Thy Than

Thy Than
Bab.36 Hati yang teramat sayang.



Adam pun pamitan pulang,demi menghangatkan Mega yang tengah sedih dalam hatinya ia mencium tangannya serta memberikan sebuah makna bahwa sahabat tak akan jauh pergi ketika itu sangat ia butuhkan.Sebuah pelukan pun menjadi suasana mengharukan untuknya telah mendapatkan sebuah kedekatan rasa antara sayang bukan tentang cinta.Perlahan langkahnya pun pergi seraya melambaikan tangan,diikuti oleh senyuman itu pergi dalam kesedihan hingga Mega tertunduk terisak oleh moment tersebut.


"Kamu harus kuat ya."Mendekap kembali pipinya.


Ia mengangguk dan berharap ini bukan sebuah pertemuan tekahirnya bersama Adam.Tetapi awal semangatku untuk mendapatkan siapa wanita terindah dalam hatinya saat ini.


"Kamu hati-hati,ingat jangan cerita dulu sama Thy Than ya.Aku ga mau kalau dia sedih karena satu hal ini.Biarkan dia bahagia bersama Ganindra!"


"Padahal kamu sayang banget sama dia kan!"Menatap serta mengangkat keningnya.


Mengangguk benar,"Iya tapi karena waktu yang ga bisa aku prediksi.Aku harus membuat sahabatku bahagia.Ga perduli dengan cara apa aku harus bisa!"


"Kamu istirahat ya,maaf udah datang dan nganggu kamu.Lekas sembuh dan kembali sekolah oke!"Pintanya lagi berharap.


Ia mengangguk dan menyentuh kembali tangan Adam hingga perlahan melepaskan kembali melihat dirinya telah menghilang dari pandangannya.Seakan Ia kembali bersedih ketika harus melepas apa yang telah lama ia inginkan dalam hidup,bahagia bersama Ganindra bahkan telah dekat kembali dengan Thy Than.Tapi apa daya melihat hidupku yang tak lama lagi,aku berharap bisa merasakan kebahagiaan walau sebentar.


Pamit kepada ibu Mega,Adam pun tak bisa menyembunyikan banyak hal dalam hidupnya setelah melihat sebuah kenyataan seorang sahabatnya tengah berjuang untuk hidupnya walau dirasakan tak akan lama lagi.Menaiki motor dan memakai helem,ia masih belum percaya sepenuhnya kenapa bisa seperti itu.Rasanya gua harus pulang menenangkan diri dan bisa menenangkan sejenak nantinya bertanya tentang Mega kepada Ganindra.


"Gua harus tanya sama Indra,kenapa bisa seeh dia menyembunyikan masalah seberat ini sampai gua aja ga tahu.Hebat bener dia!"Seraya tersungging membayangkan itu semua.


Tak begitu lama Adam pun sampai dirumahnya masuk kedalam garasi,rasanya sepi banget kemana neeh penghuni rumah kok ga ada yang nyempil-nyempil gitu deh.Emangnya pada kemana seeh, perlahan turun dari motor dan masih melihat situasinya berjalan masuk kedalam serta mendekati pintunya ga ada orang deh pada kemana ya.Membuka perlahan melangkah masuk menuju ruang tengah serta menemukan sebuah pesan dimeja,sebuah kertas menunjukan pesan untuknya.


"Apa ini?"Menatap serta memahami dengan teliti.


"Adam,ayah sama ibu keluar kota ya.Ada urusan mendadak ya.Kamu harus kuat sendirian oke.Nanti ada yang datang menemani kamu.Santai aja nak ya,,,byeee.Oleh-oleh udah ayah siapkan nanti.Salam sehat dan kuat buat kamu.


Ayah& ibumu "


"


"Haduuuh,,,pertanda buruk ini buat gua.Sendiri tapi ada yang menemani.Siapa ya?"Garuk-garuk kepala,gak mungkin juga itu penampakan.


Bebas seeh tapi sebebas apa kalau gua sendirian bisa-bisa ga ngapa-ngapain kan gua masih butuh pembantu ini malahan ikutan juga.Ribet amat hidup gua kali ini,berjalan menuju kamar belum sampai melangkah menuju anak tangga pertama.Tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuatnya terkejut serta menoleh seraya menyupitkan matanya.


"Siapa ya?"Dahinya berkerut menandakan kebingungan atas siapa tengah mendatangi rumahnya.


Suara ketukan pintu itu beberapa kali membuat Adam segera untuk membukanya,ada rasa curiga seeh tapi gimana lagi kalau tidak dibuka pasti akan terus mengetuk,juga kenapa ga manggil ya?Ia masih penasaran seraya mendekati jendela dan mengintip disela-sela tirai jendela.


