
Langkah Monalisa memang penuh misteri,melangkah dengan santai menuju kamar pribadinya.Tak mungkin bila aku merasakan kehangatan itu hanya sekejab saja.Tuan Morgan sangat menggodaku lain halnya dengan pria-pria yang telah membuatku jatuh hati kenapa bisa dia menjadi lelaki yang bisa membuatku bahagia seperti ini.Lain hanya dengan Morgan dimana ia merasakan kesegaran yang tak terkira dalam setiap hangatnya air dalam guyuran shower telah memberikan sebuah kehangatan dalam setiap tetesan yang menghujam tubuhnya.
Ada sebuah keinginan tengah menyentuh setiap fikirannya untuk berada dalam satu makna bersamanya.Perlahan mendekati pintu,perlahan membukanya.Kembali melangkah dengan tatapan bahwa dirinya tengah menginginkan sesuatu keindahan bersama Tuan tampan seperti dia.Kembali menutup pintu,ia masih berdiri serta menyadarkan tubuhnya penuh harapan semakin mendekatinya.
"Suara gemericik air membuatku ingin menemanimu Tuan!"Tersungging tajam mendekati pintu kamar mandi.
Setelah selesai mengguyur tubuhnya dengan lega,Morgan mematikan kran shower.Merasakan ada sebuah langkah kaki perlahan mendekat segera menoleh dan memastikan akan datang seseorang untuk menyambutnya seketika.Berbalik badan,menyandarkan diri seraya merapikan rambutnya senyum nakal itu perlahan terbuka oleh sebuah tangan seorang wanita tak lain adalah sang penggoda.
Saat ia membuka pintu,terlihat sosok Morgan tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.Senyum nakal itu datang dari Monalisa.Ia mendekati dengan penuh hasrat bahkan kedekatan itu pun tak terelakkan hingga keduanya saling menyatu dan berciuman mesrah.Setiap kecupan bahkan belaiannya tak pernah hilang disetiap ******* bahkan permainan itu semakin dalam hingga membopongnya dalam keheningan malam diranjang.Kisah cinta yang diberikan Morgan sungguh menyentuhnya tak kala kedua tangan sang lelaki telah menyentuh pinggul serta ciuman itu selalu menjelajahi leher jenjangnya dan sesekali gigitan nakal itu membuat wanita itu menggelinjang tak berdaya dalam menyentuh dan merentangkan tangan Monalisa.
Dalam permaian Morgan telah menyentuh hati seorang Monalisa hingga tak bisa menolak keinginan ternakal keduanya dimalam larut hingga ia mendapatkan dekapan serta kecupan kepuasan seorang lelaki bermain cinta bersama kekasih gelapnya.
"Thank's sayang,aku mencintaimu!"Bisik Morgan dengan menggigit telinganya.
Tawa lepas Monalisa membuat hubungan semakin hangat dan tertutup oleh selimut,Seketika berbalik dan tak ingin melepaskan tatapan mata lelaki pujaannya.Mona memeluk seraya membisikkan cerita kesenangannya berada dalam pusaran cinta manisnya.
"Akupun tak menyangka bisa sedekat ini Tuan tampan!"Tersungging mencium dada bidangnya disambut oleh ciuman kening oleh pujaan hatinya.
"Sini dekat lagi!"Pintanya seraya bersandar,menarik selimut dan menutupi tubuh seksi sang wanita.Adakah cerita tentang kedekatan tengah diinginkan olehnya.
"Kenapa?Tuan ga bisa melepaskan aku kan!"Mendongak melihat reaksinya.
"Siapapun tidak akan rela melepaskan wanita seseksi kamu sayang!"Membelai pipinya menjurus kebibirnya sontak Mona pun menggigitnya.
"Aooooo,nakal sekali kamu sayang!"Makin mendekapnya dengan tawa renyah seorang Wanita pujaan.
"Hahahaah,kamu suka kan!"
Keduanya menghela nafas,rasanya tak mungkin kedekatan ini telah menyentuh rasa asing menjadi sebuah pertemuan selain cinta pasti ada hal lain tengah dipertanyakan oleh lelaki seperti Morgan.
"Apa kamu mau mendapatkan tugas dariku hemm?"Kembali memastikan apakah ia suka atau tidak.
"Tugas?tugas apa!"Kembali mempertanyakan kepada Morgan .
"Yaaah,mungkin besok kita bicarakan.Sekarang adalah kita saling menikmati kedekatan ini kan?"Mengernyitkan kening kembali membelai seorang wanita hatinya.
