
Setelah mendapatkan ijin untuk bertemu dengan pria yang selama ini berada dalam bahasan hatinya.Tak elak itu memberikan ruang untuk Joana tersenyum senang dan reflek merangkul Tuan muda.Tawa dan bahagia pun membuat Rey kembali menyentuh pinggulnya dan berkata.
"Kamu bahagia ya?"
Ia mengangguk dengan senang.
"Oke,itu adalah waktu yang aku berikan.Sekarang kita sarapan,aku ingin nanti semua pekerjaan yang kamu kerjakan selesai dan kamu bisa bebas oke!"Menyolek hidungnya.
"Baik Tuan muda!"Jawabnya kegirangan.
Satu meja dengan pesona bahagia,ada yang lain dalam diri Joana.Apa dia menyukai wanita tersebut sampai harus bersikap cemburu buta bahkan kalau melepaskan dia dengan wanita lain,apa dia kuat semenit tidak bertemu dengannya.Sungguh itu hal sulit akan membuatnya berfikir dua kali untuk mendapatkan perhatiannya lagi.
Lain halnya dengan Thy Than,dimeja makan dia pun bersiap untuk berangkat sekolah.Karen kursi sang ayah kosong,mau gimana lagi kalau aku yang menempati.Sungguh pilihan sulit diantara banyak orang menatapnya dengan sedih,buat apa aku juga bersedih kalau ayah sudah bahagia disana.Tatapan dan keramahannya memang belum sirna saat ketika ia tengah dirundung masalah keluarganya.Kali ini hatinya lega bisa lepas dari apapun yang dia bayangkan sesulit ini.
"Ada Om Rey yang mau membangun bisnis ayah lagi.Dia pasti berutang budi dengan ayah sampai harus berjuang seperti itu.Apa dia juga menginginkan aku juga jadi bagian bisnis ayahku?entahlah."Batinnya ketika bersiap untuk menyantap sarapan pagi.
"Bi,pak Ben udah berangkat belum?"Tanya Thy Than kepada salah satu pembantunya.
"Belum non,katanya habis sekitar jam 2 siang mau berangkat setelah menjemput non Thy Than!"Ujarnya dengan memberikan senyuman.
"Jadi siapa yang ngantar aku sekolah,tetep pak Ben kan!"Kembali bertanya.
"Iya non!"Jawabnya singkat.
Tapi dimana pak Ben ya,kok dari tadi aku tidak melihatnya. Apa dia lagi sibuk ya diruangannya.Entahlah,sembari melihat jam tangan waktu tinggal beberapa menit untuk berangkat sekolah dan semuanya sudah selesai.Ketika Thy Than beranjak berdiri meraih tas sekolahnya,tak berselang lama Pak Ben datang dengan sigap mengawalnya keluar dari rumah
"Lho pak Ben dari mana?kok ga kelihatan dari tadi!"Tanya Thy Than sembari membalikkan badan ketika ia mendengar langkah terburu-buru seorang pria dari belakang.
"Ini non,saya menyiapkan barang-barang saya untuk dibawa pulang.Jadi biar ga repot nantinya."Jawabnya berada disamping Thy Than.
"Oke deh,ayo pak berangkat!"Ajaknya bergegas berjalan keluar diikuti olehnya dengan mengangguk serta mengikutinya dari belakang.
Sebuah mobil BMW X3 berwarna hitam metalik tengah terparkir untuk siap mengantarkan Thy Than berangkat sekolah.Memang ada lagi mobil sang ayah,tetapi ia hanya tersenyum menatap sejenak sebuah mobil Mercedes C-Class berwarna hitam pula tengah berada didalam garasi mobilnya.Seraya masuk kedalam ia pun berkata kepada pak Ben.
"Pak Ben,beneran nanti siang mau pulang keluar kota?"Pertanyaan itu membuat Pak Ben ga enak seraya menoleh dia berkata jujur.
"I-iya non.Ga pa-pa kan,saya ada urusan mendadak keluarga saya lagi butuh saya untuk urusan yang sama pentingnya juga sama non Thy Than."Mengumbar senyumnya.
