Thy Than

Thy Than
Bab.27 Thy Than penasaran.



Dalam perjalanan pulang,Keduanya saling terdiam tanpa kata.Thy Than memang mencoba untuk diam tidak ingin mengatakan sepatah katapun saat ini.Aku tahu bagaiamana rasanya sakit yang dialami sahabatku sendiri Mega.Tetapi itu membuat Ganindra curiga serta menoleh mempertanyakan hal tersebut.Dengan tatapan nanar apakah itu menjawab bahwa Thy Than sangat mengharapkan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu adalah rahasia untuknya untuk ia dapatkan nanti ketika waktu itu benar-benar tepat.


Dikala sore itu sama sekali Thy Than tidak menunjukkan rasa baiknya dan menatap sosok Ganindra.Rasanya lelah bersandar dengan menompangkan tangan tanpa ada ekspresi menyenangkan.


"Sayaaaang,kamu kenapa?"Sambil mengelus rambutnya,Ganindra menarik tangan Thy Than dan menciumnya.Membuatnya semakin tak berdaya oleh perhatian khusus ini.


"Nanti kamu juga tahu sendiri kenapa?aku sangat khawatir akan kesehatan Mega.Dan rasanya ada yang menutupi semuanya dariku.Tentang Mega kenapa?dia sakit apa!"


Tersungging kembali menjawabnya.


"Udahlah jangan difikirakan,nanti kita bicarakan diwaktu yang tepat oke.Saat ini untuk gua tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.Karena tahu sendiri kan itu sangat sulit."Menoleh menatap kembali.


Tatapan nanar kembali ditampik oleh Thy Than,rasanya itu tidak adil bila aku saja tidak dikasih tahu sebenarnya apa yang terjadi sama dia.Mungkin aku harus pelan-pelan melembutkan hati Ganindra untuk mengetahui sebenarnya apa tengah dialami oleh sahabatku.Ia tiba-tiba mendekat serta bersandar dibahu Ganindra,ia menoleh tersenyum kembali mencium rambutnya.


Apa seeh yang dia lakukan itu lebih dari seorang sahabat,apa karena dia mendekatiku dan memberikan perasaan lebih dari sahabat ini.Alasan dia menangis dihadapan Mega ya?tiba-tiba nalarnya pun bekerja keras sejauh itu.Benar mungkin kalau itu terjadi pasti aku harus bisa membuka rahasia ini pelan-pelan untuk mendapatkan apa yang tengah tersembunyi dalam-dalam.


"Kamu mau diantar kemana?kerumahmu atau kerumah Om kamu Om Rey!"Menoleh bertanya dengan penasaran.


"Aku harus kemana enaknya ya!"Mengangkat kepalanya setta mendongak mempertanyakan kepada Ganindra.


"Haaaah,kamu kok bisa bingung gitu sayang.Kalau kamu butuh teman ya ketempatnya Om Rey kan katanya ada asistannya juga tinggal disana.Atau mau tinggal sama aku dirumah,sepi lho hehhehe!"Lanjutnya ketawa.


Sambil memukul bahunya,kesel juga mendapat tantangan dari Ganindra."Apaan seeh.Ga mau ntar kamu apa-apain lagi dirumah!"Suntuk juga jawabnya.


"Ya udah kerumahnya om Rey aja,lebih tenang dan kamu bisa diawasi sama dia.Gimana,mumpung kita baru setengah perjalanan ini!"Kembali menjelaskan.


"Ya udah deh,makasih udah mau nganterin aku heheheh!"Sambil nyubit hidungnya.


"Aduuuuh,,,,udah berani ya nyubit-nyubit!"Sambil gemas nyubit gantian pipinya.


Thy Than kembali memeluk Ganindra,nyaman juga kalau kayak gini sampai sebuah pertanyaan pun muncul dari bibirnya.


"Kita ini sahabat,teman baik,apa kekasih seeh kok.Kamu aneh banget perhatiannya sama aku Sayaaang!"Kembali mendongak dan melihat reaksinya.


Kembali mikir panjang,tetapi hal tersebut tidak membuatnya senang dulu,karena setiap pertanyaan mendapatkan poin bagus dari Thy Than.


"Eeehhh,kalau kita sahabat udah dari dulu dan akrab ya."Kembali bertanya lagi.


Ia pun mengangguk,tetapi ga menatapnya kembali.