Mengangguk dan kembali menuai sebuah pejaman mata serta menarik lampu dalam kegelapan.Tetapi Joana merasakan kesendirian tanpa satupun dalam dirinya berada tak menentu bahkan memikirkan Rey saat ini tengah melakukan apa,saat ia menatap langit yang gelap disebuah balkon rumah Yoshi,ia datang menghampiri dengan maksud kesendiriannya.
"Kamu kenapa?kita kan sudah makan malam romantis,memangnya apa yang kamu pikirkan saat ini haaah!"Mennyentuh kedua pundak Joana,seketika dia menoleh mengumbar senyum kepadanya.
"Tidak juga,apa yang aku fikirkan saat ini adalah senang bisa bersamamu sampai ga bisa mengatakan hal indah itu.Hanya tertegun melihat sebuah suasana ini!"Mendekap tangan Yoshi.
"Aku kira kamu memikirkan orang lain untuk menjauh dariku."Semakin erat dekapannya.
"Masih jauh fikiranku untuk bisa berbagi cerita dengan orang lain.Kamu adalah sesuatu yang memberikan kehangatan saat ini.Makasih ya,kamu telah repot-repot membuat acara yang semakin membuatku tahu siapa dirimu!"Ujarnya merebahkan kepalanya dibahu Yoshi.
Moment malam terindah untuk setiap insan saat ini adalah berada dalam romantisme cinta tanpa batas.Kedekatan antara dua insan Yoshi dan Joana penuh dengan manipulative yang dibuat oleh keduanya.Mereka berdua masih belum percaya dengan cinta masing-masing sampai harus membuat drama terselubung bersama.
Morgan yang tengah hangat-hangatnya menjalin cinta terdalam bersama Monalisa bagaiakan pasangan tengah dimabuk asmara.Cerita persengkongkolan keduanya akan dimulai untuk mendapatkan sebuah kebenaran apa yang diinginkan oleh lelaki panas itu.Terpejam disetiap dekapan Monalisa,suasana hening membawa mereka dalam mimpi panjang tak kala itu sangat menyejukkan.
Thy Than pun berada dalam bayangan indah siapa seorang lelaki yang telah memberikan kenyamanan saat ini,ia pun merasakan bahagia sebagai seorang sebatang kara ketika dalam kesendiriannya ia masih mendapatkan kasih sayang dari orang lain yang dianggapnya sebagai malaikat terbaik dalam hidupnya.Sayang kali ini ia belum mendapatkan dekapan hangat seorang kekasih.
"Apa aku akan mendapatkan seorang pangeran tampan,apakah berkuda putih atau dia menjemputku diantara dermaga dengan kapal pesiarnya ya,hihihihi.Mimpiku indah banget!"Sambil memeluk bantal guling merasakan senyum-senyum sendiri dialam mimpi.
Ternyata fikiran gelisah dan gundah gulana pun dirasakan oleh Rey ketika dirinya merasakan keheningan itu sendirian.Ia terjaga dan tak bisa tidur dengan nyenyak saat menoleh kearah jendela ketika malam masih menguasai jagat raya dengan sikap dinginnya.Beberapa kali ia tersenyum sinis saat melihat entah dimana sebuah romantisme itu hilang dalam beberapa waktu.
Sendiri memang berat untuk diungkapkan tetapi ia masih kuat saja menjalaninya.Beranjak bangun,melempar selimutnya turun dari ranjang perlahan berjalan keluar membuka pembatas kaca.Apa ada kehangatan yang tersisa saat aku menginginkannya?Jelas itu masih ia harapkan saat mendekati pembatas pagar dan menyentuhnya.
Menghirup hawa dingin pasti itu menyentuh raganya untuk tetap menjaga Joana nan jauh dan tak pulang malam ini.Besok cerita apa yang diberikan olehnya saat tahu kalau Yoshi itu pria yang membosankan.Beda dengan aku yang lebih memberikan warna buat Joana.Apa dia sadar kalau aku ga bisa tidur karena sikapnya lebih memilih dekat dengan pria lain tanpa harus melupakan aku.Ya dia ga boleh secepat itu melupakan siapa aku.Awas nanti ya,ga bakalan aku kasih celah untuk mendiamkan sebuah masalah.
