
Alarm pun berbunyi membangunkan Thy Than yang sesaat malam untuk membuka matanya,ia benar-benar lelah dengan bayangan semu yang tengah dirasakannya.Antara sebuah kebenaran atau hanya opini yang telah membuatnya berfikir tak berdaya tentang satu hal.Akupun masih berfikir dalam balik selimut apakah aku akan bangun atau hanya berdiam diri diatas ranjang sendirian.Kembali memastikan jam berapa sekarang,melirik serta membalikkan badan.
"Huuuh,masih pagi juga.Belum saatnya aku buru-buru bangun kan,heheheh!"Tersenyum lepas.
Tapi sayangnya sebuah panggilan dari bawah pun terdengar memalingkan wajahnya seketika hingga terbangun dari rebahan,rasanya ini adalah panggilan darurat deh.
"Thy Than sayaaaang!"Panggil Joana dengan sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Astaga pagi-pagi gini kak Joana manggil-mangil ada apa ya?"Sambil malas untuk bangun tapi ada panggilan seru.
Dimeja makan Rey tersenyum menatap kesibukan Joana dengan tatapan hangat menyapanya.
"Kamu cocok banget kalau jadi Ibu dari anak-anak kita Joe.Sibuk dan penuh ketegangan heheheh!"Candanya geli.
Terhenti dan menoleh serius melihat candaan Tuan muda,seketika ia tersenyum serta menyeka rambutnya serta menyelipkan ditelinganya.
"Tuan muda terlalu jauh berharap sampai aku tak menyadarinya."Lanjutnya dengan tatapan geli.
"Coba saja waktu itu ciumanku telah menenggelamkan kita malam itu.Pasti kamu udah jadi milikku Joe!"Tersenyum seraya meneguk minuman segar.
"Tuaaan,jangan membahas itu.Aku belum siap lho!"Mencoba menghentikan jawaban yang ga jelas.
Dari atas ternyata Thy Than mendengar ucapan mereka berdua.Saat ia menompangkan dagunya dipembatas pagar dan merentangkan tangan.
"Waooow cerita dewasa ya.Sampai aku mendengarnya heheheheh!"Santai menyahut obrolan mereka dibawah.
Sontak mereka mendongak keatas dan terkejut ada sosok perempuan yang menguping cerita mereka.
"Thy Than,curang kamu ya.Bisa-bisanya menguping cerita kita berdua!"Kelabakan pula Joana berkata.
"Weeeekkk!"Sembari ia menjulurkan lidahnya.
"Udah mandi sana,ada yang mau pamitan tuh!"Suruh Rey membuat Thy Than terkejut.
"Haaah,,,siapa Om?"Penasaran.
"Ada deh,buruan mandi.Lima belas menit harus sampai meja makan okey!dari sekarang."Rey pun melihat jam tangannya serta memberikan waktu untuknya.
Sambil mendekap kepalanya,ia bingung dan kelabakan pula untuk segera bersiap mandi cepat.Kode apalagi ini dari om Rey.
"Astaga Om,ngerjain aku deh!"Bergegas langsung masuk kedalam kamarnya lagi.
Keduanya tertawa lepas melihat Thy Than begitu takut akan waktu untuk segera pamitan dengan seseorang yang pastinya ia belum mengetahui siapa.Dengan santai akhirnya Joana duduk santai menompangkan tangan serta menunggu keponakannya turun dari kamarnya.
"Waktu masih berjalan udah delapan menit!"Suara lantangnya samar-samar ia dengar dari dalam kamar mandi.
Terhenti dan merasakan waktu cepat sekali aku berada dikamar mandi,perasaan baru masuk deh dan membilas rambutku.Kenapa bisa secepat itu om Rey memberikan waktu kepadaku?.
Dibawah dengan tawa lepasnya,Joana pun menghentikan kegilaan Omnya untuk tidak mengerjai keponakannya sendiri.Nanti malahan membuatnya ga bisa konsetrasi dengan baik.
"Tuaan,jangan buat Thy Than buru-buru.Nanti malah ada yang ketinggalan gimana?"Khawatir juga kalau dilihat seperti itu.
"Santai aja,aku cuman membuatnya disiplin aja.Ini juga dia baru masuk lima menit.Dengan waktu sesingkat itu pasti akan membuatnya memanfaatkan waktu sisanya lebih baik."Sambil tersenyum menjelaskan kepadanya.
