Thy Than

Thy Than
Bab.40 Ganindra kembali menyapa



Kriiing suara jam wekernya dipagi hari kali ini membuatnya hampir jantungan.Betapa tidak,sama sekali Ganindra tak menyangka suara itu membangunkan mimpi indahnya dalam bungkusan selimut tebalnya.Rasanya berat untuk membukanya tetapi matanpun tak bisa bisa lagi diajak kompromi saat mentari memang telah membuatnya tak bisa memejamkan matanya.Berbaring miring sambil meraih jam wekernya lalu melihat tepat pukul.07.00 pagi.Hampir kembali terperanjat saat melihat apakah benar hari ini jam berangkat sekolah sampai ia terbangun dan mencari ponselnya lalu melihatnya dengan seksama.


Tatapan mata konsentrasi tajam membuatnya perlahan lega saat melihat waktu sekarang adalah 18 Desember dan hari tertuju adalah minggu,huuuuh menghela nafas panjang setelah melihatnya.


Kembali terbaring dalam suara jantung tak beraturan akibat kaget setengah mati melihatnya.


"Astagaaa,,,pasang jam weker sekali aja udah membuat gua hampir jantungan.Gimana kalau pasang banyak bisa-bisa mati kaku gua!"Sambil menepuk keningnya.


Heran juga,kemana ibu ya.Kok ga teriak-teriak buat ngebangunin gua kali ini.Apa ibu ga pa-pa ya!Beranjak bangun kembali turun dari ranjang mencari kaos yang tersampirkan dikursi semalam.Memakainya,tak lupa ia mencuci wajahnya sejenak dan melihat kembali.


"Huuuuh,segarnya.Saatnya gua harus melihat ibu kenapa ya kok ga ada suaranya manggil-manggil aku dari tadi!"


Mulai beranjak turun dari kamarnya untuk menemui ibu tercintanya,ternyata ga ada didapur.Terhenti dan berada dimana ibu ya.


"Buuu,ibuuu.Ibu dimana?"Panggilnya kebingungan.


Mendongak lagi keatas,apa masih tidur ya?Beranjak untuk menemui ibunya dikamar pribadinya.Belum sempat keatas ia sekilas melihat sebuah kertas yang ditaruh dimeja makan.Kertas apa itu,perlahan menurunkan kakinya berbalik untuk mendekati meja makan tersebut mengambil kertas tersebut dan melihat sebuah pesan dari ibunya.


"Surprise,,,pagi ini ibu ada tugas penting nak.Ibu keluar negri aga lama seeh.Ada urusan yang harus ibu kerjakan.Kamu hati-hati dirumah,kalau ga berani ya tinggal sama abangmu ya.Kan abangmu juga mau nampung kamu.Salam sayang ya,,,ibu tercinta kamu muaaacch"


Sebuah pesan membingungkan,ternyata ibu kabur dari gua sekarang.Huuuuh,,,sendirian deh!"Menghela nafas panjang.


Kemana sekarang neeh gua,bikin sarapan dulu atau mandi dulu ini.Bingung juga mendapatkan dua pilihan yang jelas membuatnya sempat bengong.Belum beberapa menit bengong,suara telpon rumahnya tengah berbunyi nyaring membuatnya terkejut hingga mengira sebuah panggilan itu adalah panggilan misterius dipagi ini.


"Siapa lagi ganggu gua pagi-pagi kayak gini!"Bergegas mendekatinya lalu mengangkatnya.


"Haloooo,,,,selamat pagi dengan Ganindra!"


"Resmi banget jawabannya,kamu mau ngelamar jadi greeter host ya!"Ujar sang Abang seraya menahan tawanya.


"Haaah,,ini siapa ya?kok kenal banget sama gua!"Kembali mempertanyakan.


"Heiiii,ini abang Ganindra.Kamu udah amnesia setelah ditinggal ibu keluar negeri haaah!"Lanjutnya menggelengkan kepala.


"Kok tahu Abang?emangnya ibu bilang sama Abang ya?kok sama gua engga.Waaah ga beres neeh ibu!"Kesal juga seeh ga dianggap sama ibunnya.


"Heiiii,,jangan berprasangka buruk dulu sama ibu.Beliau ada urusan sama rekan kerjanya dulu.Katanya ada yang harus diselesaikan.Kamu tuh harus ngerti dan harus pintar jaga rumah ya.Jangan kelayapan!"Pesannya memberikan ceramah.


