Thy Than

Thy Than
Bab.29 Obrolan hangat diruang tengah



Kali ini Ganindra telah berada dalam ketenangan bersama sang kakak ketika semuanya telah benar-benar membuat hatinya kembali tenang setelah curahan hati sang lelaki terhadap kisah cintanya.Morgan telah membuat keputusan yang baik untuk sang adik untuk menjalani hidupnya dengan pilihan hidupnya saat ini.Thy Than telah memberikan kehangatan disetiap nadirnya,tak kala ia berada dalam kegundahan tanpa makna,jelas itu karena cintanya sangat besar kepada Mega.


Malam pun menjadi cerita baru untuk Thy Than setelah seharian menghilang dan sekarang berada ditengah-tengah keluarga barunya.Ya,om Rey dan kak Joana telah memberikan banyak kedekatan untuk dirinya,apalagi malam ini keduanya menjadi pendengar sejati dari keponakan yang cantiknya dan manis menggoda.


"Kamu kemana aja tadi,ga ngabarin om lagi!"Pertanyaan pembuka awal dalam obrolan hangat ini.


Meringis menjawabnya,"Hehehehe,maaf Om lupa.Ga ngabarin palingan om juga sibuk!"Lanjutnya enteng.


"Dasar kamu ya,neeh yang sebelah kamu bisa kok dihubungin kapan aja!"Langsung aja Joana nyubit pipinya.


Sontak ia menoleh dengan rasa sakit seraya mendekap dan mengusuk pipinya."Aduuuuh,sakit kak!"


"Mangkanya,kalau Om Rey lagi sibuk.Kan ada kak Joana disisinya."Lanjutnya dengan bergaya.


"Wiiiih keren,,,udah sehati banget ini.Kapan nikah heheheh!"Candanya sambil menutup mulutnya.


"Bisaaa aja kamu,jawab dulu dong!"Pinta Om Rey.


"Maaf Om!,gini tadi kan kita berdua ya aku sama Ganindra kan sahabatan tuh.Ngobrol enak-enak kan bingung disekolah enaknya kemana gitu?"


"Trusss!"Rey memastikan.


"Ya ke perpust lah.Dan aku tuh ga pernah masuk kedalam perpust lho Om kak!"Sambil tengak-tengok melihat reaksi keduanya.


"Truuusss!"Lanjut Joana.


"Ya aku diajak sama Ganindra,terpaksa mau!"Jawabnya sarkastik.


"Trusss!"Lanjut Rey.


"Kok terus mulu seeh nanyanya,ga ada fariasi lainnya gitu?"Menatap kearah Rey sembari mengangkat kedua alisnya beberapa kali.


"Ya biar serulah!"Sambil membelai rambut Thy Than,Joana menjelaskan.


"Seru????dari mananya seru!"Ujarnya sensi.


"Trus ngapain diperpust baca buku kan?"Tanya Rey lagi.


"Iya baca,,,novel.Heheheh!"Lanjutnya meringis lagi.


"Ga ada kegiatan lain,misal kalian berdua ngobrol bareng,tris melupakan buku itu dan ga dibaca lagi terbuai mungkin sama cerita yang kamu baca mungkin?"Joana mengolah banyak kata dalam obrolannya.


"Engga,malahan aku terfokus sama cerita trhliler malahan Ganindra ketiduran kaaaak,bete banget kan.Padahal sambil baca aku tuh ngobrol ama dia ga ditanggepin.Kan keseeel!"


Lanjutnya emosi.


"Aaaahhh,dasar lu!"Sambil gemasnya Rey memalingkan wajah Thy Than membuatnya makin mancung aja bibirnya.


Membuat Joana pula geleng-geleng kepala sambil merunduk mendekap keningnya.


"Oooom,sakit.Dari tadi pipi Thy Than kena mulu deh.Sensi banget sama pipinnya Thy Than heran deh."Lanjutnya bingung.


"Kan ga masalah!"Rey melakukan pembelaan.


"Lanjut ceritanya gimana,kok bisa sampai Ganindra ketiduran.Itu beneran sahabat kamu atau lebih dari sahabat sekarang?"Joana pun penasaran.


"Naaah itu dia Om Kaaak.Kok bisa aku sama Ganindra lupa ga segera keluar dari perpust!"


"Lalu?"Tatapan keduanya mengarah serius kepadanya.


