Thy Than

Thy Than
Bab.37 Thy Than dan apartemennya.



Sampai juga diparkiran apartemen luar,kayaknya Ganindra belum bisa melepaskan sosok kekasihnya yang gemesin dan membuatnya betah untuk menatap bahkan membuatnya semakin kucel akibat keisengannya dalam memainkan pipi Chabbynya.Sambil menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi om Rey,apakah udah pulang atau belum?Tentu itu membuat Ganindra yakin bisa berlama-lama lagi sama kekasihnya.


Bersandar dengan lega menunggu kode khusus dari Thy Than soal kedatangan Om Rey yang tak kunjung kelihatan mobilnya.Sesekali mengintip diluar kaca mobil apa udah kelihatan atau belum ya?


"Kemana ya om Rey kok belum kelihatan!"Mencoba mencari-carinya mengawasi didalam mobil.


Tapi tetep saja tangan Ganindra ga bakalam lepas untuk memainkan cabbynya pipi sang kekasih sampai ia geli-geli gerah merasakannya.


"Sayaaang,jangan gitu aaah.Entar merah lagi pipiku om Reu curiga bahaya lho!"Sambil memainkan tangan menunjuk kearah wajahnya tepat mengenai hidungnya.


"Heheheh,seneng banget gua mainin Cabby kamu tuuuh."Tiba-tiba saking gemesnya dia menciumnya.


"Muuuuaaachhhh!Heemm sedapnya!"Meringis senang telah merasakan empuknya pipi Thy Than.


"Iiiiuhhhhh,,,Sayaaang.Kok malah dicium seeh.Kan ga seruuu tahu!"Sambil nampol pipinya.


PLOOOKKKK,,,,


"Aduuuuh,,,,pukulanmu mantep banget ya.Sampai bikin aku sakit gini!"Sambil mengelus pipinya.


"Hehehe,jangan nakal mangkanya oke!"Sambil mengacungkan jempolnya untuk Ganindra.


Berbalik menoleh keluar,kemana ya apa aku hubungin aja ya om Rey lagi dimana?Sambil mengeluarkan ponselnya mulai menghubungi.Yaaah dia udah mau turun dari dekapanku,ga asyik banget gumam Ganindra kesal.


Saat keduanya sampai dilobby kantor,langkah Rey terhenti sejenak setelah mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang yang ia kenal."Bentar deh,ada yang hubungin aku!"Kata Rey sambil terhenti,Joana pun ikutan terhenti dan mengambil tas kerja milik Rey.


"Haloooo,,,Ada apa Than?kangen sama om!"Candanya geli sambil menoleh kearah Joana.


"Dasar nakaaaal!"Lanjut Joana menggelengkan kepala.


"Iya dong om,om udah mau pulang apa belum seeh?kok belum kelihatan dari tadi!"Masih mengawasinya.


"Belum,ini bentar lagi.Mau nunggu apa langsung naik aja kalau nau naik langsung minta aja kunci serepnya direception ya.Tahu kok kalau kamar no.335 siapa yang punya hehehehe!"Lanjutnya pede.


Tak berselang lama datang mobil pribadi Rey diantar oleh vallet parking untuk siap dipakai kembali oleh pemiliknya,keluar dari mobil beranjak mendekati Rey dan memberikan kuncinya.Langsung aja diterima oleh Joana dengan sergap cepatnya.


"Makasih mas!"Menerima kuncinya.


"Mari!"Ucapnya singkat dan berlalu meninggalkan keduanya untuk segera masuk kedalam mobil.


Sampai dibangku depan,malahan Rey terkejut dia berada diruang penumpang bukannya diruang kemudi yang biasa dia jalankan sebagai salah satu kesenangannya.


"Lhoooo,,,ngapin aku disini?"Tengak-tengok bingung.


"Udah santai aja sayang ya!"Senyum itu terkembang menggoda sang Tuan muda.


Tatapan aneh pun diserang oleh Rey yang mana dia sungguh tak berdaya oleh pesona seorang Joana yang telah menjelma sebagai seorang asistan luar biasa dengan paket khas miliknya.


"Oke deh,kamu hati-hati sayang.Nanti kita bisa ketemu dengan Thy Than kan sampai dirumah?"Tanya Rey memastikan.


"Ya santai aja Tuan muda,kalau ga sampai dirumah dengan selamat.Berarti kita masih mampir dimana gitu ya."Lanjut Joana penuh semangat.