"Ya udah deh,boleh tapi jangan lama-lama ya.Biasanya kan ayah ngasih ijin seminggu,kalau aku seeh tambah seminggu lagi deh biar puas aja deket sama keluarga,heheheh!"Ujarnya memberikan kelonggaran untuknya.
"Makasih non atas kelonggarannya.Nanti saya kabarin kalau udah sampai sana ya!"Tersenyum bahagia.
"Iya pak Ben!"Jawabnya ramah.
Perjalanan kali ini memulai dengan sebuah senyuman ketika menatap setiap jalanan kembali disetiap cerita hidupku.Entah sampai kapan kesendirian dan kehilangan sosok Ayah tersebut telah membuatnya banyak angan menemaninya lagi.
Gedung sekolah kembali ia tapaki dengan penuh harapan,bahwa aku akan bisa kembali dalam situasi seperti biasa dimana aku mengenal orang-orang baik kembali.Langkahku memang cukup santai melangkah ketika banyak yang menyapa dan perhatian,mungkin aku tengah berduka pasti banyak yang mendukungku sepertinya begitu.
"Heiiii,udah masuk sekolah!"Sapa Ganindra yang tiba-tiba menghampirinya dan berjalan beriringan.
Menoleh melihat sosok teman yang perhatian juga sama aku,ya Ganindra adalah seorang pebasket dan lebih condong sebagai bagian team yang relevan.wajah yang dewasa ceria dan atletis,kadang aku juga seneng seeh kalau sama dia.Perhatian dan selalu membuatku repot soal cinta,hahahah sembari menutup mulutku sendiri.
"Udah dong,kamu gimana sehat kan?"Pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh Thy Than.
"Ya sehatlah,gimana ga sedih lagi kan!"Sambil mendekap kedua bahunya sesekali memijatnya.
"Oke deh,kamu harus kuat dan hebat.Kalau kamu kesepian kan bisa nelpon gua ya!"Sambil memainkan tangannya.
"Iyaaa,repot banget seeh!"Sambil mendorongnya dengan candanya.
Banyak yang suka dengan kedekatan yang dibuat oleh Thy Than dan Ganindra,kecocokan itu perlahan membuat hubungan keduanya memang dekat dan solid.Tentunya kalau ada yang mengganggunya juga siapa yang maju,pasti dong teman baiknya.Berjalan bersama menuju lorong sekolah yang ga terlalu rame juga suasana masih pagi.Jadi kesempatan buat mereka untuk mengobrol lebih lama juga.
"Trus sejak kamu berada dirumah sakit,siapa yang nemenin kamu?"Pertanyaan itu membuat Thy Than memukul bahunya Indra yang sama sekali tidak berada disampingnya saat itu.
"Kamu tuh ya!"Buuuukkkk,,,pukulan itu membuatnya kesakitan dan ga bisa dibayangkan kekesalannya pun tumpah saat itu juga.
"Aduuuuh,,,sakit Than!"Seakan terpental agak jauh merasakan sakitnya akibat pukulan tangannya.
"Kenapa ga sekali-kali jenguk aku dan menemaniku.Kan aku bisa tenang sedikit ada kamu.Malahan ga muncul batang hidungmu sedikitpun!"
"Ya maaflah,kan kamu ga telpon aku.Ga bikin status jadi mana aku tahu kalau kamu tengah dirumah sakit.Siapa yang salah!"Mematahkan kekesalannya.
"Tapi setidaknya kamu ngabarin kek sama aku.Kamu dimana biar aku bisa meresponnya."
Keduanya duduk santai sambil menunggu bell sekolah untuk masuk,tak jauh dari pandangan datang seorang perempuan lagi bernama Mega.Cewek yang merupakan saingan Thy Than untuk mendekati Ganindra,sontak hal tersebut membuatnya kesal dan melihat itu segera ia menghampiri mereka dan ikutan nimbrung,tentunya itu membuat keuntungan buat seorang lelaki seperti dia.
"Haaaah,,,Ganindra.Sama Thy Than,kok udah masuk seeh dia!"Melangkah dengan cepat untuk segera menghampiri sang dua temannya tersebut.
Lanjut masih seru untuk mengobrol dan tak menyadari kedatangan salah satu pesaingnya."Tapi kan siapa tadi yang menyapa kamu duluan sekarang.Masih tetep aku kan!"Kembali mengingatkan.