Setelah membayangkan sebuah keheningan tanpa rasa rindu mendalam,tiba-tiba Rey menguap lebar hingga menutupnya dengan kedua tangannya.Menggelengkan kepala,matanya seakan sayu-sayu dalam hembusan angin.Rasanya ga kuat lagi kalau aku berdiri terlalu lama disini lebih baik aku tidur saja.Ingat besok tinggal beberapa jam lagi,saatnya menghempaskan tubuhnya dalam kehangatan seakan melupakan siapa yang terbaik saat ini.
Morning kini semakin bersahabat,tak disangka Thy Than bangun lebih cepat seraya merentangkan kedua tangan dan menyambut mentari yang masih sedikit menampakkan cahaya,ia tersenyum senang berada ditempat baru yang hangat seperti ini.Apa Om Rey udah bangun ya,hihihihi menahan senyumnya.Membayangkan seorang lelaki yang tengah tertidur dengan polosnya tanpa sebuah beban apapun pasti itu seru kalau dilihat.
"Apa aku membangunkan Om Rey atau membuat sarapan dulu ya."Mikir sambil menompangkan tangan.
Sesaat iapun berkata."Ya udahlah aku buat sarapan dulu,kan kasihan nanti saat bangun ga ada makanan."Bergegas turun dari ranjang membasuh mukanya dengan segar.Masih ada waktu untuk memasak setengah jam cukup kali ya.
Mendongak melihat jam dinding masih menunjukkan pukul .05.15,masih pagi pasti keburu kok kalau aku buat sarapan untuk Om Rey.Siap deh,bergegas untuk menyiapkan semuanya didapur,mencari apron yang tengah tergantung rapi segera memakai dan bersiap untuk membuat sarapan pagi.Apa ya?bikin nasi goreng aja deh itu lebih gampang.
Sambil mengingat cara masak bibinya waktu dirumah pribadinya.Untung saja aku melihat dan membantunya,jadi ga manja-manja amat deh kalau kayak gini.Mengambil nasi yang tersimpan dimagic com.Ia keluarkan dan dinginkan sebentar,meracik bumbu yang perlahan ia dapatkan dilaci lemari set.Lengkap juga ya,kalau kayak gini ga usah bikin bumbu yang ribet tinggal nyari campuran seperti kecap,saos dan segala bentuknya.
"Untung aja lengkap,jadi ga ribet-ribet amat heheheh!"Lanjutnya meracik bumbu dan siap untuk menumisnya hingga harum,menghirup aroma sedap dan tentunya ikutan lapar juga jadinya kalau kayak gini.
"Hemmm,,,,sedapnya.Bikin laper aja deh!"Mengambil sendok mencicipi sedikit,merasakan apakah ada yang kurang.
"Hemmm,ada yang kurang ga ya ini!"Terhenti dan mikir sebentar.Kembali ia tambahkan bumbu tentunya lebih pass.
"Naaah,ini baru pas!"Bergaya sok centil.
Kembali ribet saatnya membuat telur ceplok dan menggorengnya dengan aroma khas wangi daun bawang dan menyiapkan dipiring.Semua udah siap tinggal nunggu waktunya mandi heheheh.Setelah mandi,Thy Than pun bersiap untuk memakai pakaian seragam dan menguncir rambutnya.Tampilan natural dengan lipstik berwarna pastel serta make up tipis dan mencoba untuk memakai kacamata kembali dan memasang sebuah poni.
"Astaga kayak boneka aja aku ini kalau model gini ya,Huuuh aneh banget!"Menghela nafas serta bersedekap menompangkan tangan.
Tapi setelah difikir-fikir gimana reaksinya om Rey ya.Apa dia kaget lihat perubahan gaya rambutku,mungkin kali ya coba aja deh biar ada yang beda.Meraih tas sekolahnya berjalan keluar dan tentunya melihat dikamar sebelah belum terbuka,heran lagi kenapa ya om Rey.Berjalan mendekati pintu kamarnya mengetuk beberapa kali.
Tok ,,,tok ,,,tok,,,"Om-om,,,udah pagiiii!"Sapanya seraya mengetuk pintu beberapa kali.
Lagi dia mengetuk dan memasang telinganya dipintu kamar,mana ga ada suara.Masuk aja deh heheheh,membukanya perlahan masuk kedalam.Gelap juga,mencari-cari dimanakah letak saklar lampu meraba-raba dan menemukannya.Kliiiikk,,,Matanya melotot tajam kearah seorang pria yang tengah melakukan push up digelapnya kamar.Seketika terhenti dan mendongak kearah Thy Than yang meringis geli malu-malu gimana gitu.
