Thy Than

Thy Than
Bab.14 Thy Than dan antara pak Ben.



Sampai pula diparkiran,jelas itu menbuat mereka segera berpisah masing-masing dimana Mega bersama mobil kesayangannya berwarna hitam metalik mini coopernya untuk segera berpamitan juga sama Adam dan Ganindra yang hanya terpana saja meliharlt setiap body goalnya yang ga biasa dimiliki oleh banyak perempuan disekolah ini.Tapi sama halnya dengan Adam,ada sosok yang semakin menggoda dalam pandangannya yaitu Thy Than,entah kenapa wanita teduh itu memiliki aura kedewasaan yang mumpuni hingga menarik senyum setiap orang yang menatapnya saja.


Adam pun mendekati Ganindra dan mengucapkan kalimat yang hampir saja membuatnya berfikir dua kali untuk bisa menjatuhkan hatinya kepadanya.Rasanya itu sangat mengejutkan tak kala sang pemain game telah memuji siapa sebenarnya perempuan mengagumkan tersebut.


"Rasanya elu harus dua kali mikir tentang dua perempuan ini.Mana yang menurut lu sebagai pengganti hati lu sama sebagai seorang yang bener-bener elu cintai seumur hidup lu!"Sambil menepuk pundak Ganindra,rasanya kalimat itu benar untuk dipelajari selanjutnya oleh hati ini yang tengah kosong bahkan dilema


"Bener juga,apalagi dia itu sekarang sendirian.Apa gua harus menjadi orang baik untuknya atau hanya sekedar dekat aja?"Pertanyaan itu muncul saat Thya Than perlahan hilang masuk kedalam mobilnya dan melambaikan tangan kepada kedua lelaki yang tengah menatapnya.


"Daaa,ketemu nanti sore ya!"Sambil melambaikan tangan.


"Yaaa,aku jemput nanti sore!"Jawab Ganindra.


"Ga salah elu ngajak gua terlibat dalam turnamen ini.Ini paling seru ketika kita harus memilih siapa yang baik-baik untuk kehidupan kita!"Menoleh dengan kalimat gaulnya berubah jadi lebih puitis.


"Heran elu bisa berubah begitu ya?apa memang ada yang harus diselesaikan!"Tanya Ganindra jelas kembali kearahnya.


"Adalah,kita pulang yuk.Kayaknya kita butuh istirahat yang kuat untuk bisa dekat dengan perempuan model mereka nantinya."


"Iya gua juga lelah banget kalau harus mikirin mereka jadi bagian hidup kita,heheheh!"Sesaat keduanya bubar dan diikuti banyak orang lainnya yang perlahan meninggalkan keramaian sekolah mereka.


Diperjalanan pulang kerumah,rasanya tidak enak jika harus terdiam tanpa ada obrolan diantara Thy Than dan Pak Ben dan itu akan kurang banget bila aku ga bikin dia tersenyum.Setelah ga enak beberapa hari melihat aku sedih terus."Pak Ben,gimana persiapannya?apa udah ada yang mau dibawa!"


Menoleh memberinya senyum kepada Thy Than.


"Untuk persiapannya seeh udah semua non,tinggal nanti bisa segera pulang.Apa non Thy Than ga keberatan kalau mengantar saya?"


"Ya enggalah pak Ben,kan pak Ben juga selalu nganter ayah trus nganter Thy Than juga.Gantian sekali-kali heheheh,biar nanti kalau ada urusan lain kan bisa sendiri ga ngajak pak Ben lagi!"Dilanjutkan dengan tawa manisnya.


"Heheheheh,bisa aja deh non Thy Than.Apa ga pa-pa sendirian kemana-mana!"Kembali memastikan.


"Ya ga juga seeh,kan ada Om Rey sama kak Joana.Jadi kan kalau saya bosan bisa kesana gitu.Ga sendirian aja!"


"Syukur deh kalau ada yang menemani.Kan jadinya ga khawatir saya."Lega juga mendengar kalimat keluar dari bibir manisnya.


