
Tengahdah dipinggiran balkon sambil menatap pemandangan yang masih seru untik dinikmati.Padahal kan banyak hal tengah difikirkan tentang dirinya sendiri.Kayaknya aku harus menghubungi dia deh gimana caranya aku bisa mendapatkan tempat terbaik dihatinnya,sembari tersenyum beranjak masuk kedalam sambil mencari ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kayaknya aku butuh dia deh buat nyari sesuatu."Mencoba menghubungi seseorang saat ia tengah istirahat disebuah loker.
Tentu itu membuat dirinya heran seraya mengernyitkan kening saat sebuah panggilan itu hanya berupa no saja.
"Siapa ya?"Mendongak dan berfikir.
Lalu temannya yang berada disampingnya pun menyenggolnya sambil berkata.
"Angkat aja deh,kayaknya dari penggemarmu deh hehhehe!"Candanya menahan tawa.
"Iya ya,hheheh!"Sambil mengangkat ponselnya.
"Halooo selamat siang,dengan siapa ya?"Wajah ragu-ragu pun menggelayuti auranya.
"Haiii,lupa ya.Boleh kita ketemu?"Tanya Anjas dengan suara khas seorang pria berwibawa.
"Siapa ya,aku ga pernah ada janji dengan orang yang ga aku kenal lho.Apa ini salah sambung?"Kembali menyakinkan.
"Ya udah tunggu aku dilobby deh.Nanti kita ketemu dan pastinya kamu akan tahu siapa aku oke,aku tunggu ya byeee!"Menutup ponselnya.
Heran siapa yang menelpon aku ya?seraya mengernyitkan kening menaruh ponselnya dan menompangkan tangan.Mikir sejauh itu sampai ia pun mendapat teguran dari teman kerjanya.
"Kenapa lagi?ada telpon misterius!"Bisiknya kembali menggoda.
Menoleh lalu mengangguk.
"Emangnya sebelumnya kamu ingat ga.Waktu kamu ketemu seseorang itu kamu memberikan no.telpon lagi.Bahaya ini !"Sambil nunjuk kepipinya.
Mikir panjang,tapi udahlah aku lupa sama dia sebenarnya siapa seeh.Sampai akhirnya dia ingin bertemunya diLobby seperti permintaannya.
"Ya udah deh aku temuin dulu dia!"
"Emangnya dia ngajak ketemuan dimana!"Sambil was-was apa dia akan dibawa pergi gitu.
"Di Lobby kok,,,dia minta ketemu disana!"Jawab Dahlia dengan wajah serius.
"Ooooh disana,tapi sebelum itu kamu minta sama front office buat ngawasin kamu biar aman.Yaaa,kamu harus waspada ingat itu!"Sambil memberikan arahan kepadanya.
"Oke deh makasih ya,aku keLobby dulu byee!"Sambil berlalu dengan bergegas untuk menemui seseorang yang membuatnya penasaran dan hampir lupa saja aku sama dia.
"Hati-hati ya!"Pesan temannya kepada Dahlia.
Berbalik serta membulatkan kedua jarinya,Dahlia pun bergegas untuk menemui seseorang yang tengah menelponnya.Dalam hatinya ia masih bingung siapa yang ingin bertemu dengannya,ada urusan apa ya?sampai ia mendekati Lobby dan melihat ada seorang pria yang ga asing juga sempat kenal sama dia,siapa ya.
"Permisi,anda yang tadi itu ya?"Merunduk serta bertanya kepada Anjas.
Seketika ia mendongak dan tersenyum segera berdiri lalu bersamalan dengannya.
"Iya,kamu pasti heran.Siapa yang menelpon tanpa nama diponselmu kan tadi?"Tersenyum menatapnya.
"Iya pak,saya kira orang lain.Tapi ternyata anda lho!saya ga habis fikir kalau anda jadi menelpon saya."
"Jadi gimana!mau bantuin saya ga?"Kembali memberikam tawaran untuknya.
"Eeemm?,,boleh.Tapi saya bantu apa pak ya?"Bingung juga seeh kalau kayak gini.
"Silahkan duduk dulu!"Pintanya mempersilahkan Dahlia untuk duduk dan mengobrol bersama Anjas.
"Terima kasih pak!"Ujarnya segera duduk.
"Gini,Lia.Maaf ya aku manggilnya singkat aja biar lebih akrab aja!"