"Terserah Tuan muda seeh!"Lanjut Joana pasrah.
"Ya kita tunggu saja waktu yang tepat gimana?"
Tak disangka ia keluar dengan memakai dasinya meraih sepatu dan membawa tasnya berlari menuju meja makan.Sontak saja mata keduanya melotot dan tak bisa menahan tawanya saat melihatnya tengah buru-buru dengan wajah masih amburadul mendekati mereka berdua.
"Ya ampun,,Thy Than.Padahal waktunya lho masih sepuluh menit lagi.Kok sampai berantakan kayak gini."Joana pun mendekati dan ikut merapikan rambutnya.
"Om Rey seeh,buru-buru ngitungnya.Kan aku jadi takut ketinggalan.Weeekkkk!"Menjulurkan lidahnya kearah Rey.
"Hahahaha,kamu kena tipu ya.Kasihan!"Sambil nyemil sesuatu dimeja makan.
"Awas ya Om,besok aku kerjain kalau ga ada kak Joana.Gantian kena keisenganku baru tahu rasa deh heheheh!"Sambil mengepal tangan serta menepukkan kearah tangannya.
"Wooo,,,,,jiwa premannya udah mulai keluar neeh!"Sambil bergaya.
"Kamu yang sabar ya!"Sambil mendekap pipinya.
Ia hanya mengangguk dan berharap ada yang indah pada waktunya.Saatnya gabung sarapan pagi,ada obrolan juga tengah dibuat oleh Joana,tentang keberangkatannya.
"Thy Than kak Joana mau pergi keluar kota.Kamu ga pa-pa kan kakak tinggal."Bertanya seraya melihat reaksinya.
"Berapa lama kak?kok pake acara keluar kota segala seeh,di rumah kan juga bisa ngerjain tugasnya!"Lanjut Thy Than berharap lebih.
"Ga mungkin dong Sayang,mana bisa kalau satu partner ngerjain dirumah.Emang kerja kelompok!"Serang Rey dengan tawa lepasnya.
"Huuuuh,,,sama om Rey doang.Ga asyik!"Lanjutnya meledeknya lagi.
"Apaaa?"Tawa lepasnya kembali datang.
"Ya ga asyiklah,entar Ganindra ga boleh main kesini lagi.Bolehkan!"Kembali bertanya.
"Boleh banget.Siapa yang ngijinin cintamu main kesini,bahaya neeh cemburu buta kayaknya heheheh!"Sambil nyubit pipinya seraya ngakak.
"Om,ga nyari temen cewek gitu.Buat temenin Thy Than,ntar kalau sama om Rey takutnya sunyi sepi ga ada penghuni lain selain hembusan angin!"Bergegas menjawabnya.
"Naaah,,,permintaan terbaik dari ponakan tuh Tuan muda.Gimana pendapat Tuan muda!"Menatap tajam serta memainkan kedua alisnya.
"Nanti aku fikirkan,palingan Delisa mau nemenin kamu Sayang!"Jawabnya pasrah.
Mengernyitkan kening mengarah kepadanya.
"Delisa?emang dia mau!"
"Entahlah!"Jawabnya langsung bingung.
Acara makan pagi pun lebih seru dan romantis pun dirasakan oleh Ganindra dan seorang wanita cantik pembantu dari Abangnya.Sungguh membuatnya tak berdaya melihat wanita itu sampai hatinya tak bisa berkata lagi.Turun dengan pakaian lengkap seorang lelaki dengan pakaian seragam abu-abu putih terkadang membuat Mitha tersenyum menyambut senyuman dan kesegaran antara Seorang pelajar yang masih fresh didepan mata.
"Selamat pagi Mas,gimana ga ngantuk kan?"Tanya Mitha dengan mempersiapkan sarapan pagi buatnya.
"Pagi Mitha,maaf ya.Ngerepotin terus masak bangun pagi pake acara dibangunin seeh!"Tersenyum duduk dikursi meja makan.
"Ga pa-pa Mas,itu kan sudah tugas saya sebagai asistan rumah tangga.Gimana seeh!"Tersenyum manis kepadanya.
