
Malam telah membuat pekerjaan Dahlia kali ini perlahan usai setelah menemani seorang pria dengan keromantisannya yang telah memberinya waktu untuk bisa bersama dalam satu waktu bersamanya.Perlahan keluar dari rumah yang mulai disukai oleh Dahlia,bahkan ketika keduanya ingin segera pulang,masih saja berbalik serta menatap tampak depan rumah tersebut.
"Heiii ,,kamu masih betah ya menatap rumah ini?"Tersenyum mendekap tangan Dahlia.
Kembali ia menoleh dan mengucapkan kalimat kepada Anjas.
"Rasanya malahan saya yang betah tinggal disini mas.Ternyata waktu sudah lebih cepat mengantarkan kita untuk balik hehehehe!"Jawab Dahlia mengumbar senyum kepadanya.
"Apa besok kita kesini lagi untuk mengunjunginya?"Tanya balik menawarkan kunjungannya.
"Ga bisa mas,kita pulang aja ya.Udah malam juga!"Ajaknya segera meninggalkan rumah tersebut.
"Okey,dan kita langsung pulang atau shooping dulu?"Lagi memberikan tawaran menarik kepada Dahlia.
Ia pun menggelengkan kepala dengan senyum khasnya lagi,terlalu indah bila aku meminta hal yang sama sekali belum aku butuhkan.Mendingan pulang aja kali ya.
"Kenapa?kamu udah ga minat untuk shooping atau beli kue ultah yang sempat aku makan tadi pagi!"Kembali membuat rasa nyaman itu perlahan hilang.
"Ga usah,aku udah ikhlas kok.Nanti juga beli lagi lagian kapan-kapan kan aku bisa rayain ulang tahunnya Jamal dengan timeline yang berbeda."
Sambil menghela nafas,rasanya lebih baik mengikuti kata hatinya saat ini yaitu membawanya pulang kekost-kosannya. Merangkul serta mendekati mobil miliknya,perlahan Anjas membuka pintu untuk Dahlia.
"Silahkan masuk,Nona!"Ujarnya dengan ramah membuat rasa malu Dahlia saat melihat Anjas begitu perhatian kepadanya.
"Terima kasih mas Anjas!"Bergegas masuk sambil duduk menunggu sang supir bergerak memutar untuk segera ikut masuk dan memulai perjalanan menuju tempat yang diharapkan oleh Dahlia.
Disepanjang perjalanan ada senyum ikhlas dari seorang wanita disampingnya tengah menunnggu waktu yang semakin cepat berlalu.Sempat Anjas berhenti disebuah toko kue untuk memberikan apa janjinya saat tadi dalam hatinya yang berujar.
"Lho,,,kok malah berhenti disini mas?kan aku ga minta datang kesini lho!"Ujarnya kebingungan.
"Udah,jangan banyak omong ya!"Sambil menyentuh hidungnya."Ayo kita turun,aku mau malam ini kita makan bareng dikos-kosan kamu ya."Beranjak keluar dan masih saja tatapan aneh Dahlia saat melihat Anjas tengah keluar dan menunggunya sambil bersedekap.
"Apaan seeh mas Anjas ini,tiba-tiba membuat keputusan yang aneh deh!"Sedikit bete,apa mungkin dia ga enak sama sikapnya tadi sampai harus bersusah payah untuk membeli sesuatu didalam toko kue tersebut.
Keluar dengan wajah masih heran saja melihat Pria itu menarik tangannya masuk kedalam lalu mengajaknya untuk mencari sesuatu yang menarik kedua matanya.Aneh juga ya,padahal aku ga masih belum lapar malahan dia perhatian sekali sama aku.
"Kamu mau kue apa?"Berdiri didepannya dan menatapnya serta menyilangkan kedua tangannya dipinggulnya.
"Maass,,,aku belum lapar lho.Jadi jangan beli ginian sayang uangnya!"Bisik Dahlia menolak halus.
"Heemm,,,,udah lupa.Siapa tadi yang cicipin,malahan sempat makan banyak kuenya.Ya aku dong,lalu kamu bersikap gemesin sampai akhirnya aku masuk kesini.Kalau kamu ga mau ya udah aku aja yang beli dan makan kuenya yang aku suka,byeee!"Gantian malahan Anjas yang ngambek dan berlalu meninggalkan Dahlia seraya mengambil keranjang kue untuk memilih mana kue yang menurutnya enak dimakan dan bisa membuat moodboosternya kembali naik.