"Ga pa-pa pak,saya ga keberatan kok!"
"Okey,aku kan cuman semalam aja menginap disini.Maunya ngajak kamu mencarikan aku apartemen atau rumahlah untuk menyewa ya beberapa waktu sampai aku mendapatkan tempat yang pas disini.Karena aku ada urusan penting seeh!"Jelasnya dengan tatapan teduh seorang lelaki.
Astaga cara dia bicara bisa aja membuatku meleleh.Sosok yang ga bisa dianggap remeh kalau udah dekat bisa bahaya tingkat tinggi dan bisa membuatku jantungan kalau seperti ini.
"Terus saya sebagai Guide gitu pak?"Tanya Dahlia lagi.
"Betul banget,setidaknya kalau ada yang dijual rumah atau apartemen seeh aku mau.Ga usah sewa lagi,jadi kan ga ribet juga untuk berurusan dengan orang lain,ya kan!"
"Bisa seeh pak,tapi saya pulangnya masih lama.Sekitar Jam 17.00 sore.Bapak masih betah untuk menunggu saya?"
"Ya betahlah,kan aku minta tolong sama kamu.Sekarang kamu kurang berapa menit istirahatnya?"Tanya balik.
Melihat jam tangan segera ia menjawabnya.
"Sepuluh menit lagi pak!"Jawabnya sambil kecewa juga seeh ga ada waktu yang lebih gitu untuk ngobrol lama.
"Yaa cepet banget seeh,ga pa-pa deh.Nanti sekitar dua puluh menit lagi kamu aku telpon lewat reception dan meminta kamu aja datang kekamar.Aku akan bicara sama mereka atau manager kamu kalau aku butuh sesuatu sama kamu gimana?"
"Apa itu ga bikin mereka curiga pak?"
"Enggalah,itukan udah diluar prosedur kita.Kamu tetap kerja dan kita akan menjelaskan itu lagi."Terhenti lalu befikir lebih jernih lagi.
"Oooh ga usah deh,nanti kamu kena SP lho dari manager kamu.Mendingan selepas kamu pulang kerja aja kita jalan bareng ya.Biar ga jadi beban kamu."
"Baiklah pak,kalau begitu saya pamit ya.Nanti telat kena marah lagi!"Kata Dahlia pamit.
"Oooh iya silahkan.Nanti kalau udah pulang hubungi aku ya,dinomor itu.Biar aku bisa langsung siap-siapa gitu!"
"Baik pak,saya permisi kembali bekerja!"
"Ya silahkan,aku juga mau balik lagi kekamar kok.Nanti kalau ada apa-apa kamu kekamarku ga pa-pa kok.Okey!"Jawabnya sambil beranjak pergi kembali kekamarnya.
Sesaat mereka pun pisah dengan jalan yang berbeda,ada obrolan hangat tengah dibuat Anjas saat nanti ia akan bertemu kembali sama Dahlia.Ya ngomong apalah kayaknya dia masih kaku dan belum yakin sama aku.
Dilain tempat hati Dahlia pun berdetak kencang seakan hatinya mau pecah,jantungnya mau berhenti hanya fikirannya mulai membuat sesuatu imajinasi tak kasat oleh mata setiap orang saat melihatnya.Hatinya seakan terbagi dalam beberapa makna ketika harus mengatakan kesanggupannya untuk membantunya selama berada diJakarta.
"Kenapa juga aku bertemu dengan sama pak Anjas ya,padahal aku saja belum kenal sama dia,kok aku malah iya-iya aja seeh!"Terhenti dengan wajah kesal.
Dari jauh tatapan Anjas sangat serius melihat langkah Dahlia ketika terhenti cukup lama.Sedikit tersungging pula saat pintu lift terbuka hingga ia masuk kedalam.
Beberapa detik,ia pun keluar dari pintu lift untuk berjalan melewati lorong lalu masuk kedalam kamarnya.Mencari kopernya yang tersimpan disela lemari pakaiam hotelnya kembali mencari surat yang sempat ia baca dari sahabatnya. Mengambil dan membawanya ke ruang meja santai untuk kembali ia pelajari apakah ada hal lain yang bisa ia cari dimana lokasi tempat pengacaranya atau seseorang penting untuk menemukan Anaknya mas Rafan.
"Coba aku teliti lagi,apa ada sebuah nomor atau kode lainnya yang bisa aku temukan untuk lebih cepat mencari tahu keberadaan Anaknya mas Rafan ya."
