
Tatapan Anjas pun ga lekang oleh waktu,saat ia masih mengumbar senyum kepada Dahlia sampai sang wanita kembali bingung sama sikapnya tersebut.Jelas itu adalah sebuah perhatian kembali saat sang pria membukakan pintu untuk asistannya.
"Silahkan masuk,kita memulai perjalanan lagi ya!"Ajak Anjas dengan telatennya memberikan ruang yang baik untuk Dahlia.
"Terima kasih pak!,,,,"Langsung aja ia kaget sambil membelalakkan matanya terkejut setelah salah sebut dan menutup mulutnya.
"Hemmm,,,,udah lupa lagi.Maaas!"Kembali mengingatkannya.
"Hhehehe iya Mas,maaf lupa banget.Kan ga mungkin saya memangggil anda dengan sebutan seperti itu cepat lagi berubahnya.
"Heeemm,,,ga masalah.Yang penting sekarang ikut aku mencari tempat yang bagus untuk aku tinggal supaya aku bisa santai dan nyaman sama kamu,heheheh!"Sambil menutup pintunya saat Dahlia perlahan masuk kedalam.
Berjalan memutar arah untuk segera masuk kedalam ruang kemudi,tentunya ia memasang sabuk pengaman seraya menoleh memberikan sebuah dekapan dagunya.Kejutan itu membuat Dahlia shock bahkan bertanya.
"Masss,,,kenapa sampai memegang daguku seeh?"Heran mengernyitkan kening.
"Ya pengen aja!"Jawabnya langsung tancap gas kesebuah perumahan elit yang dipastikan menjadi tempat baru buat Anjas menemukan tempat tinggal yang bagus dan menurutnya membuat hatinya senang pula.
"Apa nanti ada yang cemburu sama kedekatan kita mas,kalau kayak gini?"Tanya Dahlia penasaran.
"Ya enggalah,palingan yang cemburu itu pacar kamulah.Siapa lagi,hehehehe!"
"Oooh iyaa,lupa.Aku kan punya pacar mass!"Sambil menepuk keningnya menyadari hal tersebut ia pun tak ingin melupakannya lagi.
"Tu kan?baru sadar kamu ya hahahahah!"
Terhenti diantara kantor perumahan yang terlihat cukup lengang,membuat tatapan itu kembali menoleh kearah Dahlia.
Balasan darinya adalah melotot dan mengangkat kedua pundaknya ga tahu apa-apa.
"Kenapa mas?"
"Engga pengen lihat kamu aja heheheh!"Beranjak keluar dari dalam mobil.
"Haaaah,,,pengen liat aku?"Mengernyitkan kening sambil ikutan keluar,berlari kecil untuk menemaninya.
Terhenti menunggu langkah Dahlia yang perlahan dirangkul olehnya menuju kantor perumahan.Ada senyum kembali dituangkan oleh sang Pria saat perlahan melangkah masuk kedalam.Sempat menyapa serta saling berjabat tangan bersama salah satu sales penjualan rumah mewah membuat keduanya terlibat obrolan seru.
"Selamat siang pak,!"Sapanya hangat.
"Selamat siang mba!"Jawabnya khas banget.
"Dengan bapak siapa?"
"Anjas Mahendra!"Jawabnya lugas.
"Ooo,,,pak Anjas mau melihat-lihat rumah yang tengah kami jual ya.Apa anda mulai berminat untuk menempati dengan istri anda?"
Langsung kaget bukan main,memang seeh kalau lagi jalan bareng dan penampilannya mirip suami istri.
"Haaah ,,,bukan.Saya asistannya kok bukan istrinya hehhehe!"Langsung menolaknya.
"Santai aja,jangan buru-buru menolak.Ntar malahan jatuh cinta lagi!"Bisiknya lagi membuat Dahlia hancur seketika hatinya.
Kenapa seeh pak Anjas pinter sekali membuat situasi ini tambah kayak tengah bersama untuk membeli sebuah kenyamanan,padahal ini kan kepentingannya dia aja.
"Oke pak!santai ya!"Sambil mengatur nafasnya masih ga terima.