"Permisi,,,mas Adam.Apa ada orang!"Panggilnya beberapa kali,seraya bingung dimana yang punya rumah ini.


"Halloooo,ada orangkah!"Lanjutnya kebingungan.


Menunggu dengan sabar,pasti dia belum pulang,berbalik arah melihat keluar memastikan ada orang yang datang untuk menolongnya.Tapi tetap saja Dia menunggu karena sebuah pesan dan pekerjaan.Tatapan Adam memang unik juga menarik saat melihat sosok perempuan yang hampir mirip sebaya dengannya cantik berambut pendek dan memakai kemeja pastel serta celana panjang jeans dengan tambahan highheels cantik,tapi lebih herannya dia membawa sebuah tas jinjing yang dipastikan adalah berisikan pakaian.


Gimana ya,mikir panjang tapi setelah ingat dengan sebuah pesan yang sempat ia baca tentu ini adalah orang yang akan menemaninya.Kenapa harus mikir panjang lagi kalau memang untuk menemani gua.Seketika ia membuka pintu dengan tergesa-gesa sampai membuat sang perempuan itu kaget menoleh dan senyum-senyum ga nyangka ada orang didalam.


"Eeehgh,,,mba.Siapa ya!"Tanya Adam bingung,melihat dari atas sampai bawah.


Tiba-tiba sang perempuan itu mengulurkan tangan serta memperkenalkan dirinya sebagai teman baru dirumah ini.Teman baru,bukannya pembantu gua tapi aneh aneh banget lho.


"Perkenalkan saya Anindya,bisa dipanggil Anin atau panggil nama lengkap saya juga bisa kok!"Sambil mengulurkan tangan.


"Ooooh,Anindya.Suruhan ayah untuk kerja disini?"Tanya Adam masih bingung dan ga percaya,bisa-bisanya ayah membuat gua berimajinasi tentang perempuan secantik ini berada dirumah ini.Apa ga salah.


Ia mengangguk dan senyum itu membuatnya tak bisa berkata lagi selain meraih dan membawakan tas jinjingnya yang terasa berat.


"Eeeh,mas.Jangan berat lho,saya aja yang bawa!"Tahan Anindya dengan manis menyentuh tangan Adam.


Wiiiih ada drama sekejab yang ga bisa ditolerir sama Adam,ini beneran pembantu atau sekedar magang doang ya.Kok cantiknya ga ketulungan,pakaiannya juga mempesona seorang perempuan masa kini.


"Ga pa-pa mba,ntar capek gimana!"Candanya dengan tatapan serius tapi buat sang perempuan menahan tawanya.


"Lho kok ketawa?"Tanya lagi sambil menenteng tasnya.


"Ga pa-pa seeh mas."Jawabnya santai pula.


Mengajaknya masuk kedalam serta menyuruhnya untuk duduk santai diruang tengah dan salah tingkah juga Adam melihat sopan dan santunnya perempuan tersebut memberikan jawaban setiap obrolan diantara mereka.


"Sebenarnya,mba ini siapa ya?kok aneh gitu!"Tanya Adam terus menatap sendunya hati yang mulai memikatnya.


Tersenyum seraya menyilakan kakinya,ia menjawab ketidak tahuan seorang Adam.


"Mba datang kesini sebagai teman baru kamu.Yaaa sejak ayah kamu meminta mba datang kesini untuk menemani kamu yang katanya sendirian dan ga bisa lepas dari pembantu ya.Manja sekali seeh!"Candanya geli.


"Ya gimana lagi kan Gua masih sekolah mba,jadi ya masihlah butuh seorang pembantu.Apalagi kayak gini sendirian!"Lanjutnya kesal.


"Ga pa-pa kok,becanda.Mba bisa kan mulai kerja sekarang?"Tanya Anindya dengan semangatnya.


"Mba ga istirahat gitu?kayaknya capek deh perjalanan jauh lho!"Lanjut Adam heran.


"Engga capek,udah biasa kok.Santai aja!"Siap untuk mengangkat tas jinjingnya.


"Waduuuh kerja keras juga ya heheheh!"Lanjutnya terkekeh.


"Iya dong,nanti biar kamu ga kecewa sama mba.Datang kesini malah ga bantuin ngurus rumah!"Lanjutnya beranjak berdiri.


"Mari mba saya antar kekamar yang lain!"Ajaknya berjalan menuju kamar kosong yang ada diujung belakang.