Setelah meneliti dengan cermat,akhirnya dia menemukan sebuah no. yang mungkin akan dia coba untuk menghubungi dengan siapa dia akan berbicara.
"Naaah,,,ini dia!"Sambil menyentil kertas suratnya.
Mencari tahu dengan menghubungi lewat telpon hotel,tak berselang lama tersambung dengan no kantor sebuah pengacara milik keluarga Rafan Dirgantara Kesuma.
"Hallo selamat pagi dengan kantor lawyer bapak William Bagaskara.Ada yang bisa dibantu!"
Nah ini baru bener,jadi ga susah-susah aku baca kodenya saatnya bicara sama orangnya.
"Pagi mba,bisa bicara dengan bapak William Bagaskara?"
"Dengan siapa ya,sudah bikin janji sama bapa?"Kembali meleparkan pertanyaan kepadanya.
"Saya Anjas Mahendra mba,Kalau untuk janjia seeh belum,kalau saya mau bikin janji bisa ketemu kapan ya?soalnya saya butuh banget ngobrol sama pak William."
"Mungkin sore ini bisa,soalnya pak William bisa kosong disore hari apa bisa bapak Anjas menunggu sampai sore mungkin?"Tanya balik.
"Bisa mba,nanti bilangin aja kalau saya sahabatnya pak Rafan Dirgantara kesuma ya.Mungkin pak William bisa ngobrol nanti lebih cepat dengan saya!"Ujarnya sambil berharap.
"Oke deh,nanti saya bilangin.Ada tambahan informasi apa lagi pak?"
"Ga ada mba,itu aja kok.Terima kasih!"Sambil mengumbar senyum.
"Sama-sama!"Menutup telponnya.
Sebuah harapan akan datang secepat ini,jadi aku bisa menyelesaikan masalah mas Rafan itu cepat banget laku aku bisa balik ke Belanda dan bertemu sayangku Anne.Yess pilihan yang pas dan lebih bermakna.
Sekretaris pak William pun mendatangi ruangan kantor atasanya sambil mengetuk pintunya beberapa kali.
"Masuuuk!"Jawabnya sambil menunggu siapa yang akan membuka pintunya.
Pintu pun terbuka,ternyata sekretarisnya menghampirinya lalu memberitahukan bahwa ada seseorang tengah menelponya tadi.
"Siapa?"Sambil menompangkan tangan,lalu menunggu jawabannya.
"Dari pak Anjas Mahendra,katanya belaiu adalah temannya pak Rafan dirgantara kesuma."
Sesaat ia ingat dengan sosok yang dikatakan oleh sekretarisnya,seketika ia semangat untuk menebaknya.
"Ooooo,,,,pak Anjas.Nanti saya telpon deh dia saya butuh banget ngobrol sama dia.Makasih Lin!"
"Sama-sama saya permisi dulu,mari pak!"
"Silahkan!"Ujarnya mempersilahkan untuk kembali bekerja.
Terdiam sejenak,kayaknya aku harus ketemu sama mas Anjas deh dan harus menceritakan semuanya supaya dia bisa menjaga dan memahami Thy Than.Kasihan dia,masih belia udah ditinggal kedua orang tuanya.Semoga saja dia bisa menjaganya.
Perlahan kembali mencari panggilan masuk yang sempat diberikan oleh sekretarisnya untuk menghubungi target yang sudah ada didepan mata.
"Naaah ketemu neeh,coba deh aku hubungin mas Anjas.Mungkin dia ada waktu nanti sore!"
Mencoba menghubungi dengan harapan bisa mengobrol lebih privasi diruangan kantornya.
Saat Anjas tengah berganti pakaian santai dan meneguk secangkir kopi buatannya dan membawanya kebalkon,karena sebuah panggilan dari ponsel miliknya membuat langkahnya terhenti saata menoleh penasaran siapa tengah menghubunginya.
"Siapa ya,heem!"Malas banget harus balik badan serta mengangkat ponselnya,ga ada nama hanya sebuah panggilan no.saja.
"Halooo,,selamat siang dengan siapa ini?"Sapa hangat Anjas serius dan bingung.
"Mas Anjas,ini saya William pengacaranya mas Rafan!"
"Astaga mas William,,repot banget telpon saya.Kan tadi janjinya sore aja ketemu sama mas William."Sambil mengangkat cangkir seraya meneguk minumannya.
