
Sampai didepan pintu santai juga buat Thy Than tengah memainkan pandangan pada dua orang yang tengah ia kawal menuju kamar apartemennya.Cocok banget deh mereka berdua,apa aku juga akan cocok seperti Ganindra dan aku ya?jelas masih bingung kalau aku mengatakan sesungguhnya hati ini berada dimana.Tak tahu lagi harus mengatakan apa.Padahal aku saja belum tentu suka sama Ganindra.Entah sampai kapan pertanyaan itu muncul dan aku sama sekali ga tahu langkahku ternyata kosong saat memikirkan dia.
Ketika om Rey menoleh dan melihatku tanpa kata hanya sedikit tertunduk.Dia kembali heran melihat sikapnya yang aneh sampai harus berspekulasi tentang siapa berada dalam benak fikirannya.
"Heiiii Thy Than!"Panggilnya halus.
Joana yang tak mengerti hanya terdiam tanpa membalas panggilan itu.Mendongak serta menatap Tuan muda dan mengangkat dagunya bertanya dengan kode biasanya.
Dia hanya membalas dengan mengangkat kedua pundaknya rasnya dia tengah mikir berat deh.Sambil menyentuh pundaknya sontak ia tersentak kaget dan tengak tengok kearah mereka berdua.
"Kenapa Om?"Mendongak heran.
"Kamu kenapa,sedih.Ada apa memangnya!"Heran juga melihat tatapan kosong Thy Than,Langsung ia memeluk Joana dengan erat.
Rey pun semakin penasaran dengan memeluk Joana,kenapa sama dia ya.Gimana kalau aku kerjain sambil menyentil telinganya ya.Seru juga."Kamu kenapa heeiiii?"Sambil menyentil telinga Thy Than.
"Aduuuuh,jangan ganggu Om!"Pintanya sambil memainkan tangannya.
"Tuan mudaaa,jangan jahil dong.Lagi sedih neeh!"
"Oke,kita masuk dulu.Nanti bicara didalam oke!"Sambil membuka pintunya serta masuk kedalam.
Menunduk serta mengajaknya untuk masuk kedalam
"Ayo masuk dulu,kita bicara didalam pasti kami akan tahu apa yang kamu rasakan okey!"Beranjak merangkul dan membawanya masuk kedalam.
Didalam Ray pun bersiap untuk melepaskan lelahnya serta bersandar santai dan menyilangkan tangannya menyandarkan dikepalanya.Joana pun hanya senyum-senyum merangkul Thy Than saat ia mulai membawajya keruang keluarga serta mempersilahkan untuk duduk.
"Pada mau minum apa?aku buatin!"Tawar Joana sambil memainkan telunjuk untuk memastikan keadaan Thy Than baik-baik saja.
"Eeehhh,,,ice latte!"Langsung angkat tangan dengan semangatnya.
"Trus Thy Than?"Kembali bertanya lagi.
"Apa aja deh kak,yang penting hot mocca biar ga salah sangka!"Jawabnya meringis kearahnya.
Tersungging juga Rey sambil menutup mulutnya sampai tatapan sinis mengarah dari ponakannya.
"Kenapa Om?"
"Engga,kirain ngambek.Eeeh salah sinyal ya!"Lanjutnya geli.
Joana pun ketawa sambil mengempaskan tangannya,geli juga ada aja kalimat keluar dari bibir Tuan muda.
"Emangnya kamu kenapa seeh?bimbang kenapa!Awas ga cerita aku suruh tidur disini lho!"Ancam Rey dengan kelakuan konyolnya.
"Apaaaa?tega banget seeh Om sama aku.Ga sayang lagi sama aku ya!"Bersedekap dan menekuk wajahnya.
Tiba-tiba ia ngakak lalu mendekati dan merangkulnya
"Kamu kenapa seeh,ada masalah sama Om?"Kembali berbisik sama Thy Than.
"Engga juga Om,aku bayangin sesuatu.Ga sampai aku ngambek sama Om sama kak Joana!"Lanjutnya memberikan klarifikasinya.
"Trus apa?"Suara sahutan kedua dari dapur saat Joana perlahan membawa nampan berisikan minuman sesuai pesanan mereka berdua.
Langkahnya pun terlihat saat ia membawakan minuman kedepan serta gabung bersama mereka berdua.Menyodorkan minumannya,masih menatap Thy Than yang terkesan masih berat untuk berkata sampai ia hanya bisa tersenyum saja.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu tiba-tiba berubah moody begitu Than?"Kembali sang kakak penasarana sama sikap seorang keponakannya.
"Aku hanya belum bisa dekat dengan Ganindra kak,Om.Apa betul dia hanya mendekatiku saja supaya aku senang dan tidak lagi sedih.Lihat saja,selama seharian dia tidak datang kesini ataupun sekedar menanyakan kabarku?"kembali ia resah tentang keadaan ini.
