Thy Than

Thy Than
Bab.14 Menanti sesuatu diujung jalan.



Malahan ia tertidur saat menikmati sore yang indah diranjang hotel,tengkurap dan nyenyak banget seakan lupa akan janji dengan seorang pengacara yang telah ia buat janji dengannya.Untung saja alarm ponselnya perlahan membangunkannya dari mimpi lelapnya,seakan terbangun dengan wajah malas ia pun mengangkat kepalanya serta mencari-cari ponselnya serta mengeceknya kembali.


"Huuaaaah,,,jam berapa ini?"Matanya masih belum jelas melihat waktu sekarang jam berapa.Perlahan melihatnya lagi,langsung dia terperanjat dari ranjang dan kaget,ingat kalau sekarang kan ada janji dia.


"Astaga,,,aku lupa ada janji dengan pak william!"Sambil menepuk keningnya.


"Ini ga boleh telat,harus buru-buru aku!"Bergegas bangun serta mandi dengan cepat,tetapi saat mandipun ia ingat untuk janjian dengan wanita yang sempat ia ajak ngobrol tadi.Iya juga seeh kalau ga ada temannya ga seru.


Keluar dari kamar mandi,berbalut handuk putih ia mencari pakaian yang sudah ia siapkan.Kemeja salur horisontal berwarna hitam dan putih lengan pendek serta celana panjang berwarna coklat tua.Mencari sepatu boath berwarna coklat tua pula ia pakai.Tampil dengan parfum lelaki elegan tengah ia semprotkan untuk menambah rasa wangi dan segar tubuhnya.


"Apa aku butuh teman ya?"Berfikir sambil mencari ponsel dan dompet puch berwarna hitam dengan palet warna elegan pula ia bawa untuk mencari taxi diluar.


Sampai dibawah lobby,lama juga menunggu taxi yang datang sampai akhirnya ia mencoba menghubungi seseorang yang dipastikan adalah Dahlia,karena tanpa dia kan serasa ga ada yang special.


"Aku coba hubungi dia deh!"Menghubungi Dahlia yang tengah istirahat setelah mandi sore didepan meja rias.


Saat setelah ia habis mandi dan merasakan segarnya setelah istirahat cukup lama,capek juga tadi ya sampai aku ketiduran nyenyak lagi.Semoga aja ga ketemu sama bapak tadi.Dan dia lupa ga ngajak aku keluar kan hehhehe.


Sayang itu hanya doa tak terkabulkan begitu saja,dering ponselnya pun tengah membuatnya menoleh kearah meja tamunya untuk segera bangun dan mengangkatnya.


"Haaah,,,siapa ya?kok nomor doang!"Lalu mengangkatnya.


"Halllooo,,,,selamat malam!"


Saat ia menyapa sang penelpon yaitu pak Anjas,tak disangka sebuah taxi yang ia tunggu-tunggu sudah berada disampingnya,dengan segera ia masuk kedalam dan menjawab telpon dari Dahlia.


"Haiiii,,,masih ingat kan sama aku?"Tanya balik.


"Siapa ya?"Mikir panjang sampai garuk-garuk kepala.


"Saya pak Anjas dari kamar VIP hotel masak lupa seeh!"Mencoba mengingatkannya.


Mikir deh jadinya setelah cukup lama berfikir pada akhirnya menemukan sosok yang dikatakan oleh Anjas sendiri.


"Haaah,,,pak Anjas.Masih ingat sama saya pak?"Lemes juga,bary aja berharap dia ga hubungin aku malahan ingat dan menghubungiku.


Astaga kenapa seeh doa ku saat ini tidak terkabul dengan hadirnya dia.Semoga aja dia tidak macam-macam denganku nantinya awas aja kalau macam-macam,bisa aku hajar dia.


"Kamu tinggal dimana?bisa sharelok mungkin!"Pintanya berharap.


"Ooo,,iya bentar pak!ditunggu ya!"Ujarnya sambil menutup ponselnya dengan cepat.


Dalam fikirnya,,,aduh bodo banget kenapa dia minta sharelok lagi.Padahal kenal kan engga gimana seeh kamu Dahlia!mikir dong dia itu kan tamunya hotel,kenapa aku bisa terjebak didalamnya.


"Kenapa dimatiin?apa dia mau sharelok ya!"Sambil mikir lalu berfikir positif untuk hal ini."Oke lah aku tunggu aja kali ya!"


Tengahdah menunggu balasan dari Dahlia,Supir taxi pun menoleh dan bertanya kepada Anjas.