"Iya seeh mas,saya memastikan aja.Gimana nanti sore kalau dirumah saya gimana.Kita ngobrol panjang seeh soal yaaa kedepannya Thy Than.Soalnya ada permasalahan keluarganya yang memang ga bisa diselesaikan dengan waktu yang cepat seeh.Saya butuh banget sama mas Anjas untuk bisa datang ya nanti sore."Ujarnya berharap.
"Bisa kok,,saya udah dijakarta,tadi pagi baru mendarat santai aja."
"Ooo tadi pagi,,,ya udah sekarang mas Anjas istrihata dulu deh biar nanti fresh dan kita ngobrol banyak ya."Kata William dengan harapan besar untuk Anjas.
"Baik-baik,saya akan datang kesana tapi nanti minta sharelok ya,biar ga nyasar hehheheh!"
"Beres mas,itu masalah gampang.Apa karena mas Anjas kelamaan diluar negri ampe lupa dimana letak-letak jalanan yang dulu mas Anjas pijak ya hheheh!"
"Iya lupa saya.Saya tunggu ya kabar selanjutnya!"
"Oke mas,,selamat siang!"
"Selamat siang juga."Jawabnya sambil menutup ponselnya.
Pada menghela nafas lega,ternyata dua orang penting ini akan saling bertemu dan membahas apa yang terjadi dengan Thy Than.Anak semata wayang pak Rafan yang saat ini tengah berada dalam lindungan teman baik pak Rafan yang lain dan kali ini tentu membuat Thy Than heran sama sikap Rasya yang seakan lebih membayangkan wanita lain dari pada dirinya saat ketemu dengan pelanggan kue keringnya.
"Heiiii,,,lagi mikirin siapa?"Tanya Thy Than menyadarkan Rasya saat terhenti dipinggiran trotoar.Ga jalan-jalan dari tadi,dilihat bukannya perasaan malahan kayak ga ada masalah deh.
Fokusnya sama Ashila yang gemoy dan membuatnya terbayang begitu empuknya memeluk wanita tersebut sampai ia senyum-senyum sendiri ga tahu diri.
"Haaaah,,,,apaaan seeh luuu.Bikin jantungku pindah kehati neeh!"Kaget serta menata duduknya disamping Thy Than.
"Lagian seeh kamu,,ngapain pake acara ngelamun segala.Ga tahu sebelahmu tuh butuh perhatian."Ujarnya kesal membuang mukanya.
"Ooooh kamu butuh perhatian yaaa,,,uufff cup,,cup,,cup,,jangan ngambek gitu dong!"Sambil mengelus rambutnya.
"Bete aku,,,mentang-mentang ada yang dilihat baru.Langsung aja deh kabuur matanya pindah haluan."Lagi meluapkan rasa emosinya.
"Yaaa maaf,ginilah lelaki normal.Seneng banget lihat barang-barang yang fresh dan menggoda.Harus dibayangkan ya gaaaa!"Menatap genit serta mengangkat kedua alisnya.
Kedua tanganya langsung menutupi benda kesayangannya itu,ga tahu deh pokoknya harus dilindungi dari kedua mata Rasya yang udah kegenitan dan mata keranjang sejak kejangkit wanita tadi.
"Ngapain elu tutupin.Ga bakalan kelihatan kali.Kan kamu pake baju,ada Bh nya juga.Mana coba kelihataaaan!"Sambil bernada nyaring sambil mendekat mengoyang-goyangkan kepalanya dengan penuh nada.
Sadar juga sampai meringis malu-malu gitu,ga mungkin juga Rasya bersikap aneh sama aku.Dia kan pelindungku saat ini,udah baik cakep,keren cuman genitnya kadang kurang ajar bisa-bisanya bikin aku ga bisa berkata kasar hanya bisa bilang
"YA AMPUN &ASTAGA!"Itu aja seeh.
"Sekarang kemana Sya,kok malahan berhenti disini?"Tanya Thy Than melihat-lihat banyak juga yang jualan.
"Mau es kelapa muda ga?"Tawar Rasya dengan mengangkat dagunya.
"Hehehee,,,boleh tuh.Seger kayaknya.Tumben baik!"Sambil membuka pintu mobil dan turun meneghampiri pedangannya.