Sambil menatap sarapan pagi special telah dibuatkan oleh Mitha jelas itu adalah pilihan yang sesuai untuknya dalam satu meja dengannya.
"Kamu sarapan juga kan?"Menatap kembali penuh senyum.
"Nanti deh,saya juga ga sarapan disini Mas.Ini buat keluarganya pak Morgan."Jawab Mitha yakin.
"Heiiii,ga pa-pa kita sarapan berdua.Kan Abang ga tahu kalau kita sarapan berdua.Lebih seru dari pada gua sendirian kayak apa jadinya.Gimana mau ya!"
"Eeehhhmm,gimana ya."
"Ayolah,mau ya.!"Pintanya tak sadar menyentuh tangan Mitha.
Kaget juga mendapatkan pegangan tangan,tentu itu sungguh membuatnya tak berdaya dengan segala rasa yang dimliki oleh Ganindra sebagai pemain cinta terbarunya.Hebat ya Abang punya pembantu udah cantik,seger dan enak dipandang.Bikin ga bosen berlama-lama menatapnya.
"Kenapa Mas kok mandangin aku terus seeh!"Protes Mitha menatap dengan tawa gelinya.
"Ngapain mandangin aku terus,ada yang aneh ya sama aku!"mencoba mencari kekurangannya.
Senyum sumringah dari Ganindra memang menarik juga,bahkan obrolan itu semakin membuatnya akrab sampai membuatnya ga nyesel bisa deket dengan wanita seperti dia.Memiliki jiwa dewasa dan bisa membawa hal paling seru dalam pagi ini.
"Ga,,,ga ada kok!"Sambil menggelengkan kepala.
"Yakin,dari pandangan mas Ganindra itu menyiratkan sesuatu yang masih tersembunyi.Apa itu mas?"Mencoba menggodanya sampai Ganindra sama sekali ga bisa berkata tapi memiliki kalimat seru pula.
"Ga ada yang special selain ditemani sama Mba Mitha lho.Ga nyesel banget,heheheh!"Mencoba membawa suasana lebih dekat.
"Hahaha,bisa juga ya kalau ngegombal.Memang anak SMA itu seru juga ya!"Sambil mengangguk penuh senyuman.
"Baru tahu Mba?siapa yang lebih seru gua apa Abang gua hemm?"Memberikan sebuah pilihan untuknya.
"Gimana mau bilang ya?belum ada yang seru.Kita baru kenal juga.Ga mungkin dong Mba langsung menilai kamu baik atau buruk.Pasti banyak pertemuan yang seru lagi kan!"Kembali memberikan pandangannya.
"Kalau Abang gua gimana Mba,seru ga!"Penasaran lagi sama Mitha.
"Udaaah,jangan ngomongin itu ya.Bahaya lho!"
"Oppzz maaf mba!"Sambil meringis geli.
Tanpa disangka waktu dimeja makan tinggal beberapa waktu sehingga sang lelaki pun segera untuk berangkat sekolah,mau gimana lagi.Meninggalkan mba Mitha rasanya meninggalkan hidangan utama yang lezat dan lebih menggoda dari siapapun tak terkecuali Thy Than.
"Heemm,udah selesai aja kita sarapannya Mba!"Sambil tersenyum kepadanya.
"Memangnya kamu ga mau ninggalin meja makan ini?gimana sekolahnya!"Kembali pertanyaan itu menyerang Ganindra sampai ia hanya mengumbar senyum kepadanya.
"Iya juga seeh mba,maaf deh.Aku terlena sama mba lama-lma kalau kayak gini!"Sembari tawa renyahnya kembali menemani.
"Awas,lho nanti sekolahnya terbengkalai.Jadi apa nanti?"Sesumbar memberikan pencerahan.
Membereskan sarapan paginya,Ganindra pun beranjak untuk berangkat sekolah.Sembari menghela nafas panjang masih ga nyangka bisa sarapan pagi bersama seseorang yang telah menemaninya.Mitha pun perhatian juga sama Ganindra,perlahan mendekati dan membenahi seragamnya yang menurutnya masih kurang bagus dipandang.
"Sebentar deh,mba benerin dulu.Biar cakep mas Ganindranya!"Mendekati layaknya tengah melayani suaminya.Kedua tangannya pun mendekap kedua kerah baju seragam serta memberinya sebuah kecupan pipi sampai pula kejutan itu membuatnya membelalakkan matanya tanpa ampun.