Anindya pun mengikuti langkah Adam menuju kamar yang telah ditujukan olehnya,santai juga ya dia.Tapi ga masalah dia juga ga tahu kalau aku siapanya hehehe.Salah sendiri ga nanya jadinya ya dianggap pembantu heheheh mas Irwan memang lucu juga ga bilang-bilang yang datang siapa juga.


Sampai dikamar,ia membukakan untuk sang pembantu barunya tersebut.Dengan wajah serius ga yakin,apa bener ya dia pembantu yang datang dengan beda banget lho dari penampilan dan segala bentuknya bikin aku kikuk deh.Semoga aja benar dia pembantu milenial bukan pembantu yang menyusup jadi agen mata-mata keluarga gua.


"Ini mba kamarnya,maaf ya kecil."Lanjut Adam mempersilahkan untuk menikmati kamarnya.


"Makasih ya,udah ngantar mba.Kamu mandi dulu sana bauuu.Ntar habis ini mba masakin,mau dimasakin apa?"Tawarnya sebelum Adam pergi.


"Apa ya yang enak.Apa aja deh mba kayaknya apa yang dimasakin sama mba enak deh."Lanjutnya semangat.


"Ya udah mandi sana!"Tatapnya membuat Adam bingung dan aneh juga.Seneng banget ada seger-segernya bila lihat mba Anindya neeh.


Berbalik semangat untuk mandi dan merasakan hatinya tengah berbunga-bunga merasakan kejutan datang dengan sempurna.Ga ada pembantu malahan ada pengganti seseorang yang menggoda.Gimana ga salting gua.


Huuuh dengan lelahnya Anindya mencoba membereskan perlengkapannya ditas jinjing dan menata dilemarinya.Gini deh belum ngasih tahu identitasku jadi pembantu beneran padahal aku kan sepupu jauhnya Adam.Jadi dia sama aku sama gilanya dong,tapi keren juga Adam udah gede menarik juga untuk dipandang.


"Sekarang udah beres,tinggal siap-siap buat makan malam untuk Adam hehehehe!"Lanjutnya beranjak keluar kamar dan telah berganti baju lebih santai dan siap membuat kesibukan didapur.


Keluar dari kamar mandi,tatapan Adam beda sembari masih mikir beneran itu pembantu atau bukan ya.Aduuuh mikir itu seeh.Dari umurnya seeh ga beda jauh,tapi lebih dewasa sebenarnya siapa seeh apa gua telpon ayah ya biar ga galau dan salah tempat lagi.


"Lama-lama gua mikir,ga ganti baju neeh!"Bingung nyari baju yang sesuai,aah ambil aja pokoknya dapat.Baju oblong berwarna gelap dan celana pendek merapikan dengan santai,menyisir rambutnya hingga terlihat ketampanan lebih sensual.


Menuruni anak tangga wajah serius melihat dimana mba tadi kok ga kelihatan,eeh malahan udah sibuk didapur.Sambil menyapa dan duduk santai dimeja set dia masih bisa membuat senyum kembali ceria.


"Haiii,mba.Mau dibantuin?"Tawar Adam seraya mengambil buah dimeja.Memainkan serta mengelap dan memakannya.


"Ga usah deh,mba bikinin soup buntut ya.Katanya kamu suka banget sama sop buntut,tapi ini special mba masakin dengan resep berbeda.Ga pa-pa kan?"Berbalik seraya masih memotong sayuran.


"Ga masalah mba,yang penting rasanya udah beda.Tapi kalau kenikmatan itu sungguh dirasakan dengan mantap.Pengen segera coba deh.Enak kali ya."Lanjut Adam semangat.


"Tunggu ya!"Sambil memasukkan sayuran yang sudah siap bersama kaldu lainnya.


"Emangnya mba berapa lama bantuin disini?"Tanya Adam penasaran.


"Ya sampai ayahmu datang dan mengatakan tugas mba udah selesai.Gimana?betah kan menunggu lama!"Tanya balik.


"Ya betahlah mba,mba tuh bagaikan bidadari yang menemaniku saat aku tengah sendiri lho!"Lanjutnya sedikit berpujangga.


"Alaaah,kamu tuh.Mana bisa kayak gitu katanya pak Irwan kamu tuh paling suka ngegame kan.Masternya lagi iya kan!"Lanjutnya membuat Adam kaget.


"Kok bisa ya,ayah jelasin kalau aku bisa main game.Kan itu rahasia mba!"


"Kalau pak Irwan ga bakalan rahasia-rahasiaan dari mba.Kan kamu yang mba rawat saat ini."Sambil sibuk dengan santai dan cekatan hingga beberapa menit pun masakan udah jadi.