"Emangnya kalau sendiri kan ga masalah juga pak Ben,saya kan udah gede.Hehehe!"


"Tapi masih manja lho ya!"Timpalnya bercanda.


"Hahahahah,bisa juga ya pak Ben ini!"Jawabanya malu-malu banget.


Diperjalanan pun sebuah telpon tengah menghubunginya sepertinya ada yang penting untuk dibicarakan.Om Rey menghubungiku.Tumben ada apa!


"Haloo,,selamat siang Om Rey."Sapanya hangat kembali.


Diruangan meeting,tepatnya saat ini telah usai meeting tentang surat kuasa yang tengah dipegang oleh Rey dan menjadi pertanggung jawabannya sebagai pihak pertama untuk menyelesaikan masalah dari Thy Than.Dia mencoba mengobrol dengannya tentunya dengan waktu tepat saat ini.


"Thy Than bisa nanti kita bicara soal surat kuasa itu.Bisa kan?"Pertanyaan itu membuatnya sedikit berfikir lebih serius dan akan memikirkannya lagi.


"Kayaknya bisa seeh Om,tapi dimana kita ketemu?"Tanya Thy Than penasaran.


"Ehhhmmm,gimana kalau nanti sore aja deh.Sekalian kamu kekantornya Om ya.Soalnya berkas ini sudah ditempatkan dikantor Om dan ga bisa dibawa sembarang.Gimana!"


Sambil mikir,oh iya kan aku ada janji sama Mega sama Ganindra.Apa aku batalin aja,ini.juga penting untuk aku ketahui tentang surat kuasa itu."Boleh Om,setelah aku mengantar pak Ben kestasiun ya.Baru aku kesana nanti aku kabarin lagi ya supaya ga lupa Om!"


Lalu menoleh kearah Reza dan Joana,dipastikan kode jempol itu membuktikan bahwa Thy Than setuju untuk bertemu dengannya sore ini.


"Setuju dia,,,yesss!!!"Kata Joana semangat.


"Oke,masalah kita perlahan usai ya."Lanjut Reza dengan semangatnya untuk bertemu dengan Thy Than.


"Ya nanti Om jemput atau kamu datang kesini sendiri?"Kembali Rey memastikan keberangakatan Thy Than.


"Ya aku datang sendiri kok Om,santai aja kali heheheheh!"Lanjutnya siap sampai dirumah.


"Ya udah,nanti kalau udah selesai.Langsung kabarin Om ya biar ga salah lagi pas jam ketemunya kita oke!"Lanjutnya.


"Beres deh Om!"Lanjutnya.


"Byeee!"


"Byeee Om!"


Perlahan Rey menutup ponselnya dan mengabari keduanya untuk nanti ketemu dengan Thy Than,"Oke nanti aku akan ketemu dengan Thy Than.Kalian boleh kembali keruangan masing-masing ya!"Kata Rey dengan senyum itu mengarah kepada Joana.


"Oke,Tuan muda.Saya kembali kerumah atau,,,,???"Bingung juga.Sebenarnya aku ga punya ruangan untuk bekerja.Hanya saja kalimat tuan Rey membuaklu kesal apalagi dia sudah melupakan janjinya untuk memberikan aku waktu bertemu dengan yoshi.


Mikir panjang,tapi tidak dengan Reza yang berlalu meninggalkan keduanya segera sambil meraih beberapa buku dan berkasnya untuk dibawa kembali keruangannya.


"Ya udah aku balik,daaa!"Beralalu melambaikan tangan.


Tak lama lambaian tangan dan balasan datang dari keduanya."Daaa,juga!"


Terhenti sampai depan pintu dan membuka untuk keluar tetapi ia terhenti kembali sambil mendongak kebelakang melihat reaksi mereka.


"Ingat yang rukun,jangan berantem aja!"Sambil memainkan jarinya menunjuk kearahnya.


"Iyaaaa Zaa,,,!"


