
Setelah mendapatkan sebuah kabar buruk atas kesehatan ayahnya hingga tentang keadaan Thy Than yang semakin down hatinya bahkan raganya seakan tak bisa lagi untuk dijelaskan apakah ini adalah akhir dari kedekatanku dengan sang Ayah?apa mungkin aku akan rela melepaskan orang yang selama ini melindungiku,ia hanya berdiri didepan sebuah kaca pintu dan menatap tanpa menitikan air mata,hati terdalamnya begitu hancur sampai apapun itu tidak bisa ada yang menggantikan.Sungguh berat ketika harus membuat sebuah keputusan dalam hatinya saat ini.
Ya,hanya Joana dan Rey yang mampu membuatnya tenabg saat ini.Keduanya menghampiri serta memeluknya dengan wajah khawatir akan terjadi sesuatu dengan Thy Than,karena mereka berdua tahu bagaiamana hancurnya hatinya saat mendapatkan sebuah kenyataan,bahwa ayah tercinta dalam ambang yang mengkhawatirkan.
"Kamu harus kuat,ada kita yang selalu disampingmu!"Kata Joana selalu menguatkan perempuan tersebut.
"Om,akan bertanggung jawab atas kehidupanmu saat ini.Kamu harus menjadi lebih baik ya!"Sambil mengusuk bahunya.
Tatapan kosongpun berada dalam ketidak pastian tanpa kegigihan kali ini.Perjuangan sang ayah pun tak bisa berlanjut begitu lama.Beberapa dokter pun datang untuk memeriksa keadaanya saat ini.Terlihat mereka sibuk dan serius untuk menangani pasien bernama pak Arman.Pria yang telah mengalami kekalahan dalam hidupnya hingga harus menyerah karena sebuah penyakit yang sudah menggerogoti tubuhnya.Khawatir,panik bahkan do'a terbaik untuk sang ayah adalah pilihan terbaiknya saat ini.
Cukup lama sebuah pertolongan medis untuk menyelamatkan pasien tersebut,tetapi berselang waktu senuanya seakan seperti mimpi buat Thy Than,ia sama sekali tak berharap ini semua berakhir secepat ini.Bahkan dirinya pun tak sanggup menanggung kesedihan ini saat jasad sang ayahnya pun keluar dari ruang ICU,tangis itu menjadi pecah bahkan membuat Joana ikut bersedih atas kehilangan ini semua.
"Ayaaah,,ayaahhh,jangan tinggalin aku.Aku masih butuh ayah,,,ayaaah!"Panggilnya dengan tangisan pedihnya begitu menyayat hatinya.
"Thy Than kamu harus kuat.Ini cobaan buat kamu sayang.Jangan bersedih seperti ini ya!"Joana pun tak henti-hentinya untuk memberikan dukungan.
Butuh sebuah kekuatan terdalam dipelukan kedua orang penting dalam hidup Thy Than.Semua akan baik-baik saja,dalam hatinya pun terus berkata seperti itu.Semoga ini hanya mimpi yang akan membangunkan ayah dan aku bisa kembali seperti dulu.Aku tidak menyangka berada dalam dekapan orang yang menyanyangiku dengan baik.Sama sekali aku tidak mengerti hal tersebut.
Ben pun pula berharap lebih untuk kembalinya Arman dalam kehidupannya.Tanpa dia,apalah artinya saat ini berada dalam rengkuhan sebuah bayangan tanpa kejelasan akhirnya.Sesaat menoleh dan menatap pedih apa yang dirasakan oleh anaknya.Apa itu akan membuatnya kuat atau berada dalam ambang tanpa jawaban.
"Semoga pak Arman lekas sembuh dan bisa kembali dalam pelukan kehangatan anaknya.Kasihan,harusnya ia berada dalam dekapan keluarga besarnya malahan seperti ini.Sungguh miris bila melihat ini semua.
Perjuangan hidup seorang Radithya Arman sungguh sia-sia,diapun tak bisa kuat kembali dan menyerah terhadap penyakitnya ini.Semua team dokter telah bekerja semampu mereka untuk membuat kembali pak Arman dalam kondisi baik-baik saja.Tetapi semua berada dalam kesedihan ketika seorang dokter datang menyentuh tangan Thy Than serta tak kuasa untuk mengatakan hal buruk ini.