Menghela nafas panjang,rasanya ini adalah pilihan unik hingga melirik nakal kearah Joana penuh rasa ingin menggodanya lagi.


"Beneran kan,kamu akan membawaku dengan baik-baik pulang bertemu dengan keponakan baruku hehehehe!"Bersandar menatapnya lagi.


"Yap,Tuan muda memang harus dijaga supaya lebih aman dan nantinya kita bisa membicarakan hal-hal yang meringankan kita semua heheheh!"


"Kok aneh banget seeh bicaranya,Dasar asistan kesayangan!"Sambil membelai dagunya penuh gemas.


Bosan mungkin membuat Thy Than segera untuk mengajak Ganindra untuk masuk kedalam apartemen milik omnya. Pilihan yang bagus dan tentunya bisa membuatnya tenang berada didalam keheningan rasa.


"Kita masuk aja yuk keapartemen.Aku buatkan minuman mau ga?"Sambil menoleh menyentuh tangannya.


"Eehhhmm,,,,boleh juga.Gua suka gaya lu sayaaang!"Langsung bersiap untuk turun dari mobil lalu menutupnya,berjalan mendekati Thy Than yang siap untuk digandeng tangan masuk kedalam.


Berjalan masuk kedalam Lobby segera menghampiri reception dan bertanya tentang kunci cadangan disetiap kamar apartemen.


"Permisi mba,mau nanya.Tadi kan saya ijin sama om Rey untuk masuk duluan.Bisa pinjam kuncinya mungkin?"Mencoba bertanya.


"Ooooh,iya sebentar ya."Mengambil serta memberikan kepada Thy Than."Tadi pak Rey udah mengabari saya untuk memberikan kuncinya kepada keponakannya.Thy Than kan?"Seraya menyerahkan kuncinya.


"Iya mba,saya Thy Than.Terima kasih mba!"Lanjutnya dengan bergegas membawa id card milik Rey.


"Yuuuuk,jalan!"Lanjut Ganindra dengan merangkul perempuan tersebut.


Berjalan menuju lift keduanya bersiap untuk masuk dan menikmati perjalanan singkat menuju kamar 335.Kamar exclusive dengan tampilan elegan serta memberikan sebuah ketegasan tentang sang pemiliknya.


"Bentar ya sayaang,aku coba buka dulu!"Sambil melakukan scan card id untuk membukanya.


"Okey,gua tunggu.Santai aja sambil bersandar menunggu beberapa menit hingga terbuka.


Menoleh tersenyum telah berhasil membuka pintu kamarnya."Udah silahkan masuk!"Ajaknya masuk kedalam.


Melihat suasana ruangan apartemen,elegan dan minimalis tetap menunjukkan kesan mewah diantara setiap sudut ruangnya.Berjalan menuju ruang tengah dan tentunya Thy Than mempersilahkan untuk duduk dulu.


"Sayaaang kamu duduk dulu,mau aku buatkan minuman mungkin?"Berbalik menawarkan sebuah kesegaran.


"Boleh juga,tapi jangan yang manis-manis ya."Lanjutnya membuat Thy Than penasaran.


"Emang kenapa,kan bagus untuk kesehatan.Ga terlalu sering kan!"Tambah Thy Than menjelaskan.


"Kan manisnya udah sama kamu!"Sambil melirik serta menompangkan tangan mengarah kepadanya.


"Iiiiiihhhh,,,kirain apaan!"Sensi juga mendapat pujian yang tak biasa.


Tawa lepas seorang Ganindra membuat suasana kembali cair hingga saat yang telah didapatkan yaitu minuman hangat dan ga terlalu manis.Tetepa pilihannya adalah hot tea sebagai penutup cinta kasihnya.


"Silahkan diminum,biar hangat dan semakin mantap!"Lanjut Thy Than membuat senyum kembali datang.


Langkah Rey dan Joana pun sampai juga diLobby apartemen lalu menghampiri salah satu reception untuk memastikan semuanya baik-baik saja.


"Permisi mba,apa keponakan saya Thy Than udah datang kesini dan mengambil id card kamar saya?"Sapa ramahnya membuat jawaban pun kembali hangat pula.


"Ooooh,,,sudah pak.Sudah diambil kok."Jawabnya.


"Barusan atau udah lama?"Kembali bertanya.


"Ya sekitar sepulu menit yang lalu pak!"


"Sama siapa?"Joana ikutan penasaran.