"Haaaah,mba.Nyium gua?"Rasanya berada diatas awang-awang ketika sebuah perhatian itu datang seketika saat menjadi lebih romantis dipagi ini.
"Kenapa,sekali-kali kan ga pa-pa.Juga Mba udah dapat ijin kok dari pak Morgan."Jawabnya malu-malu sambil agak menjauh dari tatapan Ganindra.
"Trus gimana boleh emangnya?"Tanya balik.
"Ya bolehlah,kamu yang rajin dan jangan nakal.Ntar malahan ga bisa-bisa lagi meraih hati kekasihmu."Lanjut Mitha memberikan harapan angannya.
"Siap mba,makasih atas suportnya.Byeee!"Ia juga kegirangan sampai memberikan kecupan kening untuk sang asistan pendamping hatinya.Berlalu meraih tas sekolahnya sambil berjalan serta berbalik lalu melambikan tangan untuk sang wanita hangat tersebut.
Ia pun menahan tawanya dan melambaikan tangan,kembali sibuk mengurusi rumah kembali.Menggelengkan kepala luxu juga melihat mas Ganindra,udah lucu,tampan dan gagah.Huuh,kenapa juga pak Morgan meminggalkan sebuah tantangan yang menjeratku,kayaknya aku harus protes sama dia deh.Sambil tak menyangka tawanya membawanya dalam kebaikan hatinya.
Lelaki maskulin itu sama sekali ga menyangka bisa berada dalam dekapan bahkan ciuman yang membekas seraya tak pernah membayangkan bisa mendekap pipinya bekas ciuman darinya.Bahagia banget deh pagi ini,kenapa bisa sebaik ini seeh hatiku saat ini.Meraih helem sport dan siap mengendarai motor retronya dengan tampang yang garang,ia memakai jaket kulit berwarna hitam serta tampil menggoda bak seorang pembalap yang siap melahap jalanan kota menuju sekolah.
Rey melihat raut wajah sedih seorang Thy Than saat itu juga ketika menyadari ada sebuah koper yang siap ia bawa untuk menjalankan tugasnya sebagai salah satu team dari Rey.Tatapan itu sunggug membuat Joana terbesit untuk bertanya dan mendekati sosok keponakannya rasanya ga rela kalau kakaknya akan menjalankan tugas jauh.
"Kenapa Than?ad yang aneh deh sama kamu!"Mendekati dan mendekapnya.
"Yaaah,melepas kak Joana emang berat ya."Lanjutnya dengn wajah sedih.
"Thy Than,Joana itu hanya menjalankan tugas saja.Palingan pergi juga satu bulan aja.Ga selamanya lho,kamu kok khawatir banget seeh!"Lirikan tajam Rey membuat ledekan itu bikin tawa Joana yang melihatnya.
"Heheheh,iya padahal cuman berapa seeh sebulan kok.Ga lebih,kalau kelamaan berarti kak Joana betah disana."Kembali membuat Thy Than bersungut-sungut ga terima.
"Trusss aku sama Om Rey aja gitu?"Sambil melirik kearah Rey.
"Ya gimana lagi sayaaang,itu sudah jadi tugasnya.Nanti kalau om Rey tugas keluar kota atau luar negri,jelas siapa yang nempati rumah ini.Kan kamu jugaaaa!"Sambil nyubit keras pipinya.
"Adooooh!Sakit Om.Nafsu amat seeh kalau mau nyubit aku!"Kesal juga sambil mendekap pipinya yang memerah karena cubitan Rey.
"Udah deh,jangan berantem.Ntar aku tinggal malah parah lagi berantemnya."Menghentikan pertikaian yang lembut ini.
"Tos dulu dong!"Pinta Joana kepada Thy Than.
"Boleh!"Jawab Thy Than sambil membalasnya.
Rey menompangkan tangan dan heran melihat kekompakan mereka berdua,iri juga lihat mereka sambil ketawa-ketiwi dibuatnya."Kalian ga tos juga sama aku?"Lalu Rey mengepal kedua tangan dan mengarah kepada Thy Than dan Joana.
"Oke Om!"Jawab Thy Than bersiap.
