
Segarnya pagi dengan deruan rasa yang tak jelas selama ini,aku tuh sama dia sebagai apa ya?apa dia menganggapku lebih dari yang gua inginkan.Sikapnya memang menarik dan membuatku kadang salah fokus ketika harus menatapnya.Tapi dia kadang ga ada respon khusus soal kedekatanku sama dia. Santai dan terlihat tak terlalu special.Perlahan mematikan showernya setelah khayalannya tentang teman baiknya itu telah perlahan sirna,meraih handuk dan mengeringkan dengan telaten.
Keluar sambil melilitkan handuknya dipinggul Rasya,terlihat ia berjalan menuju lemari miliknya.Sudah lama juga dia memiliki tempat special dirumah ini.Dan ini adalah pemberian dari papa Rafan karena selalu saja dia dianggap sebagai anak pertama dan selalu menjadi pelindung Thy Than anak semata wayangnya.
"Heemm,,,nyari baju model ini ya?"Kebingungan mencarinya,hingga beberapa saat ia menemukan sesuailah dengan isi hatinya yaitu kemeja polo berkerah berwarna hitam serta celana Chinos berwarna coffe panjang siap ia pakai untuk kembali kerumahnya.
"Rasanya kerena juga kalau tampilanku kayak gini!"Sosok Rasya memang tampan dan gagah dengan tubuh tegap dan agak berisi.Tetapi tetap Cabby dimata Thy Than.Bahkan ia sering sekali dipeluk olehnya hingga terlelap dalam pelukannya.
Menciumpun hanya sekedar dikening dan kedua pipinya.Ketika ia ingin mengecup bibirnya saja.Rasanya mustahil.Karena dia akan bilang.
"Ini area terlarang buat bibir kamu menyentuh bibirku ya,Rasya.Jangan buat aku emosi kalau sampai kamu cium bibirku.Aku laporin sama mama Gina."
Sambil memukul keningnya sendiri,wajah polosnya pun tertuang menjawabnya.
"Yaaa,,,mampus dah gua!"
Tawa lepas Thy Than pun sungguh membuatnya menggelengkan kepala.Langsung aja untuk meredam rasa ga masuk akalnya,kembali lagi dia memeluk Rasya.
"Heiii,,,ngapain seeh kamu suka meluk gua?enaknya!"Tanya lagi.
"Engga tahu ya,kamu tuh sosok yang nyaman dan selalu saja membuatku tenang."Melepaskan pelukan dan memandangnya dengan wajah serius.
"Tapi bukan aku mencintaimu ya?ingat kita ini saudara atau teman baik saja!"
"Trusss kalau aku pengen jadi kekasihmu kapan dong!"Sambil mendekap pipinya.
Sembari berfikir dan ingat dengan pesan sang Papa untuk anaknya.
"Ya mungkin sekitar 25 tahun,kan aku masih Abg Sya.Masih umur 18 tahun."Jawabnya dengan manis memainkan bibirnya lalu tertawa.
Sambil melempar tangannya yang kegatelan megangin bibirnya,dia pun berujar.
"Udah deh seneng banget megang-megang bibirku?ada apa seeh!"Sambil menyentuh bibirnya.
"Engga,kenyal dan imut kalau dipegang."Jawabnya ngasal lagi.
"Trus ngapain ga dicium,biar puas gitu!"Lanjutnya.
"Hemm,,enak dikamu.Ga enak sama aku!"Selanya kesal.
"Gimana lagi,udah peraturan dari Ayah seperti itu!"Jawabnya kembali bersedekap.
"Trus ya,kalau sampai bibirku ini ada yang nyicipin duluan.Ga nyesel kamu?"Tanya Rasya dengan mengernyitkan kening.
"Ya aku akan jadi orang ketiga yang akan mengagalkan itu,gampang kan!"Jawabnya memainkan kedua alisnya.
"Lho kalau kamu jadi orang ketiga,ngapain kamu ga mau aku cium?"Tanya balik.
"Kan ciumnya boleh dikening sebagai rasa sayang abang sama adiknya."Lanjut Thy Than.
"Trus kalau dipipi apaam coba?"Lagi introgasinya.
"Tanda sayang yang begitu hormat sama adiknya!"Jawabnya lagi.
"Lha terus kalau dibibir,apaan coba?"Masih penasaran deh sama jawaban Thy Than.
Langsung aja tampolan khas Thy Than langsung melayang dengan pas.
PLAAAKKKKK,,,,
"Aduuuhhh,,,kok malah nampol gua seeh?"Tanya balik balik sambil memegang pipinya.
"Kamu seeh banyak nanya ya,udah deh kan rahasia aku ini"Jawabnya langsung menahan tawanya sambil menutup mulutnya.
