
Setelah sarapan pagi bersama,rasanya agak canggung juga kalau gua berhadapan dengan wanita secantik itu bahkan sosok wajahnya itu menujukkan sikap sensual yang ga bisa ditolak oleh pria manapun kecuali abang gua.Danngua ga bisa berfikir jernih saat senyum tipisnya itu membuatku hampir jantungan ga ada kiranya.Sama sekali membuatku tak bisa bergerak bebas karena abang gua berkuasa atas rumah ini dan gua hanyalah tamu yang menurutnya ilegal ketika datang dengan harapan yang ga jelas,tapi jelas kok kalau ibu sudah berpesan kepadaku.
"Gimana kamu masih ga percaya kenapa ibu meninggalkanmu tanpa sebuah pesan yang yaaa membuatmu terkesan?"Duduk menatapnya diruang santai.
"Ya ga percayalah bang,kirain kemana.Luar kota atau dimana gitu yang deket,,,eeh malah luar negri.Bisa juga deh kalau kayak gitu."
Monalisa memang seorang wanita yang perhatian terhadap keluarga Morga Arya Dinata sampai-sampai ia rela membawakan minuman untuk dua kakak beradik yang mana Ganindra memang lelaki yang seru bila diajak ngobrol hanya saja semuanya akan sirna bila keduanya dihadapkan pada obrolan yang lebih serius,kayaknya engga banget buatnya lebih formal saat ini.
"Silahkan minumannya,suka kan kalau aku buatkan kopi?"Sambil menyodorkan dimeja dengan tatapan sensualnya.
Sesak juga dada Ganindra merasakan senyuman bahkan raut keintiman yang diberikan secara tak langsung.
"Suka kok mba,eeh gua panggilnya siapa ya.Enak-nya!"Wajah memerah tak berdaya dengan tawa ga karuan membuat Morgan menggelengkan kepala dan tak tahu juga apa yang akan dikatakan nantinya.
"Kamu ya,udah punya Thy Than masih saja berpaling kelain hati.Mana bisa kayak gitu!"Selanya sambil menunjuk penuh senyum intrik.
"Bang,siapa coba yang ga terpana sama kakak satu ini.Bisa bahaya Thy Than aja lewat!"Bisiknya dengan percaya diri.
"Kamu jangan meremehkan Thy Than ya,dia belum saja menunjukkan aslinya gimana.Kalau kamu tahu aslinya jelas kamu memilih dia!"Lanjut Monalisa tersenyum duduk disamping Morgan.
"Apa betul ya,seperti itu?"Mengernyitkan kening.
"Coba saja,tapi kamu harus memperlakukan dia seperti abang memperlakukan Mona lisa dengan sayang!"Sambil menyentuh tangannya,keduanya saling berpandangan penuh senyum kompak.
"Waaah,patut gua contoh neeh.Tapi beneran bang gua ga habis fikir kenapa Thy Than adalah pilihan buat gua dari Mega.Padahal mereka sahabat baik lho!"
"Sebab itu sahabat akan lebih mengenal kamu lebih banyak dari pada pesaing sahabatmu atau hanya sekedar suka dengan namanya obsesi.Itu tidak akan bertahan lama lho!"Jawab Monalisa membuat kaget Ganindra dan bangga seorang Morgan telah mendapatkan sebuah kejelasan yang tak bisa soal cinta.
"Padahal aku aja tidak terlalu mengerti cinta,hanya saja aku benar-benar menjatuhkan hatiku kepada sayangku ini dengan hati-hati.Malahan dia memberikan segalanya untukku!"Morgan kembali membuat cemas Ganindra.
"Apa?abang begitu payah soal cinta.Tapi mendapatkan seorang wanita secantik ini dan seseksi ini.Gilaaaa.Gua harus gimana ini kaaaak!"Geregetan rasanya sampai tawa Mona sungguh menggelikan.
"Kamu jangan banyak alasan pada banyak wanita ya,ketika kamu memang nyaman dengan dua wanita.Pastikan kenyaman itu juga ada pada dua wanita tersebut.Kan kamu masih labil lah dalam urusan cinta.Tapi ga pa-palah banyak belajar sama kakak kamu."Sambil memujinya.
