
Setelah memesan makanan siap saji,ketiganya pun bersiap untuk kembali kerumah sakit untuk menemui sang ayah Arman guna memastikan keadaannya saat ini apakah sedikit membaik.Tatapan wajah Thy Than memang masih belum bisa membuat Rey bersikap lebih baik setelah mencoba kembali diam dan hanya menatapnya.Tetapi tak berselang waktu lama sebuah panggilan telpon milik Joana pun berbunyi nyaring membuat suasana sedikit berubah.Ya ada sebuah panggilan khusus tentang kedekatan Joana dengan sosok pria yang membuatnya bersikap cuek ketika tengah bersama Tuan muda.
"Haaah,Yoshi?ada apa dia menelponku!"Wajah panik dan sepertinya ga nyaman sampai ia mendongak lalu segera dijawab oleh Rey yang juga melihatnya tengah tak nyaman tersebut.
"Kamu kenapa Jo?ada masalah!"Pertanyaan itu mengarah kepadanya lewat kaca spion kearah Joana.
Meringis tak menyangka,ia pun menjawabnya.
"Engga Tuan muda,ini ada temen saya menelpon!apa boleh saya menjawabnya!"Meminta ijin kepada Tuan muda.
"Heiiiii,angkat aja kali.Ga masalah ya kan Thy Than!"Tersenyum menoleh kearah Thy Than yang berubah lebih cepat aura sedihnya lalu menjawabnya dengan senyuman.
"Iya kak,santai aja.Atau aku harus tutup telingaku,heheheheh!"Ujarnya bercanda lepas.
"Oke,makasih ya."Lama juga dia ga ngangkat panggilanku.Kemana sebenarnya Joana ini.
Masih ada rasa penasaran hingga kembali mematikan ponselnya,sampai-sampai ia kecewa dengan sikap temannya tersebut.
"Yaaaah,mati!"Ujarnya lesu.
"Kok bisa kak,lama seeh kakak minta ijin segala sama Om Rey,heheheh!"Ujarnya mengarah kepada Rey.
"Ya terus gimana dong."Lanjutnya bingung.
"Tunggu aja,palingan dia nelpon lagi,kalau cowok lagi sayang atau butuh sama orang terdekatnya pasti deh akan menghubungi kamu lagi,ya ga Than!"Menoleh kearah Thy Than dan menunggu jawaban sebuah dukungan.
Ia mengangguk menjawab dari kalimat Rey yang masih bersikap santai,karena dia tahu dengan siapa dia akan berbicara.
Sesaat ketika Joana tengah bingung dan melihat keduanya tengah asyik mendengarkan sebuah lagu romantis yang melow dan menyayat hati,sebuah panggilan kembali muncul untuk menghubungi Joana.Tentu tidak dilewatkan begitu saja sama wanita tersebut dengan mengangkat dan menjawab ponselnya.
"Halooo,kenapa Yosh?"Suara hangat dan pelan dituangkan olehnya dengan sangat halus.
"Kamu dimana?"Tanya Yoshi penasaran,tentu ketika ia tengah berada dirumahnya serta menikmati apa itu santai dan menunggu sebuah keajaiban mengarah tepat dibalkon untuk menunggu jawaban dari Joana.
"Heheheh,lagi nemenin Tuan muda ada urusan penting yang ga bisa kita lewatkan begitu saja."
"Kapan kamu balik,trus kapan kita akan ketemu lagi.Aku hampir curiga aja pas kamu datang ke Bazzar dan mencoba cuek untuk satu alasan."
Ooooh,dia bisa juga ya perasaanya kayak gitu sama aku,padahal aku juga was-was lho ketika melewati toko kamu.Tersenyum menjawabnya.
"Heheheh,kamu khawatir juga sama aku!"Lanjutnya dengan wajah berseri-seri.
"Kapan kamu balik?"Pertanyaan itu kembali diulang oleh Yoshi yang masih belum mendapatkan jawaban sebenarnya
"Ga tahu juga ya,kayaknya masih lama deh.Aku bisa ketemu sama kamu!"Jawabnya langsung."Nanti ya aku kabari lagi,biar kamu ga nunggu-nunggu terus kan jadi penasaran."Lanjut Joana dengan mengumbar senyum lagi.