"Ada sama temennya,sama-sama masih pake baju sekolah kok!"


"Heemmm,,,,sok romantis mereka.Makasih ya mba!"Sembari berlalu meninggalkan senyum untuk sang Reception.


Keduanya saling berjalan santai seraya tersenyum mendengar jawaban dari sang reception bahwa keduanya memang tengah dimabuk asmara.Sungguh itu membuat berbagi obrolan untuk menambah keseruan mereka.


"Bisa juga ya,anak sekolahan seromantis itu!"Tanya Rey menoleh dengan tatapan heran.


Mengernyitkan kening,kembali ia bertanya.


"Apa Tuan muda seperti itu dulunya?"Kembali bertanya.


Ketawa lepas dan mengggelengkan kepala,ini adalah pertanyaan sulit yang susah untuk dijelaskan lagi.


"Entah ya.Aku lupa untuk mengingatnya!"Mencoba menghindar dari permasalahannya.


Padahal kalau aku cerita sebenarnya,apa yang harus aku ceritakan itu apa akan diterima oleh Joana.Bahkan apa ada tawa yang menggelitik dirinya saat setiap kalimat yang diucapkan adalah sebuah kebenaran atau hanya boongan.Mana tahu juga ya.


Tapi semua itu terselamatkan saat keduanya tak menyadari bahwa langkah keduanya bersama cerita itu telah sampai didepan kamar 335,tentu itu adalah kamar yang membuatnya senang menujukknya.


"Kayakya kita batalin obrolan tadi ya.Kita harus ganti obrolan lain oke!"Pintanya menunjuk kearah pintu kamarnya .


"Oke kalau Tuan muda mencoba menghindar.Nanti juga akan ketahuan siapa yang boong heheheh!"


Tangan Rey pun menyentuh bel kamar miliknya,obrolan yang hanya setengah saja pun tertunda dan buyar karena suara itu mengejutkan keduanya saat bercanda ria mengenang kedekatan yang ga mungkin terjadi ini.


"Kamu pasti menunggu dingin ya,sampai kayak gitu niupnya hehehehe!"Candanya Thy Than geli.


"Iya siapa yang buat,minta hangat-hangat jadi lama niupnya!"Menoleh kesal melihat Thya Than cengengesan melihat Ganindra susah minumnya.


Kembali suara panggilan itu membuat Thy Than heran,ada panggilan bel didepan pintu.Apa mereka udah dateng kali ya."Haaah,kayaknya om Rey sama kak Joana udah dateng kali ya.Aku bukain pintu dulunya.Ntra bahaya lagi."Beranjak berdiri bergegas untuk kedepan dan membukanya.


Ikutan menoleh melihat langkah kekasihnya beranjak berjalan kedepan membukakan pintu,senyum itu masih menyapa dirinya sendiri dengan berharap akan selesai sebentar lagi.


"Heemm,aromanya hangata banget!"Menyeruput akhirnya segar dan membuatnya semakin bersemangat.


Pintu terbuka dan sapa hangat keduanya membuat Thy Than semangat pula untuk membalasnya balik.


"Haaiiii,Thy Than!"


Melepaskan pelukan bersama Joana,kayaknya ada yang belum dipeluk neeh.Sambil memainkan jarinya kearah Rey.


"Kayaknya ada yang minta dipeluk neeeh!"Canda Thy Than geli.


"Ya kalau ga mau ya udah.Ga pa-pa,biar om meluk Joana aja!"Asal ngomong aja.


"Hemmm,,,,ngambek yaaa.Iya deh aku peluk om!"Langsung memeluk erat dengan tawa gelinya.


"Huuuuh dasar ga tegaan kamu ya."Sambil mengacak-acak rambutnya Thy Than.


Melepaskan pelukan,"Huuuuh,jangan diacak-acak gitu dong Kak.Jelek lho jadinya!"Ga terima dijahilin sang kakaknya.


"Oooooh,,,iya mana temen kamu?"Tanya Rey penasaran.


"Temen apa temen ya!"Lanjut Joana kembali bercanda.


"Hahahahah,bisa aja deh Om sama kakak ini.Ayo masuklah aku kenalin ya!"Tariknya ga sabaran,sampai Rey segera menutup kembali pintunya.


Saat keduanya masuk dengan langkah rapi serta terdengar sehingga membuat Ganindra beranjak berdiri menoleh dan menyapanya.


"Sore Om,tante!"Sapanya hangat.