"Thy Than,maafkan dokter ya.Kami sudah berjuang untuk membuat ayahmu kembali bangkit,tapi itu sudah mustahil.Ayahmu pergi meninggalkan kita semua.Kamu harus kuat ya!"
Tangisan itu tak bisa ditahan lagi oleh Thy Than,ia sesenggukan tak bisa berkata lagi saat itu.Perlahan dokter meninggalkan langkah tangisan itu.
Pelukan pertama Rey membuatnya semakin sedih,kali ini ia tidak bisa merasakan kebahagiaan bersama sang Ayah.Hatinya telah kacau karena ayah telah pergi meninggalkan dirinya tanpa sebuah pesan.Ia mencoba mendekap kedua pipi Thy Than dan kembali membuatnya seakan kembali tenang.
"Kamu harus kuat,okey!"Pintanya ikut sedih berkaca-kaca,ia pun mengangguk dengan penuh rasa berat.
Setelah melihat jasad sang ayah,dan ikut membawanya pulang kerumah untuk esok harinya dimakamkan.Esok hari kembali ketika langit kembali mendung dan penuh ragam emosi ketika semuanya berada dipemakaman.Thy Than berdiri ditemani oleh Joana dan tentunya Rey yang sigap dan selalu berada disisinya.
Semua pun menjalankan protokol pemakaman dengan khitmad,semua dalam kesedihan.Ben pun berada agak jauh untuk mengawasi beberapa orang yang akan bersikap tidak baik kepada Thy Than.Sedih itu adalah semuanya dalam diam tanpa ada sepatah katapun untuk mengenang dan menghormati Radithya Arman dalam kepulanganya yang abadi.
Menoleh dan mengajak Joana untuk pergi sejenak memberikan ruang untuk keluarga Thy Than datang dan mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya ayah tercinta.
"Thy Than kamu sabar ya,ini adalah ujian hidup kamu ya!"Kata itu menjadi awal mula rasa simpati keluarganya ketika mendekat dan memberikan dukungan moril kepadanya.
Sang tante pun tak luput untuk berada disampingnya dan menyentuh kedua bahunya untuk memberikan dukungan serta semangat untuknya.Masih dalam kesedihan,ia hanya mengangguk dan hanya terdiam penuh kekosongan.
Rey pun hanya bisa menatap agak jauh dari kerumunan keluarga serta kolega yang datang,tentunya sang ayah datang dengan tegar saat mendatangi pemakaman dan menghampiri sang anak yang tengah bersama asistannya Joana."Rey,maaf ya ayah datangnya agak lama!"Sambil menyentuh bahunya.
Menoleh dan menjawabnya."Ayah,syukur deh ayah datang.Apa ayah sudah bertemu Thy Than?"
"Belum,bentar ya.Ayah kesana dulu!"Pintanya berjalan dengan senyuman mengarah pula kepada Joana dan sedikit berbicara dengannya."Kamu jaga Rey ya."Pintanya kepadanya.
Tak kala pesan menohok itu membuat Joana hanya menatap datar,terkejut pastinya.Tidak biasanya kalau bicara Tuan besar seperti itu,"I-iya iya Tuan besar!"
Suara terbata-bata dari Joana membuat Rey menahan tawanya dengan geli,sehingga tatapan kesal tak mengenakkan muncul dalam pandangan Joana seketika.
"Tuan mudaaa!"Seraya menggerutukkan gigi-giginya,kesal juga.Disaat dirinya tak menyadari hal tersebut malahan tawa lepas dari Rey membuatnya sedikit kesal jadinya.
"Tenang-tenang.Jangan menuntutku disini ya,kita bicarakan nanti dirumah!"Bisiknya memberikan waktu.
Seketika pun ia memalingkan wajah,tak perduli lagi sama obrolan apa lagi yang tengah mereka bicarakan lagi.