Sambil menepuk keningnya,Kayaknya ada yang salah deh sama jawabanku.Tapi udahlah yang jelas aku ga bakalan mau.Kan sayang banget lho.
Menghampiri serta beriringan untuk menemani Anjas mencari kue yang dia suka.Setelah beberapa kali ia menawarkan kue yang menurutnya enak sama sekali tidak menarik buat Dahlia.Tapi dia tak tinggal diam untuk mencari beberapa roti dan kue yang akan ia beli dalam satu keranjang tersebut.
"Udah ya,pilihanku udah banyak.Kamu harus coba nanti okey!"
"Haaah?,,aku coba semua ini mas?"Sambil menunjuk kearah wajahnya.
"Iyaaa,,dan aku menitipkan sama kamu.Biar nanti kalau ada yang datang mungkin bisa kamu hidangkan kue macam-macam itu,ya kan?"
"Tapiii mass!"Sambil merengeknya.
"Stttt?,,ga boleh nolak okey!"Tiba-tiba jarinya menutup bibir Dahlia sampai ia terkejut serta melotot tak menyangka bisa seperti itu kepadaku.
Ia hanya mengangguk,beneran aku tak menyangka bisa segitunya mas Anjas sama aku.Baik dan membuatku ga enak hati saat harus bersikap ragu-ragu sama dia.Semoga aja dia tidak mengharapkan yang lebih dari aku,bisa-bisa aku pysing tujug keliling dibuatnya.
Dengan telaten Anjas mengerti mana kue yang akan diberikan kepada Dahlia,sampai ia ingin menolaknya saja ga berani.Beberapa kali menaruh kembali kue yang sempat diambil oleh Anjas,selalu saja membuatnya menatap sinis lalu mengambil lagi.Raut wajah seorang wanita yang ketahuan melakukan itu hanya senyum-senyum ga enak banget deh,salah lagi aku.
"Udah,,,mau apalagi?"Sambil mendekap dagunya lagi.
Duuuh mas Anjas ini seneng banget pegang-pegang daguku seeh.Empuk apa gimana ya.
"Udah masn,banyak banget itu!"Sambil melotot melihat bawaannya.Udah gitu dibawain ga boleh lagi,bilangnya malah aneh-aneh.
"Saya bawain mas ya!"Sambil menyentuh keranjang kuenya.
"Eittsss,,,kamu bukan pembantuku ku.Jadi jangan sekali-kali pegang ini.Bahaya!"Menghentikan keinginannya.
"Haaaah,,,!"Kagetnya pas banget bikin tawa Anjas kembali menyeruai dalam hatinya.
Membayar dikasir pun hampir membuat jantungan aja tuh mas Anjas melihat harga yang harus dibayarnya.Mau ngomong aja dia udah ngelirik yang engga-engga jadinya kan bingung sendiri akunya.
"Berapa mba!"Sambil mengeluarkan dompetnya.
"Totalnya 456.352 rupiah pak!"
"Oke,sebentar ya!"
"Haaah,,,banyak amat!"Gumamnya pelan,sempat pula Anjas menoleh serta senyum tipisnya terlihat jelas ditatapan matanya.
Pembayaran selesai,segera ia mengambil dan tak mengijinkan Dahlia ikut membantunya.Karena baginya hadiah itu hanya dia yang boleh bawa,kalau sang wanita hanya boleh heran dan menatapnya saja,mungkin akan lain kalau udah sampai parkiran.Sambil membuka bagasi belakang ada aja kalimat yang dipertanyakan sama Dahlia.
"Mas,apa.ga banyak banget ini kuenya.Apa buat mas Anjas aja!"
Menoleh lagi heran,mengambil dua roti kesukaannya Croissant almond dan Coklat.Segera ia ambil serta menunjukkan kepadanya.
"Kamu pasti suka salah satunya kan,Kita cicipin didalam ya!"Tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
"Tapi mas!"
"Kebanyakan tapi deh!"Bergegas menutup bagasi lalu berjalan kedepan duluan.
Waduh bisa-bisa ditinggal aku kalau ga buru-buru masuk kedalam.
Didalam pun seraya menghidupkan mesin,ia meminta Dahlia untuk membukakan bungkusan roti yang akan dia nikmati.
"Bisa minta tolong ga?"Tanya lagi.
"Apa mas?"Sambil mengangkat kedua alisnya.