Kembali pandangan Rey kearah Joana dan tak pernah bosan untuk berkata kembali kepada Thy Than.
"Astaga karena itu kamu harus seperti ini sayang!"Sambil mendekap pipinya.
Joana kembali menggelengkan kepala,dan memastikan itu hanyalah sebuha kekhawatiran seorang kekasih saja.Tidak masalah juga untuk dia bersikap pesimis untuk sebuah hubungan tetapi akan lebih baik dia menjalani hubungannya tidak terlalu serius.
"Thy Than,ini hanya sebuah hubungan antara kamu dan Ganindra ini ibaratkan saja sebagai sahabat baik.Jangan lebih dari itu nanti akan waktu sendiri kalian menggadapi dunia baru dengan orang lain yang lebih menyanyangimu, misalnya Om Rey gituuu?"Sambil ia mengibaratkan dekat dengan Omnya sendiri.
Kaget juga Rey mendapatkan sebuah perumpaan yang ga bisa ia terima dengan akal sehatnya.
"Heiiii,sampai segitunya kamu ya memberikan penjelasan kepadanya!"Sambil sinis mengutarakan dengan gaya bak seorang politikus.
"Tenang Tuan muda.Itu hanya perumpamaan.Jadi ga usah khawatir.Dia aja ga khawatir kan sayang!"Lanjutnya dengan santai melempar pertanyaannya.
"Iya Om,,heheheh."
"Trus kalau kamu galau juga karena satu alasan seorang lelaki,berarti Krisna memikat hatimu dong dengan tatapan teduhnya serta membuatmu terpesona!"
Sontak kedua kalinya tatapan dua orang menyebabkan Thy Than juga Rey menoleh kearah Joana.
"Lho,Kenapa?ada yang aneh!"Tanya balik.
"Bisa-bisanya ya inget sama mas Krisna.Padahal aku melupakan dia lho seketika.Malahan jadi inget kaaak,gimana seeh!"Menompangkan tangan dengan wajah memelas.
"Emang kamu tuh ya,nggemesin.Ada aja yang harus dikatakan lebih jauh lagi tentang Krisna."Menjurus fokus kearah Joana."Tapi aku lihat kamu juga suka banget menatapnya Thy Than!"Kembali menyudutkan sang keponakan.
"Tapi Om,sebaiknya ga usah deh bahas dia .Aku males banget tahu!"Ingat melihat hot Mocca menggoda didepannya dan segera menyeruputnya.
"Aaaahh,,enak banget deh.Berubah seketika moodku untuk satu pria itu!"Menikmati hingga memejamkan mata merasakan keindahan dekat dengan seseorang yang bukan miliknya tetapi segera tersirat dengan satu makna yaitu Krisna bukan Ganindra.
"Lihat,cara dia mengekspresikan rasa senangnya sungguh membuatnya lupa kalau dia tengah ada masalah sama kekasihnya!"Rey pun ketawa geli melihat tingkahnya.
"Ada-ada aja deh kelakuannya."Seketika ia ingat untuk memperjelas tentang keberangakatannya untuk menyelesaikan tugasnya yang tengah ingin ia kerjakan.
"Oh iya,Tuan muda.Apa jadi berkasnya itu untuk saya konfrontir dengan pak Morgan untuk menyelesaikan tugas ini diluar negri!"Mempertanyakan kembali.
"Lho emangnya kak Joanan jadi mau keluar negri?"Seketika menaruh minumannya disausernya.
Mengangguk yakin,inilah pekerjaannya.Pasti ada salah satu tidak rela atas kepergianku menjalankan tugas ini.
"Kamu ga setuju kakak keluar negri?"Tanya Joana penasaran.
"Trus aku tinggal sama siapa kak?"Lanjut Thy Than ga terima ditinggal jauh sama Joana.
"Heiiii,,,lihat ini.Siapa yang disampingmu ini?bukan manusiakah itu?"Protes Rey ga terima dianggap tak ada orang selain Joana yang disayang oleh Thy Than.
"Ya ampun om,Thy Than minta maaf ya ga menyadari bahwa Om ada heheheh!"
Sekejab ia mencium rambut Thy Than dan mengacak-acak rambutnya dengan gemas.Sampai hati dia melupakan saiap aku disampingnya.
"Heheheh,akrab juga sekarang kalian.Aku jadi tenang deh ninggalin kalian berdua."Sekejab Joana pun lega dengan apa yang siap ia tinggalkan sejenak.
"Trus nanti jangan heran ya,kalau kakak ga ada.Trus akan datang seorang teman baru datang memeriahkan apartemen ini."Sambil menggoda Tuan muda.