"Permisi pak,kita mau kemana kok dari tadi muter-muter aja ya?"Sembari mengumbar senyum herannya.


"Tunggu ya,bentar lagi temenku ngasih sharelok.Muter aja lagi kemana gitu okey!"Pintanya ikut tersenyum.


Pasti dia jengkel banget kalau aku ga ngasih tips sama dia nanti,tenang aja pasti aku kasih kok.Dalam hatinya bergumam.


Tak lama pun suara ponselnya berbunyi,segera Anjas membuka ponselnya lalu membuka sharelok.Menemukan kalau tempat yang ia tuju malahan disekitar sini.


"Naaah dapat,,lokasinya kayaknya ga jauh deh dari sini mas."Sambil memberikan kepada Supir taxinya.


Diambilah ponsel milik Anjas,lalu memperhatikan dengan seksama.Iya juga seeh palingan sekitaran sini kayaknya,sambil menoleh ia memberikan ponselnya kepada pemiliknya.


"Saya tahu lokasinya pak,saya putar dulu ya."Ujarnya sambil memutar mobilnya.


"Okey makasih!"Sambil menunggu dan telah memegang ponselnya,sempat memandang sebentar dan tersenyum.Ternyata ga jauh-jauh amat dari sekitaran hotel,mungkin dia lebih dekat kali berangkat kerjanya.


Mobil pun berhenti tepat disamping rumah kost-kosan yang cukup elegan dan menarik untuk dilihat.Hebat juga dia bisa kost didaerah seperti ini.


"Bentar ya mas,aku telpon dia dulu!"


"Oke pak!"Jawabnya singkat.


Menghubungi Dahlia yang sudah siap dengan pakaian santai yaitu kaos oblong dan celana pendek serta rambutnya masih acak-acakan menunggu apakah jadi seeh dia mengajakku keluar?


Benar saja,ponselnya kembali berdering.


"Ooooh,kayaknya bapak itu deh!"


Kembali mengangkatnya.


"Hallooo,,,pak.Bapak dimana ya?"Tanya balik.


"Aku udah didepan rumah kamu,didepan kosant kamu maksudnya.Kamu udah siap belum?"Tanya balik.


"Oooh,bentar saya ganti baju dulu ya.Tunggu saya lima menit lagi pak ya!"Langsung menutup ponselnya.


"Iya aku tunggu."Jawabnya kembali tersenyum saat ia mendengar menutup ponselnya tiba-tiba lagi.


"Kita tunggu ya lima menit lagi,dia keluar kok!"Kata anjas kepada Supir taxinya.


"Beres pak!"


Tak berselang lama,sosok wanita yang ia tunggu-tunggu pun keluar dengan tampilan yang cantik serta feminim beda dengan saat ia tengah bekerja.Tampilan yang dewasa bahkan menarik hatinya,malahan ini lebih cantik lagi.


"Permisi pak,boleh saya masuk?"Sambil merunduk ijin kepada Anjas yang langsung mempersilahkan untuk masuk kedalam.


"Ya silahkan!"Anjas pun bergeser kekanan untuk memberikan ruang duduk buat temannya.


"Udah siap kan?"Tanya Anjas kembali menatap.


"Siap kemana pak?"Tanya balik heran.


"Ya antar aku ketempat temanku dong,tenang aja kita ketempat yang jelas kamu terlindungi lho."Ujarnya meyakinkan.


"Memangnya kemana pak?"


Anjas mendongak dan mengatakan tujuannya,untung saja sang supir tahu dimana lokasi tempat rumah seorang pengacara kondang yang ga mungkin bisa dilupakan orang secepat itu.


"Mas Tahu dimana pak.William Bagaskara tinggal?"Mencoba bertanya dengan lugas.


Langsung sang supir pun tahu dimana tempat tinggalnya,sama halnya dengan Dahlia yang ikut terkejut ketika nama itu disebutkan juga.


"Tahu dong pak,saya sering bawa orang kerumah sana kok.Siap saya antar ya!"


"Makasih mas!"


Menoleh heran dengan nama pengacara tersebut,ada apa sampai dia mencari seorang pengacar kondang seperti pak William.


"Ada apa pak ketemu sama pak William?"


"Kamu kenal sama dia?"Tanya balik.


"Siapa yang ga kenal sama dia pak,dia sering menginap dihotel tempat saya bekerja kok.Pasti dia kenal saya juga,kalau ga lupa hehehe!"