"Bukain yang almond croissant,favoritku ini hehehhe!"Sambil memberikan kepada Dahlia.
"Oooo,mas Anjas suka yang rasa almond ya."Senyumnya itu hangat sekali sampai mata Anjas pun berbinar-binar melihatnya.
"Geeemess deh lihatnya!"Lagi Mencubit dagunya.
"Masss seneng banget seeh megang dagu aku!"Heran dari tadi lihatnya.
"Aku tuh seneng lihat yang empuk-empuk lho!"Jawabnya ngasal lagi.
"Haaah,,yang empuk-empuk.Maksudnya?"Dahlia makin penasaran.
"Tuhhh empuk croissantnya.Suapin ya!"Pintanya lagi.
"Heeem,,,okey deh.Kan mas Anjas nyetir kan,jadi butuh bantuanku deh!"
"Iya dooong,aaaa!"Sambil membuka mulutnya.
"Haaap!"Lanjut Dahlia dengan tawa lepasnya.
Ga tahu deh gimana perasaan Dahlia saat ini saat dekat sama aku,apa dia mulai nyaman atau gimana.Setidaknya nyaman itu adalah ketika aku tahu perasaan yang sesunguhnya dari sorot mata dan sikapnya yang semakin baik untuk dinikmati.
"Oooo,ya kamu besok masuk jam berapa?"Tanya Anjas kembali menoleh sambil mengunyah roti.
"Besok seeh masuk siang,tapi kadang aku lebih banyak tuh masuk jam sepuluh pagi mas.Ga tahu deh temen-temen tuh sukanya gantian skejul sama aku.Biar katanya bisa pulang cepet dan ga malam-malam dihotel!"
"Emang kenapa?"Kembali heran dibuatnya.
"Takutnya open BO!"Jawabnya sambil menatap ga yakin.
Menoleh seketika,terhenti juga mobilnya.Dan untungnya saat ia terhenti pas dilampu merah.Sampai Dahlia pun dibuat bingung sama kelakuan Anjas yang terlalu mengejutkan.
"Haaaah kamu open BO?"Melihat dari atas rambut sampai kebawah.
"Mas ngapain berhenti seeh?ntar dimarahin orang dibelakang lho!"Dahlia pun khawatir.
"Heeeyyy,,,aku berhenti karena ada alasannya!"
"Tuh lihat lampu merah,Masak yang nerobos aja seeh kamu tuuuh!"Sambil membelai lagi pipinya,lagi mengumbar senyum kepadanya.
Langsung dia mendongak keatas dan ternyata benar,lampu merah.Langsung aja dia mesem-mesem malu gimana gitu ngeliatnya.Ada aja yang salah sama aku,heheheh.
"Maaf mas,kirain kaget aku bilang tadi!"
"Ya itu juga kaget!kok bisa seeh mereka bilang gitu sama kamu?"Lanjutnya penasaran.
"Mungkin ada yang lebih dari aku untuk bisa dijual lebih tinggi kali mas.Mangkanya mereka khawatir aku seperti itu!"
"HEEEHHH,,,,ada aja mereka bilangnya!"Tersungging mendengarnya.
"Sebenarnya hubungan kamu sama Pacar kamu gimana seeh?"Kembali penasaran.
"Ooooh sama Jamal?"Kembali memperkenalkan namanya.
"Yaaa,,dia itu.Dari namanya aja udah ketahuan lho!"Kata Anjas sok tahu.
"Ketahuan apa mas?"
"Ketahuan boongnya dong!"
"Kok gitu?"Ga terima lagi deh Dahlia.
"Buktinya sampai sekarang dia ga menghubungimu lagi kan.Bahkan baterai hapemu awet kan ga ada yang hubungin kamu dari tadi kan,sebenarnya ya.Kalau dia cowok kamu,pasti dia akan menghubungimu setidaknya 2x sehari dan menanyakan kabar.Mana sekarang,telpon kamu aja aman dari tadi!"Kembali mengungkitnya.
"Iya bener juga seeh sama yang mas Anjas bilang.Tapi kok aku ga curiga ya.Malahan yang curiga mas Anjas,apa mas Anjas punya indra keenam buat nerawang dia mungkin?"Kembali dipertanyakan.
"Ya juga kali.Kan itu sesuatu yang sepele buat aku.Tapi bermakna besar untuk kamu kan!"Lagi jarinya membelai pipinya Dahlia.
"Heeem,,,kesempatan deh!"