"Heheheh,iya bang.Iya tahu abang yang baik hati bolehkah aku sarapan dirumah abang sekarang?"Berharap ada jawaban yang pasti.


Morgan menoleh kearah Monalisa dan bertanya kepadanya.


"Sayang,,,apa Adikku boleh sarapan pagi dirumah ini?"Mengumbar senyum untuknya.


"Apa?abang masih ijin sama dia,emangnya gua apanya abang seeh?"Kesal mendapat jawaban seperti itu.


Monalisa pun mengangguk serta menata kembali sarapan paginya untuk Ganindra.Ada-ada saja pertanyaan tuan Morgan sampai membuat saudaranya kesal.Apa mungkin dia kesal atau tidak sebenarnya mana aku tahu.


"Iyaaa boleh,buruan datang kesini.Tapi inget mandi dulu ya!"Sambil menutup ponselnya.


"Iya siap bang!"Sambil memberikan hormat kepadanya.


Menggelengkan kepala,berbalik mendekati Monalisa yang masih menyiapkan sarapan pagi.Ia melihat kembali seraya mendongak melihat pakaiannya yang terkadang meresahkan setiap orang.Terhenti serta menggarukkan kepala heran,hebat juga dia bisa memasak sebanyak ini.


"Tumben kamu memakai baju yang feminim,biasanya cara pakaianmu bisa membuat aku menelan air liurku Sayang!"Mendekati menyentuh pundaknya.


Ia beranjak menegakkan kembali punggungnya setelah selesai menata makanan yang tersaji dimeja makan.Menoleh memberikan sebuah jawaban untuknya.


"Saya tahu tuan sekarang kan Adik tuan Morgan sering kesini kan.Jadi saya akan membiasakan untuk memakai pakaian yang lebih tertutup dan tidak membuatnya salah fokus.Kasihan bila dia melihat itu semua,juga pasti yang kena marah tetap Adik tuan kan.Karena tuan lebih suka menjagaku dan tidak ingin melukaiku sedikitpun!"


Tersungging geli mendapatkan sebuah kalimat bijak seorang Monalisa.Sekejab ia mendekap kepala Monalisa lalu menciumnya,sebuah perhatian itu datang tak mudah untuk menjatuhka pilihan hanya untuk seorang Wanita penggoda.Dia adalah bagian hidup yang tak bisa diselepekan sama sekali,wanita yang memiliki banyak strategi dan trik hidupnya untuk sebuah tugas penting ini.


Ganindra semangat pula untuk mandi dan segera bergegas mencari pakaian yang pas untuknya,pasti dia menyakini bahwa teman hidupnya Abang pasti ada dirumah saat ini.Terus siapa yang diajak bicara tadi kalau bukan dia.Gua harus bisa menjaga hati,hatiku saat ini aja tengah gundah tak jelas antara dua perempuan tengah menjerat hatinya Yaitu Thy Than atau Mega.Banyak sekali pilihan yang membuatku tak bisa lagi dicerca sedemikian pula.


"Berangkat aja dari pada hidup gua bimbang,gitu aja ga ada akhirnya!"Bergegas turun setelah memakai pakaian santai dengan sepatu boat berwarna hitam.


Pakaian casual pun ia tampilkan dengan warna yang beragam,antara kemeja berwarna hitam dengan aksen warna hitam dan putih serta celana jeans berwarna mocha menambah penampilan hakiki seorang pemuda masa kini.Menuju garasi mobil serta mengendarai motor kesayangannya serta melupakan sejenak mobil elegan yang sempat membuatnya hangat bersama Thy Than.


"Mengambil helem dan rasanya kalau pakai jaket kulit lebih kelihatan keren gua ya.Huuuuh!"Merunduk sejenak mendongak lagi dan masuk kedalam memakai jaket yang sudah menancap diotaknya bahwa warna inilah yang sesuai untuknya.


Setelah puas tampil dengan memakai pakaian yang tepat untuknya saatnya kembali menikmati jalanan kota tanpa ada hambatan apapun.Hidupnya kali ini penuh dengan drama yang tak bisa dikatakan sebagai hidup yang baik ketika harus ditinggal pergi oleh ibunya keluar negeri,,lalu berhadapan dengan abangnya yang sama-sama seram tapi entahlah gua harus bersikap seperti apa sekarang.