Lalu Anjas pun fokus untuk mengobrol dengan sales penjualan untuk mencari tempat yang sesuai untuknya dan nyaman ditinggali untuk beberapa saat.Obrolan itupun membuat Senyum khas Seorang Dahlia saat melihat ekspresi seorang pria tengah akrab bahkan telah beberapa kali mencuri perhatian sampai pada akhirnya dia menoleh kearahnya serta mengulurkan tangan,entah apa sebuah ketidak sengajaan.Dahlia dengan ramah menyambutnya lalu ditarik oleh Anjas lalu membisikkan kalimat kepadanya.
"Nanti kamu yang pilih,aku yang bayar oke.Karena pilihan seorang wanita itu akhirnya akan membuat lelakinya senang dan yakin itu pilihannya,ya!"Sambil mendekatkan wajahnya lalu menatap dengan harapan besar kepadanya.
"Kok saya mas?"
"Udah ga pa-pa,yaaa!"Sambil mengangkat kedua alisnya.
Masih berat seeh,tapi gimana lagi kalau mas Anjas udah bilang seperti itu.Aku mana bisa menolaknya.
Bergegas bersama sales penjualan,mereka pun menaiki mobil menuju sebuah rumah yang minimalis dan memiliki pesona sebagai tempat terbaik yang akan ditempati oleh Anjas.
"Naaah ini pak,rumah yang mewah dan tak meninggalkan nilai estetik sebuah bangunan pasti akan membuat anda berdua betah untuk tinggal bersama."Saat turun dari mobil serta mengajaknya masuk kedalam.
Keren juga Carpotnya bisa untuk dua mobil dan motor juga.Pasti Dahlia suka sama bangunannya ini.Ga mungkin nolak dia kalau harus memilih tempat terbaik tuh ya dirumah ini.Saat mendekati Anjas,ada rasa kagum juga rasa lain tengah menggelayuti hati Dahlia,rumah semewah ini akan ditinggali sama mas Anjas saja?hebat ya!"
"Untuk harganya berapa mba?"Tanya Anjas percaya diri.
"Untuk harga rumah ini relatif pak sekitar 5 milyar rupiah,nanti bisa dicicil kok.Juga untuk calon istrinya kan ga pa-pa.Pasti tambah sayang ya ga!"
"Haaaah!"Masih ga nyangka kalimat itu buat siapa?palingan juga buat calon istrinya,Ya kan."Calon istri,siapa ya?"Seraya menoleh bingung.
"Boleh juga!"Sambil menoleh kearahnya.
Mengikuti langkah salesnya,masuk kedalam serta melihat-lihat setiap sudut ruangan yang menarik,sampai Dahlia pun sangat bahagia ketika tengah berbicara dengan Anjas layaknya tak menyadari apa yang akan terjadi setelahnya.Karena obrolannya selalu menarik dan pas,akhirnya keduanya pun deal untuk memilih rumah ini sebagai tempat tinggal Anjas sementara.
"Oke,,,saya setuju dengan konsep ruangan ini semua.Pastinya saya akan ambil rumah ini!"
"Waaah keren banget memang pak Anjas,mengerti sekali dengan perasaan seorang istri ya bu!"Sambil tersenyum mnyentuh tangan Dahlia.
"Haaah,,I-iya hehehe!"Aduuuh mampus deh udah dianggap istrinya lagi aku.Gimana dong,pokoknya aku harus bersikap baik-baik saja dan akan macam-macam deh selanjutnya ini.
Real kalau aku memang asistannya,bukan pilihan yang memang akan membuat mas Anjas menyetujuinya.Setelah kembali mengobrol diruang tamu,perlahan Nona Sales pun pamit untuk kembali kekantor untuk menyelesaikan pembayaran dan beberapa hal.
Perlahan mendekat dan bersedekap melihat Dahlia yang mempunyai rasa tertarik terhadap rumah ini,pasti ada kalimat yang dibuat olehnya.
"Kamu suka dengan suasana rumah ini,ruangan yang keren dan pastinya akan lebih indah kan?"Kembali membisik serta tiba-tiba memeluknya dari samping.
"Haaaah,,,mas.Maksudnya apa ini.Lepasin dong."Pintanya meronta untuk melepaskan.
"Udah tenang aja,bayangkan kalau kita yang mempunyai rumah ini.Rasanya indah kan!"Langsung aja ciuman pun mendarat dipipi Dahlia.
Kaget sungguh kaget sama perlakuan maa Anjas,tega banget sampai seperti ini sama aku.Aku sama sekali ga bisa menolak dan tak lagi meronta,hanya mematung menatap seorang lelaki tampan dan perhatian itu.Apa aku sudah terhipnotis atau gimana,malahan dia santai menompangkan dagunya dipundakku dan berujar sesuatu.