"Teman baik pun rasanya engga juga.Kan kita sahabatan!"Lanjutnya sambil mikir lagi.


"Terserah kamu!"Lanjutnya sinis.


Kembali menahan tawanya,ada aja kelakuan Thy Than sampai membuatnya geli juga.


"Trus yang terakhir gimana?"Kembali pertanyaan itu muncul.


Mikir lamaaa,sampai membuat Thy Than mendongak dan melihat reaksinya saat itu juga.Kenapa seeh berat banget jawabannya.


"Kenapa?berat kalau jawab?"Melepaskan pelukan dan sandarannya membuat Ganindra protes.


"Lho kok dilepasin,kan anget Sayaaang!"


"Bauuu bangeeeet!"Sambil menutup hidungnya.


"Masak seeh bau?"Sambil dicium-cium ama Ganindra.


Menoleh tatapan seriusnya menjawab ejekan Thy Than.


"Ini ga bauuu,tapi aroma terapi hehehhe!"Lanjutnya ketawa.


"Hueeeekkk,,,,bau tahuuu!"Ujarnya sok-sokan.


"Tapi kamu kok dari tadi nempel seeh,apa memang gua bau ya?"Mikir sambil garuk-garuk kepala.


Bersandar miring seraya menompangkan tangan memandangi setiap raut wajah serius Ganindra rasanya aneh juga kalau aku ngeledek dia.Lanjut jatuh lagi dalam sandarannya.


Kaget plus heran padahal tadi ngeledek kok malahan nempel lagi."Lho katanya bau,kok nempel lagi?"


Malu-malu sambil meringis memandanginya.


"Udah keenakan bersadar dibahu kamu sayaaaang!"Jawabnya meringis.


"Hemmm bilang aja,ga mau ninggalin aroma khas milikku hehheeh,bisaaaa aja ngelesnya!"Gemes banget sambil nabokin pipinya.


"Aduuuuh saakkkittt,jangan digituin dong!"Pintanya menompangkan dagunya dibahu kekar Ganindra.


Perjalanan kembali seru,manja dan nggemesin Thy Than memang ga bisa dianggap enteng.Dia pun menerima rasa yang membuatku makin sayang sama dia.Entahlah sayangku yang ini memang membuatku bahagia.


Tapi tidak dengan Mega yang telah menghela nafas dan melihat keakraban mereka berdua dalam foto kedekatan yang pernah mereka bertiga unggah bersama.Ada senyum bahagia ketika melihat Thy Than penuh manja disamping Ganindra lalu ia berucap.


"Semoga kalian bahagia ya.Aku berharap kalian menjadi pasangan yang baik dan selalu mendukung satu sama lain.Aku disini mendo'akan kalian yang terbaik ya!"Sambil mengelus wajah foto Ganindra.


Sebuah dekapan pundak dari mama tercinta telah membuatnya kembali senang,apa yang selama ini ia harapkan telah datang dalam hidupnya.


"Ingat kamu harus tetap optimis untuk sembuh ya nak.Mama kan cuma punya kamu aja didunia ini.Jangan patah semangat,hidup kamu pasti akan panjang ya."Sambil mengelusnya dengan sebuah pesan menyentuh.


"Iya mah,aku berharap ini hanya mimpi yang hanya aku saja alami.Kalau apapun itu berkehendak aku tak bisa menolaknya."Jawabnya menguatkan hatinya.


Mega terkena penyakit leukimia stadium empat,ia sama sekali tak menyangka dirinya mengidap penyakit ini.Setelah ayahnya telah tiada,kali ini ia tidak lagi berharap tentang kehidupan yang lebih baik,berada dalam dekapan mama tercinta adalah obatnya untuk kembali mencoba hidup.Ia hanyalah sebuah kehidupan indah tak kala berada disisi sahabat yang tepat seperti mereka berdua.Tak mungkin bila harus meninggalkan mereka tanpa sebuah pesan.


"Besok siapa yang ngantar?"Tanya Ganindra menoleh dengan wajah serius.


"Eeehhhmm,,,,kalau ga om Rey ya siapa lagi.Kan aku sekarang dalam pengawasannya.Oooh ya lupa mobilku kan masih dikantornya om Rey heheheheh!"Sambil menepuk keningnya lalu melihat Ganindra memasang wajah konyol,membuatnya ketawa ngakak.