"Gemes soalnya,aku paling seneng kalau lihat cewek tuh cabby dan montok!"Ujarnya membuat mata Dahlia tak lepas-lepasnya kaget kesekian kalinya.
"Jadi,,,dari tadi mas Anjas tuuuh!"Baru sadar bahwa seseorang yang disukainya adalah Dahlia.
"Apa?"Bingung juga.
"Jadi mas Anjas tuh perlahan suka sama Dahlia ya?"
Menoleh berfikir sejenak lalu mengangguk.
"Aduuuh masss,,,jangan deh.Ntar berantem lagi sama Jamal! Ga banget dia.Dia tuh temperament lho.Ga suka kalau kepunyaanya digodain kayak gini!"
"Kita lihat aja.Siapa yang bisa lebih deket sama kamu,pasti dia orang yang beruntung ya kan!"Sambil mengangkat kedua alisnya.
Ga nyangka ternyata mas Anjas perlahan menaruh perhatian sama aku karena kriterianya sama seperti yang dia ucapkan.Ada lagi tambahan yang belum diketahui sama Dahlia,mungkin itu akan ditambahkan bila dia mau putus sama Jamal kekasihnya.
"Mass,,nanti kalau dia macam-macam sama Mas Anjas.Kan aku ga enak dong."
"Udah santai aja.Aku bisa atasi dia kok!"
Tak terasa sudah sampai depan kosan milik Dahlia,perlahan ia keluar dan menghabiskan rotinya,tersungging heran.Masih sempet-sempetnya mas Anjas masih ingat sama kesukaannya.Sampai aku pun hanya menggelengkan kepala heran.Belum masuk kedalam,kayaknya ada yang kelupaan deh.
"Bentar deh,kayaknya ada yang kelupaan.Apa ya?"Terhenti sambil menghentikan langkah Dahlia lalu menatapnya heran.
"Apa mas?"Bingung juga deh,perasaan ga ada lagi kan udah malam kayak gini.
"Aaahgg,,,,baru aku ingat."Berjalan mundur dan berbalik menuju bagasi,membukanya dan mengambil kue yang akan diberikan sama Dahlia.
"Masss,,ngapain dibawa masuk.Padahal aku mencoba lupa lhoooo!"Kata Dahlia kesal.
"Kalau ga kamu yang makan,aku ga bisa dong lihat senyumanmu lagi.Ayo masuk,juga aku ga bakalan lama-lama didalam!"Rangkulnya masuk kedalam.
Belum selesai mau masuk kedalam,sosok yang ga diharapkan memang datang mengejutkan Dahlia.Ya dia adalah Jamal yang sudah melihat keakraban sejak tadi membuat darahnya mendidih ingin memberikan sesuatu untuk pacarnya dan orang yang dianggap sebagai teman baiknya.
"Oooo,,gitu kamu ya!"Suara itu menghentikan langkah Dahlia dan jelas bagaikan kesambar petir ditengah hujan yang deras serta suara kereta api mode kecepatan tinggi ngueeeeeeng wuussss,,,,
"Haaaah,,,mas Jamal!"Berbalik terkejut serta menutup mulutnya.
"Itu Jamal!"Tanya Anjas masih tenang.
"Yaaa,,gua Jamal.Pacarnya Dahlia.Ngapain lu pegang-pegang cewek gua,,haaaah!"Mendatanginya lalu siap untuk menarik kerah Anjas.
"Woooiiii,,,tenang-tenang.Jangan emosi dulu okeeey!" Mencoba menenangkan sang lelaki yang dia menyebutkan kalau pacarny Dahlia.
"Jamal,,,jangan macam-macam kamu!"
"DIAM!"Sambil nunjuk kearah Dahlia.
"Elu ngapain meluk-meluk pacar gua haaah!"Masih belum mendapatkan jawaban dari Anjas.
"Aku hanya meminta dia untuk menemani aku seharian,ini bagian dari kerjaan lho.Aku ga minta apa-apa sama dia,Jangan marah dulu yaaa!"Tersenyum untuk menenangkan lagi.
"Tapi kenapa dia ga bilang kalau dia kerja.Harusnya laporan dong sama gua?"Masih mencoba menunggu kejelasan ini.
Anjas menoleh dan kembali bertanya kepada Dahlia.
"Eeeee,,,kamu tadi udah ijin kan sama dia?"Sambil menunjuk kearah Jamal.
Langsung menyingkirkan tangannya Anjas.