"Kamu mau kan tinggal disini,dan ga ngekos lagi.Lagian rumah ini kamarnya banyak.Kalau aku tinggal sendirian tuh ga enak lho!"
Malahan tersenyum menjawbanya.
"Aku ngekos gitu mas?boleh juga."
Melepaskan pelukannya,uuuh lega banget rasanya pegal-pegal deh dipeluk sama mas Anjas pun hilang sekejab.
"Engga,kita tinggal bareng gimana!"Malahan tawaran mustahil dibuat sama Anjas.
Lantas tawa itu datang membuat Anjas mengernyitkan kening bingung melihat reaksi dari Dahlia.
"Haaah,,,ga salah mas.Aku udah ngekos lama disana.Dan ga mau pindah nanti gimana sama Jamal!"
"Pacarmu?"Langsung menyerangnya.
Ia mengangguk.
"Apa memang kamu serius sama dia atau hanya sekedar pacaran?"Kembali melempar pertanyaan meragukan dari Anjas.
"Oke kalau dia serius sama kamu.Tahu kamu jalan sama seorang lelaki sepertiku apa dia ga curiga atau gimana gitu.Harusnya dia menolak dong saat kamu bilang akan jalan sama seorang lelaki sepertiku?"
"Iya juga seeh,padahal ini kan moment aku ketemu sama dia dihari yang special kan mas!"
"Naaaah!gimana dong."Berjalan memutari setiap sudut lalu menghempaskan disofa.
Ia menatap Dahlia yang mulai berfikir serius tentang pacarnya tersebut.Apa benar ya yang dibilang mas Anjas kalau Jamal seperti itu,ga yakin juga.Tapi dari cara bicaranya seeh jelas itu akan membuatku semakin yakin juga.
"Apa kamu haus atau lapar Dahlia?"Tetiba Anjas bertanya dengan menjorokkan badannya serta menompangkan tangan menunggu jawaban darinya.
"Engga juga seeh mas,kenapa emangnya!"
Beranjak berdiri lalu mencoba untuk kedapur mencari sesuatu.Ternyata sudah ada makanan dan minuman lengkap,hebat bener ya?rumah tinggal langsung huni dan sudah lengkap dengan apappun yang biasanya ada dirumah seeh.
"Hemm,,kamu haus Dahlia?ada aneka macam minuman lho disini!"Ujar lantang Anjas menoleh dengan senyuman senang.
"Haaah,,,udah ada mas?"Bergegas ia melangkah terburu-buru kedapur dan heran pula melihatnya.
"Lengkap juga ya.Mas Anjas haus ya,aku buatin minum ya!"Bergegas menyiapkan gelas dan membuka serbuk minuman kemasan.
Berjalan mundur,Ia memberikan ruang untuk Dahlia membuatkan minuman untuknya.
"Mas mau minum apa?"Tanya Dahlia menoleh,mungkin dia meminta sesuatu yang berbeda kali.
"Eemm,,kopi aja seru kali ya.Kamu juga ya!"Jawabnya saat idenya keluar.
"Mau pake gula?"Melempar pertanyaan.
"Sedikit aja,nanti malahan diabetes lagi kalau kemanisan!"Jawabnya sinis.
Dahlia pun hanya bisa menahan tawanya sambil membuat minuman untuk partnernya.Sedangkan Anjas pun masih merasakan kalau ia bisa tinggal sama Dahlia,tentunya itu akan membuatnya lebih rileks dan bisa bicara dengan Edward teman kerjanya diBelanda untuk memikirkan selanjutnya kariernya yang sempat ia tinggalkan hanya untuk membuat kesepakatan saat ia bersama Anne.
"Lucu juga ya,nanti kita tinggal bareng trus menikah dan kita punya anak.Anak kita lari-lari pasti kamu yang marah-marah karena anak kita ga bisa diem.Ya kan?"Menoleh membayangkan sebuah khayalan yang belum tentu jelas aslinya.
"Maaass,,,jangan berharap yang engga-engga deh.Kita kenal aja baru kemarin,Mas Anjas bisa aja kalau mikirnya cepet banget ya!"Sambil membawakan minumannya keruang keluarga,menyodorkan minuman untuknya.
