Thy Than

Thy Than
Bab.09 Masih ada waktu



Obrolan keduanya pun segera berakhir ketika menuruni anak tangga dan mencari Ben yang masih ngobrol dengan beberapa orang diruang tengah.Saat itu ketiganya datang dan Ben mencoba mengenalkannya kepada salah satu kolega ayahnya pula.Tentu saja itu membuat obrolan semakin seru hingga sedikit waktu untuk pulang adalah pilihan kedua setelah pertemuan saling berjabat tangan.


Dari sekian banyak kolega yang datang,pasti ada juga yang membuat banyak pertemuan menjadi seru hingga sedikit lupa untuk meninggalkan ruangan.


"Pak Ben,Om Rey dan kak Joana mau pulang!"Sapanya dengan manis mendekati mereka yang beranjak berdiri saat Pak Ben mulai memperkenalkan kepada mereka bertiga.


"Oooh,pak Rey mau pulang sama mba Joana!"Jawabnya dengan senyum menawan."Tapi ini ada tamu lagi dari kolega bapak yang ingin ngobrol bentar.Ga pa-pa kan!"


Segera tatapan hangat dituangkan oleh ketiganya membuat Rey tertahan sebentar untuk mengobrol bersama orang-orang tersebut."Ga pa-pa,selamat malam pak!"Sapa Thy Than dengan senyum manis serta berjabat tangan dengan tiga orang tersebut.


"Selamat malam, Thy Than.Maaf ya kami datangnya agak malam soalnya baru dapat kabar sore tadi kalau pak Arman meninggal!"


"Iya ga pa-pa pak,terima kasih banyak udah menyempatkan datang.Saya sangat berterima kasih atas kedatangan bapak-bapak kesini.Saya jadi ngerepotin!"Ujarnya dengan nada halusnya.


"Silahkan duduk pak!"Pinta Rey mempersilahkan.


"Iya makasih!"Jawab salah satunya.


Keduanya pun duduk dan pak Ben pun memperkenalkan Rey dan Joana adalah bagian keluarga baru dari Thy Than.Sehingga ketika ada rencana membangun bisnis barunya pasti akan berkaitan dengan mereka berdua.


"Ooooh,iya pak.Ini adalah pak Rey dan mba Joana mereka adalah pengganti dari pak Arman.Ayah dari non Thy Than karena mereka sama-sama rekan kerja juga dikantor bareng,jadi mereka sangat akrab gitu!"


"Oooo,pak Rey.Radithya Rey anaknya pak Joan Radithya ya pantes saja saya pernah lihat bapak menjadi wakilnya waktu peresmian proyek dikalimantan setahun yang lalu itu kan!"Ujarnya perlahan.


"Iya betul sekali.Sekarang saya yang bertanggung jawab atas Thy Than.Karena siapa lagi yang menjaganya!"Jawabnya dengan senyum hangat.


"Beruntung sekali nak Thy Than bisa kenal dengan pak Rey.Jarang-jarang lho ada yang perhatian seperti itu."Lanjutnya.


"Trus siapa pak Ben mengurusi apa sekarang!"Tanya salah satunya lagi dengan penasaran.


"Saya tentunya akan membantu mengawasi non Thy Than juga.Dia kan juga butuh perhatian lebih!"Jawabnya ikutan meredam keheningan ini.


"Trus siapa yang disampingnya pak Rey itu.Apa calonnya hehehehe!"Pertanyaan itu membuat Joana kaget sekaligus bingung,masih ada ya nanya yang lebih privasi.


"Bukan pak,dia asistan saya.Kebetulan kita tengah ga ada kerjaan bareng.Jadi saya ajak aja kesini supaya lebih membantu membuat Thy Than lebih nyaman lagi."


Cukup lama juga obrolan itu membuat keduanya pun segera meninggalkan rumah kediaman Thy Than diikuti oleh para kolega yang lainnya.Waktu terus berjalan hingga mereka memutuskan segera berpamitan pulang.


"Mohon maaf kami mau pulang,ini juga udah malam kan!"Kata salah satu kolega dari ayahnya Thy Than.


Mereka pun beranjak berdiri dan segera pamitan dan saling berjabat tangan.


"Ooo,iya pak.Kita juga mau pulang kok!"Timpal Rey lega,setelah obrolan semakin pada titik terang.