"Hahahaha,kok bisa seeh kamu kayak gitu sayaaaang.Kan aku jadi ngakak.Biasa aja deh!"Lanjutnya sambil memalingkan wajahnya.


"Dari pada harus keren terus,kan ga kuat kamu sayaaaang!"Sambil nyubit pipinya lagi penuh gemas.


"Iiiiih seneng banget buat pipiku tambah melar ya.Emangnya seneng gitu?"Sambil mendekap kesakitan.


"Biar kayak bakpao,kan seru bisa dicium manjaaaa!"Lanjutnya senang.


Lanjut dalam perjalanan pulang,Thy Than mengarahkan jalan menuju salah satu tempat kediaman Radhitya Rey disalah satu Kompleks apartemen mewah yang mungkin hanya bisa ditempati oleh para pengusaha kelas atas.Sampai juga dengan tatapan aneh menuju sebuah tempat nyaman dimana Thy Than akan mendiaminya.


Sampai didepan lobby luar apartemen,rasanya berat harus meninggalkan Ganindra dengan tatapan seperti itu.Lantas apa yang membuatnya semakin aneh saat menyentuh pipinya ada senyum tak terelakkan datang menyapanya.


"Aku balik ya,kamu ga pa-pa kan aku tinggal."Berbaring miring mengangkat kedua alisnya.


"Ya ga pa-pa,hanya saja aku butuh ini!"Sambil jarinya menyentuh pipinya beberapa kali.


"Ooooh,,,,minta dicium ya!"Tertawa geli malu juga sembari menggelengkan kepala.Manja sekali seeh Ganindra ini sekali dekat denganku ada aja permintaannya.


"Bentar neeh!"Membenarkan duduknya,lalu menjorokkan badannya perlahan mencium pipinya dengan manja.Sembari mendekap kepalanya,ciuman itu mantap sekali sampai pejaman mata kegelian khas Ganindra menjadi pemandangan manisnya.


"Hiiiii,,,,,geli sayaaaang!"Sambil ga bisa lepas dari dekapan Thy Than.


Sembari melepaskan,tawanya pun kembali tertuang dalam perpisahan sementara ini.Ia pun turun dari mobil serta menutupnya,berjalan mundur sejengkal dan melambaikan tangan untuk sahabatnya.


"Daaaa,,,hati-hati jangan ngebut ya.Inget keselamatan terbaik hanya untukmu!"Sambil melambaikan tangan seraya memberikan ciuman jarak jauhnya.


"Daaa,,,kamu juga hati-hati jangan banyak mikirin gua ya.Ntar kangen berat lho!"


"Haaaaah,,,,weeekkj!"Sambil menjulurkan lidahnya.


Kaget juga dapat ledekan model gitu.Kirain dapat sesuatu yang indah.Malahan ya udahlah.


"Gimana besok dijemput ga?"Tanya balik.


"Ga usah,besok bareng om Rey kok!"Lanjutnya menolak.


"Suapin ya!"Pintanya mulai manja.


"Haaah,Tuan muda minta suapin?ga salah!"Pertanyaan itu membuatnya tertawa lepas menggelengkan kepala.


Heran bisa aja minta disuapin,gimana ceritanya.Dari kamar terdengar suara nada dering ponselnya Rey tengah memanggil segera."Yaaah,ada panggilan telpon.Bentar aku angkat dulu,tunggu ya!"Bergegas untuk naik keatas untuk mengambil ponselnya.


"Jangan lama-lama Tuan muda,nanti bisa berubah kapan saja lho!"Lanjutnya dengan tersenyum geli.


"Okey!"Jawabnya sayu-sayu masuk kedalam kamar pribadinya.


Bingung dimana aku tadi naruh ponselnya ya,maaih kebingungan,sampai ia duduk kembali dengan tatapan bingung.Malahan ada disaku jas kerjanya.Mendongak dan mengangguk-angguk ternyata aku naruhnya disana.


Mengambil dan melihat layar ponsel,Thy Than?dia lagi mau ngapain!"Hallllooo sayang,ada apa?"


"Haiiii Om,Thy Than boleh kan nginep lagi diapartemennya Om!"Seraya meringis geli berharap diberikan tempat tinggal semalam.


"Ooooh ya boleh dong.Kamu dimana sekarang!"Tanya balik.


"Lagi dilobby apartemen,mangkanya aku ijin dulu sama Om boleh ga?"