Ketika itu tatapan Rey kembali mengarah kepada Joana tentunya tersenyum menggoda sampai ia hampir saja ga konsentrasi ngobrolnya.
"Beneran kamu mau kabarin aku?"Memastikan sambil berjalan diantara balkon pembatas pagar rumahnya.
Beneran hampir aja membuatnya salah ngomong sama Yoshi."Apaan seeh ganggu aja!"Lanjutnya ga sadar.
Terhenti Yoshi pun bertanya tentang kalimat itu untuk siapa sebenarnya."Siapa yang ganggu kamu,aku?"Kembali bertanya.
Terhenyak dan menggelengkan kepala ia menjawab bantahan tersebut."Eeehhh,engga-engga bukan kamu kok!"
Thy Than yang mendengar kalimat Joana pun bersuara"Santai aja kak,ga ada yang gangguin kok!"Jawabnya santai.
"Siapa lagi itu?"Mengernyitkan kening bingung banget,sebenarnya dia tuh berada dimana sekarang?sama Tuan mudanya atau dengan orang lain!
"Itu-itu keponakannya Tuan muda,lagi ikut sama kita.Kita lagi ada urusan penting,jadi aku ga bisa janji ketemunya gitu!"
"Oooh,gitu.Ya udahlah kalau urusanmu udah selesai kabarin aku ya.Aku akan segera menjemputmu dan kita akan mengobrolkan sesuatu oke!"Pintanya berharap kepada Joana.
"I-iya,pasti itu.Pasti!"Jawabnya terbata-bata seraya kebingungan juga jadinya.
"Ya udah kamu hati-hati jaga kesehatan ya!"Mengumbar sebuah pesan untuknya.
"Kamu juga,jangan terlalu serius dalam mendampingi Tuan mudamu.Nanti lupa lagi sama aku!"Mulai menunjukkan sikap cemburunya.
"Iya-iya pasti Yoshi!"Ujarnya menutup telpon.
Langsung aja Thy Than nyerobot sebuah nama untuk dituangkan dengan Rey,tentunya itu akan membuat sebuah obrolan kembali memanas.
"Ooooo,Yoshi namanya Om!heheeheh."Lanjut Thy Than menepuk bahunya Rey.
"Oooo,pantes saja dari tadi sikapnya aneh banget sama kita-kita ya!"Lanjutnya sambil menggodanya.
"Thy Than Jangan mulai lagi deh.Mulai mancing-mancing jadinya."Kata Joana sebal.
"Yaaa,kakak jangan ngambek gitu dong.Perasaan ada yang santai-santai aja ga ikutan nambahin deh.Apa ga bela keponakannya neeh!"Lanjut Thy Than dengan wajah berseri-seri menggoda juga Omnya.
"Hehehe,ga ada minat.Masih kosong!"Jawabnya asal aja sambil konsetrasi mengemudi.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit,hati Joana memang tengah resah akan sebuah pekerjaannya.Saat ini ia berada dalam dua hal yang membuatnya semakin bingung,lalu ia punya ide untuk membicarakan hal kecil ini semoga aja Tuan muda mengerti dengan permintaanku.
Tatapan hangat kembali dituangkan oleh Rey dimana dia mendapati wajah gelisah Joana,tentunya harus segera dipertanyakan.Tetapi dia lebih memetingkan Thy Than untuk urusan sekolahnya besok.
"Oooh,Than.Besok kamu tetep sekolah ya,Om akan antar kamu sekalian berangkat kerja oke!"Memberikan senyuman kepadanya.
"Makasih Om,tapi Thy Than tinggal dimana untuk sementara waktu?"Kembali mempertanyakan hal tersebut dengan wajah ragu-ragu.
"Tinggal aja sama kami,supaya bisa ada yang mengawasimu ya kan Tuan muda!"Ujarnya menyakinkan Thy Than.