Saling bersalaman,mereka pun pergi meninggalkan kediaman Thy Than,meninggalkan Rey dan Joana yang masih bertahan beberapa menit untuk ikut berpamitan.


"Thy Than,kita pulang juga ya.Ingat besok sekolah lagi,sama Ben ya!"Ujarnya berpesan menoleh kearah Ben.


"Beres pak,besok saya akan antarkan non Thy Than untuk sekolah!"Jawabnya tersenyum senang.


Joana pun merentangkan tangan serta disambut oleh pelukan dari Thy Than.Ia pun berpamitan pula.


"Ingat,jaga kesehatan.Jangan banyak begadang langsung tidur ya!"Pintanya berpesan.


"Iya kak!"Jawabnya mengangguk yakin.


"Om balik dulu ya!"Sambil mendapatkan pelukan langsung dari Thy Than.Senyum hangatnya serta mencium rambutnya.


Lambaian tangan perpisahan sejenak pun terjadi,hanya Thy Than yang tersenyum mencoba kuat merasakan ini semua.Lalu ia menoleh kearah Ben dengan senyum berat tapi mau gimana lagi.Ini adalah sebuah keputusan yang akan diambilnya.


"Sekarang Nona istirahat ya,biar semuanya nanti saya urus oke!"Memberikan pesan kepadanya.


"Iya pak Ben,makasih ya.Thy Than masuk kekamar dulu!"Kembali berpamitan untuk menaiki anak tangga dan meninggalkan Ben yang dibantu oleh beberapa pembantunya untuk membereskan rumahnya.


Diluar pun Rey membukakan pintu dan mempersilahkan Joana untuk masuk dan menutupnya kembali.Langkah seru Rey berputar lalu menuju masuk kedalam mobil segera meninggalkan pelantaran rumah Thy Than serta mengendarai dengan kembali menatap penuh senyuman sosok wanita yang disampingnya.


Sesaat dia melihat Joana dengan wajah lelah tengahdah seraya melepas lelahnya setelah seharian bahkan dua hari ini berada hanya untuk seorang perempuan seperti Thy than.


"Kamu kenapa?capek ya!"Mengumbar senyum serta membelai pipinya.


Sedikit ia tersenyum merunduk lalu menoleh kearah Rey yang semakin sok romantis kepadanya.


"Ga sampai kayak gini kali Tuan muda."Mengumbar senyum kepadanya.Rasanya emang pingin dipegang dan dielus-elus,kalau Tuan muda memang selalu membuatnya nyaman.Segera ia menyentuh tangannya lalu berucap.


"Apa Tuan muda sadar dengan apa yang tuan muda lakukan sekarang,kalau nanti ada yang tersinggung.Apa Tuan mau meredamnya?"


Heran menoleh dan mempertanyakan hal tersebut.


"Siapa?memang ada!"Mengernyitkan kening penasaran.


"Ya mungkin,ada yang ga setuju dengan hubungan kita.Palingan kita kan proffesional aja kan!"Jawabnya menurunkan tangannya tetapi tetap menyentuhnya dan itu menjadikan ia memulai banyak pertanyaan.


"Apa benar,Tuan muda tidak punya seseorang yang pernah mencintai anda.Padahal dari sikap anda,seakan Tuan muda santai saja dengan keadaan seperti ini!"Bersandar miring menunggu jawaban yang pasti.


"Ya seperti itulah,ketika kita dekat dengan seseorang bahkan nyaman seperti ini!"Sambil menyentuh tangannya lagi.


"Akan banyak tantangan buat kita untuk membuat sebuah penyelesaian dengan seseorang lebih baik dan yakin begitu saja.Karena kita tahu siapa yang akan kita miliki akan menjadi sebuah impian saat itu juga."


"Huuuh,memang ya kalau Tuan muda kalau sudah bicara pasti tidak ada yang mampu untuk mengalahkan selain keinginan Tuan muda kan!"Seraya menatapnya dengan senyuman manis.


"Mungkin!"Jawaban sesingkat itu membuatnya berfikir lagi,bingung dan tak menyadari hal tersebut.


Dikamar pun Thy Than mencoba untuk tenang dan kembali menatap malam dengan sangat teduh,melihat keluar dan tersenyum menyapa sang ayah yang telah berada dalam keabadian.