"Heeeeh,,,Om.Kirain ga ada orang maaf Om!"Meringis menatapnya.
Terhenti,kembali terlentang lalu melakukan **** up beberapa kali serta menjawabnya."Santai aja kali Than,gimana kamu udah siap sekolah atau belum?"
"Udah kok Om,oh ya.Aku udah bikin sarapan pagi lho buat Om,mau ditungguin disini atau aku tunggu dimeja makan?" Memasang wajah manis.
Terhenti mengatur nafasnya"Kamu mau nungguin Om atau gimana?"Tawaran nakal Om-Om membuatnya geli Thy Than.
Tersenyum geli seraya menggelengkan kepala,anak muda banyak gaya.Bisa aja ngebuat sesuatu bikin jadi ngakak.Tapi tidak dengan Thy Than saat menutup pintu,alangkah terpesonanya melihat tubuh seksi nan atletis om Rey sungguh membuatnya gemes ingin dipeluknya.Tapi ga bisa.
"Ya ampu seksi banget seeh Om,pengen banget dipeluk hihihihihi!"Sambil mengepal kedua tangannya penuh riang.
Bagi Rey kayaknya ada yang aneh dibelakang pintu,Ada deh yang belum pergi meninggalkan seutuhnya kamar miliknya.Gimana kalau aku samperin dan buka pintunya pasti dia kaget heheheeh.Beneran rasanya ga bisa secepat itu meningalkan kamar om Rey,dia berasa ga bisa kabur begitu saja dan tak menyadari bahwa sesungguhnya Rey telah membiusnya seketika.
"Aku kerjain baru tahu rasa!"Perlahan mendekati seraya membuka slot pintu.
Saat menariknya,terasa beratnya.Benar masih ada orang didepan pintu,tersungging segera menariknya.KLIIIIKKKK,,,
Wuuussss,,,,sekejab Thy Than terkejut tak berdaya menahan tubuhnya sampai terhempas kebelakang.
Suara teriakan Thy Than membuatnya tak bisa lagi menjaga keseimbangan dan jatuh deh dalam dekapan tangan Rey.
"AAAAAAA,,,,,"Terhempas seraya menoleh ketakutan,dan pasrah untuk kesekian kalinya merasakan jatuh cinta yang hanya sebuah khayalan saja.
"Astagaaa,!"Seketika Rey menangkap tubuh Thy Than yang hampir jatuh ga ketulungan.
BUUUUKKK,,,sontak Rey cekatan menangkap tubuh Thy Than yang hampir jatuh tak berdaya.
Tatapan tak berdaya Thy Than melihat sosok Rey membuatnya mematung sesaat melihat tatapan teduhnya.Astaga aku diselamatkan oleh Om tampan ini bagaimana nasibku saat itu juga kalau tanpa dia.
Rey mengumbar senyum lalu berkata"Sudah menatapku?"
Sontak ekpresi kaget seorang Perempuan yang telah diselamatkan oleh dirinya berubah malu-malu dan tak bisa mengatakan satu hal.Ia bergegas merapikan pakaiannya dan merapikan rambutnya sempat acak-acakan.Berdiri seraya merunduk,ia sangat malu dan ingin kabur saja seketika dari hadapan Rey.Tapi ia tak bisa karena pandangan itu membuat Rey malu-malu juga.
"Maaf Om,ga sengaja.Tadi masih berdiri didepan pintu,heheheh!"Ujarnya meringis malu.
"Ga pa-pa,kamu tunggu aja dimeja makan.Aku mandi dulu kita berangkat sama-sama ya!"Pesannya berbalik dan menuju kekamar mandi.
Tetapi tidak dengan Thy Than,malahan dia menatap langkah Rey perlahan masuk kedalam kamar mandi.Tiba-tiba Rey keluar menampakkan separuh badannya lalu memintanya untuk menunggu diluar.
"Than,tunggu diluar ya!"Pintanya serius.
Tersadar pula hampir aja lepas kedua matanya melihat ekspresi Rey yang berubah sejenak hingga ia mengangguk beringsut kabur meninggalkan kamar pribadi Rey.Heran baru kali ini melihat Thy Than sebingung itu sampai ga bisa berkata-kata.
Ia berlari turun tangga dengan wajah masih memerah,langsung duduk dan menutup wajahnya.Kenapa bisa seeh aku tadi ga kabur aja sampai harus berdiam diri disana.Aduuuhh,malu bangeeet!