"Makasih ya,aromannya nikmat banget kalau kamu yang buat.Kenapa seeh?"Sambil menyeruput secangkir kopi.
"Itu udah kebiasaan kali mas,saya kan biasanya bikin minuman untuk tamu-tamu saya.Jadi rasa dan kwalitas pasti terjaga kan!"Sambil mengumbar senyum kepadanya.
"Kamu minum apa?"Mengernyitkan kening,penasaran banget liatnya.
"Sama mas,cuman saya kan lebih natural rasanya.Gimana saya menikmatinya."
Obrolan itu terus berlanjut dalam setiap seruput kopi dengan natural juga rasa yang berbeda.Senang banget mendapat sebuah jawaban menarik dari seorang pegawai hotel yang semakin renyah untuk berbagi cerita.
"Oke kalau setiap yang kamu katakan itu adalah sebuah artian yang menarik.Jelas itu akan membuatku yakin siapa yang akan menemaniku dalam kegiatan disini."
Masih saja melempar senyum menawan seorang Dahlia,perlahan hatinya lunak saat dekat dengan Anjas.Apalagi saat dirinya mengajak untuk menaiki keatas lantai dua dimana terdapat tiga kamar yang menurutnya sangat cocok untuk dijelajahi bersama.
"Kayaknya kita harus lihat kamar diatas deh.Aku butuh teman untuk saling melempar ide,gimana?"Beranjak berdiri lalu ia mengulurkan tangan kepada Dahlia.
"Menarik juga mas!"Jawabnya menyambut penuh senyuman.
Kali ini Dahlia pun membuka cara berfikir Anjas yang bersikap romantis kepadanya.Entahlah saat dia mencoba mendekapnya sama sekali tidak.ada penolakan yang berarti darinya.Sejak tadi memang hati Dahlia perlahan mulai nyaman dan tak terkejut lagi seperti kemarin-kemarin.
"Aku suka kalau kamu udah mulai mengerti aku ya.Jangan pernah terkejut lagi kalau aku mendekatimu.Itu hanyalah sehuah kerjaan kan!"Mengumbar senyum kepadanya.
"Iya mas,aku tahu kok.Kita kan baru kenal!"Melempar senyum kepadanya.
"Mangkanya aku butuh wanita yang kuat dan punya pola fikir yang dewasa seperti kamu,jadi aku ga bakalan ribet sendiri!"Berjalan menaiki anak tangga menuju setiap kamar.
Terhenti untuk melihat kamar utama yang luas dan nyaman,saat Anjas membuka slot pintu.
"Waooow ini nyaman banget lho!"Tersenyum mendekap pinggul Dahlia lalu menoleh kepadanya.
"Rasanya kalau kayak gini tuh,aku pengen cium kamu deh!"
"Eeiitsss,jangan buat kegaduhan ya.Ini masih sunyi mas.Aku ga ingin mas Anjas berbuat yang tidak-tidak ya."Sambil memberikan peringatan.
"Kamu tuh bisa aja kalau ngeles ya."Melepaskan dekapannya,lalu perlahan masuk dan melihat-lihat sudut ruang menarik untuk ia pandangi dengan sehelai tangan.
Membiarkan Dahlia terhenti melihat kelakuan seorang atasannya untuk melihat setiap desain kamar tidur utama yang tentunya menarik untuk dinikmati.Sampai ia mendekati ranjang serta tengkurap menghempaskan tubuhnya kekasur empuk yang menawan.
"Huuuuuh,,,,nyaman banget!"Senyum serta pejaman mata telah memberikan sebuah harapan untuk bersama orang terkasih.
"Boleh saya lihat kamar kamar mandinya mas?"Tanya Dahlia dari jauh.
"Astaga ini milik kamu sayang,,apa aja yang kamu lihat silahkan !"Jawabnya sok parau sambil menikmati pejaman mata yang mulai menghipnotis dirinya.
"Hahahahah,,,selalu saja mengigau mas Anjas ini ya!"Berjalan mendekati kamar mandi lalu membuka slot pintu.
"Wahhh keren juga kamar mandinya.!"Terhenti dengan menikmati setiap khayalan yang telah merasuki hatinya.Membelai setiap dinding kamar mandi dan merasakan dirinya mandi dengan segar dan menyangka bisa seindah itu.
Tiba-tiba kesadarannya datang saat ia menyadari mulai berkhayal yang aneh-aneh.Sampai senyum-senyum ga jelas gitu menahan rasa malunya.