Tapi tak lama,sebuah panggilan telpon dari agensi model Monalisa tengah menghubunginya kembali.Membuatnya segera pergi meninggalkan kedua keluarga yang tengah asyik-asyiknya berada dalam kedekatan yang jarang terjadi diantara keduanya.
"Sebentar ya!"Mona pun segera mengangkat dan beranjak berdiri untuk menjawab panggilan tersebut.
"Iya,!"Jawab Morgan seraya mendongak dan memberikan ruang untuknya.
Ia berjalan menuju ujung menjauh dari rasa penasaran yang terpusat oleh Ganindra,segera ia menoleh dan mencoba bertanya tentang kecurigaannya tersebut.
"Lagi ngapain tuh bang?"Tanya Ganindra heran.
"Biasa urusan kerjaan dia!"Jawabnya enteng.
"Sesantai itu abang jawabnya!"Lanjut Ganindra masih curiga.
"Dia kan model,agensinya palingan ngehubungin dia.Kan dia Iconnya juga di top model 1!"Jawabnya menyakinkan.
Mendongak serta mengangguk-angguk beberapa kali,baru tahu ternyata dia seorang model pantesan aja bodynya bagus dan membuat mata ga bakalan buyar untuk menatap yang lain.
"Oooo,,,pantesan dia menghindar.Ada urusan yang lebih penting gitu!"
"Ya seperti itu,aku memberikan banyak ruang gerak untuk dia supaya dia tidak tertekan dengan kerjaan yang aku berikan dan dia jalani sekarang.Kamu pasti akan tahu selanjutnya gimana?"
"Kalau dia selingkuh?"Kembali memepet sang kakak.
"Yang jelas ga sama kamu selingkuhnya,hahahah!"Menahan tawa dan memukul lengannya.
Tersungging kearahnya"Bisa aja abang ini.Mana aku selingkuh sama dia.Mega sama Thy Than aja aku masih bingung siapa yang aku pilih!"
Obrolan ringan pun tengah dibuat oleh Monalisa dengan salah satu fotografernya untuk janjian pertemuan tentang pemotretan dan keberangkatannya keluar negeri untuk urusan promosi selanjutnya.
"Memangnya ga bisa ditunda ya,aku lagi dekat dengan adiknya Tuan Morgan.Ya setidaknya ketika dekat dengan dia aku bisa mendapatkan Tuan Morgan dengan cepat!"
"Ya janganlah,kita professional aja.Kamu ikut kan gua jamin kamu akan suka dengan konsepnya.Gimana nanti aku akan memberikan special moment untuk kamu,mau kan?"Kembali menggodanya.
"Yaaah mau gimana lagi.Nanti malahan aku kehilangan kesempatan lagi sama kamu heheheh!"Lanjutnya ketawa lepas.
"Besok pagi agensi akan datang kerumahmu atau kamu akan datang kesana?"
"Kayaknya aku datang kesana aja deh,terlalu formal membuat Tuan Morgan susah untuk berspekulasi baik nantinya!"Jelasnya yakin.
"Oke besok aku tunggu jam 09.00 pagi,akan ada persiapan yang lainnya oke!"Pintanya menutup ponselnya.
"Iya,aku akan datang tepat waktu byeee!"Menutup ponselnya.
Berbalik badan,ia sangat terkejut atas kehadiran Morgan dibelakangnya.Sungguh itu membuatnya jantungan bahkan wajah kaku dan takut tentang apa yang dia bicarakan dengan teman dekatnya bisa memancing emosi Morgan,sayangnya itu bukan sikap seorang Tuan Morgan yang bisa memberikan sikap kasar kepada seorang wanita.
"T- tuan ada di-sini!?"Gelagapan bertanya tentang kehadirannya yang sungguh mengejutkan.
Membelai rambutnya dengan senyuman manis,diapun berkata."Kamu tenang saja,aku tidak akan memarahimu atau melukaimu kok.Kalau kamu ada kerjaan kenapa tidak diambil.Itu adalah keputusan diluar kuasaku.Itu hakmu ya!"Sambil mengelus bahunya.
Ia tersenyum kaku dan rasanya ini baginya adalah ancama sesungguhnya,tetapi dia sangat nyaman ketika berada bersama Tuan Morgan.Ada banyaka pilihan tentang hidupnya berada dalam lingkaran Morgan atau akan sia-sia saja perjuangannya saat ini.
