The Noble

The Noble
The start of adult life #1



❏ #The Noble


↳ Awal dewasa #1


Mereka sampai di depan rumahnya Melody, ibunya masuk terlebih dahulu sementara Melody masih di luar bersama William. Melody ingin membicarakan sesuatu kepada William sebelum dirinya masuk ke dalam rumah, lalu setelah ibunya masuk ke dalam rumah dia mulai berbicara.


"Maaf mengganggu waktumu.. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi karena sudah mengundang ibuku ke acara megah seperti itu.. Kamu selalu membantuku, aku jadi bingung bagaimana caranya membalas budi.."


"Tidak masalah.. Ibumu juga dulu sering membantuku, apalagi sering memberiku makanan gratis.. Lagipula kamu juga akan bekerja di sana jadi itu bukan malah."


"Oh iya, terima kasih lagi karena sudah memberitahu soal pekerjaan ini.."


"Kita sudah berteman lama, jadi tidak masalah.. Udara semakin dingin dan ini sudah makan, lebih baik kamu masuk ke dalam rumah.. Jika masih ada yang ingin disampaikan maka bisa besok saja saat di kampus, aku pulang dulu.. Selamat malam.."


"Hati hati.."


William melambaikan tangannya lalu meninggalkan rumahnya Melody, lalu dirinya mempercepat jalannya menuju rumahnya. Dia sampai di depan rumahnya dan melihat ada sebuah surat berada di bangku tanya, William mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Setelah di dalam rumah dia mencari tempat duduk dan meletakkan surat tersebut di atas meja, William membaca tulisan yang ada di depannya berisi nama pengirimnya. Nama yang terpampang di surat adalah nama pamannya yang menjaga dirinya dari kecil, karena penasaran dirinya membuka surat tersebut.


"Sebentar, aku cuci kaki dulu dan buang air kecil.."


William meletakan surat itu kembali di atas meja dan bangun dari tempat duduknya menuju ke arah kamar mandi, setelah itu dia pergi mengambil air minum dan membawanya menuju ke surat tadi berada.


Dia duduk kembali dan setelah itu dirinya mulai membaca surat tersebut perlahan lahan, di jalan depan ada sebuah kata "Selamat karena sudah dewasa dan bisa mandiri".


"Paman dan bibi selalu menanggapku anak kecil, tapi apa maksudnya?"


William membaca kata di bawahnya yang cukup panjang, pamannya menulis sesuatu tentang pejalan hidupnya yang belum pernah di ceritakan kepadanya termasuk bibinya juga. Ada beberapa cerita yang menyangkut orang tuanya dan ada yang menyangkut tentang pangan Willy juga, namun lama kelamaan isi surat tersebut semakin berat.


Pamannya bilang kalau William harus siap menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi dari hidupnya sekarang, dia merasa aneh dengan kalimat tersebut. Dia sudah melakukan tanggung jawab yang besar bahkan harus merenggut waktunya, William berpendapat kalau pamannya bercanda karena selalu menganggap dirinya masih anak kecil.


Sekarang pesan dari bibinya, bibi berpesan kalau William ingin pulang ke rumahnya waktu kecil maka harus mencari sesuatu barang yang ada di dalam rumah. Bibinya memberitahu barang apa saja yang harus dia cari, setelah itu pesannya berakhir.


Mereka berdua juga meminta maaf karena tidak bisa ke sana karena banyak urusan di desa, tidak lupa kalau William ingin pulang maka pintunya selalu terbuka untuknya. Mereka juga meminta maaf karena mengirimkan pesan lewat surat dan tidak lewat pesan digital, karena surat tersebut sudah di tulis lama.


Setelah selesai membaca surat tersebut William menutup kertasnya dan membawanya ke kamar, dia meletakkan surat tersebut ke dalam sebuah kotak yang penuh dengan surat ataupun hal lainnya dari paman dan bibinya.