"Ya kekunci ampe pelajaran terakhir dan pulang.Dan herannya tuh kita berdua ga pada bawa hape.Untung neeh ya,untung bangeeeet!"Kata-kata Thy Than telah mengusik keduanya untuk serius.


"Apa?"Keduanya kembali bertanya.


"Ganindra punya smartwacth,jadi bisa deh nelpon temennya,buat ngabarin kalau kita itu!"


"Kekunci?"Kembali saling menatap Thy Than.


"I-iya kekunci!"Jawabnya mengangguk.


"Heeeh,bisa kayak gitu ya.Trus kamu ngapain?"


"Panik?"Sahut Joana.


"Heheheh,iya kak.Panik banget kan aku takut tuh sama yang gelap-gelap.Jadi ngeri banget deh ga habis fikir aku takut bangeeet!"Lanjutnya.


Sontak keduanya ketawa ngakak,baru kali ini bisa takut banhet.Padahal kan udah ada yang nemenin malahan takut gitu?


"Hahahahahaha,emang kamu ya.Penakut?udah ada yang nemenin malah ketakutan kayak gitu.Ga seru!"


"Harusnya kamu tuh membangun cemistry dengan Ganindra supaya kamu bisa nyaman sama dia.Emang ga kayak gitu kamunya?"Tanya Joana konyol.


"Ya iya seeh kak!"Lanjutnya sadar.


"Naaah udah tahu gitu.Gimana seru ga sama lelaki ditempat seru kayak gitu?"Pancing Rey menggoda.


"Oooomm,,,apaan seeh.Malulah Thy Than kayak gitu!"Langsung memerah wajahnya penuh malu-malu banget.


"Tuuuh kelihatan malunya kaaan.Pasti deh kalian pelukan sama sayang-sayangan.Sok saling menguatkan padahal takut hehehheh!"Sambil mengelus pipinya.


Langsung aja tangan Thy Than segera menolaknya,sebel dicandain dari tadi ampe sekarang.Sembari menggelengkan kepala,tersirat waktu udah hampir malam membuat Rey segera mengusirnya untuk istirahat dan tidur dengan Joana.


"Tuuuh,udah malem.Apa kamu mau begadang?"Tunjukknya kearah luar kaca.


Menoleh menatapa keluar,memang iya seeh udah malam.


"Heheheh,iya Om udah malam!"Meringis geli.


"Waktunya istirahat dan tidur sama Joana.Besok aja aku bicara sama kamu ya."Mengarah pandangan ke Joana.


"Bicara apa Tuan muda?"Mengernyitkan kening.


"Ada deh,sekarang kita tidur ya.Udah malam jaga kesehatan kalian oke!"Beranjak berdiri serta mendekap bahu Thy Than dan memberikan ciuman khusus buat Joana.


"Iiiiiuhhhh,,,sok romantis.Ayo kak kabur aja,ntar ga tidur-tidur lagi!"Ajak Thy Than mendekap pinggulnya dan mendorongnya pergi dari Rey.


"Eeiiiiitttt,kan Om masih butuh kak Joana bentar aja.Kamu tidur duluan ya,,,"Pintanya sambil mengangkat tangannya.


"Apaan seeh Om,kita udaaah ngantuuukkk!"Masih aja bersikeras untuk membawa Joana masuk kedalam kamarnya.


Hemmm,,,dasar Thy Than ga seneng apa lihat Omnya salam malam sama cinta terbaikku?selalu bikin gangguan aja dia.


"Byeee Om besok aja weeek!"Ga bisa melepaskan dengan mudah keintiman mereka berdua.


Menghela nafas penuh pasrah dan tak berdaya lagi.Bersedekap dan berbalik menaiki anak tangga dan berjalan untuk menuju kamarnya sendiri.Tapi belum sempat untuk naik kembali,dia pun ingat untuk minum dan melegakan setiap nadir hidupnya dalam satu gelas air mineral yang segar.Berjalan kembali menuju dapur,seraya mematikan beberapa lampu tinggal beberapa lampu terlihat remang-remang membuatnya terasa hangat dan bisa merasakan hidup sendiri menuangkan air dengan tepat menatap setiap air perlahan menaiki gelas hingga hampir full.


Mengangkatnya penuh pandangan teduh,perlahan meneguknya setengah hingga mengatur nafasnya kembali dan menikmati segarnya membasahi tubuhnya."Aahhh,,,segarnya!"Seraya menaruh gelasnya,menompangkan kedua tangannya dimeja set.