"I-iya Tuan.Saya akan ambil,jadi saya mendapatkan cuti untuk kerjaan bersama Tuan Morgan?"
"Ya begitulah,selama kamu pergi.Biar aku yang mengurus semuanya oke sayang!"Membalikkan badan Monalisa dan mengajaknya kembali duduk bersama Ganindra yang tengah menunggu kepastian itu.
"Kita ngobrol dengan Ganindra,dia sangat curigaan orangnya.Aku ga ingin kamu menjadi tidak nyaman karena sikapnya ya!"
"Iya Tuan!"Jawab Monalisa kembali dilema.
Sesungguhnya apa aku benar berada diantara mereka yang penuh dengan intrik atau apalah.Aku sama sekali tidak melihat kecurigaan yang tak pernah aku dapatkan dari Tuan Morgan saat menjadi bagian dari hidup mereka.Berada diantara para lelaki pilihan sampai aku lupa saat dekat dengan Tuan Morgan adalah suatu kedekatan yang ga bisa aku lepaskan begitu saja.
"Aku tidak akan membuatmu resah,kamu santai aja.Karena aku mencintaimu sayang!"Bisiknya dengan merangkul pinggulnya.
"Baik tuan,terima kasih atas sayangnya,heheheh!"Tersenyum hangat kearahnya.
Kembali dalam obrolan yang sempat tertunda,Akhirnya senyum Ganindra menjadi bagian dari rasa penasarannya tengah melihat kekasih Abangnya tengah menerima telpon secara privat dan tentunya telah membuatnya sungguh ingin mengetahuinya walau itu terlalu privasi diungkapkan olehnya.
"Haiiii,kak maaf ya.Aku membuat kakak jadi khawatir tadi!"Kata Ganindra berasa bersalah sekali.
"Ga pa-pa,rasa khawatirmu memang membuat aku jadi lebih bisa menjadi orang yang lebih disayang oleh tuan Morgan!"Lagi senyum itu datang.
"Oooh,iya besok saya ada acara keluar negri untuk urusan agensi saya.Dan saya harap tidak ada yang kangen berat sama aku ya.Karena aku cuman yaa mungkin beberapa hari saja disana,tidak lebih untuk sekedar liburan saja!"
"Kaaak,hebat banget bisa keluar negeri seperti ibu,ke negara mana?"Mengernyitkan kening bingung.
"Biasalah,spanyol adalah pilihan terakhir kami.Biasanya kita ke Milan dan Prancis,tapi kali ini ada pilihan lain yang membuat kita bisa berkarya ditempat yang berbeda."Lanjut Mona lisa yakin menjelaskan.
"Kayaknya seru deh kalau jadi model ya,bisa keluar negeri dengan tempat yang bagus-bagus.Apa kakak ga keberatan nanti aku minta oleh-olehnya!"Ganindra pun tak mau ketinggalan dengan tujuan pekerjaan Mona Lisa.
"Ya kenapa engga,pasti deh kakak akan bawakan ya kan!"Menoleh kearah Morgan.
Ia hanya membalas dengan mengangkat kedua pundaknya dan tersenyum mengarah ke Mona lisa.Teringat juga kalau ia juga ingin bertemu dengan Mega,apa mungkin aku akan bisa ketemu dengan dia lagi ya.Wajah resahnya membuat Morgan menaruh curiga juga sampai bertanya kepada adiknya.
"Kamu kenapa?ada yang kamu fikirkan Ndra?"
Ia tersenyum kaku,lalu menjawabnya dengan berat.
"Boleh,silahkan aja.Tapi nanti kalau mau pulang kesini lagi kabarin Abang ya.Biar nanti ada yang menemanimu okey!"Pintanya kepada Ganindra.
"Oke bang,terima kasih!"Beranjak berdiri dan berpamitan juga kepada Mona Lisa.
"Kak,aku pamit ya!"Bersalaman dengan Mona Lisa dan kembali pamit kepada sang Abang.
"Bang,pamit ya."
"Iya hati-hati,jangan sampai galau lagi ya!"Morgan pun berpesan kepadanya.