"Ya bolehlah.Kalau kamu ada temennya kan Om dan kak Joana jadi tenang.Buruan ya kesini,Om tunggu!"Pintanya mengakhiri obrolannya.


"Oke Om,Siap!"Sambil memberikan hormat.


Langkah ringannya serta semangat untuk naik kelift lantai atas tempat tinggal om Rey"Untung masih bawa oleh-oleh tadi.Baik banget sayangku ini!"Sambil mengangkat paper bagnya.


Rey yang mulai konek dan melihat penampilan Joana memang sangat menggoda pastinya segera turun kebawah untuk memberikan kabar bahwa keponakannya akan menginap lagi dirumahnya."Sayaaang!"Sembari menuruni anak tangga ia pun mendekati dan mendekap kedua bahunya serta memberi kabar mengejutkan.


"Iya Tuan muda,kenapa?siapa yang telpon!"Mendongak penasaran.


"Kamu tahu,bentar lagi ponakan kita akan menginap lagi disini.Kamu ga pa-pa kan?"


Mengernyitkan kening,heran keponakan yang mana ya.Perasaan ga punya deh ponakan lagi,menoleh dan bertanya.


"Siapa?"


"Thy Thanlah!"Lanjutnya kesal.


"Ooooh lupa.Kirain siapa?"Jawabnya sambil menepuk keningnya.


"Dia bentar lagi sampai ya,tadi dia nelpon lagi diLobby lho!"Membenarkan beritanya,apa ada yang membuatnya gugup malam ini.


"Haaah,yang bener!"Kaget juga kok bisa dadakan kayak gitu.


Mengangguk membenarkan hal tersebut.


"Iya bener!kenapa ada yang aneh?"Kembali bertanya.


"Aku ganti baju dulu ya.Biar ga dilihat aneh gitu heheheh!"Pinta Joana langsung.


Menatap setiap lekuk bajunya,ga ada yang aneh kok kenapa sampai harus ganti seeh?


"Memangnya kenapa?kamu salah baju sampai ganti segala."Tatapan aneh kembali dituangkan lagi.


"Ya salah lah Tuan,nanti dikiranya!"


"Dikiranya apa haaah!aku malah seneng liat kamu seksi kayak gini heheheh!"Malahan mendekap tubuhnya dan mencium pundaknya.


"Tuan gimana seeh.Aku juga harus menjaga hubungan kita sebagai!"Belum selesai menjawab malah disela oleh Rey.


"Kekasih dan teman special kan,heheheheh.Udah ga usah kebanyakan gaya.Gini aja,biar aku ga ngantuk ya.Aku bantuin mana yang belum siap!"Melepaskam dekapan Joana dan kembali membuatnya lepas dari Rey sejenak.


"Ga ada seeh,semuanya udah siap tinggal kita tunggu aja Thy Than oke!"Lanjutnya memberinya senyum.


"Okey!"Lanjutnya sambil bersiap.


Lagu indah yang dinyanyikan oleh Thy Than merupakan lagu favoritnya untuk setiap melangkahkan hatinya untuk bertemu seseorang.Sampai juga tinggal jalan bentar lagi sampai deh didepan pintu sambil membunyikan bel pintu.


Sontak keduanya saling menoleh kebelakang,tatapan serius keduanya membuat langkah sejenak terhenti tetapi tidak dengan Joana yang bergegas untuk membukakan pintunya.


"Bentar ya,aku yang buka!"Sambil menyentuh dadanya.


"Buruan,pasti dia laper banget sekarang!"Pintanya menyuruhnya untuk segera menemuinya dan membuka pintu.


Saat pintu terbuka,wajah sumringah Thy than pun menjadi sebuah kejutan untuk joana.Wanita itu sangat senang kedatangan seorang perempuan cantik penuh semangat dan siap untuk memeluknya.


"Taraaangggg!aku datang Om!"Semangatnya sungguh membuatnya kaget dan salah orang.


"Lhoooo ,,,kak Joana apa kabar!"Sontak Thy Than pun langsung memeluk kakak tercintanya.


"Hemmm,adik yang nakal ya.Langsung peluk-peluk kakaknya!"Sambil memeluk serta mendekap kepalanya.


Dengan erat ia mengoyang-goyangkan Thy Than dan mengajakny untuk masuk kedalam.


"Ayo masuk,Om kamu udah nungguin tuh didalam!"Ajaknya masuk serta menarik pintu serta menutupnya.