Tak berselang lama,sebuah dekapan dari belakang penuh kelembutan telah membuat Rey senang dan mendekap tangannya.Menoleh bertanya"Apa Thy Than udah tidur?"


Ia hanya mengangguk dan kembali mendekap pria tampan tersebut,Rey berbalik dan mendekap kedua tangan Joana.Mengecupnya dan menatap penuh senyuman arti.


"Memangnya ada apa Tuan muda?"Menatap melihat sebuah kebagaiaan disetiap sorot mata Rey.


"Aku bahagia bisa dekat denganmu.Apa benar Alexa datang kesini?"Tanya Rey penasaran.


Ia mengangguk dan tidak menjelaskan lagi,menghela nafas lalu mengatakan satu hal kepadanya.


"Kamu tahu sebenarnya dia cemburu melihat kamu ada didekatku saat ini.Harusnya dia sadar apa yang dia lakukan dulu kepadaku adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa dia perbaiki lagi."


"Tuan muda masih mencintai dia?"Kembali pertanyaan itu kembali mengambang.


Tersenyum menjawabnya.


"Trus Tuan muda memilih siapa?"Penasaran juga sama perkataanya.


"Kamu pasti akan tahu sendiri siapa itu ya."Menarik pingggul Joana hingga keduanya saling berdekatan.


"Aaahhh!"Suara lirih itu mengejutkan Joana.Ia benar-benar tak bisa lagi mengatakan untuk penolakan kesekian kalinya.


Perlahan keinginan keduanya untuk saling mendekat dengan perlahan Joana mendekap kepala Rey dan sebuah ciuman pun mendarat dengan sempurna tak ayal ciuman itu semakin membuatnya ganas dan semakin dalam.Setelah beberapa menit cinta mereka seperti tengah membara,Joana pun menghentikannya.


"Jangan terlalu jauh Tuan!"Pintanya melepaskan ciuman itu.


"Kenapa?"Rey pun protes.


Ia mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya.


"Kita hampir saja ketahuan sama Thy Than,dia mengintip kemesrahan kita!"Seraya tertawa lepas.


Matanya melotot tak berdaya ketika ia melihat dengan pasti bahwa bayang itu perlahan hilang.Thy Than pun ketahuan telah melihat kemesrahan yang diperlihatkan oleh mereka berdua.Berbalik dan menutup pintunya segera,masih bersandar dibelakang pintu,nafasnya pun tak beraturan,gila Om Rey dan kak Joana mereka romantis dan panas banget sampai aku ga bisa lagi berkata kalau mereka beneran hot banget aku saja ga seperti itu sama Ganindra tadi.


"Kalau begitu saya masuk dulu Tuan,takutnya dia malah liat lagi"Tersenyum melepaskan romantisme keduanya.


"Okelah,,,kamu yang nyenyak tidurnya ya.Ingat aku masih ada obrolan yang lebih penting dari kemsrahan kita ya."


"Iya Tuan muda,bye good night!"Mencium pipinya dan beringsut masuk kedalam.


Mendengar langkah kaki santai menuju masuk kekamarnya,Thy Than bersiap untuk atur strategi untuk segera tidur dan tenggelam dalam mimpinya.Saat pintu terbuka senyum-senyum geli Joana melihat sandiwara yang dilakukan oleh keponakannya memang lucu.Menutup perlahan dan berjalan memutar lalu mendekati ranjangnya dan merebahkan tubuhnya,lalu ia berbaring miring mengucapkan kalimat untul Thy Than.


"Selamat malam Sayang,mimpi indah ya."Sambil mengecup pipinya.


"Iya kak!"Jawabnya tanpa membuka kedua matanya.


Menggelengkan kepala dengan geli juga,masih bisa jawab juga Thy Than,aneh memang anak satu ini.Selamat malam dan mimpi indah bersama cerita indahmu sayang.Joana berbaring seraya membayangkan akan sebuah cerita hidupnya penuh dengan tanda tanya.Tapi sudahlah mungkin Yoshi adalah sebuah pelampiasan yang tak biasa diantara bayangan hidupku, sedangkan Morgan dalam sikap istimewa disetiap permasalahan hidupku dan yang terakhir adalah Tuan muda Rey.Bagaimana dengan perasaannya saat ini ya?


Tentu itu menjadi jawaban dalam malam ini tanpa sebuah keromantisan yang tengah mereka berdua bangun perlahan tertunda sejenak karena sebuah hal unik berada ditengah-tengah rasa itu,Thy Than telah membuat dua hubungan ini sedikit berfikir lebih cerdik saat saling mengungkapkan apa yang dimanakan kangen berat.