"Hai,yah aku bingung.Harus memilih dengan siapa tinggal saat ini.Berada dalam kesendirian atau aku bersama Om Rey ya.Itu pilihan yang sama sekali membuatku bingung.Apalagi sejak kepergian Ayah,pak Ben berada dalam situasi bimbang untuk kembali berkumpul dengan keluarganya atau bersamaku lagi!"Tersenyum duduk,mungkin esok akan ada berita yang membuatku kembali tersenyum lagi.


Tenggelam dalam mimpi seakan telah mendapatkan ketenangan setelah sedikit curhat,ia bisa tidur dengan tenang dan nyenyak dalam balutan selimut tebal dan terasa damai dalam malam ini.


Melanjutkan sebuah obrolan antara Joana dan Rey,cerita yang tak mungkin hilang dalam sekejab membuat mereka selalu berbagi cerita hingga Rey tak menyadari bahwa asistannya telah tenggelam dalam mimpi secepat kilat.


"Ya mungkin itu adalah saat aku bisaaa,,,,,!"Terhenti sejenal saat terkejut melihat Joana telah tertidur pulas.Rey pun tersenyum menghela nafas lalu membelai pipinya lagi.


Sempat membuatnya sedikit bergerak,tetapi dia kembali tidur lagi,sembari menggelengkan kepala ada-ada saja tingkahnya dia.Untung bukan jadi supir dia,kalau engga palingan aku yang tertidur seperti dia,hehehehe.


"Maaf ya,aku hanya menginginkan sejenak!"Beranjak mendekati wajah Joana lalu beberapa centi hampir menyentuh bibir sensualnya,terhenti.Apa aku securang itu memanfaatkan kelemahannya,tidak mungkin.Menjauh kembali lalu menghela nafas.


"Mungkin lain kali saja aku menciummu sayang!"Menatapnya seakan tak tega untuk mencari kesempatan yang akan membuatnya tak nyaman pula.


Keluar dari mobil,berjalan memutar lalu mendekati pintu penumpang lalu membukanya dan menggendonganya dipunggung,beberapa kali menyadarkannya tetapi sama sekali ga ada respon.Mungkin rejeki dia aku gendong lagi.


Sambil berbalik badan serta menarik kedua tangannya.Tubuhnya pun lumayan berat untuk digendong,huuuh dia makannya apa seeh lumayan berat juga.


Menggendongnya berjalan seraya menutup pintu,dan melihat dibias kaca mobil tersenyum geli melihat dirinya begitu tenang tanpa bangun sedikitpun dari tidurnya.Gimana kalau dia lagi tidur trus dibawa orang pastilah dia tidak menyadari hal tersebut.Berjalan sedikit terburu-buru menuju pintu lift,ia pun segera masuk dan memencet no.kamar yang akan dia tuju.


Beberapa kali membenahi gendongannya,sesekali melihat kebelakang sungguh lucu juga kalau aku bisa membuatnya bangun.Pasti ada rasa kesal dalam dirinya,sudahlah itu adalah kelebihannya membuatku ada rasa nyaman tentunya.Kekuar dari pintu lift bergegas ia berjalan melewati lorong dan menemukan kamarnya,cukup susah untuk mencari kunci kamarnya.


"Dimana ya aku naruhnya!"Beberapa kali mencari-cari didalam saku celananya tapi tak menemukannya.


"Aduuuh dimana Joana menyimpannya!"Segera mencoba meraih tas miliknya yang masih berada dipundaknya,beberapa kali ia menggoyangkan lalu tas miliknya pun terdorong mendekati tangannya.


"Ahhh,lega juga.Ternyata susah payahku membuahkan hasil juga ya hehehe!"Seraya meraih kunci didalam tas milik Joana.


Berasa ribet sekali membukanya,penuh kehati-hatian seketika terbuka pintunya perlahan masuk dan menutupnya.


Gila gelap banget ga ada lampu yang hidup lagi,ckckckckck kembali berjalan serta merebahkan disofa tengah.Perlahan sekali ia membenarkan tubuh Joana saat mendongak pun segera menghidupkan lampu tidur yang menempel dimeja tamu ruangan tengah.Kliiik,,,warna memerah dan remang-remang terlihat pula wajah Asistannya yang lucu hingga dia tersungging melihatnya.