Berjalan masuk kedalam,obrolan ringan pun menjadi lebih seru."Dari mana aja,kok baru pulang.Belum ganti baju lagi.Heeemm baunya!"Sambil mancung dan memainkan tangannya.


"Heheheh dari jenguk temen Kak,kasihan lagi sakit dia.Ya butuh support juga dari aku sama Ganindra!"


"Ooooh,gitu.Ga parah kan sakitnya!"


"Ga tahu juga seeh kak,kayaknya aneh deh!"Lanjutnya manja menjawab kalimat Joana.


"Ooooh,ya udah tuuuh Om kamu nungguin kan!"Sambil nunjuk kearah meja makan.


Ia melambaikan tangan mengajaknya untuk gabung bareng makan malam bersama.


"Buruan sini,kita makan malam bareng yuk!"Sambil menompangkan tangan tersenyum menyambut Thy Than.


"Ayo,kita makan bareng!"Ajak Joana mendekap kedua bahu Thy Than dan berjalan menghampiri menuju meja makan.


Sampai dimeja makan,Thy Than pun bersalaman serta mencium tangan Rey.Rasanya tatapan itu membuatnya heran.


"Kenapa Om?"Tatapan keduanya saling aneh.


"Kamu bauuuuu,mandi sana dulu.Kita tunggu oke ya ga Joe!"Mendongak kearah Joana.


"Iya mandi dulu,biar nanti kalau ada cerita pasti akan lebih seru untuk didengar.Ya ga!"Lanjutnya memberitahu.


"Siaaap!"Lanjutnya memberinya hormat.


Tawa ketiganya pun menjadi hangat kembali dalam hubungan kebersamaan ini.Sore menjadi malam diantara meja makan.Ada banyak cerita yang membuatnya semakin semarak.


Didalam perjalanan pulang,hati Ganindra benar-benar hancur saat kekasih yang benar-benar ia cintai tengah menghadapi dua hal dalam hidupnya.Antara hidup dan mati,kini ia tak bisa mengelak atas permintaan Mega untuk melanjutkan cintanya dengan sahabatnya sendiri.


"Kamu harus bisa membuat hati Thy Than bahagia ya.Setidaknya dia bisa bahagia bisa berada disampingmu,jangan pernah buat dia kecewa.Karena cewek yang baik adalah Thy Than tidak memiliki obsesi apapun selain menjadi baik dan selalu bersahabat dengan kita!Kamu bisa kan seperti permintaanku,heemm!"Sambil menyentuh tangannya dan menatap dengan tatapan senyuman bahwa harapan Mega untuk sahabatnya adalah benar.


"Tapi gua ga bisa Ga,udah dari dulu kita membangun cinta kita dari kita tidak saling kenal dan kita backstreet sampai sekarang.Apa kamu tega sama gua.Gua itu cinta banget sama elu!"Sambil mendekap kedua bahu Mega.


"Tapi sekarang beda sayaaang,kamu tuh ga harus mencintaiku sejauh ini.Lagian kamu tahu aku sekarang kayak gimana haaah?"Menguatkan hatinya tetapi masih saja ia ngeyel untuk tetap ingin mencintai siapa Mega.


"Cintalah Thy Than seperti kamu mencintai aku sedalam kamu mendapatkan dariku.Dialah pengganti paling tepat,ingat jangan memilih dua cewek yang selalu menganggu aku.Tahu kan siapa mereka heheheh!"


"Heiiii,kamu tuh sakit kayak gini masih bisa aja ketawa.Apa seeh maksudmu?"Jengkel lama-lama lihatnya.


Hanya tawa yang menjadi pertemuan antara Ganindra dan Mega,hatinya tengah patah hati sepatah-patahnya setelah melihat sebuah kenyataan pahit bahwa kekasihnya tengah divonis tak bisa hidup lama lagi.Berbagai pengobatan telah dilakukan untuk kesembuhan Mega.Tetapi itu sia-sia saja.


Ingin gua teriak dan ga terima tentang kisah cintaku ini,tetapi itu sangat tidak mungkin.Sama sekali gua ga bisa melawan sebuah takdir yang telah menyayat hatiku,mencoba kuat tapi air mata ini datang membasahi pipi gua.Gua sampai ga ngerti sampai kapan sedihnya gua akan terobati,Mega kuatlah demi gua dan demi Thy Than.