
Masih saja Ganindra lebih intens dengan salah seorang sahabatnya dikamar pribadinya.Tapi lama-lama dikamar juga ga ada enaknya kalau sama sahabatku satu ini.Pasti banyak kejahilan yang akan makin ditampilkan olehnya saat ini,gimana kalau aku beranjak turun dari ranjang.Seketika Indra pun segera berlari kecil untuk menolong Mega yang perlahan agak kesusahan.
"Ga kenapa ga bilang seeh,kan gua bisa bantuin kamu!"Beranjak menangkap bahunya yang perlahan sedikit hampir ga bisa jaga keseimbangan.
"Heheheh,santai aja deh.Kamu tuh masih aja perhatian gitu sama aku!"Sambil menoleh melihat sikapnya sangat membuatnya nyaman.
"Tapi kaaaan,kamu mau jalan kemana aku bantuin deh!"Pintanya masih perhatian.
"Kesana aja,kebalkon tempat yang aku sukai kalau kamu ada disini hehehe!mau berbagi cerita lagi kan?"Tanya Mega beriringan berjalan bersama keluar kamar,perlahan diam menghirup kembali hawa segar yang biasanya ia dapatkan ketika masih pagi.
"Udah ga usah banyak-banyak nyedotnya.Ntar kembung masuk angin kan repot!"Sentilnya membuat Mega mengernyitkan kening dan sebal jadinya.
"Apaan seeh kamu tuh,bikin ill fill aja deh heheheh!"Sambil memukul bahu Ganindra.
BUUUUKKKKSSS,"Tuh kan masih mukul keras lagi!"Menoleh dengan bibir mancung.
"Kamu seeh nyelepelein aku,ya aku ga terima."Jawabnya sambil melepaskan rangkulan Indra.
"Aku jalan sendiri,tuh minumanmu jadi ketinggalan kan.Aku ambilin ya kamu duduk dulu deh nyari apa kek inspirasi mungkin yaaa!"Pintanya menyuruh duduk.
Menoleh melihat Mega yang nekat untuk mengambil minumannya,menghela nafas kesal.Dasar ga bisa dibilangin deh dari dulu.
"Naaaah,,,aku datang sama minuman yang lebih seru lagi sambil kita ngobrol bareng!"Tak lama ia berjalan kebalkon dan menaruh dimeja.
Kembali duduk dengan santai masih saja membuat khawatir Ganindra saat melihat dirinya tengah berada dalam kondisi yang belum stabil.
"Diminum dong,atau aku yang habisin minumannya?"Tawarnya menggoda hangat tatapan manis sang Mega.
"Ya jangan,ntar kalau aku haus gimana?masak aku minta sama Bibi lagi seeh.Kan malu!"Jawabnya sambil nyubit pipinya.
"Aduuuuh ,,,,bisa ga seeh ga nyubiiiiit teruuuss.Kan sakit sayaaang!"Dilanjutkan dengan tawa lepasnya.
"Tuh kan masih mengungkapkan sayang sama gua.Berarti ga mau kan kamu digeser sama Thy Than!"Sambil nunjuk kearah hidungnya sembari memencetnya beberapa kali.
"Hiiiiih,kumat lagi.Emangnya kamu kangen ga seeh sama aku sampai bela-belain kesini ga bilang sama Thy Than haaah!"Tangannya mencoba untuk memberontak dari serangan Ganindra.
"Kangen banget,tapi sekarang gua malahan ditinggal pergi sama Ibu keluar negri.Sedih gua!"Sambil menampakkan raut wajah sedihnya.
"Haaah,ibu kamu keluar negri.Ada acara apa sampai kesana kayaknya kamu curhat gini sedih sendirian?"Tanya Lagi.
"Ya iyalah sedih banget,udah gitu abang kan tinggal sendirian gua juga sendiri ujung ketemu ujung.Beneran bisa membuat gua kadang berfikir kalau itu adalah sebuah malapetaka yang sangat kejam."
Menyeruput minuman seraya tersedak sedikit akibat kalimat terakhir tang diucapkan olehnya saat itu benar-benar membuatnya geli sendiri.
"Eehheemmm,,,gimana seeh.Ga kayak gitu kali Ndra,setidaknya kalau kamu sendiri kan bisa,,,,,!"Belum selesai lajut kalimatnya malahan dilanjut sama Ganindra.
"Nginep dirumah kamu kan,nemenin kamu ya ga-ya ga?"Sambil memainkan kedua alisnya.
"Enak aja,rumah kamu aja kosong trus sama abangmu juga kosong malahan kerumahku.Gilaaa kamuuuu!"Sambil mukul bahunya Ganindra.
"Woooiiiiu,wooiiii ga usah brutal gitu kali.Kan cuman pengen doang.Ga serius juga kali Gaa sayaaang!"Lanjutnya ngakak.