"Udahlah nanti malahan aku kebablasan dan ga terkontrol lagi bisa bahaya ini fikiran kotorku!"Perlahan keluar dari kamar mandi lalu melihat beneran mas Anjas ketiduran dikamarnya sendiri.
"Aduuuh,,,,gimana mau bangunin ya.Padahal ini kan udah mulai sore!"Sambil mendekati balkon kamar utama serta berdiri bak seorang wanita kuat."Bangunin ga ya?
Tapi sepertinya ia tahu naluri seorang pria ketika tengah lelah pasti aku tidak akan membangunkannya,biarlah dia bangun sendiri dan bisa menyapaku nantinya ya kan?
Ia kembali teringat dengan sosok kekasihnya dan kembali mengingat kalimat-kalimat yang diutarakn oleh mas Anjas,benar juga seeh.Tapi apa dia sejahat itu kepadaku sampai tidak melarangku dekat sama orang sebaik pak Anjas.Apa aku perlahan menyadari apa yang akan dilakukan sama Jamal ya,trus kalau dia udah ga respek sama aku.Apa dia akan ninggalin aku?aduuuh gimana ya nanti aku tinggalnya.Kan itu hadiah dari jamal kosan yang aku inginkan,kalau dia udah ga respek sama aku trus dia mengusirku.Berat banget fikiran ini terlalu jauh untuk diterawang sejauh itu.
Pejaman mata Anjas terbuka dengan berat,sesekali mengucek matanya.Sayu-sayu dia melihat Dahlia tengah berdiri didepan balkon membuatnya heran.Kenapa sama dia ya?apa dia mikirin sesuatu.Beranjak bangun dan berdiri disampingnya lalu menyenggolnya.
"Heiiii,,,ngapain ngelamun kayak gitu!"Sambil bersedekap tersenyum menatapnya.
"Eeehhh,,,mas!"Menoleh kaget sosok pria itu datang lagi nyamperin disampingnya.
"Apa seeh yang kamu fikirin sampai bela-belain kayak patung selamat datang heee!"Mendekatkan wajahnya tawa gelinya terlihat jelas menggoda sang wanita.
"Masss,,,aku memikirkan sesuatu yang privat!"
"Hemm,,,privat?seperti apa!"Makin penasaran aja sama fikiran Dahlia.Apa mungkin dia masih memikirkan kue ulang tahun itu,atau masalah lain.Juga masalah lain apa coba?
Tersenyum ia menoleh dan mengulang kalimat yang diutarakan oleh Anjas bahwa kehidupannya kali ini memang aneh sampai membuatnya harus berfikir lebih jauh lagi untuk kedepannya bersama Jamal kekasihnya.
"Aku masih membayangkan kalimat yang mas Anjas katakan tadi,apa aku harus berada dalam keputus asaan saat melihat pacarku saja tidak perduli sama aku.Malahan ada orang lain yang baik hati dekat sama aku lalu membuatku perlahan nyaman?"Menoleh dan malu-malu ketika kalimat terakhirnya tengah membuat guratan senyum dibibir Anjas.
"Hehehehe,,ga sejauh itu kamu berfikir seberat itu.Kalau hanya masalah kue ulang tahun.Nanti kita beli,tapi kalau sebuah perasaan yang tengah kamu alami.Itu naluri seorang wanita tengah dalam perasaan tak menentu.Yang akhirnya dengan sentuhan tangan untuk mendekap serta mencium tangan Dahlia,ia pun tersenyum kaku untuk menjawabnya.
"Tapi apa dia akan melupakanku mas?"
"Kalau dia melupakanmu,berarti kamu harus tenang dulu dan mengambil keputusan itu dengan hati-hati ya.Hati wanita itu gampang sekali sakit dan lama sembuhnya.Sekarang kamu harus berfikir lagi untuk satu masalahmu saja.Mengerti kan!"Sambil menatap penuh senyuman.
Ia mengangguk dan tak menyadari sebuah pelukan tengah ia inginkan untuk meredam rasa khawatir dalam dirinya hingga ia tak bisa berkata lagi,mengatur nafasnya dengan pelan-pelan serta pejaman mata.Anjas pun memberikan sebuah kecupan kening sampai Dahlia pun tak bisa lagi harus berkata sesungguhnya bahwa aku menginginkan sosok irang lain yang begitu sangat nyaman