"Mega gimana kabarnya saat ini?apa gua mampir.Mampir pun ga ada guna.Waktu hampir mendekati sarapan pagi dan gua harus hadir tepat didepan mata abang gua.


Suara motor retronya telah membawanya sampai didepan halaman rumah Morgan,sesaat setelah ia menunggu lama dan akhirnya mendongak melihat kehadirannya sejak tadi.Morgan berniat untuk menghampiri dan menyambutnya, tetapi sekejab ditahan oleh Monalisa untuk kedepan.


"Biarkan saya saja Tuan,tidak baik bila saya yang tidak menyapanya.Nanti saya dikira apanya lagi sama dia!"Sembari menahan tawanya.


"Oooh,iya silahkan deh.Aku menunggunya disini!"Pinta Morgan dengan memberinya kesempatan untuk menyambut Adiknya.


Tak berselang lama,langkah Monalisa memang tak bisa ditebak oleh siapapun.Bahkan langkahnya memang seorang model tengah berjalan santai bukan langkah seorang mata-mata tengah bertugas.Pantas saja senyum Morgan saat melihat kelihaian kekasihnya dalam berjalan telah membuatnya terpukau dengan sendirinya.


Sama halnya dengan Ganindra saat ia turun dari motornya dan ingin segera masuk tetapi harus bergaya dulu seraya berjalan dan melepaskan jaketnya.Menaruhnya dipergelangan tangan dengan langkah gagahnya ia pun mendekati pintu,Belum sempat ia mengetuk pintu ada suara pintu terbuka dan tentunya itu adalah Kekasihnya abang gua.Senyumnya yang khas menyapa ramah membuatnya sedikit terganggu.


"Selamat pagi Ganindra,apa kabar!"Kalimat itu telah membuatnya tertegun dan terpana hingga tatapan kagum pun ga bisa lagi terbantahkan.


"Ba-baik Mba,heheheh!"Lanjutnya terbata-bata kebingungan.


"Mari silahkan masuk,abang kamu udah lama nunggunya lho!"Ajaknya masuk kedalam.


Apakah benar itu kalimat seorang kekasih yang benar-benar memberikan ruang khusus untuknya,kenapa tidak.Berjalan masuk kedalam beriringan serta senyum itu datang saat keduanya saling berpelukan.


"Sabar ya,ibu ada kepentingan.Jadi kamu harus kuat menjaga diri sendiri okey!"Pintanya tersenyum melepaskan pelukan.


"Kamu tahu kan siapa dia?"Seraya memperkenalkan kepada Monalisa.


Menoleh dan menjawab hangat apa yang tengah dikatakan oleh Morgan.


"Dia adalah pilihan yang ga bisa kita tawar lagi.Memang beda kalau difikirkan dengan baik-baik."Sembari menahan tawanya.


"Tuan memang beda ya,selalu membuat candaan yang tak biasa dari saya!"Mencoba mengulurkan tangan."Apa kita kenalan lagi Tuan muda!"Kembali mengeluarkan kalimat candaan.


Ganindra pun mendongak heran,apa memang harus seperti itu kalau mengenal seseorang.Harus menyapanya dengan kalimat "Tuan muda!"


"Bang,aku di panggil Tuan muda sama dia.Waow suatu kehormatan deh!"Lanjutnya berjabat tangan dengan Monalisa.


"Kayaknya kalian tuh harus banyak kerja sama dan saling mengenal ya.Baru kalian tidak canggung lagi kan!"Sambil melirik kearah Monalisa.


Menahan tawanya,"Tidak juga Tuan.Apa kita akan mengobrol terus sampai melupakan sarapan pagi kita?"Lanjutnya mengingatkan.


Pandangan seorang Ganindra memang tak lekang oleh waktu saat senyum itu memang selalu datang disaat hatinya tengah terpana oleh sosok tersebut.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu Indra?"Sontak membuatnya kaget dan tidak ada persiapan kalimat yang akan ia jawab malahan hanya kebingungan sampai membuat sang abang hanya menggelengkan kepala heran pula.


"Kamu pasti terpesona dengan Monalisa kan?itulah kelebihannya selain membuat kamu lupa segalanya pastinya kita akan dihadapkan dalam dua hal!"Lanjut Morgan memberikan sebuah intuisi kalimat.


"Apa itu?"Kembali bertanya.