Tuan besar Juan Radithya pun perlahan mendekati anak kolegannya yang tengah bersedih diapit oleh tante dan omnya,kedatangannya memang membuat mereka sedikit terkejut bahwa memang Tuan Juan telah datang.Rasanya tidak mungkin kalau beliau datang.Tetapi itu diluar ekspetasi keduanya hingga hanya bisa menyapa saja.
"Permisi,!"Suara beratnya memang menjadi ciri khas seorang pengusaha bernama Tuan Juan Radithya.Banyak kesamaan yang terjadi antara Radithya Arman dan Juan Radithya ketika mereka berada dalam satu pekerjaan hingga membuat mereka erat dan bisa menjalankan bersama hingga suatu saat berada dalam perpisahan.
Sontak semuanya menoleh dan heran melihat kedatangan seorang pria paruh baya dengan tatapan sayu ketika melihat makam rekan kerjanya,senyum itu kembali terkembang serta berjabat tangan serta menyentuh punggung tangan Thy Than serta mengucapkan bela sungkawa.
"Saya sebagai rekan kerjanya pak Arman,turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya ayah kamu ya.Semoga kamu kuat menghadapi ini semua.Tentunya kamu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi ya nak!"Sambil mendekap pipinya.
Ia semakin merunduk dengan tetesan air mata mengangguk dan bisa berkata lagi."Bapak mengerti,kamu tidak bisa menjawab secepat ini.Kamu tetep harus menjadi pribadi yang hebat nantinya.Bapak harap kamu mau menjadi bagian dari keluarga bapak ya.Dan mau tinggal dengan Rey.Dia akan melindungimu seperti keponakannya sendiri!"Sambil menatap serta mengangkat kedua alisnya.
"Iya pak,terima-kas-ih atas penghormatan untuk ayah saya.Semoga bapak selalu dalam kesehatan pula.Supaya saya juga bisa mengenal bapak seperti ayah saya."Isak tangisnya belum reda ketika ucapan itu berhenti,bibirnya rasanya kaku bergetar dan tak mungkin lagi bisa mengatakan hal lain.
Kembali memberi senyum kepada Om Thya Than serta mengucapkan bela sungkawa pula kepadanya.
"Saya sebagai Rekan kerjanya pak Arman,saya turut berduka cita.Sama sekali saya tidak tahu tentang apa yang dihadapi oleh pak Arman.Dan anda tidak keberatan kan kalau Thy Than berada dalam keluarga kami kan?"Kembali mempertanyakan hal tersebut.
"Tidak pak,kami sangat terbuka dengan keputusan apa yang akan diambil oleh Thy Than.karena dia sudah dewasa dan mampu memilih mana yang baik dan tidak untuknya pak!"Jawab Om Thy Than pasrah mendengar permintaan sang kolega.
Karena mereka tahu siapa Bapak Juan Radithya merupakan pengusaha yang bisa merubah segalanya menjadi mungkin.Sampai mereka berdua tidak bisa mengambil alih dengan sebesar apa dimiliki oleh keluarganya.Apapun yang dilakukan mereka akan bisa dipatahkan oleh anaknya sendiri bernama Rey yang lebih sigap dalam permasalahan ini.
"Apapun yang terbaik buat Thy Than adalah sekarang tanggung jawab kami.Semoga anda mau menerimanya ya!"Sambil memberikan sebuah pandangan untuk mereka berdua.
Banyak obrolan yang tertuang dalam pertemuan dipemakaman dan tak ayal membuat banyak orang yang melihatnya pasti akan ikut memberikan suara bahwa Thy Than akan lebih baik berada dalam keluarga Juan Radithya karena telah memberikan kebaikan dan terus memberikan ruang untuk Thy Than bisa kembali bangkit.Tidak seperti ketika Om dan tantenya yang bisa membawanya dalam kehancuran dirinya.
Setelah proses pemakaman telah usai,semuanya pun perlahan meninggalkan kesendirian sang anak.Hanya Rey dan Joana yang masih betah untuk melihat apakah ada yang berani mendekatinya lagi,sempat berpapasan dengan Rey Om dan tante dari Thy Than pun datang untuk berkata sesuatu untuk keponakannya.