Melepaskan pelukannya Om Rey,Thy Than pun segera mempertanyakan siapa orang tersebut.Sampai-sampai Rey kesal juga dibuatnya.
"Siapa kak,siapa?apa akan menemani aku disini?"Semangat penasaran pun dituangkan oleh Thy Than.
Tatapan wajah kecewa dan kesal tersorot sudah dimata Rey ,kayaknya akan ada perang dunia yang entah keberapa bila beneran mantan kekasihnya datang membuat ulah lagi dirumah ini.
"Jangan dong bilang seperti itu sama Thy Than.Belum tentu dia setuju dengan kedatangannya dia.Pokoknya aku pastikan tidak ada yang bisa ganggu aku lagi selain kalian berdua.Okey!"Sambil menahan emosinya.
Menyadarai hal tak menentu disorot mata seorang Rey, seketika dengan tepat dan cepat Joana pun mengalihkan pembicaraannya dengan cerita lain.Mungkin akan membuat sesuatu lebih bermakna lagi.
"Maaf,mungkin hanya anda dan Thy Than yang menjadi penghuni diapartemen ini selama saya tinggal kan,heheheh!"
Malam telah mendekati dengan datangnya keheningan malam.Kembali Thy Than membayangkan ketidak adilan yang tengah menghantui fikirannya saat ini,setelah makan malam ia lebih memilih untuk berada dibalkon dengan suasana dingin menatap keluar.Santai saat menatap serta menyandarkan badannya dipinggiran kaca kamar miliknya,Rey berusaha untuk tetap memberikan ruang kebebasan untuk keponakannya supaya tidak selalu berada disetiap pengawasannya.
Tentu saja Joana pun mendekat serta menyentuh bahu Rey dan menompangkan dagunya.Keduanya saling berpandangan kembali serta senyum itu datang kembali.
"Dia masih bimbang tentang sahabatnya atau tentang apa lagi Tuan muda?"Penasaran serta menghela nafas panjang untuk Rey.
"Yaaah,mana aku tahu.Apa dia sedih ya kamu tinggal dan memikirkan apa yang sempat kamu bicarakan sampai membuatnya berfikir kalau mantanku akan datang kesini Hemmm?"Menoleh mempertanyakan kembali.
"Rasanya aku tidak banyak berharap bila mantan dari Tuan datang dan menyapanya lagi.Apa dia akan punya muka untuk menyampaikan penyesalannya?"Kembali bertanya kepadanya.
"Itu masih misteri bila kita harus membahasnya secara baik-baik.Coba aku besok akan ketemu dengan Alexa bagaimana reaksinya saat aku datang dan menyapanya."Mencoba membuatnya penasaran.
"Trus kalau dia berminat untuk dekat dengan Tuan lagi.Saya siap untuk tidak berada disisi Tuan muda ya.Malahan takut akan menganggu hubungan anda dan mantan anda!"
Malahan dia mendekap rambut dan membelainya dengan perhatiannya,pasti itu akan membuatnya semakin bingung saja."Tidak mungkin aku melepaskanmu Joe,kalau aku sampai melepaskanmu.Siapa orang yang akan menghajarku sampai aku kalah hemm?"Menoleh memberikan tebakan untuknya.
Mengernyitkan kening,siapa orang yang berani menghajar Tuan muda.Memangnya ada ya.
"Siapa,memang ada?"
"Ya jelas Ayahku sendirilah.Siapa lagi Sayaaang!"Malahan kecupan kearah rambutnya membuatnya semakin nyaman berada disamping pria romantis ini.
"Hahahaha,bisa saja.Kita tinggalin dia sendirian ya."Ajak Rey perlahan merangkul Joana berbalik dan pergi meninggalkan Thy Than.
Ia pun mengikuti langkah Tuan muda untuk pergi meninggalkan Thy Than sendirian.Tetapi keburu ia mengetahui kalau sedari tadi ia tengah diawasi oleh seseorang menatapnya dari jauh.Ia memanggil mereka berdua serta bersedekap serius menatapnya.
"Om Rey,kak Joe.Mau kemana seeh!"Panggilnya membuat mereka terhenti dan terkejut.
Sejak kapan dia tahu kehadiranku sama Joana.Saat menatap kembali Joana,ia hanya mengangkat kedua pundaknya.
"Sejak kapan dia tahu kita ada disini!"
"Mau gimana lagi!"Keduanya berbalik dan memberi senyuman serta lambaian tangan.
"Haiiii,kamu melamun.Dari tadi kita awasi ga ada gerak sama sekali,malahan saat kita mau pergi manggil-manggil kita.Ckckcckck!"Terpaksa deh Rey berjalan masuk untuk menghampirinya dan mencoba menemaninya.
"Apa kak Joe ikutan atau istirahat duluan?"Tanya Joe kepada Thy Than.