Sepertinya drama itu kembali membuat tawa lepas ketiganya,apalagi rasa malu banget diterpa oleh Ganindra saat ia perlahan pergi dengan gagah dan menarik untuk dituangkan dalam cerita selanjutnya.Keluar dari rumah sang Abang,tentunya bisa membuatnya tenang karena sekarang bisa berlanjut dengan mengelus perutnya yang udah aman dan kenyang setelah mendapatkan asupan gizi dan asupan hidup mental tentang cinta sampai akhirnya semangat untuk menaiki motor retronya dengan jaket kulit dan helem kece menuju tempat yang ia sukai.
"Huuuuh,,,sekarang gua pergi jalan-jalan.Mau lama-lama dirumahnya Abang bahaya juga,ntar bisa membuat romantisme hilang seketika diantara mereka ckckckckck!"Sambil menggelengkan kepala.
Beranjak pergi dengan motor retronya meninggalkan kediaman rumah Morgan.Dari dalam pun dia mencoba mengawasinya dengan bersedekap melihat perlahan lamat-lamat pergi tak terlihat.
"Tuan Morgan,masih khawatir sama Ganindra?"Mendekati dan menyentuh lengannya.
"Ya engga juga.Dia kan harus dewasa juga dalam mengambil apapun keputusannya.Ga mungkin aku terlalu ikut campur.Karena disampingku lebih menarik untuk.ikut campur!"Tersenyum sambil menyenggol dagu Monalisa.
Dalam perjalanan menuju rumah Mega,ada bagusnya kalau gua harus bisa mengatakan sesuatu atas kesehatan sahabatnya.Dan gua harus membawakan oleh-oleh untuk dia supaya ada senyum lagi.Kan besok dia harus masuk lagi.
"Apa seeh yang ada dibenakmu sekarang Ga.Gua sama sekali ga percaya dengan apa yang elu rasain.Sampai Thy Than jadi sahabat menjadi orang special.Apa gua kuat ya?"
Semoga hati gua sama dengan hatimu saat ini,dan elu tahu seberapa jauh pun gua tetep mencintaimu.Benar juga kedatangan Ganindra tepat didepan rumah Mega membuatnya tahu seperti apa sedihnya saat ia turun dari motor dan berharap tidak ada kejadian tak diinginkan oleh sang sahabat.Saat mendekati pintu seraya mengetuknya ada hati sangat berat ketika ingin bertemu kembali.
Tok,,,tok ,,,tok suara ketukan pintu tersebut membuat seorang pembantu mendongak dan bergegas untuk mendatangi serta membukakan pintu depan.
"Pagi Bi,Mega ada!"Suara khas Ganindra membuat sang pembantu pun ramah menyapa kedatangannya.
"Eeeh,mas Ganindra.Ada dong silahkan masuk ayo!"Ajaknya mengantarnya masuk kedalam.
"Ibu kemana?"Suara singkatnya menjawab sang pembantunya.
"Ibu lagi ada keperluan diluar.Jadi ya mungkin lama juga baliknya.Ga pa-pa ada bibi kamu ga usah khawatir,kan mas Ganindra udah biasa kesini."Berjalan mengantarnya menuju kamar pribadi Mega.
Berjalan menuju menaiki anak tangga,sedikit ada obrolan mungkin diantara keinginan Ganindra yang bener-bener ingin ketemu sama Mega.Entah kenapa sampai saat ini hatinya memang tengah berada dalam dua pilihan.Mega atau Thy Than dua pilihan sulit tapi menyakitkan juga.
"Kangen ya mas sama mba Mega?"Tersenyum menoleh kearah Ganindra.
"Gimana lagi bi,Mega tuh adalah sahabat yang special lho kayak bibi yang special heheheh!"Candanya kembali membuat sang bibi ikutan ketawa lepas.
"Mas Indra ini bisa saja kalau becanda.Kan saya jadi malu gimana!"Sambil ketawa sambil menatapnya konyol.
"Ya biar seru aja bi!"Menjawabnya dengan tawa geli.
Didepan pintu kamar pribadi Mega,perlahan ketukan pintunya membuat sang pemilik kamar terkejut saat ia tengah berada dalam lamunan jauh dimata tak terhingga sampai-sampai ia penasaran dengan ketukan pintu tersebut.
"Haaaah,,,,astaga hampir aja!"Ujar Mega tengah tersadar oleh lamunannya.
"Non,non Mega boleh bibi masuk?"Tanya sang bibi pelan.
"Iya bi,masuk aja."Jawabnya tersenyum sambil merapikan rambutnya kembali.
