus kuat dan akan menjadi bagian dari pekerjaan baruku ya!"Lagi menyentuh tangannya sampai tatapan lagi mengarah ditangannya.
"Apa mungkin aku belajar lagi?"Penasaran sama jawaban sesungguhnya.
"Mungkin juga,kenapa kamu harus bersusah payah belajar lagi.Kita belajar sama-sama ya!"
"Okeey,pasti saya akan belajar supanya nanti saya tidak akan mengecewakan anda kan!"Dilanjutkan dengan tawa lepasnya.
Sepanjang perjalanan kali ini memang membuat Anjas penasaran kepada sosok orang dibalik kehidupan Thy Than yang memang notabennya aku sama sekali tidak mengerti atau aku kenal tapi melupakannya?nanti aku akan ketemu dengan orangnya juga.
Sampai juga disebuah rumah bernuansa kolonial serta asri dengan sebuah taman indah juga suasana tengah hening.Atau memang ada orangnya didalam,terhenti disebuah pinggiran trotoar tentu sesuai dengan alamat yang ditujukan oleh tempat ini.
"Benar ini alamatnya!"Mengangkat kartu nama serta melihat kembali alamat rumahnya.
"Apa saya keluar untuk memastikan mas?"Dahlia menawarkan untuk keluar bertanya.
"Ga usah deh,kayaknya kita langsung aja menemui pemilik rumahnya yang ada didalam.Pasti ada orangnya kok!"Perlahan keluar dengan perasaan waspada.
Melihat sekeliling area dekat rumahnya,asri dan sepi padahal ini masih jam berapa ya?melihat dengan tatapan khas miliknya lalu menoleh serta mengangkat salah satu alisnya kearah Dahlia.
"Gimana kita masuk sekarang!"Ajaknya bergegas.
"Boleh juga mas!"Perlahan mengikutinya dari belakang,untuk segera masuk kehalaman rumah dan mengetuk pintunya.
Tok,,,,tok,,,tok,,,
Sebuah ketukan pintu membuat sang mama Gina terhenti dan rutinitas membuat kuenya,juga Fian yang tengah sibuk memasukkan beberapa file terhenti pula.Siapa yang datang?
Sekejab Fian keluar dan menemui mamanya untuk bertanya siapa yang tengah diluar tersebut.
"Siapa ma?kok kayaknya ga pernah kesini deh!"
Menoleh sambil memperhatikan keluar,Rasanya ada tamu asing yang tengah berkunjung.Gimana lagi,apa harus segera ditemui atau engga neeh.
"Mendingan kamu cek kedepan cari siapa ya,nanti kabarin mama segera okey!"Sambil tersenyum mentuh pundaknya.
"Siap ma!"Sambil mengangkat kedua jempolnya.
Lalu menoleh wajah penasaran Fian pun segera untuk melangkah menuju kedepan dan membuka pintu.Tatapan ini seakan ga asing ketika harus melihat sosok pria yang ada didepannya,tapi agak ragu bila harus bertanya.
"Selamat pagi,apa ini rumahnya Ibu Gina?"Tanya balik.
"I-iya betul,ini rumahnya Ibu Gina.Anda siapa dan mau apa ketemu sama mama saya?"Tanya Fian makin ga karuan.
Menghela nafas panjang,ada senyum yang seakan membuatnya ingat siapa dia tapi samar-samar itu mungkin bukan dia kali ya.
"Sebentar ya saya panggilkan.Silahkan masuk pak ibu!"Ajak Fian dengan wajah yang masih curiga banget.
"Terima kasih ya!"Perlahan masuk dan dipersilahkan untuk duduk.
"Silahkan duduk,saya panggilin mama saya dulu ya!"Bergegas untuk kebelakang dan laporan tentang tamu itu kepada sang mama.
"Okey saya tunggu ya!"Tatapan itu jelas membuat heran juga buat Anjas.
Apalagi saat melihat suasana rumah ini juga ga asing lagi.Tapi ada sebuah plang terima pesanan kue dan pastry.Pasti dia pengusaha rumahan yang sibuk ini.Jadi ganggu deh dateng pagi-pagi kayak gini.
"Kayaknya yang punya jualan kue deh,ada plang nama kuenya mas."Masih penasaran dengan sosok wanita tersebut.
"Iya memang hehehe!"