"Terserah kak Joe deh.Kan besok ada acara pekerjaan keluar negri.Jadi istirahat lebih awal adalah yang terbaik buat Kak Joe!"Jawabnya sambil tersenyum memberikan pilihan untuknya.
Rey menompangkan kedua tangannya pada pembatas pagar dan sempat pula menoleh kearah Joe yang berniat untuk meninggalkan suasana hangat diantara Thy Than yang penuh kebimbangan.
"Okey deh,byeee!Goodnight!"Sambil melambaikan tangan serta meninggalkan keduanya dalam satu cerita baru tengah mereka bangun.
Langkah Joana pun dipenuhi oleh bimbang pula saat esok harus meninggalkan keponakan yang telah dianggapnya sebagai peri terbaiknya setelah kegagalannya dalam mempertahankan kedudukan ayahnya dan membuatnya terjerat dalam suasana berat hingga meninggalkan anak kesayangannya.
Tapi ia berharap untuk satu kalimat untuk Rey bisa menjaga keponakannya yang akan menjadi sebuah berlian nantinya.
Ada sikap penasaran dari Rey saat ia tahu apa yang akan dirasakan olehnya saat berada disampingnya.
"Kamu keberatan kalau Joana tugas keluar negri hemm?" Sambil menyentuh tangan Thy Than.
"Kok Om tahu seeh,kan Kak Joana itu baik.Lebih baik kenapa jadi ga jadi asistan Om aja.Kan lebih dekat terus,kalau kayak gini kan aku jadi kesepian!"Merunduk sedih ga bisa berkata lagi.
"Kamu tahu kan apa yang diinginkan oleh seseorang untuk kembali dalam satu hal yaitu sukses adalah keluar dari zona nyaman dan Joana berhasil menggunakan waktu dan kesempatannya untuk berkembang.Ya disisi lain kan dia memang bisa menjalankan tugas itu apalagi saat meeting dia sangat cerdas dalam berfikir dan cocok banget bila berpartner dengan Morgan.Lalu apa lagi?"Sambil mengangkat kedua tangan.
"Apa Om tidak menginginkan kak Joana menjadi bagian dari kehidupan om mungkin?"Meringis antara yakin atau engga untuk membuat sebuah jawaban,ia merasa ga enak dengan pertanyaan seperti itu.
Kembali bersandar pada pembatas pagar lalu ia tersenyum merunduk,rasanya belum saatnya bila aku mengatakan ini kepada Thy Than.Aku juga belum sepenuhnya memberikan cinta lebih kepada Joana.Lalu buat apa harus dikatakan.
"Itu butuh waktu yang ga gampang Than,perasaan seseorang tidak bisa untuk hanya sekedar dekat lalu ada rasa itu tidak.Sekarang kita fokus tentang pekerjaan,dan kamu jangan memikirkan itu ya."Sambil nyubit hidungnya.
"Beraaat,hahahah!"Berlalu meninggalkan kebimbangan Thy Than yang seakan membuatnya kesal.
"Om,aku pengen tahu!"Rengeknya kesal.
Dia berbalik dan hanya menggodanya serta lambain tangan menutup pintu kamar Thy Than.
"Goodnight,sweet dream's honey!"Menutup pintu.Belum sempat tertutup ia membuka kembali pintunya.
"Jangan lupa segera tidur oke.Udah malam byeee!"Menutup kembali dengan tawa lepasnya.
"Huuuuh,,,bikin bete aja deh om Rey neeh."Terpaksa masuk kedalam laku menutup jendela kaca.Lalu mendekati ranjang miliknya lalu mengehempaskan dengan penasaran.
Kenapa ya aku masih bimbang sama Ganindra rasanya dia itu ga serius sama aku.Cuman ya pelarian aja kali ya.Apa aku tanya sama Adam aja biar sedikit masalah aku langsung tahu dan mengerti.Ga berharap lebih jauh lagi.Kan sahabat huuuuh beteee!Sambil menutup wajahnya.
Dijalan Ganindra pun sadar,terdiam sejenak lalu bertanya pada dirinya sendiri.
"Lho kenapa gua tadi ga nanyain kenapa Adam masih nekat jenguk Mega seeh!Adoooh kenapa bisa lupa sama pertanyaan itu.Aaah semua itu gara-gara mba Anindya deh bikin gua bingung aja.Kenapa ada malaikat cantik tiba-tiba nempel sama Adam ya.Apa itu sebuah konspirasi keluarga?"
Menghela nafas kesal seraya menggelengkan kepalanya.
Malam gini,enak juga pulang ga dimarahin sama bokap terus.Pastinya gua berharap yang terbaik aja buat diri gua sekarang.Trus gua pulang kemana ini?kerumah bokap apa kerumah abang gua ya.