"Elu ga usah nunjuk-nunjuk gitu dong!"Masih ga terima.
"Oke maaf.Jelas dia udah ijin sama kamu.Cuman kamu lupa kali!"Lagi membuat suasana semakin panas.
"Aaah banyak bacot luuu!"Sebuah tempelengan tangan mengarah langsung kearah pipi Anjas.Memang dasar pemain lama.
Anjas pun menangkap kepalan tangan Jamal,lalu dengan cepat memelintir kebelakang punggungnya sampai ia kesakitan.
"Aaaahhh,,,lepasin gua."Meronta-ronta untuk melepaskan tapi tetep saja Anjas yang menang.Gaya dia ga maju-maju seeh,gampang ditebak maunya kemana.
"Mas,,,jangan sakitin Jamal mas,tolong!"Pinta Dahlia udah kejer-kejer ngeliatnya.
Seakan pertarungan yang dilakukan oleh Jamal sama sekali gampang dibaca oleh Anjas,beberapa kali sampai harus jatuh tersungkur karena kelihaian seorang pria pegolf itu sangat diatas Jamal.Jadi ya teriakan Dahlia ga masalah buat Anjas untuk membela kekasihnya tapi sayang beberapa kali hantaman kekasihnya dapat dimentahkan oleh pria tersebut dan terakhirnya adalah menumbangkannya dengan pukulan tepat diperut dan ulu hatinya sampai dia berlutut kesakitan.
"Mass,,,kamu ga pa-pa kan!"Dahlia pun mencoba menolong Jamal yang tengah berlutut kesakitan akibat pukulan yang memastikan bahwa itu telah melumpuhkan lawannya.
Suasana kos-kosan aga ramai mendengar teriakan Dahlia,tentu mereka yang melihat pun seakan membela Anjas yang telah mengalahkan pria pembuat onar setiap saat dilingkungan yang ditinggali oleh Dahlia.
"Tooooloooong,,,tooolooong!"Pinta Dahlia meminta tolong.Nyatanya ga ada yang mau menolongnya malahan mereka kembali masuk dan seakan mencederai Jamal yang ga bisa bangun lagi.
"Kamu ga bisa bangun kan!mangkanya jangan sok!"Tersungging dia udah mengalahkan lawannya dengan pengalaman yang udah ga diragukan lagi.Baginya mengalahkan Jamal sama aja mengalahkan preman yang telah membuat hati seorang wanita menjadi lebih sakit.
"Awas kamu ya,aku lawan lain kali."
"Oke aku tunggu!"Timpalnya dengan santai.
"Mas,jangan ganggu kami dulu.Pergi mas,,pergi!"
"Okey,,aku pergi.Tapi ingat dia sudah membuat kesalahan sama aku.kalau dia mengulanginya lagi.Aku ga bisa tinggal diam.Apalagi dia menyakiti kamu ya,tunggu aja balasan dari aku!"Bergegas pergi menuju mobilnya,dengan tatapan sinis dia telah menang dengan tawa lepasnya.
Meninggalkan Dahlia dan Jamal yang tengah bersusah payah untuk bangun dari sakitnya tersebut.Emosi juga Jamal sampai menatap tajam bahkan menghardik pacaranya sendiri dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Udah ga usah bantuin gua.Pergi sanaaa,,pergiiiii!"Dorongnya sampai membuat Dahlia tersungkur ditanah tak percaya sama perlakuan yang diberikan sama Jamal kepadanya.
"Masss,aku mau nolongin kamu.Malahan kamu jahat sama aku!"Bentaknya ga terima.
"Udah ga usah lu cari gua lagi.Kita putus!"Bentaknya sambil membelalakkan kedua matanya.
"Apa mas,,,putus!"
Susah payah Jamal pun beranjak berdiri dengan sempoyongan,hampir jatuh lagi.Tetapi segera Dahlia mencoba menolongnya dan itu sama sekali tidak mengubah pemikirannya untuk pergi dari hadapan Dahlia.
Akhirnya ia bisa berdiri,masih sempoyongan bahkan rasanya ingin ambruk lagi.Dan bangun lagi,rasanya bantuanku sama sekali ga diharapkan sama mas Jamal,dia memilih untuk pergi tanpa kata lagi dari Dahlia.Sedih adalah kalimat yang akan membawa seorang wanita itu dalam kesedihan yang mendalam.Sama sekali ia tak menyadari hal tersebut bahwa akan segera sirna hubungannya selama ini dengan mas Jamal.