Pintu terbuka pelan,terlihat seorang bibi datang penuh senyum menyapa sang majikannya.Juga diikuti oleh Sahabat terbaiknya yang perlahan menyapanya dengan senyum manis kepadanya.
"Haiiii,!"Sapanya ringan seraya masuk kedalam.
"Hemmm,ngapain kesini?"Seru Mega sambil merapikan duduknya.
Mendekati serta duduk disampingnya langsung aja tanganya nyubit pipi Mega yang kenyal-kenyal seperti biasanya,langsung aja dia menghempaskan tangannya lalu berkata"Huusss,,,ga boleh."
"Haaah,kenapa?"Heran sama penolakan sang sahabat.
"Aku bukan milikmu lagi lho,Kan ada Thy Than sekarang penggantiku.Lupa ya!"Meringis geli melihat wajah sendihnya.
"Jangan gitu dong,kan gua masih berharap sama kamu.Malahan kamu gitu sama gua,ga asyik!"Ngambul deh bikin tawa Mega makin meledak.
"Hahahahah,kok bisa seeh kayak anak kecil gini.Emang kemana Thy Than,ga ikut kan dia?"Bingung melihat apakah dia tiba-tiba datang telat atau masih dibawah ngapain gitu.
"Ya enggalah,dia kan sama keluarga barunya om Rey dan Kak Joana.Kamu tahu kan?"
Mengangguk beberapa kali lalu menjawabnya.
"Yayaya,aku tahu.Kan memang dia berhak untuk bahagia ga kayak aku berhak untuk disayang sama kamu ya ga?"Kembali membuat lelucon lucunya.
"Mau kan kamu jadi sahabat special buat gua,itu aja seeh ga lebih heheheh!"Sambil menyentuh tangannya lagi.
Dapat juga,ga bakalan dia melepaskan dekapan tanganku yang kuat ini."Ga bakalan kamu lepasin tanganmu.Nanti tambah sakit lho."
"Iya tahu,tuh cengekaramannya keras banget.Ga bisa lho aku lepasin begitu saja"
Tersungging atas kemenangan mendapatkan tangan Mega yang perlahan mulai sembuh."Besok beneran kamu mau masuk,aku jemput ya."Menatap serius kearahnya.
"Jangaaaan,kan ada taxi nganter aku kemana saja.Ntar ngerepotin lho."Pintanya menolak.
"Ya kan ga pa-pa,pasti ibu ngijinin kan buat jemput kamu!"Berharap itu benar untuk sebuah ijin untuk anaknya.
"Ga enak aku sama Thy Than,nanti malahan kamu beda arah lagi sama dia!"Mega membuat kepastian.
"Udah ga pa-pa,dia kan ngerti kalau kamu tuh butuh tumpangan dan kondisimu lagi kurang sehat betul kan."
"Ta,,,,!"Kembali jari Ganindra menutup bibir Mega,sontak saja membuat ia terhenyak dan bola matanya mengarah kebawah,bisa-bisanya dia bersikap sok romantis kayak gitu.
Heheheh,aku jahilin aja sambil gercap mengigit jarinya yang tengah menutupi bibirku ini.
"Huaaap,,,,hahahaha!"
"ADOOOHHHH,,,,SAKIT GAAA!"Kesakitan dan beberapa kali menggeleparkan jari-jarinya.Sambil menahan sakitnya ga karuan.Niat banget dia seeh.
"Hahhahaha,kena deh.Enak kan mangkanya jangan sok romantis sama aku.Ga mempan."Lanjutnya ngakak.
Dari bawah bibi yang mendengar teriakan itu sambil membawa minuman pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat penasaran sama teriakan Mas Ganindra.Kenapa ya dia?
"Mas,ga pa-pa?"Sampai juga didepan pintu kamar.
Keduanya mendongak serta kaget mendengar kalimat datang dari luar tersebut.
"Haaaah,ga pa-pa bi.Ini lho Mega nakal sekali gigit tangan gua bi!"Kesal juga sama Mega.
"Mangkanya jangan banyak gaya!"Lanjutnya bersedekap.
"Oalah kirain kenapa?ini bibi bawain minum."Lanjutnya menaruhnya dimeja Mega.
"Makasih ya bi,heheheh!"
"Oke!"Sambil membulatkan jarinya