"Mau ngomong apa sama Om Rey kalau kayak gini.Malu banget tahuuu Uuuuh!"Sambil memukul meja.
Suasana segar pun dirasakan oleh Rey saat keluar dari kamar mandi dan berganti baju kerja.Walau saat ini ga disiapin baju sama Joana.Pasti ada waktu untuk lebih dekat sama dia lagi.Memakai pakaian khas kantor dengan kemeja berwarna hitam serta celana biru tua.Sesekali memakai dasi ,saat ia mengalungkan dasinya.Bingung juga kayak gimana melipatnya,ia mencoba beberapa kali dan susah juga.
"Haduuuuh ,,,gini deh kalau udah manja sama Joana.Masang dasi aja ga bisa!"Lagi dia mencoba untuk melipatnya sama sekali tidak berhasil.
"Huuuuuh,,,,kayaknya gua nyerah ga bakalan bisa masang dasi kayak gini terus-terusan"Melihat jam tangan waktu sudah hampir sibuk untuk perjalanan."Minta tolong sama Delisa kali ya.Dia kan ngerti aku juga heheheh!"Meraih jas kerja dan memakainya,memastikan semuanya beres tinggal memakai sepatu boath dengan tampilan kece.
Menata rambutnya dengan aksen rapi dan wewangian telah menjalar mengharumkan semua sudut hidupnya yang tengah bahagia.Mengambil tas kerja dan melipat dasinya serta menaruhnya disaku jasnya miliknya.Berjala keluar dari kamar perlahan menuruni anak tangga menoleh menuju meja makan seraya menyapa Thy Than dimana ia bisa menaruh hatinya dengan benar dan tidak canggung lagi.
"Pagi Thy Than,,"Sapanya menaruh tas kerjanya dikursi kosong.
"Pagi Om!"Jawabnya manis.
Beranjak duduk dan terheran dengan masakan kali ini,henat juga sepertinya yang masak.Lalu siapa ya?
"Kamu yang masak?"Menompangkan tangan menatap kearahnya.
Meringis mengangguk dan itu adalah jawaban penuh malu-malu banget.
"Iya Om!"
"Hebat juga kamu masak?kayaknya sedap banget ini,boleh dong minta!"Sambil memberikan piringnya ke Thy Than.
"Banyak apa dikit Om?"Kembali mendongak dan tetap menjaga etitudenya.
"Sedeng aja,ntar kalau kurang kan nambah lagi bisa kan hehehehe!"Ujarnya kembali bercanda.
"Bisa lah Om,special buat Om kok.Heheheheh!"Jawabnya sambil memberikan seporsi nasi goreng lengkap dengan lauknya.
Menata dimeja,tatapan senang Rey pun penuh bahagia setelah melihat seporsi nasi goreng.Kembali mendongak kearahnya."Aku coba ya!"
"Nanti kasih nilai berapa ya Om,biar nanti aku bisa masak yang lebih enak buat Om!"Meringis kembali.
Setelah merasakan dengan taste yang masih membingungkan ada nilai yang tetap diberikan kepada Thy Than atas usahanya dalam membuat menu makanan yang lebih lezat.
"Hemmmm,,,,enak.Tapi Om bisa ngasih nilai ga sekarang!"
"Berapa Om?"Penasaran dan agak ragu-ragu.
Menompangkan tangan dengan senyuman itu,Rey memberikan nilai maximal untuk usahanya dalam membuat menu sarapan pagi menjadi lebih nikmat juga nilai pun dapat dia berikan
"Nilainya berapa ya,hehehehe!"Malahan menggodanya.
"Ayolah berapa Om!"Penasaran banget deh.
Tawa lepas Om Rey telah membuat rasa penasaran Thy Than bercampur aduk dalam satu kata,kenapa seeh Om Rey bikin aku jadi galau gini deh.
"Yaaa aku kasih nilai 8 ya.Masih ada yang kurang seeh!"
"Heemmm,kok delapan ga sepuluh sekalian?"Rengeknya manja.
"Ntar kamu diomelin sama Joana kalau minta nilai sepuluh kan,itu terlalu sempurna untuk masakan anak sekolahan yang tengah belajar.Tingkatin aja skill kamu,nanti juga bisa kok Om kasih nilai bagus Oke!"Sambil mengacungkan jempolnya.
"Oke deh Om,makasih ya!"Ujar Thy Than senang.
"Semangat dong,Thy Than!"