Menyilakan rambutnya seraya menoleh memberikan senyuman pasti."Iya juga seeh!"
Tak disangka Mega sudah berdiri bersedekap melihat keromantisan mereka berdua sungguh membuatnya terbakar api cemburu."GANINDRAAAA,,,JAHAT BANGET SEEG KAMU!"
Keduanya mendongak dan kaget bukan main setelah obrolan itu terputus karena kehadiran orang ketiga.
"Tapi aku masih kokkk,,,,,!"Langsung mendongak.
"ASTAGAAAA.MEGA!"Terpental menabrak tembok,tak disangka saingannya datang juga.
"Eeehh,Mega pa kabar!"Sapanya hangat.
"Kamu gimana kabarnya!"Langsung duduk disamping Ganindra.
"Baik kok!"Jawabnya sambil mengulurkan genggaman tangan dibalas pula oleh Mega.
"Aku turut berbela sungkawa ya.Maaf ga bisa dateng!"Sambil menyentuh Tangan Thy Than penuh kesedihan.
Ganindra kali ini ga bisa bergerak diantara dua perempuan tengah mengapitnya.Sungguh lelaki beruntung dipagi hari setelah bersama Thy Than,kali ini bisa deket sama Mega.
Kedua perempuan ini memiki daya tarik yang membuat setiap lelaki siap menjadi seorang yang setia untuknya.
"Tapi kamu ga boleh sedih lama-lama,kalau butuh teman curhat aku aja.Jangan dia!"Sambil membisikkan,juga kedengeran sama Ganindra.
"Heeeh,aku denger lho!"Ujarnya kesal sambil menunjuk kearah wajahnya.
Beranjak untuk meraih tas kerjanya,Rey pun segera berpamitan kepada Joana yang penuh kasmaran menjawab penuh intrik yang menyenangkan untuk dirinya.
"Aku berangkat ya"Lagi Rey mencium keningnya.
Rasanya ini adalah sebuah sayang dari Tuan muda untuk asistannya.Bergegas untuk melangkah pergi serta menutup pintunya.Aneh juga kalau aku kerja sendirian,beberapa hari ini sama Joana sekarang mandiri lagi heheheheh.Sama halnya Asistan pribadinya,malahan dia lebih berada dirumah mengurusi semuanya dengan baik dan mencoba proffesional untuk pekerjaan ini.
"Apa aku bikin janji dulu sama Yoshi ya.Supaya dia ada waktu untuk jalan sama aku!"Mengambil ponselnya segera menghubunginya.
Suara ponsel milik Yoshi pun berdering,Sesaat ia tengah mandi dan merasakan segarnya pagi bersama seorang perempuan,keduanya saling bercumbu dalam guyuran Shower yang tengah membasahi setiap lekuk tubuh mereka.
Cinta begitu dalam dekapam bahkan permainan tubuh Yoshi sangat indah membuat sang wanita menikmati bahkan merintih nikmat tak berdaya oleh genjotannya,berkali-kali wajah nakalnya terus menatap serta mengimbangi setiap goyangan wanita tersebut,keduanya saling menatap penuh keteduhan bahwa kenikmatan cinta mereka dipagi hari begitu menyegarkan.Beberapa kali goyangan cinta penuh hasrat dimuntahkan oleh Yoshi dengan ******* dan rintihan yang diikuti oleh wanita tersebut hingga keduanya lemas tak berdaya.Keduanya saling tersenyum hingga beberapa kali berciuman nikmat,tak ingin melepaskanya.
"Haaah,kemana ya Yoshi?kok ga diangkat seeh.Apa dia sibuk ya!"Kembali berfikir lebih serius dan tidak ingin beranggapan lebih jauh lagi.
"Coba lagi deh!"Kembali menghubungi.
Sungguh air shower yang deras dan kenikmatan sejenak dalam bercinta telah mengaburkan segalanya hingga keduanya pun mandi bersama sesekali ia meremas dan memainkan kembali Cintanya hingga membuat Yoshi melupakan segalanya.
"Huuuh,dasar kalau kayak gitu.Nanti aja deh!"Lanjut Joana dengan melanjutkan membersihkan apartemen Tuan muda.