Dia malahan kembali merentangkan tangannya lagi,membuat Thy Than kembali dalam pelukan Rasya.Entahlah perasaan itu belum jelas dalam hidup keduanya.Ketika bersama dalam satu malam selalu saja ada obrolan menarik antara keduanya sampai kenyamanan itu membuat sang Perempuan tertidur lelap dalam pelukannya.
"Rasanya seeh gua memang harus banyak nanya biar aku bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan,ya kan!"Sambil merunduk lalu menatap Thy Than.
Melengos kesal,jadi aku tadi nanya sama dia malahan dia nyaman dan ketiduran.Alamat deh susah dibangunin dan gua harus bawa dia naik keatas dan nidurin lagi,astagaa anak mama dan papa yang menjadi satu dalam sikapku kepadamu.
Nyaman dan keren adalah tampilan yang ga bisa gua rasain lagi saat harus memilih pakaian pas untuk diriku sendiri.Berbalik dan lalu duduk dan melihat ponselnya,apakah ada yang masuk untuk dilihat secara baik-baik atau hanya selingan saja.
"Heemm,,,ga ada yang pas juga.Lagian siapa yang mau deket sama gua.penjual kue kering yang hanya mengandalkan tampang tapi keren.Nyaman karena selalu memeluk Thy Than,hahaha dia memang pilihan yang jelas bikin aku kesal aja terkadang."
Bangun deh,dan segra turun kebawah untuk melihat apakah Thy Than udah siap kali ini.Berjalan keluar dari kamarnya,lalu mendekati ruang tengah bahkan sampai dapur.Ga ada tuh anak satu itu berada disetiap tatapan bahkan pandangannya.Kemana sebenarnya?apa dia udah beberes apa belum.kan ini gua harus segera pulang dan mempersiapkan kembali membantu mama Gina.
"Than,,,kamu lagi mandi yaaaa!"Panggilnya lantang sambil mendongak.
Ga ada balasan seeh,,,,Kemana dia.Masak ya gua harus naik keatas buat bangunin dia.Kan dia janjinya kemana sama gua.Mikir lagi,aaah coba aja deh palingan kalau ga mandi,ya ketiduran lagi.Coba aja lihat kali-kali bisa jelas lihat mukanya yang sok polos itu.
Mengentuk pintu beberapa kali,fa ada respon ya ditunggu dulu deh sambil serius tapi ada ketawanya juga seeh.
Tok,,tok,,,tok ,,tok,,,,tok
"Thy Than,,,bangun dong.Kamu mau ikut ga ketemu mama Gina?"Panggilnya pelan dengan intonasi yang ga kenceng juga.
Lagi ia mengetuk pintunya dengan beberapa kali.
Tok,,,,tok,,,,tok,,,,tok,,,tok,,,
"Ga ada jawaban.Berarti dia itu tidur kali ya.Astagaaa."Sambil membuka pintu.
Nyatanya benar Ia tengah tertidur dengan pulas berbaring miring.Entah semalam tidurnnya kurang lengkah trus nambah lagi atau gimana seeh.Sambil masuk kedalam pasti ada rasa kesal yang ujung-ujungnya ga tega ngeliat sebenarnya dia tengan tiduran.
"Than,,,Thy Than,,kamu jadi ikut kerumah ga?"Panggilnya sambil mengusuk pipinya beberapa kali.
Ia malah senyum-senyum dalam mimpinya,aduhh dia ketemu siapa ya?sampai segitunya dia senang.Tapi lucu juga heheheh.Ikutan ketawa juga sampai duduk disampingnya dan mengoyang-goyangkan badannya hingga ia terkejut hingga bangun dari mimpinya.
Terperanjat dalam mimpinya sampai ia terbangun melihat senyum Rasya sambil mengangkat kedua alisnya beberap kali.
"Haiiii ,,mimpiin siapa seeh?gua ya!"Tanya balik.
"Astaga,,,kamu kok ngagetin aku seeh Sya!"Terbangun sampai ia melompat dan jauh-jauh dari hadapan Rasya.
"Eeehh,,,ngapain sampai segitunya?Kaget lihat Thy Than dengan wajah panik serta menutupi bagian penting hidupnya.
"Kamu mau macam-macam sama aku ya,awas ya aku laporin sama mama Gina lho!"Ancamnya serius.
"Heiiii,,,ngapain juga aku macam-macam sama kamu.Kan kamu tahu kalau ancamanmu itu sudah mencederai hatiku dan seluruh hidupku selama ini Thy Than!"
"Whaaaat,,,sebegitu puiitusnya dirimu ya sampai kayak gitu seeh?"Sembari menutup tawanya geli.
"Salah siapa lagi yang nuduh gua macam-macam sama kamu?kan gua ga sejahat itu sama kamu!"Kembali duduk dan menatap dirinya.