"Habisnya kamu tuh ngeselinnya udah biasa,trus bikin aku tambah gimana gitu?"Rengeknya ga terima.
"Trus kamu protes dan kangen sama gua.Ngomong aja itu kan pilihan kamu sendiri ya kan!"Menimpali dengan lirikan tajam dan lebih mantap.
"Engga juga,kangen ku kan sama Thy Than atau sama Adam heheheh!"Malah godain yang engga-engga.
"Oooh iya,Adam ya.Kenapa gua ga kepikiran sama dia seeh gimana kabarnya ya!"Menoleh penasaran.
"Kamu jangan marah ya,kalau dia kemarin datang kesini dan jenguk aku."Sambil menyentuh tangan Ganindra wajah sedihnya kembali tampak.
Heran kenapa dia nekad kesini,sambil berbalik berhadapan dengan Mega.Ada rasa tak percaya kenapa juga dia tiba-tiba datang.Padahal kan sempat gua larang dia datang kesini.
"Lho kok bisa,apa dia nekad kesini?"Tanya balik.
Ia mengangguk,jawaban itu memang tengah ditelusuri oleh Adam yang sebenarnya terjadi antara Mega dan penyakit apa yang tengah menyerangnya.
"Kamu jangan marah ya,dia ga bakalan cerita kok tentang penyakitku sama Thy Than dan anak-anak lainnya.Aku sudah minta dia untuk tidak mengatakan hal tersebut yang nantinya juga merugikan aku."Kembali menjelaskan.
Mendengus ga terima kenapa dia bisa senekad itu dan menjenguk Mega,Gua khawatir kalau hal tersebut bisa membuat mental Mega menjadi lemah dan tak bisa lagi berkata tentang hidupnya yang sekarang.
"Bisa ya dia!"Perlahan mengambil ponselnya berusaha untuk menghubunginya.Tetapi saja Mega merasa ga enak dan menghentikan niatnya.
"Pleace jangan telpon atau marahi dia.Dia juga punya hak untuk bertemu denganku.Kita ini adalah sahabat yang satu frekuensi lho,jangan karena masalah ini kamu marah-marah sama dia ya."Berharap untuk kebaikan Adam.
"Yaaa,,,gua ga akan marahin dia.Cuman kalau dia teledor kan bisa bahaya juga buat kebaikan kamu kan."Kalimat itu terkadang membuat hati Mega seakan berada dalam kebimbangan.
"Iya tahu tapi kan kamu ga harus menegur dengan cara kasar kayak gitu.Gimanapun dia itu kan sama-sama kamu sahabat lho."Mega mencoba memberikan pengertiannya.
Menjorokkan badannya,seraya menompangkan tangan ia mendongak dengan wajah penuh senyum yang belum bisa sesempurna ketika awal ia mengatakannya.
"Oke aku akan mencobanya ya!"Sambil mengusuk tangan Mega.
Ia merasakan kelegaan saat itu juga,kedekatan ini bukan sebuah awal atau akhir tetapi saat ini sebagai seorang lelaki dia mencoba kuat menghadapai dua hal ini.Menjadi bagian hidupnya saat ini atau tidak menjadi bagian bagi hati Thy Than.
"Dan kamu tuh,harus beneran yakin sama dia.Yakin kalau waktu terbaikmu adalah untuk seorang perempuan yang berhati baik dan ga mungkin dia mencoba mengkhianati kamu.Ketika kamu baik untuk dia kamu harus yakin segalannya kamu curahkan untuk seseorang yang bernama Thy Than.Ingat itu aja,kita tuh sahabat aja ya.Oke!"
Antara sebuah keberatan yang telah membuatnya terasa jauh ketika berada disetiap nadirnya seorang yang dia cintai,sebuah keyakinan telah membuat seluruh hatinya hancur saat harus melepaskan apa itu cinta sejati telah ia bangun selama ini dan harus memisahkan semuanya dengan paksaan yang cukup berat.
Diantara keheningan itulah Thy Than tengah mengalami sebuah kenangan dalam hidupnya yang saat ini benar-benar berat yaitu perlahan meninggalkan apa yang sempat menjadi bagian hidupnya saat ini.Mendapatkan keluarga baru tak semata-mata membuatnya tahu dimana akan mendapatkan kembali kebahagiaannya.Tetapi semua itu sirna dengan cepat dan hanya bisa menatapnya dengan harapan sesungguhnya untuk kembali menyapanya.