Mobil Rey sampai juga dikantor pusat,dia keluar dari mobil serta memberikan sebuah kunci kepada seorang Vallet parking untuk memarkirkan mobilnya.Langkah Seorang Tuan muda tengah masuk kedalam dan menyapa beberapa orang yang tengah ia lihat.Keren juga kalau Tuan muda datang dengan pesona seorang pangeran telah membuat hati para pemain wanita kepincut olehnya.
Tapi hal tersebut segera dipatahkan oleh Reza Chief executive yang menghampirinya dan ada beberapa pembicaraan yang lebih serius tentang pekerjaannya saat ini."Pagi Tuan muda,apa kabar!"Berjalan beriringan mengikuti langkah Rey.
Menoleh lalu menjawabnya.
"Pagi,Za.Gimana kamu ga begadang kan semalam?apa ada pesta yang menyenangkan saat kamu hadir!"Pertanyaan itu memang diberikan kepada asistannya karena dia tahu siapa Reza,pria yang paling suka berpesta dimana ada pesta disitulah dia berada.
"Heheheheh,Tuan bisa tahu juga ya dengan kegiatanku?"Sapanya geli.
"Siapa yang ga kenal kamu Reza Antara,hemm!"Langkahnya pun terhenti pada lift dan keduanya masuk diikuti oleh beberap orang yang ikut menaiki lantai teratas ruangan kerja mereka.
"Oooh,ya gimana selama dua hari.Acara pemakaman pak Arman berjalan dengan baik kan?"
"Baik,sekarang aku yang harus menjaga perusahaannya dia.Kamu tahu kan siapa anaknya?"Kembali menoleh dan memberikan kejutan selanjutnya.
"Memang siapa?"Pertanyaan itu tepat ketika pintu lift terbuka hingga langkah mereka berpindah kesebuah ruangan dimana Rey berada.
Tak habis fikir itu adalah misteri dari Tuan muda untuk asistannya sampai dia ikutan masuk kedalam ruangan kerjanya kembali.Mencoba untuk membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk kedalam keduanya pun segera mengambil beberapa cerita disofa untuk melanjutkan cerita dari Rey.
"Maksud Tuan siapa?"Menompangkan tangan serta menyandarkan dagunya bingung dengan jawaban selanjutnya.
Bersandar serta menyilakan kakinya serta merentangkan tangan dan menompangkan dipinggiran kursi empuk tersebut.
"Thy Than,seorang perempuan yang masih SMA dan dia sudah ditinggal sama Ayahnya dan menanggung semua kerugian yang sudah ayahnya tinggalkan untuknya!"Jawabnya jelas.
"Jadi perusahaan pak Arman itu beneran bangkrut?"Seraya mengernyitkan kening penasaran.
Sembari mengangguk,itu jawaban sebenarnya.
"Iya betul,dan sekarang.Aku akan mengambil alih semua asetnya dan menyatukan diperusahaan ini.Supaya tidak ada yang diberatkan dalam masalah ini!"Kembali menjelaskan.
"Trus,Tuan mau jual atau perbaiki lagi.Aku rasa perusahaan pak Arman itu masih potensial.Hanya saja waktu itu ada proyek yang sengaja dihilangkan tetapi uangnya tetap masuk.Itu sudah terkoordinir seeh dibeberapa bagian divisi sampai tidak ada yang mengakuinya."
"Naaah,itu kan yang menyebabkan dia tidak tahu dengan mega proyek yang dia kerjakan.Jadi sekarang kita harus menggalinya lagi."Jawabnya lagi.
"Apa kita membutuhkan tanda tangan anaknya mungkin,untuk menyelesakan masalah ini!"Kembali bertanya.
"Rasanya surat kuasa itu mengaitkan pada dua hal yaitu kepada Thy Than dan juga perusahaan atas namaku.Gila kan pak Arman.Dia ingin perusahaannya kembali baik dan bisa bagus dengan campur tanganku.Karena yang berkuasa belum bisa menjalankan tugas ini.Butuh waktu satu tahun itu lama lho!"Rey menjelaskan kembali.
"Trus kalau selama setahun itu belum selesai?"Penasaran juga akhirnya Reza dengan taktik yang belum dia dapatkan.