"Busyeeet,,,belum diajakin.Cuman ditawarin aja langsung kebut kesana,Huuuuh.Ngeselin!"Keluar juga dari dalam mobil,tak lupa ia mengambil kunci mobilnya.
Keluar dari mobil merapikan pakaiannya,melangkah menghampiri Thy Than yang udah mulai pesan.
"Mas,,es kelapa muda ya satu!"Semangat memesan minuman segar dan nikmat pun dirasakan olehnya.
"Beres non,ditunggu ya!"Siap untuk meraciknya.
"Mas,saya juga satu ya!"Tambah Rasya dengan semangat.
"Okey ditunggu!"
Saling berhadapan,ada aja obrolan ga jelas yang dibuat oleh mereka berdua sambil menanti racikan minuman mereka selesai.Kayaknya bagus juga buat jualan dipinggir sini.Ide itupun muncul dengan tiba-tiba.
"Mas,kalau jualan disekitaran sini boleh ga seeh?"Tanya Rasya penasaran.
"Haaah,,,mau jualan sekarang disini?"Tanya Thy Than heran.
"Ya nyoba aja beberapa jam gitu,!"Sambil menunggu jawaban dari penjual es kelapa muda.
"Booooleeeh aja,tempat ini udah berijin kok mas.Tinggal kesana aja yang diujung rumah itu bikin ijinnya!"Sambil nunjuk kearah sebuah rumah yang kelihatannya rame dengan kesibukan orang-orang disekitarannya.
Sama pada noleh kearah rumah yang tengah ditunjuk oleh penjual kelapa muda.Tentu semangat Rasya menjadi teman baik buat Thy Than.Tapi dianya malah aga keberatan juga seeh kalau jualan dipinggir jalan.Kan biasanya nganter doang,apa dia nyari cuan lebih ya.
"Yakin mau jualan disini?"Tanya Thy Than menikmati es kelapa mudanya.
"Yakin,kan kalau habis bisa dapat komisi.Elu mau komisi dari gua?"Tanya balik.
"Kalau buat bayar SPP seeh maaauuu banget hehheh!"
"Heheheh,,,semangat juga lu!"
"Iya dong,,sejak ikutan sama kamu Sya jiwa pedangang kok nempel ama aku ya.Heran deh!"Kesel deh kalau kayak gini.
"Trus kamu ga malu jualan pinggir jalan gitu?"Tanya balik.
"Engga,,,kan kamu ganteng aku cantik.Jadi pasarannya bagus seeh nantinya hehhehe!"
"Pede amat seeh,hehheh!"Menahan tawanya.
Sampai juga didepan rumah,beres deh kerjaan kali ini mengantar dari langganan sampai kemana pun datang membawakan invoicr untuk diserahkan sama kakaknya Fiana Dita.Keluar dari dalam mobil,dengan semangat Thy Than pun membawakan Invoice kedalam.Seperti biasanya malahan ditinggal dan ga ditungguin bareng gitu masuk bareng.Ga pernah deh.
"Astagaaa,,,neeh anak.Bukannya nungguin, malahan seneng banget ninggalin gua.Heran deh!"Sambil menutup keras-keras pintunya.
Sempet kaget seeh,,,dari jauh sampai menoleh aja ga ada reaksi apapun selain senyum-senyum lalu balik lagi masuk kedalam.
"Yaaah senyum doang."Pasrah deh pokoknya kalau udah sama Thy Than macam anak labil.
Didepan pintu ia membuka dengan sebuah sapaan antusias seakan mendapatkan lotre dari apa yang ia pegang itu.
"Selamat siang maaa,,,kak Fiaaaan!"Berlari mendekap sang kakaknya.
"Eeeh udah dateng,lama bener.Dibelokin kemana sama tuh anak?"Tanya Mama dengan mengangkat dagunya.
"Biasa ada rencana yang tak terduga dari CEO delivery kue mama tuh!"
Sambil bersedekap Fian pun penasaran,lalu Thy Than memberikan Invoicenya kepadanya lalu senyum menjawab rasa penasaran mereka.
"Apa tuh?"
"Mau jualan pinggir jalaaaan!"Jawabnya antara ragu atau engga.
Keduanya langsung melotot antara setuju atau engga seeh juga ga tahu.Apa baiknya gimana pun juga masih menunggu munculnya batang hidung Rasya yang belum-belum kelihatan dari tadi.Emangnya dia nyungsep dimana seeh sampai susah dan lama nunggunya.