Tak lama Mama Gina pun perlahan keluar dan mengumbar senyum seraya menyapa mereka berdua.Sejak saat itulah pria yang tengah duduk pun heran dengan sosok wanita yang merupakan saudara sepupunya yang lama ga pernah ketemu selama ini.Entah dimana dia sekarang pun sama sekali tidak mengerti malahan sekarang datang tepat dihadapan mama Gina.
"Anjas,,,Anjas Mahendra!"Sontak sang mama pun bahagia telah bertemu dengan sepupunya yang selama ini hilang entah kemana malahan bertemu disaat yang tepat.
"Tante Gina!astagaaa.Tanteee!"Beranjak berdiri keduanya saling berpelukan erat sampai lama tak ingin melepaskan tante tercintanya.
"Anjaaas,,kamu kemana aja.Tante putus asa mencari kamu.Malahan kamu ada didepan mata Tante sekarang!"
Ada sesuatu mengherankan diantara keduanya,salah satunya adalah Fian yang terdiam masih menatap heran siapa yang tengah dipeluk oleh sang mama.Apa itu salah satu keluarganya ya.Dahlia pun gitu,dia pun ikutan heran tak percaya dengan pertemuan mengharukan ini.Seakan mimpi itu ga jauh-jauh banget lho.
"Waaooow udah lama juga ya hehheeh!"Kagum banget ternyata sang tante masih mengenalnya.
"Kamu belum ada yang berubah kok seperti yang dulu."Mempersilahkan untuk duduk dan santai.
Obrolan pertemuan itu telah menyatakan sebuah kebenaran yang selama ini telah lenyap dalam keluarga mereka dan terpecah karena ketidak setujuan untuk memberikan restu kepada tante Gina soal suaminya.Akhirnya mereka pindah kejakarta dan bertemu dengan Keluarga dari Thy Than.Perjuangan mereka untuk saling bersama pun tak semudah itu sampai harus mengalami pasang surut hingga akhirnya perpisahan keluarga benar-benar membuatnya mencoba melupakan kelurga besarnya untuk berjuang sendiri.
"Trus tante punya anak berapa?"Tanya Anjas dengan semangatnya.
"Tuhhh lihat difoto keluarga,yang perempuan itu Fiana anantya.Sebelah itu Rasya Alfino,mereka sama sama kuliah.Dan sekarang ga tahu deh kemana Rasya,biasanya dia pulang kok malahan kemana.Tapi anak tante yang perempuan ada kok yang tadi bukain pintu.Bentar ya tante panggilin."Beranjak kedapur,
Fian pun segera kabur dan menuju dapur membuatkan minuman untuk tamu yang tengah mengobrol dengan mamanya.Seraya menghindari mama saat ketemu pasti udah ngomongnya penuh seruangan depan bikin malu aja deh.
"Eeeh,,,Fian kamu udah bikinin mereka minum?"Sambil mendekati dan mendekap pundaknya.
"Udaah maa,,santai aja! Ini udah mau selesai kok,hehehe!"Sambil meracik minuman untuk tamunya.
"Mama mau kenalin seseorang yang lama bener mama kangenin.Kamu ikut ya kedepan!"
"Iya maaa!"Lempeng aja jawabannya.
Didepan Rasanya nyaman banget tinggal dirumah ini,lega dan luas.Pasti mahal deh dulu beli rumah seperti ini,sambil tengak-tengok melihat keadaan ruangan yang tertata rapi,ia bersedekap sambil tersenyum melihat kekokohan cinta Tante dan Omnya sungguh membuatnya terharu,tak disangka ia menitikan air matanya,membuat Dahlia kaget.
"Masss,,,kamu nangis?"Menatapa heran.
Sadar juga sambil melihat raut wajah Dahlia,tumben banget bisa nangis mas Anjas,lalu dia melihat foto keluarga dari tante Gina.Memang mengandung memori yang sangat tajam sampai ia terharu seperti itu.
"Ooohhh,,,aku nangis ya!"Segera ia mengelap air matanya,Dahlia pun respek mengambilkan tissu dan ikut mengelap air matanya.
"kok bisa seeh mas,ehehheh!"Ga habis fikir sampai tawa lepasnya kembali tertuang,malu juga ya nangis disamping wanita seperti dia aneh banget.