"Yah,maaf ya.Thy Than belum bisa membuat keluarga kita menjadi lebih baik.Malahan saat ini aku harus bersikap seperti ini untuk menyelesaikan masalah keluarga kita,itupun aku sekarang berada dalam pengawasan om Rey.Aku bersyukur banget bisa bertemu dengan orang seperti dia karena telah membuat hidupku lebih baik dan kembali dalam lindungan yang aman."Gumamnya ia merasakan keheningan sebuah harapan ditemani oleh Joana yang mungkin pula ia dapatkan dalam pelukan yang tak biasa.
Ia kembali menatap nanar sebuah kenangan yang tak mungkin bisa lepas begitu saja dalam dirinya.Mendapatkan kekuatan dari Joana pula ia mencoba menjawabnya.
"Apa mungkin aku akan kembali dengan waktu yang lama untuk satu hal ini.Dekat dengan kenangan ini?"Mendongak bertanya tentang hatinya yang tengah resah.
"Jangan pernah sedih saat ketika kita berada dibawah.Ini adalah ujian yang berat buat kita,kadang kita lupa mengatakan bahwa bersyukur telah membuat hati kita lebih tenang dan jelas itu kebenaran hati kita kan."
"Iya kak,kadang juga aku belum mengerti kasih sayang seperti apa yang akan menjadi bagian hidupku nantinya.Apa om Rey mau menolongku dan membimbingku dengan kebesaran hatinya kepadaku?"
"Itu pasti Thy Than,semuanya akan datang dengan sendirinya dalam hati kita.Entah kamu mau gimana jelas kami berdua akan selalu memberikan banyak dukungan moril dan semangat yang tak pernah habis.Kemudahan itu akan datang disaat kita berusaha menyakini bahwa keberhasilan akan ada waktunya ya!"
Tetapi masih saja Rey terfokus pada sebuah sudut ringan dan menemukan banyak hal yang belum ia dapatkan dirumah ini.Sebuah keheningan telah membuatnya untuk mendongak keatas serta mendapati keberadaan Antara Thy Than dan Joana sama sekali tidak terdengar suaranya,emangnya pada kemana seeh?
Bergegas untuk menaiki anak tangga mencari dimana keberadaan mereka,sampai ia tak menyadari bahwa keduanya mencoba mendalami sebuah cerita dikamar om Arman.Tak disangka itu ketika kebingungannya Rey mencari sampai keruang kerja dan berlanjut kebalkon luar.Ga mungkin juga mereka kabur begitu saja.Gelisah juga,tapi dia kembali masuk tanpa sadar ia melihat keduanya tengah berada didalam kamar saling berbagi cerita masing-masing.
"Huuuuh,ternyata pada sembunyi disini ternyata !"Sambil menompangkan kedua tangannya dipinggang serta menggelengkan kepala.Apa maksudnya seeh mereka berada dikamar ini,kalau ga salah ini kamar om Arman ya.
Beranjak masuk kedalam,melangkahkan pelan seraya mengetuk pintu pelan menyapa keduanya.
Tok,,,,tok ,,,,tok ,,,tok.
Keduanya berbalik mendapati sebuah ketukan pintu,om Rey ngapain juga bikin kami buyar deh cerita serunya.Senyumnya pun perlahan datang saat ia masuk menghampiri Joana dan Thy Than.
"Kalian ngapain dikamarnya om Arman?ada masalah mungkin!"Mengernyitkan kening menatap langsung wajah Thy Than.
"Aku masih kangen sama suasana kamar ini om.Ga bisa deh aku lupain secepat itu.!"Jelas Thy Than mencoba kuat.
"Biasalah Tuan muda,mengenang itu butuh waktu yang ga sedikit lho.Jadi kenapa dengan Tuan muda.Sepertinya panik ya?"Mencoba melihat ekspresi wajahnya.
"Iyalah,kalian kan ga bilang mau kemana.Ini rumah lumayan besar.Dan tentunya aku tidak hafal semuanya sudut ruang ini,malahan kalian bermain-main petak umpet denganku!"Seraya menahan tawanya.
"Ga juga Tuan muda,mana mungkin kita masih sempat-sempatnya main petak umpet dengan Tuan muda.Ga ada kerjaan apaaa?"Sambil menggelengkan kepalanya.
Tawa lepasnya membuat suasana kembali cair,saat terbaik untuk Thy Than adalah berada dekat bersama mereka berdua.Masih berhati besar,Rey bersikap dewasa dan bijak dalam mengambil sebuah cerita untuk keponakannya lalu dia berkata.
"Untung ya kita anak tunggal,jadi aku bisa menjaga kamu sebagai keponakan.Tapi kadang juga adik seru kayaknya!"Merangkul Thy Than,ia hanya menahan tawa mendapatkan pujian seperti itu.
"Ya jelas dong,siapa yang dijaga.Cantik dan mempesona kayak gini!"Sambil mendekap rambutnya.
"Kamu memang special sayang."Sambil menatap foto keluarga Thy Than serta merangkulnya.