Dia tertawa melihat kekesalan terpancar dari wajah Rey,tatapan Joana juga aneh kenapa aku berada dalam lingkup yang sama dengan Tuan muda.Apa benar dia tidak akan melepaskanku saat ini.Gimana kalau aku berbalik dan berjalan serta melambaikan tangan seperti yang dilakukam oleh Reza.Apa dia setuju ya.Coba aja deh.


"Daaa,,,,Tuan muda.Selamat siang!"Berlalu meninggalkannya.


Heran dia mau pergi kemana lagi,ninggalin aku gitu aja seraya menggelengkan kepala dia segera berjalan untuk menarik Joana yang ingin meninggalkannya.


"Eiiitssss,mau kemana!"Tariknya menghentikan langkahnya.


Terhenti serta menoleh kembali penuh tanya.


"Kenapa Tuan muda,tugas saya kan sudah selesai!"Berbalik menatapnya.


"Iya aku tahu,tapi beneran kamu nanti mau ketemu sama pria itu?"Mendekati serta menyentuh pipinya.


Mengangguk yakin,kembali pertanyaan itu muncul dengan tiba-tiba."Memang kenapa Tuan muda?"


"Aku khawatir ada apa-apa dengan siapa itu namanya?"Mencoba bertanya kepadanya.


"Yoshi!"Jawabnya singkat.


"Lengkapnya?"Sambil mendekat serta mengangkat kedua keningnya.


"Oooh,,,kita taruhan.Kalau dia orang yang ga dipercaya bahkan diperjalanan kalian ada perselingkuhan.Jangan harap kamu aku lepaskan.Aku akan membuat taruhan ini semakin unik!"


"Apa?kenapa anda berharap hubunganku sama Yoshi berantakan.Emangnya anda tahu siapa Yoshi?"Kembali menyerangnya dengan emosinya.


"Ya aku seeh punya firasat jelek tentang dia.Kalau kamu mau lanjut sama dia ya silahkan.Aku akan membuat cinta dengan orang lain!"Sembari meledeknya.


"Haaaah,Tuan muda cemburu?"Kembali bertanya.


"Engga,siapa yang cemburu!"Lanjutnya kesal.


"Baiklah Tuan muda,saya permisi dulu byeeee!"Sambil melambaikan tangan dan tersenyum berlalu meninggalkan dirinya dalam emosi penuh kekesalan.


"Huuuuh,bisa ya dia gitu!"Meluapkan emosinya,mondar-mandir dan ga tentunya hati ini sampai ngomel-ngomel sendiri.


"Kamu ga bakalan bisa mendapatkan Yoshi,dia itu orang yang ga baik.Masih saja diharapkan.Sudahlah sekarang aku harus fokus sama Thy Than untuk menyelesaiakan surat kuasa ini."Menoleh berjalan mundur serta merapikan kembaki berkasnya dan berlalu meninggalkan ruangan meeting.


Semuanya sudah siap dan tentu itu menjadi awal bagi Thy Than untuk melambaikan tangan buat Pak Ben yang sudah menemaninya selama ini.Malahan pergi meninggalkannya,ya tahu seeh beberapa minggu.Tapi rasanya aneh banget kalau aku tinggal sendiri dan berada dalam waktu cukup lama.


Stasiun kota pun ramai dengan rutinitas pekerja bahkan orang-orang yang melakukan perjalanan entah itu jauh atau dekat,tentunya membuat beberapa orang semangat untuk menyambut sesuatu yang baru.Seperti pak Ben yang sudah lama tak bertemu dengan keluarganya pasti itu akan membuatkan sebuah kesenangan yang berarti.


"Pak Ben,ini sedikit oleh-oleh untuk anak-anak ya.Tolong diterima dengan baik oke!"Memberikan sebuah amplop coklat dengan ketebalan yang tak bisa ia bayangkan.


"Tapi Non,saya sudah cukup bawa uang lho.Jangan ditambahin lagi."Pintanya ga enak.