"Saya titip ya,Thy Than kepada kamu.Jangan sia-siakan dia sebagai keluarga baru kamu .Semoga dia bahagia dengan kehidupan barunya."Sambil menyentuh tangan Thy Than sang tante pun memberikan sebuah harapan untuk keponakannya.
"Dan kamu Thy Than,jangan pernah melupakan Tante dan Om karena kamu masih keluarga kami.Rumah kamu akan kami rawat,kalaupun kamu ingin kembali silahkan ya."Sambil menepuk bahunya.
"Iya Om,Tante.Terima kasih ya.Aku akan menenangkan diri dulu dan ketika tenang akan kembali lagi.Pasti akan kembali seperti yang dulu."Mengumbar senyum.
Tepat kali ini setelah pemakaman telah usai dan sepi,semua meninggalkan kesendirian Thy Than,saatnya Rey datang bersama Joana untuk menemaninya dengan hangat atas sebuah persaudaraan.Mendekati dan menatap serta memberikan senyuman kepadanya.
"Apa kamu akan berlama-lama disini hemmm?"Menatap dengan manis.
"Kalau kamu kuat,ayo kita balik dan kamu butuh istirahat yang cukup.Karena mata kamu sudah lelah ingin tenggelam dalam mimpi kan?"Joana pun berkata pula.
Ia pun mengangguk dan tak lupa ia jongkok serta memeluk nisan bertulisakan ayahnya,mencium dan mengucapkan selamat tinggal untuk sementara waktu.
"Ayah,Thy Than pulang dulu ya.Nanti kalau Thy Than kangen pasti akan datang menjenguk ayah.Ayah baik-baik ya disana."Mencium batu nisan dengan tegar tanpa menitikan kembali air matanya.
Keduanya menghela nafas,ingin kembali kuat untuk keluarga barunya.Mengantar pulang kerumah,banyak sekali pelayat datang untuk berbela sungkawa atas meninggalnya sang ayah,banyak pula sahabat dan kolega yang telah datang serta memberikan perhatian untuknya.
Benar tepat kali ini aku berada dalam keheningan tanpa arah,melihat banyak orang datang melayat dan memberikan sebuah kenangan yang perlahan selalu membuatku tersenyum.Setelah ayah meninggal,aku harus kembali dalam hidup yang berbeda.Om Danu dan tante Gina telah sadar dan mereka mendapatkan apa yang selama ini diinginkan.Sebuah surat kuasa telah diberikan dan mereka pun menyetujui itu semua.
"Maafkan tante ya,selama ini selalu bersikap tidak sama kamu.Setelah mendapatkan kuasa ini,tante jadi mengerti bahwa harta terbaik adalah anak-anak tante,tentunya juga kamu Thy Than."Lanjut sang tante penuh perhatian.
"Om juga minta maaf ya,atas kesalahan Om selama ini.Semoga kamu bahagia dengan apa yang kamu dapatkan sekarang.Dan Om akan bahagia bila kamu bahagia bersama orang yang menyayangi kamu."
"Memangnya Om dan Tante mau kemana!"Pertanyaan itu kembali dipertanyakan oleh Thy Than.
"Kita akan kembali keJogja,tempat yang seharusnya kami tempati selama ini.Tempat yang ternyata sudah disiapkan oleh ayahmu untuk kami,dan kami tidak menyadari hal tersebut selama ini.Jadi kamu hati-hati ya disini!"Ujarnya berpesan.
Setelah obrolan cukup lama tentunya membuat Thy Than berada dalam dilema saat ini,apakah akan meninggalkan rumah ini.atau tinggal dengan Om Rey adalah pilihan terbaiknya,mungkin saat ini aku berada dalam situasi yang benar-benar membuatku semakin bingung apa nanti aku katakan sama Om Rey.
Diruang kerja sang Ayah,sebuah obrolan kembali tertuang jelas dalam cerita keinginan hatinya saat ini.Meski begitu sulit,pasti akan memberikan dirinya sebuah keputusan untuk bisa ia dapatkan secepat itu.
"Gimana Thy Than,apakah hatimu sudah jelas memilih bersama siapa kamu tinggal?"Duduk disofa serta menatapnya penuh harapan.