"Rasanya ketika aku melihatmu seperti ini,ga ada waktu aku memikirkan orang lain."Seraya merentangkan tangan serta menompangkan tangannya pada sandaran sofa.


Melihat sekitar wajahnya,cantikmu memang tiada duanya.Bikin aku jadi melupakan segalanya.Perlahan membuka jas blazzer,menaruhnya pada punggung sandaran sofa.Membuka sepatu yang dipakai oleh Joana,iapun sebaliknya pula.Rasanya akan hangat bila aku bisa tidur disampinganya berbaring miring dan memeluknya,diapun tak sadar dalam pelukan hangat seorang Tuan muda.


"Rasanya indah bila aku terus bersamamu Joe,tidak.salah aku memilihmu sebagai wanita special dalam hidupku juga pekerjaanku."Memeluk erat dan ia pun tak menolak dalam pelukan hingga keduanya terlelap hingga pagi kembali menyapanya.


Sadar juga Joana saat membuka mata,terkejut saat melihat sekujur tubuhnya berada dalam pelukan Tuan muda,menoleh dan melihat Tuan muda begitu nyenyak tidurnya sampai ia berbalik dan tak menyangka semalaman aku tidur dengannya.Mengatur nafasnya dan menatap gelisah kenapa aku bisa dipelukannya?


"Kenapa aku tidur sama Tuan muda,kenapa juga aku ga terasa dipelukannya!"Seakan belum bisa membayangkan tetapi ia malahan tersenyum geli saat melihat Tuan muda begitu pulasnya tidur.


Berkali-kali mencoba membangunkannya,memencet hidungnya malahan dia hanya menunjukkan ekpresi lucunya.Sampai menahan tawa,lagi dia meniup wajahnya hingga rambutnya serasa terbang.Sesaat ia tersadar membuka pejaman matanya seraya sipit dan perlahan membuka melihat siapa dia,ternyata dia tersenyum dan ingin bangun.


"Selamat pagi Tuan mudaaa!"Sapa beranjak bangun dan merentangkan tangan.


Malahan Rey berbaring miring,menompangkan tangan menatap wanita tersebut tengah merekah dipagi hari.


"Pagi,,,kamu nyenyak sekali tidurnya semalam haaah,sampai ga terasa kita beneran tenggelam berdua!"Tersungging geli kembali meraih dan merangkul pinggulnya.


"Tuaan,sudaah.Aku mau mandi dan menyiapkan segalanya buat Tuan muda.Apa tidak kesiangan pagi ini?"Seraya memberontak ingin bangun serta turun dari sofa.


"Heiii,jangan pergi dulu.Kasih aku kehangatan ya pleace!"Pintanya berharap.


"Tidak,,,tidak,,,tidak.Saatnya tidak untuk bermalas-malasan.Apalagi sok beromantis ria Tuan.Maaf saya harus turun ya!"Beranjak mendorongnya hingga jatuh kelantai.


Gedubraaakkkk.,,,,"Aduhhhh!"Lantang ia kesakitan saat jatuh kelantai,heran padahal karpetnya tebal.Kok malah dia kesakitan ya?"Tolong aku dong!"Pintanya tengkurap merasakan sakit memegang pinggulnya.


"Haaah yang benar Tuan!"Kaget dan panik segera turun untuk menolongnya.


Belum sempat turun malahan ia tergelincir betis Rey,tentunya jatuh dan menindih tubuh Rey.


BUUUUKKK,,,,rasanya seperti diatas awang-awang.Jelas itu membuat kepala keduanya saling berbenturan hingga keduanya kesakitan.


"Aduuuuh,,,,Tuan muda,sakit tahuuu!"Sembari memengang kepalanya,kembali ia duduk dengan melirik kearah Rey yang masih betah berbaring miring dan ketawa lepas melihat kelucuan Joana.


"Hahahahahah,,,,kamu memang ya.Banyak tingkah sampai jatuh seperti itu ya!"Tengkurap kembali memeluknya dengan tawa bahagianya.


"Tuan,bagaimana ini.Kalau aku amnesia?"Gerutunya kesal.


Rey bangkit dari rebahannya serta melepaskan pelukan lalu bertanya dan menyentuh kepalanya dan meniupinya hingga ia serasa berteriak dan geli merasakannya.