"Ada yang harus dipertanyakan,dan kamu nanti tahu kok.Santai aja ya!"Sambil bersekap dan bersandar menghela nafas panjang.


"Heran,,mau ketemu sama pengacara saja sampai butuh teman.Apalagi temannya model aku lagi,hehhehe.Ga salah tuh dia ngajak aku.Lagian aku juga masih baru kan kenal sama pak Anjas."Gumamnya dalam hati.


Terhenti pula disebuah rumah mewah bernuansa putih dan elegan serta jelas itu adalah rumah seorang pengacara kondang yang sudah membuat prertasi luar biasa dalam bidang hukum.Dengan wajah senang,akhirnya mereka sampai didepan pintu utama.Anjas pun tak lupa membayar dan memberikan uang tips untuk pengemudi taxi yang sejak tadi memutar-mutar ga jelas dijalanan.


"Permisi pak,untuk anda."Sambil memberikan sejumlah uang untuknya.


Saat ia berbalik menoleh dan terkejut melihat bayarannya lebih mahal dari argo yang tertera membuatnya merasa ga enak.


"Pak kok banyak sekali bayarannya?"Seakan berat untuk menerimanya.


"Ga pa-pa ambil aja.Buat mas yang nganterin saya muter-muter ga jelas tadi.Terima kasih ya,diterima ya!"Sambil memberikan uangnya kepada Supir taxi.


"Ayo kita keluar,nanti pak William lama lagi nungguin kita."Ajaknya keluar dari dalam mobil.


"Baik pak!"Perlahan keluar dengan wajah ragu-ragu.


Saat ia keluar sang supir pun berterima kasih kepadanya,tentu ini adalah bayaran yang lumayan membuatnya tidak berfikir tidak-tidak saat melihat tampilan dan senyuman ramah dari Anjas.


"Pak,,,!"Terpekik kaget.


"Udah ga pa-pa,aku juga ga bakalan macam-macam sama kamu kok,ayo jalan!"Pindah memegang tangannya dan menarik masuk kedepan pintu.


"Ada-ada aja deh!"Sambil tersipu malu melihatnya.


Kayaknya sepi juga,tapi ga masalah kalau aku mengetuk pintunya.


Sampai juga ditoko Ko Ahong,dengan tampilan frendly serta wangi dan tentunya Rasya itu merupakan idola pengunjung ditoko tersebut saat ia mulai kelihatan saat keluar dari dalam mobil.Antusias cewek-cewek yang menunggu kue dan makanan yang dibawakan olehnya dibantu pula oleh Thy Than yang ikut bingung melihat antusias mereka saat sang pangeran datang.


"Ya ampun datang juga pangeranku!"


"Iya ganteng banget dia!"Puji salah satu penggemarnya


"Aduh ga bisa tidur kalau liat dia setampan itu."


Beberapa orang pun menatap Rasya dengan manis dan ga pernah bosan untuk menyapa,sampai Thy Than aja bingung dibuatnya.


Lalu ia mendekati Rasya dengan wajah serius pula.


"Ternyata kamu tuh kayak artis ya.Banyak yang ngagumin!"Ujarnya dengan wajah serius.


"Ya gimana lagi,nasib orang keren kayak gini!"Sambil menahan tawa.


"Gilaaa!"Ujarnya sewot.


"Udah,jangan cemburu.Mau bantuin ga?"Sergapnya bikin Thy Than makin sewot,,,eeh tapi ujung-ujungnya mengumbar senyum seindah cintanya kepada Rasya.


"Iya deh!"Lemes juga jawabnya.


Setelah ketemu sama Ko Ahong,jelas makin heboh saja melihat ada seorang perempuan tengah ngintilin Rasya dengan wajah serius tapi akhirnya bertanya pula.


"Woooii,,,Rasya kamu bawa siapa ini?"Tanya Ko Ahong dengan wajah berbinar-binar.


"Temen saya Ko,,,cantik ga?"Jawabnya sambil bergaya merangkulnya setelah susah payah menaruh pesanannya didalam.Masih saja ia mencoba bergaya sama dia.


"Cantik sangat.Mantaaap kamu cari pasangan!"Sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Aaah Ko Ahong,,,aku kan cuman temennya doang.Tuuuh banyak yang suka sama Rasya!"Ujarnya merendah.


"Halaaah,jangan difikirkan itu.Itu resiko orang ganteng,tinggal kamunya aja yang jagain.Harus jago bikin dia jatuh cinta terus!"Ko Ahong berpesan.