Karena sudah malam dan suhu mulai dingin, William memutuskan untuk tidur. Namun sebetulnya dia memastikan seluruh alat yang tidak di gunakan, saat ingin kembali ke kamarnya tiba tiba dia teringat sesuatu.


Dia membuka ponselnya dan karena takut William menekan tombol panggilan, panggilan tersebut terjawab dan suara pamannya yang dia dengar.


"Halo.. William?"


"Paman.. Paman dan bibi di mana?"


"Apa kamu sudah menerima suratnya?"


"Sudah paman, lalu paman ada di mana?"


"Baguslah, pakan ada di rumah.. Memang ada apa?"


"... Untung saja, tidak apa apa paman.. Terima kasih atas perhatian Paman dan Bibu selama ini."


Setelah berbicara beberapa parah kata mereka mengakhiri panggilan tersebut, William senang karena kejadian yang ada di mimpinya tidak benar benar terjadi. Dia bermimpi kalau Paman dan bibinya akan pergi meninggalkannya, namun ternyata paman dan bibinya hanya pergi liburan di luar negeri.


Karena rasa penasarannya sudah terjawab maka William bisa tidur tenang malam ini tanpa harus memikirkan hal yang tidak penting, dia pergi ke kasurnya dan memasang posisi tidur. Namun karena masih terjaga kesadarannya maka dia bermain dengan ponselnya sebentar, William ingin membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Banyak pesan di grup? Memang ada apa? Biasanya cuman sedikit, tapi ini bisa ratusan pesan.."


William membukanya dan membacanya dari awal, isi pesan di grup tersebut dari awal membahas tentang keluarga mereka terutama keluarga Nixie yang akan bekerja sama dengan keluarga salah satu teman mereka yang ada di grup tersebut. Lama kelamaan semua orang juga membahas kelurganya, William hanya bisa membacanya.


Setelah selesai dengan pembahasan keluarga, mereka mulai mengubahnya menjadi pembahasan tentang hidup. Karena tidak semua orang yang ada di grup tersebut berkuliah, ada juga yang bekerja meneruskan bisnis keluarga mereka karena orang tuanya sudah melatih mati Marian anak mereka.


Lebih banyak orang yang berkuliah dari pada bekerja di bisnis keluarganya karena ingin mendapat gelar saja, mereka anak orang kaya yang ada di grup tersebut sudah pintar pintar maka hanya perlu gelar saja agar di pandang oleh tamu mereka. William bekerja dan belajar dengan giat agar bisa berkuliah dan mendapatkan gelar, karena kalau sudah mendapatkan gelarnya maka dia bisa membuka toko kuenya sendiri tanpa harus bekerja di restorannya paman Willy lagi.


Ibunya Melody sempat menolak tempat di samping restoran karena merasa tidak enak, karena itulah William ingin menggunakan tanah tersebut untuk membuka toko kuenya sendiri. Jika sudah besar maka dia bisa membuka toko keduanya di kota nanti dengan uang tabungnya, dia memang menabung untuk membuat toko kuenya sendiri.


William rasa cocok saja jika dia mulai membuka toko kuenya di samping restoran dan dirinya juga sudah berbicara kepada paman Willy, tanah tersebut aslinya akan di buat untuk lahan parkir karena lahan parkir restoran sudah sempit apalagi sekarang membuka cafe baru di lantai atas. Maka akan lebih banyak orang yang akan ke sana, dua sudah membuat rancangan toko kuenya dari lama.


Sekarang yang hanya dia butuhkan adalah pengalaman dari kuliahnya dan bahan bahannya, paman Willy pernah bilang kalau ingin memperkenalkan seseorang kepadanya. William bisa mendapat bahan kue dari kenalannya paman Willy, setelah itu dirinya hanya tinggal lulus kuliah saja.


Hanya beberapa langkah saja agar mimpinya bisa terwujud, apalagi dia sudah merencanakannya dari lama. Mimpinya tidak lama lagi akan menjadi nyata, William berkhayal sampai lupa waktu. Sekarang sudah jam dua belas malam, dia menaruh ponselnya dan lekas tidur.


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─