Tersungging sembari bersandar menatap keluar dikaca jendela besar yang masih terbuka.Ia menatap keatas diantara bintang dan langit yang dibertabur kekaguman olehnya.


"Joana wanita yang telah membuatku berfikir reaktif soal cinta hingga aku benar-benar mencintainya dan melupakan siapa itu Alexa.Heran bisa saja dia datang disaat aku dekat dengan seseorang.Hanya saja dia bersikap tidak baik sehingga aku pun menolaknya!"Kembali menatap sebuah khayalan tanpa jeda.


"Apakah malam ini aku akan sendiri saja tanpa kamu?"Menoleh dan tak bisa lagi berfikir lebih tajam.


Setelah tak tega melihat Ganindra begitu tersakiti atas cinta yang perlahan akan memudar,Morgan mendatanginya saat ia masih tengahdah dikursi sofa seraya menyentuh keningnya dan bisa lagi bisa berfikir jernih malam ini.


"Udah malam,kamu tidur geeh.Besok adalah waktu kamu untuk sekolah!"Berdiri seraya mengelus rambutnya.


"Tapi bang,aku belum ngantuk.Masih memikirkan Mega gimana nantinya."Jawabnya masih kuat bertahan.


"Ayolah ,,,kesehatanmu sangat penting untuk mereka berdua menjadi kuat karena Thy Than dan bertahan untuk Mega.Itu butuh kesehatan extra.Kalau kamu memaksa seperti ini,sama saja kamu ingin menghancurkan hatimu sendiri!"


"Tapi bang,,,,"Masih saja mengelak.


"Buruan,sebelum abang mengangkat kamu dari kursi ini!"Bersedekap menatap reaksinya.


Terpaksa gua harus mengalah tentang ego ini dan tak ingin terlalu lama berada diruang tengah ini.Bisa-bisa bang Morgan membuatku semakin layaknya anak kecil yang cengeng.Beranjak untuk bangun pergi menuju kamar,terhenti oleh pesan dari Morgan.


"Jangan lupa ganti baju ya.Aku ga ingin kamu terbawa dalam mimpimu adalah tengah sekolah okey!"Candanya membuat heran Ganindra seraya ia tersenyum dan membalasnya.


"Iya bang,gua bakalan ganti baju kok!"Tersenyum masam sembari masuk kedalam kamar.


Terdiam didepan kamar milik Morgan,dia memastikan akan membuat nyaman adiknya.Saat ia kembali berbalik pasti itu adalah pesan untuknya untuk tenang,ia membalasnya dengan mengacungkan jempolnya.


Menggelengkan kepala,dasar masih labil saja kamu Ndra seraya tertawa masuk kedalam kamar serta menutupnya.Sayang kali ini Ganindra hanya berada dalam bayang-bayang semu tanpa ada yang menuntunnya untuk kembali tenang,setelah mandi dan ganti baju santai dia melihat lemari dan membukanya.Oooh,ternyata masih ada seragam buat gua ya.Hebat banget bang Morgan bisa menyisakan baju untukku besok.


"Keren neeh bang Morgan,gua kira dia lupa untuk memberikan sebuah baju buat gua besok nyatanya dia masib memberikan kepedulian buat gua."Seraya mengambil baju tidurnya dan memakai dengan pas dan tepat.


Merebahkan tubuhnya kembali diranjang,ia terlentang menatap langit-langit rumah untuk merasakan kedamaian dirumah sang kakak.Berada ditempat yang tepat tanpa sebuah kasih sayang Ibu,bisa bahaya kalau aku pulang dan terisak lagi bisa membuat Ibu berfikir aneh-aneh lagi.


"Esok apa gua masih bisa bertemu dengan Mega lagi ya,apa mungkin besok Thy Than mengajak gua buat bertemu lagi dan bisa bercanda lagi.Tapi gua juga harus waspada kalau Thy Than akan lebih banyak bertanya tentang penyakitnya Mega lagi,gimana ya?"Pertanyaan itu terngiang-ngiang terus dikepalanya hingga susah tidur.


Esoknya pun kembali dengan semangat menggebu-gebu ketika pagi sekitar pukul 05.15 pagi adalah waktu buat Morgan untuk membangunkan adiknya yang masih nyenyak sampai terbawa dalam mimpi panjanhnya.Membuka pintu pakaian olah raga pun telah menutupi kegiatannya,menghela nafas heran seraya menggelengkan kepala melihat adiknya sama sekali belum bangun.