"Ga usah gitu pak Ben,saya tahu kok kebutuhan dikeluarga pak Ben sangat banyak.Mangkanya saya memberikan ini supaya pak Ben tenang dalam liburan yang lumayan panjang ini.Ya,jangan ditolak ntar ga aku kasih balik lho heheheheh!"Kebaikan Thy Than membuat Pak Ben terharu dan memeluknya layaknya anak sendiri.


Tentu itu menbuat senyum dan tatapan berkaca-kaca dari Thy Than sungguh mennyentuh hatinya."Terima kasih banyak Non Thy Than.Kebaikan Non Thy Than tidak akan saya lupakan.Nanti saya bawakan sesuatu yang indah buat Non Thy Than ya!"Sembari melepas pelukan serta mendekap kedua pundaknya.


Suara pemberitahuan kepada para penumpang untuk segera naik kedalam kereta api telah bergema,beberapa orang pun segera naik dan saling berpamitan untuk melepaskannya.


Saat itulah perpisahan sementara pun terjadi diantara Thy Than dan pak Ben.Lambaian tangan dan isyarat untuk kembali adalah permintaannya untuk masih menemaninya lagi.


"Hati-hati pak Ben,salam buat keluarga ya!"Senyum serta lambaian tangan Thy Than membuatnya berbalik dan melambaikan tangan juga.


"Iya Non,siap!"Sambil menaiki kereta dan berbalik masuk serta melambaikan tangan perpisahan.


Yah,,sekarang aku ditinggal sama pak Ben deh.Suara kereta api tengah bersiap untuk melaju dan beberapa orang perlahan sepi membuat Thy Than terjaga sebentar untuk melihat perginya sebuah kereta yang telah membawa sebuah perjalanan dalam hidup seorang supir pribadinya.


Berbalik arah dan perlahan keluar dari stasiun kereta api,langkah Thy Than cukup ringan menuju parkiran mobil untuk segera pulang dan menemui om Rey yang telah menunggunya.Masuk kedalam mobil,lalu mengirimkan kabar lewat aplikasi WA,mencoba mengetik sebuah kalimat.


"Sore Om,aku udah selesai nganter pak Ben.Apa aku bisa langsung kekantornya Om?"Pesan itu segera ia kirim ke.nomor Rey.


Sesaat ketika ia membuka pintu ruangan dan melepaskan kepergian sejenak Joana.Dia masuk dengan bersungut-sungut rasanya ingin memainkan cinta yang sudah terpendam dalam hatinya.Sungguh ia meninggalkan dirinya dengan tenang bahkan akan berpesta pora.


Suara ponselnya berdering,terhenti sejenak lalu membuka pesan yang telah masuk."Oooh,Thy Than."Langsung aja dia menghubunginya.


"Dateng aja ya.Bentar lagi aku sharelokasinya okey!"Sambil memberikan senyuman.


"Iya Om,Thy Than tunggu!"Sambil menutup ponselnya.


Menunggu beberapa saat,tetapi Rey masih berjalan menuju meja kerjanya dan menaruh berkasnya kembali mencoba duduk dan ingat untuk mengirimkan lokasinya.


Suara ponsel balasan pun terjawab,ada senyum dan rasa penasaran tentang apa tengah menjadi pembicaraan om Rey kepadanya."Ada apa ya,rahasia atau gimana!"


Memutar balik mobilnya dari tempat parkir,segera melaju dengan kecepatan sedang untuk melewati jalanan kota.Dimana kali ini perlahan padat dan tentunya membuat khawatir saja Thy Than tidak sampai dengan target yang ditentukan olehnya sendiri.


"Lama juga macetnya,apa bisa mengejar ini!"


Ingat juga sama ada janji yang dibuat oleh Ganindra waktu pagi tadi.Hampir aja lupa untuk mengabari dia.Apa aku bisa ya ketemu sama dia atau nanti aku batalin dulu deh kayaknya om Rey lebih penting kalau menyangkut masalah keluargaku.Segera memasang handsfree dan menghubungi Ganindra yang sudah sampai dirumahnya,hampir saja dia ingin menghempaskan tubuhnya tengkurap dan Blusss sampai juga dalam kesenangan hakiki gua.