Mengangguk pasti,mungkin ini adalah jawaban jelas tentang semua masalah tengah dihadapai olehnya dengan pengawasan itu akan memberikan perhatian pula untuk seorang Thy Than.
"Tuh kan,,,nanti kak Joana ada temennya hehhehe!"Lanjut Joana dengan nada senang.
Tersungging lalu menyelanya.
"Maunya emang ga ada temennya atau canggung cuman tinggal sama aku!"
Matanya melotot kaget mendengar serangan dari Rey,pria yang mencoba menarik perhatian lebih dan selalu membuatnya semakin baper ketika harus bersamanya.Ini adalah sikap gila seorang Tuan muda untukku.Aku sama sekali ga bisa melawan sebuah kegilaan yang dia buat untukku.Sama sekali membuatku berfikir keras untuk mencoba tidak terlibat serius dengan hatinya.
Sampai juga dirumah sakit,ada rasa khawatir seorang Thy Than ketika mendapat kabar bahwa team dokter tengah ingin berbicara lebih jauh dan serius tentang kesehatan Ayahnya.Tepat saat mereka datang dengan wajah masih tenang,sesaat itu juga Ben tengah menunggu cukup lama untuk memberikan sebuah kabar kurang menyenangkan.
Senyum itu mencoba untuk dibuat lebih kuat oleh Ben ketika kedatangan mereka begitu ditunggu olehnya.Tak berselang dia pun mengajaknya berbicara lebih berdua,tetapi itu tidak menarik untuk Tuan muda lebih mendampingi Thy Than yang tengah bingung dengan sikap lain Ben.
"Akhirnya kalian datang juga!"Menyambut dengan senyum manisnya.
"Kenapa pak Ben?"Tanya Rey tiba-tiba langsung mempertanyakan hal tersebut.
"Ini ada kabar tentang kesehatan pak Arman!"Jawab Ben dengan nada cukup berat,sampai hati Thy Than pun panik dibuatnya.
"Memangnya kenapa dengan Ayah,pak Ben?ada dia baik-baik saja!"Segera menyentuh kedua tangannya dan raut wajah sedihnya tergambar jelas.
"Ini team dokter ingin bicara sama Kamu,ada hal yang harus dibicarakan lebih serius!"Ujarnya.
"Gimana kalau aku dampingin,supaya kamu nanti ga terlalu terbebani dengan kalimat-kalimat dari dokter tersebut?"Rey pun mencoba menyakinkan untuk mau ditemani olehnya.
"Iya lebih baik kamu sama Tuan muda ya,supaya nanti kamu ga shock dengan beberapa paparan yang diberikan oleh dokter kepada kamu,ya.Mau kan?"Kembali Joana meyakinkan kembali.
"Boleh deh!"Jawabnya langsung,lalu dia mencoba bertanya kepada Ben untuk lebih jelasnya."Boleh kan pak Ben aku sama Om Rey keruangan dokter berdua.
"Boleh-boleh itu lebih baik!"Jawabnya menegaskan.
Thy Than pun menyentuh tangan Joana dan tentunya berharap tidak terjadi apa-apa hingga ada semangat yang mulai diberikan oleh Joana untuknya.Dengan berat langkah Thy Than pun bersama Rey untuk bertemu dengan team dokter yang pernah menangani keluarganya.Apa mungkin ada harapan untuk bisa kembali ayah dalam pelukanku atau sama sekali hanya sebuah khayalan yang hanya bualan semata.
Perlahan menguatkan seorang perempuan tanpa sebuah harapan untuk sang Ayah,dia menyentuh bahunya raut wajah penuh senyuman mencoba memberikan semangat hingga ia pun kuat ketika sampai didepan pintu ruangan dokter serta mengetuknya beberapa kali hingga seorang suster datang untuk membukakan pintunya.
"Selamat sore,Nona Thy Than silahkan anda sudah ditunggu oleh dokter Rizal didalam."Ajaknya masuk kedalam serta langkah keduanya bergegas masuk untuk menemnui sang dokter ketika tengah mempelajari beberapa berkas yang akan dijelaskan oleh sang dokter kepadanya.