"Thy Than atau Mega?"Sontak membuat Ganindra dalam pilihan sulit,benar memang ketika aku mencintai Mega,aku harus memilih dengan orang lain tentu itu membuatnya semakin bingung.


"Kayaknya kamu bingung ya dengan pilihanmu?tapi setidaknya hati kamu ada disatu makna bahwa kamu akan memilih yang benar-benar membuatmu bahagia sekarang,Tapi tidak akan membuatmu bahagua saat ini."Seraya tersenyum menatap Morgan.


"Setidaknya saat ini kita makan ya,jangan berfikir tentang beratnya kamu menghadapi dua orang yang kamu cintai.Nanti kamu malah ga nafsu makan ya kan!"Lanjutnya mengangkat kedua alisnya lalu kembali membuat Ganindra semangat untuk berada diantara Morgan dan Monalisa.


Tak hanya sebuah kedekatan antara Ganindra dan Morgan kembali bergeliat setelah lama tak berjumpa,Thy Than pun merasakan ada hal yang lebih penting diantara dua orang terdekatnya saat ini dalam menjalani kehidupan baru diapartemen.Tak jauh lagi dirinya pun mengingatkan Rey dan Joana untuk tidak menjual rumah yang sempat ditinggalinya dan meminta untuk memberikan waktu buat dirinya untuk mencari solusi terbaiknya.


"Maaf Om,kak Joana.Saya mungkin salah ngomong ini dimeja makan tapi saya ingin tahu tentang bagiamana kelanjutan dari rumah pribadi saya?"Senyuman itu sungguh kaku terlihat dari raut wajah Thy Than.


Keduanya saling berpandangan,ada senyum tersungging dari Rey serta menyentuh tangan Joana.


"Jawaban kamu memang ga ada yang lain.Kok serius amat seeh!"Jawab Rey dengan menompangkan tangan.


"Iya baru dua hari aja udah cemas,kamu tuh ga usah mikirin itu.Yang kamu pikirin tuh sekolah dulu.Kalau udah pas banget baru kita bahas.Okey!"Lanjut Joana mengumbar senyum.


"Jadi gimana Om Kak sama rumahku itu!"


"Masih amanlah,mau jalan kesan lihat-lihat lagi boleh.Sekalian kita jalan bareng,mau ajak Ganindra ga?"Mencoba menghubung-hubungkan dengannya.


Melengos heran,kenapa harus ada dia juga kalau aku ada apa-apa."Kok malah kepikiran sama Ganindra seeh?"Tumben ia sensi banget denger nama itu.


"Lho,ga salah kan?harusnya kamu tuh seneng ada dia!"Joana pun heran.


"Ya ga gitu juga kak,kan aku juga butuh sendiri.Ya sama om Rey dan kak Joana kan lebih nyaman aja!"


Keduanya kembali saling menatap dan mengumbar senyum kepadanya."Oke deh,liburan tanpa dia ga sedih gitu?"Rey mencoba menggodanya.


"Ya enggalah Om,santai aja!"Jawabnya senang melempar senyum.


"Trus siapa disini yang belum mandi?"Tanya Rey menompangkan tangan serta tengak-tengok.


Joana dan Thy Than pun bingung saling berpandangan,lalu mengangkat kedua pundaknya.


"Ga ada Tuan,apa Tuan muda yang belum mandi?"Lanjut Joana kesal kena tuduh yang bukan-bukan.


"Heeeyyyy,ngaco kamu.Udahlah ga denger tadi aku mandinya?"Tanya Rey sambil mengangkat dagunya dengan sikapnya.


Menahan tawa geli,Thy Than memang ga ada duanya.


"Kenapa juga ini ketawa sok sembunyi lagi!"Sindirnya membuatnya tiba-tiba diam tanpa kata.


"Iya Om maaf!"Lanjutnya sambil makan.


Rey pun segera mengambil tas selempang kulit berwarna hitan dan tak ketinggalan kaca mata hitam yang mulai menandakan ketampanannya tak bisa disalahkan lagi.Apalagi pesonanya saja hampir membuat jantung Thy Than berdetaknya tak karuan melihatnya.


"Kalian udah siap apa belum?"Tanya Rey yang menunggu lama keduanya tengah berdandan dikamar masing-masing.Menanti dengan sabar,sampai ia membuat sebuah permainan yang seru digame online dimana ia sudah lama tak memainkannya.