"Tentu saja kita akan mengangkat CEO baru diperusahaan milik pak Arman.Siapa lagi kalau bukan,,,,!"
Keduanya kompak untuk berujar bersamaan.
"THY THAN!"Sambil memainkan tangannya masing-masing.
Tawa geli keduanya saat nama itu menjadi bursa yang fiktif untuk menyelamatkan perusahaan yang telah dimandatkan kepadanya.Lalu pertanyaan tentang ayahnya Rey apakah mengetahui sebenarnya tentang kuasa itu.
"Oh iya,,apa ayahmu tahu kalau kamu mendapatkan mandat dari Thy Than tentang perusahaan ayahnya tersebut?"
"Belum,sebentar lagi aku akan ketemu dengan Ayah.Apakah dia menyetujui kuasa tersebut dan menyakini bahwa aku sanggup mengatasi ini semua dengan baik!"
"Oke pilihan yang baik,tapi saat ini aku butuh bantuanmu bisa?"Tiba-tiba permintaan itu membuat Rey heran seraya menatap penuh teka-teki.
"Bantuan apa?"
"Jaga Joana,dia wanita yang baik buat kamu.Kalau kamu sekedar menjaga tetapi tidak memberikan perhatian bahkan cinta seperti yang kamu lakukan sama Alexa itu sungguh keterlaluan."Ujarnya memberikan pengarahan.
"Heeeh,mereka dua orang yang berbeda.Tetapi aku lebih suka dengan sikap Joana yang juga perhatian bila aku memberikannya.Tidak seperti Alexa yang semakin tinggi pohon semakin gila buahnya.Hahahahah!"Ujarnya geli.
Menggelengkan kepala,bisa-bisanya dia berkata seperti itu kepadaku.Emangnya itu sangat sulit untuk diungkapkan ya?
"Memang Alexa terlalu sombong ya buatmu sampai kamu mencampakan dia dan tak lagi berhubungan dengannya?"Kembali mengurai cerita sebenarnya.
"Tidak juga,dia bukan wanita yang aku harapkan selama ini.Dia selalu bermain dengan pria yang menurutnya hebat dan bisa ia bayar dengan sesukanya.Seakan dia adalah pemain kelas atas.Sayang aku ga bisa bermain terlalu jauh seperti itu.Sangat berbahaya buatku!"
"Yaaa memang seeh dia memiliki banyak sikap gila terhadap setiap pria yang dia inginkan.Pengumbar nafsu tingkat executive dimana dia mendapatkan itu untuk kesenangannya saja kan!"
"Iya mangkanya aku sama sekali tidak minat dengan dia!"Sergapnya langsung.
"Kalau pun dia menginginkanmu lagi gimana?hanya semalam!"Mencoba menggodanya dengan tatapan nakal ala Reza.
"Sangat membosankan dia,aku malas ketemu sama dia lagi."Seakan udah ga ada perasaan lagi dengan sosok penggoda lelaki seperti dia.
"Mending kita bicarakan yang lain.Kita berada dalam pekerjaan yang sulit kalau kita tidak bisa mendapatkan persetujuan dari Ayah.Beliau adalah komando yang menyebabkan kita akan ketar-ketir mengatasi semuanya."Menjelaskan kembali,tatapan itu sangat dimengerti ketika harus menjadikan semuanya dalam satu masa yang benar-benar yakin tentang itu semua.
Kali ini memang menjadi tugas berat untuk Rey dalam membangun kembali citra perusahaan pak Arman yang tengah kolaps dari kepemimpinannya.Banyak fikiran mulai terkuras saat Dia dan Reza membuat sebuah ide creative untuk menjadikan kembali raksasa dan sukses menjadi bagian dari kesuksesan yang diharapkan seorang pemain bisnis dijenjang penuh tantangan selama ini.
"Apa kamu berharap sukses dengan Thy Than atau Joana?"Pilihan sulit dibuat oleh asistannya lagi.
"Entahlah,aku juga merasakan hal aneh kepada mereka berdua.Dua hal yang membuatku semakin yakin siapa yang akan bertahan lagi dalam pusaran hatiku sendiri Za!"Ucapnya penuh teka-teki pula.