"Gimana caranya?"makin menarik aja percakapanku sama Ko Ahong.


Ko Ahong pun mengajak Thy Than masuk kedalam dan memberinya petuah.Kayaknya aman neeh buat Rasya untuk deket sama salah satu karyawan Ko Ahong yang aduhai menggoda bernama Lili.


"Haiiii ,,lagi ngapain li?"Sapa Rasya dengan tampilan seorang penggoda ulung.


Menoleh kaget melihat Idolanya udah deket aja disampingnya.


"Rasyaaa,,,kamu!"Langsung aja meluk dirinya,sampai shock berat Rasya dibuatnya.


Dari jauh pun Ko Ahong memperlihatkan kegenitan Rasya yang memang udah dari keturunan bapaknya,ga ilang-ilang.Sampai menggelengkan kepala dan ga terima sambil memainkan kepalan tangannya.


"Udah oy jangan terlalu cemburu sama dia,dia itu lelaki yang belum punya istri.Oy harus sabar yaaa.Nanti ko Ahong kasih resepnya okey!"


"Tapi Ko kok sampai pelukan gitu,kan bikin bete!"Thy Than ga terima.


"Udaaah biasa,untung anak Ko Ahong ga muncul.Kalau udah muncul palingan langsung diajak kencan sama dia!"


Kaget sambil menoleh kearah Ko Ahong dengan wajah serius.


"Waduuuuh,,,gawat banget tuh Ko.Apa aku harus pake ilmu sihir?"Tanya Thy Than ngasal aja kalau nanya.


"Oooiiii,,,jangan dong.Pake perasa-an aja.Jangan pake ilmu sihir ga boleh itu.Berarti kamu oi ga punya usaha yang penuh untuk mendapatkan Dia."


"Haaaah,,,,ternyata playboy berat juga tuh Rasya!"Sambil jingkrak-jingkrak.


"Udaaah oiiii santai aja.Ntar kalau pulang sama oi pasti dia balik lagi cintanya sama oiii!"Kembali meredam emosinya Thy Than.


"Tapi kan kata mama sama papa kalau pacaran umur 25 kooo,,,kan kelamaan dong!"Jelasnya merengek.


"Emang umur oiii berapaa?"


"Baru 18 Ko!"Jawabnya sedih.


Sambil nepuk keningnya lalu berujar.


"Waduuuh,,,masih lama itu.Ya gimana kamu harus bisa buat dia nyaman saja sama Oiii ya,sabar ya!"Sambil menepuk pundaknya.


Yaaa memang tantangan banget kalau udah harus deket sama Rasya,lelaki playboy ulung yang ga ada matinya buat ngegodain perempuan macam apa aja.Jadi inget dong sama kak Ashila yang dianggapnya sebagai saingan terberatnya.Tapi bener juga kata Ko Ahong kalau aku harus kuat dan bisa buat Rasya suka sama aku terus.Pake apa ya! masih mikir dan mikir panjang.


Apalagi ini kan malam minggu,malam yang panjang bagi mereka yang tengah kasmaran dengan kekasihnya.Lha aku ini gimana apa kasmaran tapi sakit hati dibuatnya,haduuuuh bahaya ini.Sabar ya Than,,kamu tuh harus berjuang seperti permintaan Ko Ahong.


"Selamat malam pak,ibu mau ketemu siapa ya?"Seorang pembantu pun membukakan pintunya saat setelah Anjas mengetuk pintunya.


"Oooh ya saya udah ada janji sama pak William.Ada kan orangnnya?"Tanya balik.


"Ooooh udah janji ya,kalau begitu silahkan masuk.Saya panggilkan sebentar ya."Sambil mempersilahkan untuk masuk dan duduk diantara ruangan tamu yang tampak luas dengan area terbuka.


Menoleh serta mengajak Dahlia untuk masuk kedalam sambil mendekap pinggulnya.Lagi dia semakin bingung dan pasrah aja deh sama sikap pak Anjas yang terlihat sok romantis tapi kalau dia udah senyum pasti aku dibuatnya meleleh olehnya.


"Iya pak!"


Berjalan menuju ruang tamu serta mengajaknya duduk bareng serta bingung melihat ruangan yang memang masih asing diantara keduanya.Apalagi Dahlia masih asing banget berada dalam sebuah masalah yang belum tentu ia mengenalnya dengan baik.


Langkah kaki seorang pria tengah turun dari lantai atas penuh santai dan masih memakai pakaian formal menghampiri Anjas dan seorang wanita yang jelas belum dia kenal sama sekali.