"Selamat sore dok!"Senyum hangat Thy Than menyapa sang dokter membuatnya mendongak serta beranjak berdiri untuk berjabat tangan dengan keduanya.
"Selamat sore Thy Than,apa kabar!"Sapanya hangat pula.
"Kabar baik dok,perkenalkan ini Om saya yang akan ikuta bicara juga!"Jawab Thy Than sambil memperkenalkan Rey.
"Selamat sore pak Rey,apa kabar!"Sapanya hangat pula.
"Sore dok,saya baik-baik saja!"Jawabnya ramah pula.
"Silahkan duduk,atau kita duduk disofa sebelah sana ya.Biar lebih santai dan ga tegang!"Ujarnya mengajak pindah tempat.
Keduanya menoleh dan memastikan tempat itu adalah tempat paling nyaman untuk berbagi sebuah keadaan tentang Ayahnya yang tengah tergeletak tak berdaya dalam hidupnya.Mereka pun berpindah tempat serta keadaan yang semula baik-baik saja menjadi lebih tak terkendali saat itu juga,banyak hal yang akan dituangkan oleh sang dokter kepada Kliennya yang mana itu akan membuatnya semakin kuat atau malahan jatuh dalam kesedihan.
"Silahkan duduk!"Pintanya.
Tersenyum menyambutnya dengan nada ramah pula mereka duduk dan mulai mendengarkan apa yang akan dibicarakan dengan baik."Mohon maaf,saya tidak akan membuat anda semakin berfikir jauh.Tapi ini adalah kenyataan yang harus anda terima ya.Apapun yang saya ceritakan dan kabarkan itu adalah sebenar-benarnya tanpa harus saya menguranginya."
"Iya dok,saya akan kuat dengan kabar yang akan dokter berikan kepada saya.Saya tahu keadaan Ayah memang tidak menentu sampai saya harus menerima semua konsekwensinya."Jawab Thy Than mencoba Kuat.
"Sebenarnya!"Sembari menghela nafas berat dan panjang,sebuah nestapa akan dihadirkan dengan mengejutkan."Ayah anda,dalam kondisi yang sangat tidak menentu.Saya mencoba untuk berkomunikasi pun tidak ada respon sama sekali.Sekarang setelah kedua kalinya saya merespon kembali keadaannya.Memang saya tidak berharap banyak tentang kesembuhan yang diharapkan."Jelasnya.
"Terus bagaiamana dengan penanganan sementara ini?apa akan membuat Om Arman lebih baik lagi!"Kembali panik hingga kalimat itu menyiderai Thy Than,sampai kalimat itu terlontar seketika itu Rey menoleh dan melihat reaksinya,apa akan ada kekuatan yang menyertai dia?
"Untuk penanganan sementara itu lebih baik kita berdo'a dengan sungguh-sungguh.Karena kita tidak tahu apapun bisa terjadi terhadap pak Arman.Saya harap kamu harus kuat dengan cobaan ini.Karena apapun itu akan ada keajaiban yang diinginkan anaknya untuk kesembuhan sang ayah.Dari beberapa pantauan kami secara verbal dan lebih mendalam,akan ada peningkatan kesembuhan.Tapi kita tidak tahu kalau udah drop saya hanya bisa melakukan hal terbaik dan terus untuk menolongnya."
Dengan berat hati pula Rey pun mengelus punggung Thy Than serta kembali berada disampingnya untuk menguatkan hatinya.Sedih adalah jawaban memang diantara kebimbangan hatinya,pedih pasti ketika ada beberapa kalimat yang telah membuatnya menyerah dalam obrolan serius antara Dokter Rizal dan Rey selaku pendamping Thy Than,Ia hanya berssandar dan terisak-isak mendengar beberapa kata tentang ayahnya.