Sontak membuat wajah kaget Joana mendapatkan panggilan "TANTE" dari teman baiknya Thy Than.Ga terima banget mendapatkan panggilan seperti itu.Harus segera diklarifikasi sampai keponakannya aja menahan tawa.


"Heiii,sore pa kabar!"Sapanya Rey dengan gagah dan berwibawa bersalaman bersama Ganindra.


Gantian Joana masih ga terima sama panggilan yang sungguh membuatnya tak terima dan mengatakan satu hal.


"Aku bukan istrinya ya.Jangan panggil aku tante lagi.Awas kamu,kalau ketemu lagi ga bakalan aku menyapa kamu!"Kata Joana lantang bersuara.


"Ooohhh,,,maaf.Jadi saya panggilnya apa ya?"Sambil mengulurkan tangan.


"Panggil kak Joana okey.Ga boleh kurang atau lebih itu aja!"Jawabnya masih memberikan tatapan tajam.


"Maaf kak!"Lanjutnya mesem-mesem malu.


"Ya it's okelah.Ga pa-pa.Lain kali jangan gitu lagi."Kembali berpesan.


"Ayo duduk lagi,kita ngobrol bentar ya.Kan juga masih lama kita makan malam ya kan Than!"Mengarah tatapan kearah Thy Than.


"Hehehehe,iya Om.Tapi kan udah mau pulang dia!"Jawabnya membela.


"Emang mau pulang,pulang malem-malem juga ga pa-pa kok!"Seru Joana bercanda.


"Bisa-bisa bahaya saya kak sama abang.Dia pasti nyariin aku dimeja makan ga ada aku pasti sibuk menghubungiku!"Jawabnya yakin.


"Oooh kamu tinggal sama abangmu?"Tanya Rey memastikan kembali.


"Iya,kadang juga sama ibu kok.Tapi beda rumah gitu.Jadi kan saya kadang bingung dibuat oleh mereka berdua.Sampai harus mengatakan tidak pun juga bingung."Tambah Ganindra.


"Keren juga dia Tuan muda,bisa pindah-pindah sesuka hati!"Lanjutnya bercanda.


"Gimana tadi sekolahnya seru?"Tanya Rey seraya melepaskan jasnya dan ditangkap oleh Joana.Ia perlahan melipat dan membawanya kekamar pribadinya.


Hanya mereka bertiga tengah berada dalam obrolan ringan tak terlalu penting tetapi memberikan arti sebagai keakraban yang jelas terjadi diantara mereka.


"Seru dong Om,,,ya kita lanjutbbaca novel yang sempat kita tinggalin karena yaa kelakuan dia seeh!"Sambil nyubit lengannya.


"Aoooi,,,sakit sayaaang!"Ujarnya kesakitan.


"Oooh,udah panggil sayang-sayangan kalian berdua!"Tawanya lepas banget mendengar kalimat tersebut.


"Eeeh engga Om,,kelepasan!"Bela Ganindra tak ingin ada urusan lain lagi.


"Ga pa-palah kalian panggil-panggil sayang.Menurut Om itu sama aja mempererat hubungan kalian lebih serius kayak pacaran atau lebih dari itu.Gimana,Siapa yang tahu kan!"


Dari atas langkah Joana memang santai dengan senyum khasnya mendengar obrolan keduanya antara lelaki,balik kanan untuk membuat sesuatu lebih berarti untuk Tuan muda.


"Lalu kalau kalian ga kayak gitu.Apa hanya sekedar sahabat,ga mungkin ada sahabat yang akhirnya jatuh cinta.Itupun juga jarang banget kan!"Lanjut Rey serius.


"iya juga Om,tapi dianya ngebet banget sama aku.Kan akunya ga mau?"Masih jual mahal.


Tatapan serius Ganindra membuat Thy Than menahan tawanya hingga kembali menabok lengannya.


"Apaan seeh!"


"Naaah kan,cemburu dia!"Lanjutnya bersandar melepaskan lelahnya


Terlalu berwarna hubungan cinta antara Ganindra dan Rey juga hadirnya Joana membuat suasana kembali cair bahkan obrolan itu berakhir cukup lama.Sampai-sampai Ganindra memang harus pamit pulang setelah mendapatkan telpon dari sang abang Morgan.


"Hahahha,lain kali kan bisa ketemu lagi.Banyak waktu buat kalian bangun cemistry lho!"Lanjut Joana yakin.