"Selamat malam mas Anjas,apa kabar!"Sapanya dengan wajah sumringah setelah bertemu serta berjabat tangan.


"Ini kekasihnya ya mas!"Ujar William mengumbar senyum.


"Eeeh bukan pak,,,saya temannya saja kok."Lanjut Dahlia langsung menolak sebagai kekasihnya.


"Heemmm,,,pasti malu-malu ya kenal sama mas Anjas ya."Sambil duduk bareng."Silahkan duduk,biar kita ngobrolnya tenang dan santai ya."


Antara penasaran dengan apa yang baru dari seorang pak Anjas,itu adalah sebuah pengungkapan rahasia tetapi ia sangat ingin tahu seberapa dekat dengan masalah ini.Sampai harus bertemu dengan pengacara segala.


"Oooh iya,mas Anjas waktu itu sempat dapat surat dari pak Rafan ya?sudah baca kan!"Tanya William dengan serius bertanya.


"Sudah,,tapi ga saya bawa lho.Apa itu butuh digunakan untuk sebuah masalah pemecahan ini?"Tanya lagi.


"Engga juga.Kan saya udah kenal mas Anjas udah lama sahabatnya pak Rafan kan?"Sambil senyum-senyum mengingatkan.


"Iya juga seeh."Jawabnya langsung ingat.


"Ada apa ya,sampai saya harus ketemu sama mas William?apa ada urusan lebih penting dari mas Rafan?"Tanya Anjas dengan penuh penasaran.


"Iya.,pak Rafan kan sempat membuat wasiat warisan buat anaknya.Namanya Thy Than,dan dia masih 18 tahun lho.Jadi dia masih dibawah umur untuk mengatur warisan yang dibuat oleh papanya.Jadi sekarang dia mendapatkan hak asuh dari Ibu Gina yang merupakan sahabat baik dari mamanya Thy Than.Untuk urusan yang lain berupa keuangan sempat bu Gina yang memegang.Tetapi pada akhirnya diserahkan kepada saya lagi.Takutnya nanti dia menyalah gunakan kekuasaan.Jadi sekarang dia butuh orang kepercayaan yang benar-benar dipercaya untuk mengatur keuangannya.Mangkanya saya membutuhkan bantuan mas Anjas.Gimana?"


Kalimat yang diutarakan oleh William sangat membuat hati Dahlia pun bingung,kenapa masalah seperti ini aku bisa tahu ya.Padahal tahu sendiri aku siapa?


"Okey sekarang gimana keadaan Thy Than?apa dia baik-baik saja sekarang atau dia dengan orang lain yang berbahaya,mungkin?"Anjas pun bersikap semakin serius.


"Tidak mas,dia berada dalam lindungan bu Gina dan kedua anaknya.Tapi katanya yang lebih perhatian itu anaknya yang lelaki namanya Rasya Putra Syalendra.Dia anak yang baik dan selalu melindungi Thy Than kok.Cuman mereka belum berani mengambil kesimpulan sebelum ketemu saya."


"Oooh begitu,kalau boleh tahu dimana alamat rumah Thy Than atau rumah bu Gian itu?"Kembali bertanya lagi.


"Sebentar saya ambilkan alamatnya ya!"Sambil beranjak berdiri menuju ruang kerjanya untuk mengambil dua alamat penting untuk segera diluruskan oleh Anjas sebagai sahabat baiknya pak Rafan.


Dahlia pun menoleh dan sempat mengajukan pertanyaan kepada Anjas.


"Apa memang mereka membutuhkan orang kepercayaan dari pak Rafan ya,sampai belum bisa mengambil keputusan yang benar-benar mereka dapatkan?"Tanya Dahlia ikut serius juga menanggapi masalah ini.


"Mungkin juga seeh,aku juga ga tahu gimana akhirnya!"Jawab Anjas juga masih belum pasti juga.


Kembali William memberikan sebuah berkas pula untuk segera diselesaikan dengan keluarga ibu Gina juga.Karena mereka juga berhak atas melindungi Thy Than dan memberikan sebuah kenyamanan untuk kehidupan seorang anak seperti dia.


"Oooh ya mas,ini juga berkas yang sempat mereka tanda tangani untuk menyelesaikan masalah mereka nantinya bila ada yang merasa dekat dengan keluarga pak Rafan,mereka juga ada bukti juga dari pak Rafan ketika anda ingin menjelaskan kepada bu Gina ya.Biar nanti ada urusannya lebih gampang lagi!"