Lama juga ya,hal tersebut membuat Joana yang sudah sekitar setengah jam menunggu kedatangan mereka sampai juga ketika Ben mencoba untuk mengobrol dengannya.Dalam situasi genting seperti ini,obrolan hangat dan ringan memang diinginkan oleh Ben dan Joana sebagai teman.
"Anda jangan khawatir,nanti apapun itu keputusan dari dokter team,pastinya akan memberikan jawaban yang sejelas-jelasnya."
"Itulah pak Ben,saya jadi gimana gitu sama Thy Than.Apalagi saat ini saya mulai dekat dengan dia.Saya takutnya dia semakin patah semangat dan ga mungkin lagi bisa sekuat biasanya."Jelasnya yakin.
"Kan kamu dan pak Rey sudah menjadi bagian hidupnya saat ini.Sekarang saya merasakan kelegaan bahwa nantinya Nona Thy Than berada diantara kalian tanpa ada rasa berat untuk dipengaruhi oleh keluarganya yang masih menginginkan harta dari pak Arman.Sungguh miris saya melihat keluarga pak Arman,dalam keadaan sakit saja mereka masih ingin menguasai rumah tersebut."
"Ohhh ya,apa mereka ga mikir kalau masih ada Thy Than.Yang berhak atas rumah tersebut,bayangkan saja kalau mereka benar-benar menguasai rumah itu.Aku ga bakalan diam.Itu adalah tugas yang harus dilakukan oleh Tuan muda untuk melindungi Thy Than dari kejahatan keluarganya.Itu adalah pilihan penting."
"Ya nanti juga saya akan berada dirumah itu untuk menjaga dari mereka yang menginginkan harta dari pak Arman.Sangat disayangkan sekali sikap itu membuat mereka semakin gila akan segalanya!"
"Apa Thy Than punya saudara kandung mungkin pak Ben?supaya dia tidak menyimpan masalah ini sendirian!"Kembali kalimat itu dipertanyakan olehnya.
Menggelengkan kepala,keyakinan itu sama sekali tidak diindahkan oleh pak Ben hingga Joana mengerti kenapa semua menginginkan apa yang selama ini dipunyai oleh pak Arman.Kejayaan keluarga dan ketidak harmonisan menjadi sebuah malapetaka saat ini.
"Ga ada,hanya dia anak dari pak Arman.Semuanya pasti iri saat ini.Walau pak Arman bangkrut,pasti dia menyimpan sesuatu untuk Thy Than.Tapi itu masih belum kami dapatkan!"Ujarnya pasti.
Benar juga apa yang dibicarakan oleh pak Ben,pasti ada harta yang disembunyikan dengan rapi oleh pak Arman untuk anaknya nanti.Itu masih tidak terlalu diperdebatkan karena aku tahu Fokus kali ini masih tentang kesehatan pak Arman untuk bisa kembali dalam senyum Anaknya.
Tersungging juga ketika ingat bahwa Yoshi ingin bertemu dengannya.Tetapi apakah ini waktu tepat buatku meminta ijin didepan Thy Than yang tengah sedih?aduuuh kenapa aku ga bilang terus terang seeh sama dia supaya dia mengerti dan tidak berharap banyak dalam situasi yang sebenarnya genting ini.
"Apa aku bilang sama Tuan muda atau aku bilang ga bisa sama Yoshi.Aduuuh kenapa bisa bingung kayak gini seeh?"Sambil menggigit kukunya ada perasaan galau dan resah diantara keduanya.
Setelah kerisauan tengah dialami oleh Joana,beberapa saat kemudian datanglah Rey dengan merangkul keadaan sedih seorang Thy Than,benar-benar disituasi seperti ini adalah sebuah permasalahan yang sangat tidak baik ketika harus berkata tentang keadaanya saat ini.Berfikir dulu deh,ini adalah fokus untuk dia.
"Bagaimana tadi obrolannya Tuan muda?"Langsung aja Joana pada intinya.
Jelas pertanyaan itu membuat Thy Than sedih dan segera memeluk Joana ketika saat itu kebingungan dengan apa yang akan dibicarakan dengan jelas.Sebuah kesedihan tersebut