"Entahlah Om,kalau aku disini pasti sendiri.Kalau sama Om juga rumah ini akan sepi."Sembari meratapi kesendirian ketika berada dalam situasi sulit seperti ini.
Beranjak berdiri mendekati kegelisahan Thy Than ketika ia duduk dikursi meja kerja sang ayah,menompangkan tangan penuh harapan akan sebuah keinginan perubahan untuk dirinya.
Langkahnya oun berhenti dan duduk diatas meja,ia mengelus-elus rambut Thy Than dan mulai berkata.
"Nanti kamu putusin ya,jangan gegabah dalam mengambil semua keinginan hatimu.Akan banyak ruang untuk kamu bila kamu memutuskan tinggal atau sekedar liburan dirumah Om ya.Tidak ada paksaan dari Om untuk hal ini,jelas kan!"Merunduk dan melepaskan dekapannya,lalu berfikir kembali seraya menatap foto Om Arman dengan senyum teduhnya.
Ia mengangguk,seraya memeluknya dengan erat.Ratapan itu benar-benar membuatnya bimbang hingga tak berkata lagi kembali mendongak dan berkata lagi.
"Tapi kalau aku benar-benar kesepian gimana Om?"
"Tenang aja,atau kak Joana tinggal sama kamu."Memberikan tawaran mengejutkan.
Perlahan melepaskan pelukan lalu menyeka air matanya,terdiam kembali kalimat itu dituangkan begitu saja.
"Ga usah Om,nanti Om sendirian ga ada yang nemenin!"Tertawa geli.
"Ya udahlah,harapanku seeh kamu menolaknya.Eeh beneran nolak,hahahaha!"Jawabnya ngakak geli.
"Oooom,bisa ga seeh ga becanda.Aku jadi gimana dong!"Sembari cemberut melirik kearahnya.
Mendekap pipinya lalu menjawab
"Supaya kamu ga sedih lagi,kan gitu!"Mengumbar senyum sejenak.
Yaah suasana ini telah membuat sedikit kembali menyentuh Thy Than dimana ia bisa tersenyum dan menghilangkan sejenak rasa sedih ini.Tak lama kemudian,Joana pun membuka pintu ruang kerja milik Thy Than menampakkan wajahnya dan meminta Ijin untuk masuk.
"Maaf,ganggu.Boleh masuk ga?"
"Masuk aja kak!"Jawabnya sumringah melihat kehadiran Joana semakin membuatnya hangat kembali.
Perlahan ia masuk kedalam,kembali menutupnya.Melangkah hati-hati dan mendekati Thya Than yang tengah berdua bersama Rey.Sesaat Rey mendongak dan menanyakan masih ada orang kah dirumah Thy Than.
"Oooh,ya Joana.Apa masih ada orang dibawah?"
Berjalan santai menjawabnya serta mendekap bahu Thy Than yang mana ia sungguh tenang berada disamping Joana."Ya ga terlalu banyak kok,ini juga sudah jam berapa!"Jawabnya sambil melihat jam tangan.
"Iya juga seeh,gimana kita pulang sekarang atau bentar lagi!"Kembali bertanya.
"Boleh,sekarang juga bisa!"Jawabnya yakin.
"Ini juga udah malam,waktunya kamu istirahat.Jangan lupa besok untuk sekolah ya!"Beranjak turun dari meja kerja Thy Than serta mengingatkan kembali.
"Iya Om!tapi besok pak Ben ada urusan untuk pulang keluar kota.Katanya ada yang harus diselesaikan."Kata Thy Than baru ingat.
Keduanya saling menoleh dan berujar kepadanya.
"Oke nanti aku bicara sama Ben,berapa lama dia pergi.Biar nanti kalau bukan aku bisa kak Joana ya.Yang ngantar kamu atau urusan lain,gimana!"Memberikan solusi.
"Ga ngerepotin?atau aku cari supir pengganti aja Om!"Kata Thy Than memberikan solusi pula.
"Jangan deh,bahaya itu.Mending salah satu dari kita aja yang ngantar ya!"Rangkulnya sambil berjalan keluar bersama.