"Ngapain pake acara duduk-duduk segala disitu.Aku kan mau mandi dulu.Pergi sana"Usirnya kesal.
"Gua ga boleh lihat kamu gitu,,,yaaah sayang banget dong!"Lemas mendengar gertakan Thy Than yang telah membuatnya segera beranjak berdiri serta mengangkat kedua tangannya.
"Ya enggalah Syaaa,,,emangnya aku istrimu,bikin bete aja!"Segera turun dan masuk kedalam kamar mandi.
Mendengar kalimat itu,Thy Than membuka pintu kamar mandi seraya menjawab teriakannya.
"Udah masak aku,,tinggal kamu nungguin aku aja ya.Aku bentar aja mandinya kok!"Kembali menutup pintu.
"Oke-oke!"Keluar dari kamar Thy Than sambil penasaran, emangnya dia masak apa seeh sampai buat aku kayak gini.
Bergegas menuruni anak tangga,santai menunggu apa yang akan dilihatnya.Sebuah kejutan dimeja makan tentu membuatnya semangat untuk melihat seperti apa masakan teman baiknya tersebut.Mendekati meja makan,membuka tudung saji.Rasanya menarik juga masakan Thy Than,sejak kapan dia bisa masak ya?.
Tentu tak berselang lama,ia keluar dari kamar mandi serta mencari pakaian yang terlihat feminim didepan mama Gina.Kan ga enak juga kalau aku memakai pakaian aga tomboy jelas membuatnya segera berteriak dan memarahi Rasya karena ga bisa membuatnya cantik feminim.Mencari pakaian pas dan blus berwarna hijau tua serta celana katun panjang dengan tampilan berwarna hitam.Menata wajahnya dengan make up riasan natural tetapi tetap bisa dilihat sebagia perempuan anggun serta mempesona seperti keinginan Rasya.
"Semoga saja dia ga complain kalau aku bergaya seperti ini!"Berharap ada etikad baik dari Teman baiknya untuk memberinya pujian tanpa harus ganti baju lagi.
"Aku kuncir atau gimana ya?diurai jelek kali ya?"Mikir beberapa saat,lalu ia segera menguncirnya.
Dari bawah udah ada panggilan pertama untuk seorang perempuan yang ingin segera lepas dari kamarnya.Cukup lama juga ia dandan sampai bingung sendiri.
"Thy Thaaannn,,,buruan.Kita harus kerumah lho,kerjaanku banyak."Panggilnya.
Menoleh dengan wajah panik.
"Udah kumat lagi dia,!"Sambil menjawabnya.
"Iyaaa,,,bentar dong.Aku lagi dandan lhooo!"Jawabnya ga kalah melengkingnya dari Rasya.
"Huuuh,,,dasar kalau udah dandan kayak mau kekondangan aja.Padahal cuman ketemu mama Gina aja lho,repotnya minta ampun deh dia.Ckckckckck."Menggelengkan kepalanya.
Huuuh emang kalau udah sama Rasya tuh apa-apa jadi serba salah deh kalau kayak gini.Bergegas mengambil tas miliknya dan saat sampai depan pintu,inget ada yang ketinggalan juga.
"Astaga,,,hapeku!"Sambil menepuk keningnya lalu berbalik mengambilnya.
Dimeja makan Rasya pun menunggu dengan mencicipi beberapa makanan yang akan ia nikmati nantinya,juga yang masak ga muncul-muncul lagi.Ketiduran kali."Nunggu lama-lama jadi lapar dan segera cicipin aja deh!"
Mengambil makanan dan mencobanya dengan karakter seorang chef yang menikmati dengan waktu yang semakin dekat dengan datangnya langkah Thy Than menuruni anak tangga dan melihat Teman baiknya tengah menikmati makanannya.
"Haiiii.,,,gimana?enak kan!"Sambil mengejutkan Rasya yang tengah asyik makan sampai ia terperanjat mendongak keatas.
"Kebiasaan,bikin jantungku lemah aja,huuuh!"Sambil mancungin bibirnya.
"Hehhehehe ,,,,gemeees bibirnyaaaa!"Langsung aja ditangkaplah mancungnya bibir Rasya.
Setelah puas memainkan bibir Rasya,Thy Than pun segera duduk dikursi paling vocal dengan menompangkan tangan serta mengumbar senyum untuknya.
"Udah boleh makan kan?"Tanya balik seraya mengangkat kedua alisnya.
"Boleeh dong,sini aku siapin.Biar kamu ga bingung deh makannya yaaah!"Beranjak berdiri lagi dan menata makanan dipiring dan menyajikannya didepan Rasya.