"Tuaaan,aku bukan balon ya.Nanti aku malah berantakan tahu."Kesalnya kembali cemberut atas sikapnya.


Aneh-aneh aja kalau lagi ngambek ya Joana,beranjak berdiri serta menarik tangan Joana.Sikap manjanya kembali membuat Rey kembali membopongnya tiba-tiba sampai tawanya kembali menghiasinya.


"Haaaah,Tuan muda ya emang kebangetan.Aku sampai diangkat-angkat seperti ini!"Seraya memberontak kembali.


"Ga bakalan bisa kamu ya.Gimana kalau kita mandi bersama haaah!"Tawaran gilanya membuat Joana kebakaran jenggot hingga minta untuk diturunkan,tetapi bukan Rey kalau ga bikin kerusuhan dalam hubungan keduanya.


"Ga akan,kamu akan mandi dengaku hahahaha!"Tawa bahagianya pun membuat panik seketika Joana hingga ia memberikan ulitimatum untuk Tuan muda.


"Tuan,jangan.Atau aku akan teriak lho!"Mengamcamnya serta mengangkat jari telunjukknya.


"Coba saja kamu teriak,pasti orang-orang tidak perduli dengan kita.Mereka tidak terprovokasi dengan teriakanmu,malahan mereka senang mendengarnya gimana?"Kembali memberikan candaannya.


Kesal kembali,ternyata ga ada efek yang jera buat Tuan muda Rey hingga akhirnya dia pasrah untuk diajak mandi bareng.Tetapi saat ia memeluk dan membawanya kekamar pribadinya,rasanya ia benar-benar layaknya seorang yang special dihadapannya.Membalikkan badan keduanya saling berpandangan,tiba-tiba Rey mengejutkan Joana ketika kalimat manis itu membuatnya melongo dan tak sangka dia tidak bersikap nakal padanya.


"Udah sekarang kamu mandi ya,aku juga mau siap-siap untuk kerja kembali."Tersenyum mendekap kedua bahunya lalu mengecup keningnya,entah apa ciuman itu telah membuatku memejamkan mata dan perlahan Tuan muda pergi meninggalkanku,Tentu itu membuatku tersenyum dan melihatnya membuka pintu serta melambaikan tangan kembali menutup pintu.


"Byeee!"Ia melambaikan tangan pula,masuk kedalam kamar mandi serta menutupnya bersandar dibilik pintu tak menyadari sebaik dan seromantis itu Tuan muda kepadaku.


Lega juga sudah membuat Joana hampir menyerah dan pasrah dengan kelakuannya.Terhenti,rasanya belum saatnya aku mengambilmu secepat ini.Waktu terus berjalan hingga sarapan pagi tengah siap,langkah Rey turun kebawah dengan pakaian kerjanya serta tampilan yang gagah membuat senyuman sapa dari wanita specialnya yaitu Joana.Mendekati dan memeluk kembali memberikan kecupan lagi.


"Pagi sayang,kamu mau kan dipanggil sayang!"Bisiknya menggodanya.


Tatapan heran mengarah kepadanya lagi,pasti itu hanya gurauan yang tak berdasar.Rasanya aku harus acuh tak acuh menghadapi kegilaan Tuan muda,memang dia tengah bahagia.Seperti yang dikatakan semalam ia pun mengungkapkan untuk bertemu dengan seseorang.


"Tuan muda,aku nanti malam ketemu sama Seseorang ya!apa boleh?"Memberikan senyuman untuknya seraya merunduk dengan menatapnya.


Mengernyitkan kening,tidak seperti biasanya dia seperti ini.


"Siapa?"


"Seorang pria,apa boleh!"Kembali mempertanyakan kembali.


Rasanya ini serius atau hanya becanda,apa aku ijinin atau engga ya?apa mungkin kalau aku tidak memberinya waktu untuk bertemu pasti dia akan marah lalu menghujatku,rasanya itu pilihan yang sulit.


"Boleh asal jangan pulang larut malam ya.Supaya aku bisa menunggu kedatanganmu oke!"Mendekap pipinya dan memberikan senyuman lebar untuknya.


"Bisa diatur!"Jawabnya dengan tawa lepasnya.