Sembari melanjutkan sarapan pagi,tawa dan obrolan kembali dituangkan oleh Thy Than dan mencoba berusaha tetap tersenyum saat melepaskan perjalanan seorang Joana sebagai wanita karier.Tepatnya dilobby apartemen sebuah mobil pun telah datang dan telah siap menjemput keberadaannya.Dengan santai Ia berjalan sambil menyentuh tangan Thy Than.
"Kak,nanti jangan lama-lama lho ya.Kan aku ga bisa lepas dari kak Joana!"Pintanya sambil mendongak kearahnya.
"Iya,santai aja.Nanti kamu juga punya teman lagi!"Candanya sambil melirik lagi kearah Rey.
Diapun ikutan mengernyitkan kening,bingung jawaban model apa lagi yang harus aku jawab gara-gara Joana ini.Memang dia paling demen kalau nyari gara-gara sama aku ya.
"Siapa?"Masih saja belum mengaku.
"Emang siapa seeh Kak,Om.Temen yang kalian maksudkan!"
Datang seorang supir perlahan mengambil dan mengumbar senyum mengangkatkan beberapa koper milik Joana serta memasukkannya kedalam bagasi.Tentu itu akan dibuat oleh Joana dengan memberinya teka-teki khusus kepada keponakannya.
"Kamu nanti juga tahu kok,jadi kamu siap-siap aja ya hehehhe!"Sambil menyentuh bahu Thy Than.
"Trus kakak kapan baliknya,awas jangan lama-lama ya.Ntar kalau aku kangen gimana?"
Bersedekap dan melirik Tuan muda,tentu itu akan segera direspon oleh Om Rey langsung"Santai aja,nanti Om ajak jalan-jalam ketemu Krisna.Heheheh!"Bisiknya menggoda.
Kaget dan ga terima juga lama-lama godaannya,bikin tawanya makin renyah melihat reaksi dari keponakannya.
"Oooom,,,aku udah melupakan dia lho!"Sembari bergemerutuk kalimat itu datang seketika.
Joana pun hanya menggelengkan kepala,rasanya mereka klop banget kalau dalam.hal mencari sensasi masing-masing.Tapi seru juga sampai akhirnya dia memeluk Thy Than dan Tuan muda tentunya serta pamit untuk segera pergi menuju bandara.Lambaian tangan Thy Than dan senyum manis Rey telah membuat perjalanannya semakin enak untuk dinikmati.
"Sekarang kita berangkat,jangan pernah bawa mobil lagi.Biar Om yang anter ya."Sambil merangkul Thy Than.
"Lho ga boleh bawa mobil sendiri Om?kan aku udah bisa!"Protesnya.
"Kamu kan masih dibawah umur,tunggu umur kamu 21 tahun baru deh Om kasih kamu offroad dimanapun kamu berada.Tapi sekarang,kamu adalah keponakan Om yang harus dijaga terus.Ayo berangkat!" Rangkulnya kembali dengan gemas.
Mau gimana lagi,pasrah aja sama peraturan yang dibuat sama om Rey.Ya ada ga aku suka seeh tapi dari hati lubuk terdalam aku tahu kalau Om bersikap seperti ini supaya aku menjadi sosok bertanggung jawab untuk kedepannya.Ga pa-pa deh.Sambil berjalan menuju parkiran keduanya kompak masuk kedalam mobil dan melaju kencang membawanya kesebuah sekolahan.
Didalam mobil pun,masih ada obrolan ringan yang selalu dirasakan sebagai ide cerita sang Rey kepada Thy Than.
"Kamu nanti pulangnya tinggal pilih,bareng Om atau bareng sama Ganindra"Menoleh menunggu jawabannya dengan kembali konsentrasi.
"Eeehhhmm,,,terserah deh.Kalau aku dijemput sama Om.Aku jelas ikut kekantor dong.Ga seru!"Tandasnya kesal.
"Ya terserah deh.Yang penting kamu bahagia sayang!"Tersenyum sambil membelai pipi cabbynya.
Tentu itu membuatnya makin geli dan makin sayang saja sama om Rey,perhatian dan tentunya dewasa.Ga bisa dipandang sebelah mata bahwa memang om Rey itu luar biasa sekali melindungiku.Thank you Om!"