Terkejut sebuah panggilan tentunya membuat ia sedikit bekerja keras untuk membalikkan badannya dan mengangkat ponsel miliknya."Halllooo,Than.Kenapa?ada masalah!"


"Oh iya Indra maaf ya aku ga bisa ikut acara kamu yang tadi pagi itu.Soalnya ada pertemuan penting antara aku dan om Rey.Ga pa-pa kan?"Nadanya seakan meminta maaf,membuat Ganindra pun mau ga mau ya batal juga ga penting-penting amat.


"Ya udah ga pa-pa.Juga obrolan ringan doang kok.Kalau besok ketemu disekolahan juga masih bisalah.Ga masalah itu kok!"Lanjutnya dengan santai terlentang melepas lelahnya.


"Beneran ga penting?"Kembali menegaskan.


"Iya Thy Than sayaaaang.Ga penting-penting amat juga!"


Langsung aja ketawa lepas karena sebuah candaan Ganindra membuatnya lega dan ga ada lagi yang diberatkan.


"Hahahaha,bisa aja kamu Ndra!"


"Ya kamu seeh ga enakan kalau udah minta maaf.Ya aku maafin lho itu kan sebagian dari sayang heheheh!"Lanjutnya berseloroh.


"Hahahahah,bisa aja deh.Ya udah makasih ya,besok kita bicarain lebih serius lagi oke!"


"Oke Byeee!"Sambil menutup ponselnya.


"Byeee too!"Lanjut Thy Than.


Ga jadi deh ketemu sama cewek ngangenin kayak Thy Than,tapi ga pa-palah ngarep dikit kan juga ada hasilnya gua.Thy Than-Thy than,makhluk macam apa seeh kamu itu.Gumam Ganindra mengutarakannya.


Lega juga dirasakan oleh Thy Than,kali ini ia bisa serius dan ketemu dengan om Rey selaku wakilnya untuk mengatakan banyak tentang apa sebuah pertemuan ini.Rasanya bikin deg-degan kalau semakin dekat perjalanan ini menuju kantornya dia.


"Trus kalau sendirian kayak gini,tinggal dimana ya.Huuh memang susah kalau seperti ini sendirian."Kalimat itu mengikutinya sampai didepan lobby pintu utama.


Ia keluar segera vallet parkir menghampirinya dan memberikan kuncinya untuk diparkirkan.Segera ia masuk kedalam lobby dan bertanya ruangan kerja om Rey yang ia maksudkan.


"Selamat sore mba!"Sapa Thy Than kepada salah sati reception perusahaan.


"Selamat sore,ada yang bisa dibantu mba!"Kembali menjawabnya.


"Bisa ketemu dengan Pak Radithya Rey,saya ada janji dengannya tadi.Sekarang saya mau ketemu sama beliau."Ujarnya yakin.


"Oooh,sudah ada janji ya.Mba kelantai 25 dan disana ada petunjuk untuk bisa sampai dilorong ruangan Direktur executive.Nanti tanya kembali supaya diantarkan ya!"


"Ooooh,iya terima kasih mba!"


"Sama-sama!"


Berjalan kearah kanan dan mencari lift untuk segera menaiki nya dan mencari keberadaan om Rey.Rasanya aneh juga kalau ketemu dikantor ya,tapi.ga pa-pa deh sekali-kali tahu dimana seeh om Rey kalau ngantor pasti keren dan cakep sembari tawanya begitu lepas saat membatin pria yang telah membuatnya terselamatkan dalam hidupnya saat ini.


Meski cukup penasaran,ada rasa nervous yang dialami oleh Thy Than karena akan membicarakan sesuatu hal yang lebih privat dan elegan.Semoga saja tidak ada masalah yang terus muncul dan membuatku semakin tersingkir dari kehidupanku sendiri.