"Jam berapa biasanya dia bangun ya?jam segini aja masih betah bermimpi!"Melihat jam tangan,rasanya aku harus membangunkannya untuk kesehatannya.


Mendekati serta duduk disampingnya, menggoyang- goyangkan tubuh Ganindra.


"Ndra bangun,udah mau siang ini.Kita olah raga sebentar yuk!"Ajaknya mencoba membangunkannya.


Sempat bergerak tapi tak membuka mata,hanya ganti posisi tidurnya hingga menarik selimutnya sampai tertutup rapat.


"Heran,susah banget bangunnya!"Beranjak berdiri berjalan sejajar dengan ranjangnya diujung,langsung aja menarik selimutnya dan terlempar keatas,segera ia menggelitik kedua kakinya.


Sontak ia kaget dan bangun dari mimpinya,melihat sang kakak benar-benar senang melihat tekejut ala-ala drama korea.


"HAAAAAAHHHH!"Terbangun dan menatap tajam sang kakak.


"Hahahahah,kenapa?kaget.Ga terima?"Tanya lagi.


"Bang,masih ngantuk gua.Ini masih malam tahu!"Pintanya menarik selimut lagi.


"Heiiii,tengok itu jam berapa didinding!"Sontak malahan ia lihat kekanan.


"Mana ga ada bang!"


Sembari menompangkan kedua tangan kesal juga,salah siapa pagi-pagi ga fokus,"Heiiiii lihat tangan abang.Liat kearah mana!"Pintanya melihat arah tangan ke dinding.


Sambil menepuk keningnya Ganindra pun tak menyangka bisa gagal fokus kayak gini seeh.


"Astaga ,,maaf bang!"Menoleh dan melihat jam dinding sontak aja dia masih belum fokus juga dan ngeyel kalau itu masih pagi.


"Baaang,itu masih pagi bang masih jam 3 lho.Tega sekali abang sama gua!"


Mengenggelenhkan kepala lalu menghampirinya dan membenarkan wajahnya untuk melihat kebenaran lagi.


"Liaaaat yang jelas.Jangan liat jarum panjangnya Indraaa.Jelas itu masih jam tiga.Lihat tuh jarum pendeknya."Kesal juga lihat adiknya pemalas banget buat bangun pagi.


Ia mencoba menyipitkan kedua matanya dan konsetrasi lalu antara benar atau tidak itu masih kurang meyakinkan.


"Hehehehe,iya bang.Udah pagi ya!"Meringis kearahnya.


"Naaah,sekarang kamu siap-siap kita jogging bentar dan kita sarapan setelah itu terserah kamu mau tidur lagi atau kemana itu urusan kamu oke,abang tunggu dibawah!"Segera keluar dari kamar Ganindra dan menutup kembali.


Kembali merebahkan tubuhnya dengan berat,sontak itu membuat sang kakak kembali memanggilnya.


"Jangan rebahan,nanti kamu tidur lagi lho!"


Langsung terbangun dan segera bangkit dari kamar tidurnya,bergegas turun lalu mencari pakaian olah raga untuk siap beraksi dengan sang kakak.


Masih malas pula untuk keluar,tapi gimana lagi kalau gua ga keluar sama saja setor nyawa sama kakak gua.Gila disiplin banget dia untuk bangun pagi sekali berjalan sambil sempoyongan.Tapi saat ia tengah ga konsentrasi tiba-tiba ia disapa seorang wanita cantik dan seksi tengah menyiaplaj sarapan pagi untuknya dan sang kakak.


"Pagi lelaki pilihan!"Sapanya itu membuat arah mata angin berubah mengarah pada sapa pagi seorang wanita diruang meja makan.


"Haaaah,siapa itu?"Sembari mengucek-ngucek matanya.


Morgan mendekati lalu merangkulnya dan membisikkan sesuatu kepadanya."Kamu ga tahu kan ada bidadari secantik itu.Kamu pengen kenalan?"


Menoleh meringis dan mengangguk.


"Iya bang!"


"Kita olah raga dulu,baru kamu bebas mengenalnya okey!"Ajaknya membuat Ganindra tak lepas untuk berpaling dari sosok wanita seksi itu.


Ia hanya melambaikan tangan dan tentunya ada senyum memikat dalam dirinya.Morgan pun tertawa lepas dan pastinya itu adalah hal terbaiknya untuk kembali mengenalnya nanti.