"Special neeh,,semua ada dipiring kamu.Habisin ya,genduuut!"Sambil mencubit pipinya.
Wajahnya ampe blepotan karena gemesnya Thy Than sama Rasya sampai tangannya segera menolaknya.
"Huusss,,,,gemes banget seeh sama pipiku?"
"Seneng ya,lihat aku berisi?"Tanya balik sambil mendekatkan kewajah Thy Than.
Ia pun tak menampik,bahwa Rasya itu memang berisi dan selalu saja membuatnya nyaman dan hangat.Mengangguk serta mendekap tangannya dan mengelus erat sambil menatapnya penuh arti.
"Kayak istriku aja kamu ya,mainan apa aja yang bikin aku bingung!"Ujarnya menggelengkan kepala.
"Hehehehe,,,udah sayang-sayangnya?"Tanya Rasya lagi.
Perlahan melepaskan dekapannya,dan kembali kesal lagi enak-enaknya dekap tangan Rasya,malahan dia ga suka lagi sama aku.
"Kok gitu seeh kamu.Ga suka kalau tanganmu aku elus-elus dipipiku?"Manyun deh dihadapannya.
"Bukannya ga mau,,,akunyaaa lapaaaarr Thaaan!"Sambutnya dengan kesal pula.
"Oooo,,,lapar,yuk makan!"Ajaknya semangat.
Ketika aku menatap Rasya itu ada yang aneh dalam kehidupan kita,seakan aku tuh sebagai seorang yang lebih menginginkan dia sebagai orang baik-baik dan memberikan selalu kenyamana yang telah membuatku jadi lebih berarti.Dia ikhlas banget sama aku,dekat sama aku sampai aku aja ga tahu dia udah punya pacar atau belum?jadi penasaran deh.
"Syaaa,,,kamu udah punya pacar?"Pertanyaan itu membuat Rasya terhenti,mendongak menatapnya dengan wajah mematung.
"Haaah,,,kamu nanya apa?"Tanya balik.
"Kamu udah punya pacar apa belum?kalau udah,jangan sering-sering nginep sini.Ntar ceweknya cemburu lagi!"Sembari membuang muka.
"Yang cemburu bukannya kamu Than,hehehheh."Sambli menampol pipinya sampai ia kembali menatap Rasya.
"Aaahhh,,,apaan seeh.Kamu ini?aku ga cemburu kok!biasa aja!"Jawabnya sok santai.
"Hemm,,,masaaak?bibirmu aja berkata seperti itu,tapi hatimu ENGGAAA!"Jawabnya menggoda.
"Apaan seeh?jangan godain aku dong!"
"Kok malahan yang ganjen kamu seeh?bukannya aku!"Rasya pun bingung juga,salah apa bener kalau aku ngomong ini ya?
"Udaaah habisin makannya,ga udah bahas yang mustahil deh!"Lagi ga ingin ada kalimat yang menyinggungnya.
Lagian apa yang buat Rasya tersinggung,dia aja ga punya perasaan yang jelas sama hidupnya,apalagi nanti sama aku.Pastinya dia cari yang lebih dewasa deh biar bisa saling melengkapi.Coba aaah aku tanyain.
"Oooo,,,iya Sya,,,sebenarnya tipe cewek kamu tuh yang kayak gimana seeh?"Tanya balik penasaran banget.
"Eehhmm kayak gimana ya?elu tahu Dian sastro kalau digabung sama Sherina kayak apa!"Mencoba membuat teka-teki bingung untuk Thy Than.
"HAAAAAAAHHHH.,,,,DIAN SASTRO DIGABUNGIN SAMA SHERINA KAYAK APA?ya mana aku tahu!"Heran tebak-tebakan macam apa ini?bikin kepala puyeng.
"Ya kayak kamu,,,jadinya.Gemesin!"Sambil memainkan pipinya beberapa kali.
"Huuuhhh?,,,,Seneng banget megang pipiku ini?"Sambil membenahi pipinya.
"Iyalah gemesin tahu,masih ABG lagi.Heheheh"
"Trus apa cita-cita kamu selanjutnya,kalau belum punya pacar heeemmm.?"Lagi Thy Than membuat penasaran lagi.
"Ada deh,ntar ya aku bisikin.Males kalau sambil makan ntar kamu ga suka lagi.Ada aja yang terbang menyerangku!"
"Engga kok,aku ga sejahat itu."Ujarnya lagi.
"Percaya sama mulut perempuan?habis hidupku segera!"
"Oooooohhhh,gitu ya!"Sambil memberikan serangan dasyat kepada Rasya.
"Heeeh engga gitu ya.Ga usah esmosi deh.Pecah ini nanti perang kita!"Ujar Raysa menenangkan.
"Okeee!"Sambil mengacungkan jempolnya.