Berbalik dan menyiapkan semuanya,membawanya kemeja makan.Sontak Adam yang bingung dari tadi segera membuyarkan fikirannya dan membantunya menyajikan dimeja makan."Ya ampun mba,ga bilang deh minta bantuan dari gua pasti deh gua bantuin!"


Wajah sumringah Anindya terpancar saat perhatian itu datang dan membantunya.Rasanya senang juga bisa saling membantu untuk Adam."Ga usah Dam,kamu duduk aja!"Lanjut Anindya dengan wajah seriusnya.


"Mba,kan harus bantu juga gua.Ntar ga makan lagi kalau ga bantuin mba.Bahaya!"Candanya khas.


"Ooooh,gitu!"Jawabnya sambil menata dimeja makan.


Aroma masakan yang tak tertandingi dengan sensasi berbeda dari pembantu lamanya.Membuatnya semangat untuk menikmati suasana makan malam bersama seorang wanita yang menurutnya menarik untuk berbagi malam ini.


"Makanan sudah siaaaap!"Sambil tersenyum merentangkan kedua tangannya.


"Heeemmn,,,,enak banget sepertinya!"Semangat banget untuk mencicipinya.


"Mau makan sekarang atau nanti!"Kembali sebuah tawaran menarik datang menggoda.


Mikir cukup lama,tapi saat yang tepat adalah sekarang saja.Lebih cepat akan lebih enak bersama menikmatinya.


"Sekarang aja deh mba,udah laper sama aromanya menggoda banget deh!"Lanjut Adam berharap.


"Penasaran sama masakan mba ya?"Seraya menahan tawanya.


Mengangguk lagi,itu jawaban pas untuk Adam bisa merasakan masakan buatan sang pembantu barunya.


"Sabar,mau yang mana?"Tanya Anindya ketika membuatkan sebuah pilihan untuk Adam.


"Apa aja deh mba.Kan yang masak mba,jadi ya mau aja!" Lanjutnya semangat.


Beneran kali ini gua mendapatkan mimpi yang tak mungkin bisa aku sadari lagi.Ternyata masakan khas Mba Anindya sungguh diluar dugaan.Sangat enak sampai mau nambah terus.Sampai lupa sama cerita tentang kesedihan Mega dan beralih dalam kesenangan mengundang selera.


"Mba emangnya yakin mau tinggal disini?"Tanya Adam makin penasaran.


"Yakin dong,demi kamu apa seeh yang engga!"Lanjutnya membuat Adam salah tingkah.


"Beneran?ga rugi gitu tinggal sama gua!"Pertanyaan itu menyeruak langsung ditanggapi dengan lucu.


"Ngapain rugi,kalaupun rugi kan nanti mba tinggal hitung-hitung mana yang merugikan mana yang menguntungkan.Ya kan?"Timpalnya manis.


Senyum manis seraya menghela nafas tak percaya sama apa yang ada didepan mata.Cantik,manis,murah senyum dan paket lengkap.Tapi ini harus gua tanyakan sama bokap neeh beneran dia pembantu atau penyusup yang tiba-tiba menyusup dan membuat keadaan nantinya jadi lebih aneh banget gitu.


"Mba berapa lama kenal sama bokap sama nyokap gua?sejak dari mananya?"


"Kamu pasti penasaran kan?kedekatan apa yang terjadi antara aku dan pak Irwan!"Kembali membuatnya bingung.


"Ya bener,penasaran banget.Sejauh ini ga ada tuh obrolan akan datang seorang teman dalam hidupku seperti ini.Paket lengkap dan mantap!"Sambil meringis.


"Yaaah,nanti kamu juga tahu akhirnya gimana!"Sambil memainkan matanya.


Uuuhhh,,,beneran gemesin kakak satu ini.Kenapa juga baru kenal ga dari dulu kan lebih akrab dan gua bisa membuktikan ada cinta yang datang tapi pasti akan terus membawa gua dalam rasa penasaran kayak gini.Ckckckckck.


"Oke kalau itu membuat mba senang,gua bakalan nunggu tuh kapan tanggal mainnya kita berdua ya heheheheh!"Ujarnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Suasana rumah Adam ga ada sepi-sepinya saat ini,di bisa bercanda dan berbagi cerita tentang segala hal.Wanita yang ceria serta membuat gua jadi gimana gitu kalau lama-lama bisa dekat dengan sosok Anindya.Dari namanya saja gua ga habis fikir sejauh itu aku membayangkan.