Merebahkan dirinya dengan kesibukan main game membuatnya melupakan apa yang dikatakan oleh banyak lelaki saat bersama seorang wanita.Yaitu "MENUNGGU" adalah suatu kegiatan membosankan sampai ia memainkan PubG dengan seru tanpa menunggu cukup lama karena sudah keasyikan menikmati perjalanan game nya.


Thy Than pun bergaya cukup feminim saat ini yaitu terusan baju berwarna pastel dengan lengan pendek serta rok yang mendekati lututnya masih ia rasakan baik dan cukup untuk bergaya.Apakah rambutku harus diurai biasa atau dikuncir?rasanya biasa aja deh ga usah diapa-apain jadi lebih natural dan bagus.Heheheh,berbalik mengambil tas kecil lalu ia selempangkan berwarna senada dengan bajunya.Om Rey kalau masalah pakaian keren banget ya,koleksinya sebenarnya buat siapa seeh.Coba deh nanti aku tanyain.


"Selesai deh,sekarang aku tanyain aja sama om Rey.Pasti dia tahu,trus gimana sama kak Joe ya.Apa dia tahu juga,heheheh harusnya juga tahu seeh!"Berjalan keluar setelah puas berdandan seraya menutup pintunya.


"Udah cantik pastinya aku heheheh!"Bergaya sambil berjalan menuruni anak tangga.


Sampai setengah langkah malahan terlihat om Rey malahan asyik main game.Syukur deh inget main game jadi kan ga terasa lama nungguin aku,berjalan menghampiri Om tersayangnya dan duduk disebelahnya ikutan nimbrung penasaran sama permainan apa yang tengah dimainkan olehnya.


"Haaiiii,,,om main game apa?"Menyelipkan rambut terurainya ditelinga Thy Than ikutan mengawasi jalannya permainan.


"Ini lagi seru-serunya neeh menyerang.Kamu udah selesai cepet banget?"Tanya Rey tanpa menoleh.


"Lama Om,hampir setengah jam lho aku dandan.Ga kerasa ya?"mengangkat kedua alisnya.


"Engga,ini malahan lebih seru!"Lanjutnya masih fokus.


"Ooooh ya udah!"Menoleh kearah kamar Joana,kayaknya belum keluar juga apa masih bergaya dulu ya heheheh.


"Trus mana Joana?belum kelihatan dia!"Masih saja sibuk tanpa menoleh.


Kembali menengok kekamarnya,ada juga jawaban sama dari keponakannya."Iya belum kelihatan juga.Aku samperin deh!"Beranjak berdiri dan tentunya saat itu Rey menoleh serta mendongak kaget lihat penampilan keponakannya.


"Cantik banget neeh,mau ketemu siapa seeh!"Candanya geli.


Kaget juga,jadi om Rey udah sadar dia.


"Heheheh,ya mau jalan-jalan dong.Kali-kali ketemu cowok lain lagi kan seru Om hehehe!"Membalas candanya.


"Astagaaa,masih kurang sama yang kemarin!"Seraya menggelengkan kepala keheranan.


"Heheheheh,becanda Om!"


"Belum pernah seeh dapat romantisme sama dia,pasti kamu nempel terus sama dia!"Lanjutnya ngakak.


Melengus kesal,pagi-pagi dapat ceramah singkat bikin ga mood aja deh om Rey neeh.Mendekati pintu kamar Joana lalu mengetuk pintunya.


"Kak Joe,udah siap belum?"Sembari mengetuk pintunya beberapa kali.


Menoleh seraya memasang anting-antingnya ia pun menjawabnya."Iya bentar sayang,masuk aja!"Jawabnya seraya sibuk memasangnya.


"Ooo,boleh masuk!"Sambil membuka slot pintu langsung menampakkan wajahnya,"Heeem,udah selesai apa belum kak?"Perlahan masuk kedalam menutup pintunya.


"Bentar lagi ya,maklum kalau jalan asistan malahan yang sibuk dandan biar ga ada yang gangguin heheheh.Dijaga sama Tuan muda!"Candanya geli.


"Hemmm,pengen deh dijaga kayak gitu.Aman dan nyaman kali ya!"Sambil menghempaskan duduk diranjang.


"Ya kamu kan juga dijaga sama Tuan muda,ga mungkin dong dilepas begitu aja kan!"Serunya menyelesaikan tugasnya dan kembali.