"Iya hubungan kalian tuh kalau ga ada berantemnya.Ga seru lagi ya sayang!"Menimpali Joana dengan wajah sumringah.


"Engga juga!"Jawab Joana asal aja.


"Haaah,engga juga!"Melengos ga terima mendapatkan jawaban yang tak masuk diakal.


Suara ponsel milik Ganindra pun berbunyi nyaring,seketika menghentikan obrolan sejenak,"Bentar ya Om,ada telpon!"Sambil ia mengangkatnya.


"Ya silahkan!"Jawabnya memberikan ijin.


Mengangkatnya"Haloo bang Morgan,ada apa?"


Seketika mereka berdua saling bertatapan heran,Morgan.Sebuah nama yang ga asing lagi buat Rey dan Joana.Apakah Morgan yang dimaksudkan adalah partner kerja mereka atau hanya kesamaan sebuah nama saja.Nanti akan jadi pertanyaan serius untuk mereka dapatkan.


Thy Than tak lepas untuk menatap sibuknya Ganindra tengah mengobrol ditelpon.Ada sebuah sorot mata siapa sebenarnya abangnya ya.Pasti sekeren adiknya.Tapi masaka aku harus naksir abangnya seeh ga adiknya,aoouu mimpi apa aku ini bisa berfikir seperti itu.


"Kamu udah pulang apa belum,tuh ibu nyari kamu lho.Buruan pulang jangan banyak main aja ya."Pintanya berkata.


"Iya bang,ini juga mau pulang.Lagi ngobrol sama temennya Indra juga sama om dan kakaknya heheheh!"


"Buruan pulang,udah jam berapa ini!"Sambil melihat jam tangan,memang udah malam juga seeh jam 20.05.


"Okey,makasih bang!"Lanjutnya menutup ponselnya.


"Huuuh,,,,diomelin gua.Disuruh pulang sama abng gua!"Kata Ganindra ga semangat lagi.


"Ya udah pulang aja.Ayo aku antar!"Ajak Joana sambil beranjak berdiri.


Thy Than dan Rey pun mendongak heran melihat sikap Joana yang tiba-tiba mau mengantarkan Ganindra sampai dipintu.


"Kenapa?ada yang aneh!"Tanya Joana.


"Heheheheh,ga ada kak!"Sambil menggelengkan kepala.


"Ganindra,biar nanti Tuan muda juga bicara sama Thy Than.Kamu aku antar ya!"


Beranjak berdiri dan diikuti oleh Thy Than dan Rey,Ganindra pun pamitan pulang,Saling berpelukan serta melepaskan kepulangan sang sahabat dari obrolan yang seru,raut sedihnya terpancar membuat Rey menahan tawa.Drama banget anak satu ini mendekati dan merangkulnya.


"Ga usah sedih kali Than,dia kan punya rumah.Ya kali ga punya rumah tinggal kolong jembatan!"Kata Rey membuat kesal Keponakannya.


"Ooom,bisa ya ngomong kayak gitu.Sebel deh!"Memacungkan bibirnya seraya bersedekap.


"Udaaah,besok ketemu lagi."Sambil membasuh mukanya.


Kegerahan juga dia mendapatkan perlakuan jahilnya,segera ia pergi untuk mandi.


"Lho mau kemana?"


Terhenti berbalik,lalu menjawabnya.


"Mandilah Om!"


"Oooo,,ya udah sana!"


Malahan meledeknya dengan menjulurkan lidahnya penuh kelucuan lalu kabur deh dari hadapannya,tawa gelinya pun terasa indah saat melihat Thy Than tak sedih lagi dan sudah menganggapku sebagai Om terbaiknya.Huuuh,bahagianya.


Tapi diujung pintu Joana pun masih penasaran dengan sosok Morgan.Siapa sebenarnya abangnya dia,apakah benar seorang Morgan yang merupakan bagian dari hidupnya atau hanya sebuah nama yang sama.


"Oooh,iya abang kamu kerja dimana?"Tanya Joana tiba-tiba.


"Abang seorang pengusaha dan sekarang tinggal terpisah dengan kami kak.Dia memilih untuk tinggal sendiri dan berada yaah lumayan jauh juga dengan kami!"


"Oooih,oke.Pilihan hidup memang berbeda dan itu terjadi antara kalian ya."Sambil membukakan pintu untuknya.


"Saya pulang dulu kak,selamat malam!"Sambil tersenyum melambaikan tangan.


"Malam juga!"Jawabnya ramah.