Sadar keduanya dalam keadaan menatapa tanpa kata hanya senyum menjadi jawaban,Thy Than pun tengak-tengok melihat reaksi mereka.Tentu membuat pertanyaan datang dari Joana.
"Kamu kenapa?ada yang aneh sama kita berdua!"Sambil memainkan jarinya.
"Heheheh,aku buatkan minuman ya.Masak tamu cuman datang ga dikasih minum seeh,pasti haus yaaa!"Meringis kearah Rey,iapun menjawabnya.
"Boleh juga,minta yang seger-seger ya heheheh!"Candabya ngakak.
"Beres Om!"Sambil mengacungkan kedua jempolnya."Aku permisi duluuuu!"Perlahan menghindar serta meninggalkan mereka berdua dalam kamar.
Maunya aku kerjain,tapi ini kan kamar ayah.Ga boleh dong ya gimana lagi aku buatin dulu deh sambil berjalan menuruni anak tangga.Ga jadi jahilnya deh huuuuh.Sama halnya dengan Rey saat ia mencoba melihat-lihat kamar om Arman keren juga,apa mungkin menyimpan sesuatu kah selama dia hidup atau hanya ada diruang kerjanya.Menyentuh dagunya tatapan serius dan tentu menarik buat Joana ikut ambil andil dalam keseriusan yang dialami oleh Tuan muda.
"Tuan muda lagi ngapain?kayaknya serius amat deh!"Ikutan bingung sama sikapnya yang lebih tajam darinya.
Menoleh serta membatalkan tentang niatnya untuk mencari sebuah harta karun yang coba ditinggalkan oleh om Arman dan bergegas untuk keluar.
"Ga ada,ga ada kok.Kita keluar aja.Ini kamarnya orang bisa dicurigai kita melakukan hal-hal yang ilegal."Ajak Rey keluar sambil menarik tangannya.
Heran sampai segitunya menarik tanganku dan tatapannya memang ga berubah selalu serius saat keluar dari kamarnya om Arman.Ada rahasia apa yang tersembunyi dari kamar ini sampai Tuan muda bersikap aneh dan mencurigakan. Kayaknya mau mengambil apa gitu,heheeheh.Dasar ga jelas kalau mikirnya segitunya.
"Pasti ada yang disembunyikan deh,apa ya!"Joana ikutan mikir ga jelas.Tapi itu segera sirna saat Thy Than sampai kemulut tangga dan mendapati keduanya tengah turun kebawah malahan.Jadi ga jadi naik nemuin diatas.
Terhenti mendongak,"Eeeh,kok udah turun om Rey sama kak Joana?"
"Masak ya kita mau nginep dikamarnya ayah kamu.Aneh banget deh!"Candanya Sambil mendekati lalu seperti biasa nyubit pipinya.
"Aduuuuh,,,,ga bisa apa sehari ga nyubit pipiku Om?ntar jadi gimana pipiku ini!"Ngambek deh lagi.
"Ya biarin aja heheeh,suka-suka Om dong!"Jawabnya mengambil minumannya."Ini baru minuman seger ice mocha.Sambil mengangkat gelasnya kearah Joana.
Menghindar sedikit,,emang kelakuan Tuan muda kadang gila juga masak mau ditempelin kemuka aku seeh."Eiiitttss,,kurang kerjaan banget seeh!"Rasanya ingin membalasnya.
"Enak ini,coba dulu dong."Pinta Rey memaksa.
Geli juga lihat keduanya ga ada akur-akurnya dan bikin Thy Than segera membawa minumannya kemeja ruang keluarga.Tentunya Joana pun mengikuti dan menolak permintaan Rey untuk ikutan mencobanya.
"Ayolah Joana,enak ini!"Pintanya masih memaksa.
Ia mengambil segelas minuman yang beda mengangkat dan mengajaknya cheers."Ini aja aku Tuan muda,kita cheers aja deh.Biar ga ngambek kan bahaya kalau ngambek bisa ga bisa kolaborasi nanti kerjanya."Mengumbar senyum kearah Thy Than.
"Iya om Rey cakep kalau lagi marah wiiih belum tahu aku heheheh!"Timpal Thy Than menanti kalimat selanjutnya dari Omnya.
Menoleh seraya berjalan menghampiri Thy Than lalu duduk disampingnya.Ia akan membuat sebuah kejutan yang jelas akan membuatnya takut.
"Emangbya kamu belum pernah lihat Om marah ya?ketinggalan jaman kamu!"Menaruhnya dengan pelan lalu bersandar serta merebahkan badannya.
"Kenapa Om capek?"Tanya Thy Than lagi.
Menggelengkan kepala sebuah jawaban yang pasti akan membuat banyak cerita yang semakin membawa suasana hangat.