The Noble

The Noble
#56



Paman Willy datang dari dapur sambil membawa pesanan dari Candy di saat mereka berdua sedang mengobrol, Candy yang melihat makanannya jadi langsung berdiri. Dia berdiri dan melambaikan tangan ke arah paman Willy, paman Willy menaruh makanannya di atas meja dan mengucapkan beberapa kata dan setelah itu meninggalkan mereka berdua. Candy melihat kue di depannya langsung saja memakannya, William hanya melihatnya dari depan dengan tatapan heran.


“Apakah enak? Atau kamu lapar?”


“..Hm… Dua duanya..”


“Kalau begitu aku tinggal ya?”


“…”


William tidak mendapat jawaban dari Candy, dia berdiri dan saat ingin meninggalkan temannya tersebut dirinya mendapat sebuah panggilan. Dia langsung meraih ponselnya yang ada di sakunya dan membukanya, William melihat sebuah nama yang dia kenal. Kak Dea memanggilnya lewat panggilan, lalu dia menerima panggilan tersebut.


“Halo kak.. Ada apa ya?”


“Halo William.. Kamu di mana? Apa kamu sakit?”


“Aku tidak sakit kak.. Aku sedang bekerja? Memang ada apa kak?”


“Loh.. Bukannya hari ini acara penerimaan mahasiswa dan mahasiswi baru.. Aku mencarimu tadi tidak ada, makanya aku memanggilmu lewat ponsel..”


“…. Aku lupa…. Lalu aku harus bagaimana kak? Apa masih sempat jika aku ke sana.”


“Acaranya mau selesai..”


“……”


“Ada Melody di sini.. Tapi tidak apa apa, hari ini hanya acara pembukaan saja.. Nanti malam akan ada pengenalan para senior dan mahasiswa baru.. Jadi kamu datang saja.. Aku kirimkan alamatnya..”


“…. Terima kasih kak.. Hm.. Ini di mana? Aku tidak tahu? Tanya Candy saja..”


William duduk kembali ke kursinya dan ingin menanyakan sesuatu kepada temannya, namun Candy sedang memakan hidangannya. Dia tidak bisa mengganggu temannya, lantas William menunggu dia selesai degan urusannya. Hidangan Candy habis dan William baru bisa berbicara kepadanya, dirinya menanyakan tempat kepada Candy karena dia tahu Candy suka pergi ke seluruh kota.


“Sudah selesai.. Aku mau tanya.. Apa kamu tahu café RTY?”


“Hehe.. Café RTY ya? Aku tahu.. Memang kenapa?”


“Oh baguslah, di mana tempatnya?”


“Ada di dekat sekolah lama.. Masa kamu tidak tahu?”


“Kamu pikir aku main terus.”


“Hehe.. Kalau begitu bagaimana kalu aku mengantarkanmu.. Kamu menanyakannya dan saat ini aku berpikir untuk makan kue di sana juga.. Aku kangen pergi ke sana..”


“Aku perginya nanti malam.. Kamu pasti ada urusan kan.. Tunjukan saja di mana tempatnya.”


“Tidak kok.. Memang jadwalku ke sana.. Café RTY kan punya ibuku.. Jadi ibuku menyuruhku ke sana untuk mengecek keadaannya.”


“… Serius?... Huh?..”


“Kalau begitu jam berapa nanti.. Akan aku jemput.. Kirim lokasi rumahmu.”


“Tidak usah.. Tunggu saja di jalan raya..”


Setelah mendengar perkataan Candy, dirinya langsung kembali ke dalam dapur. Sebelum itu dirinya membawa piring kotor bersamanya, William menaruh piringnya di tempat pencucian dan langsung mencucinya. Dirinya selesai mencuci tepat saat di mana jam istirahat siang selesai, restoran di buka kembali dan para pekerja mulai bekerja kembali.


Jam makan siang lebih lambat daripada pagi hari dan itu membuat William merasa tenang dengan pekerjaannya, kak Lia masih seperti tadi memperintahkannya untuk membuat hidangan yang sama dan sementara itu kak Lia keluar dari dapur pergi ke arah depan.


“Aku juga lupa melihat kalenderku..”


Kak Lia kembali ke dapur sambil membawa pesanan, salah satunya dia berikan kepada William.


“… Baik kak..”


“Semangat..”


William langsung membuatnya dan selesai sesuai perkiraannya, lalu dia menaruhnya di meja pelayan untuk di antarkan. Dia bekerja seperti itu sampai restoran tutup di pukul tujuh, semua pekerja istirahat sambil meminum dan makan makan di sana walaupun ada yang langsung pulang. Kak Lia menemui William sambil membawa makanan dan dia memberikannya kepada dirinya.


“Terima kasih kak.”


Dia langsung memakannya tanpa sisa karena sudah lapar dan dalam keadaan lelah, habis dia makan tanpa sisa. Setelah itu William melanjutkan pekerjaannya untuk mencuci piring, selesai dengan mencuci dia langsung mengganti pakaiannya dan keluar dari restoran. Tidak lupa untuk pamit terlebih dahulu kepada paman Willy dan kak Lia, setelah itu dia langsung berlari pulang ke rumahnya.


Sampailah di depan rumahnya, dia langsung membuka pintunya dan langsung pergi ke kamarnya. William mengambil pakaiannya dan berlari menuju ke kamar mandi.


“Aku tidak boleh telat.”


Setelah mandi dirinya langsung memakai pakaiannya dan berkaca di cermin yang ada di kamarnya.


“Kurasa seperti ini tidak apa apa.. Kak Dea cuman bilang antara senio bukan? Tidak ada dosen maupun yang lain..”


William selesai dengan bercemin dan berjalan keluar dari rumah, dia membuka ponselnya dan mendapat pesan kalau Candy sudah ada di tempat yang dia janjikan. William langsung berjalan ke sana, dia berjalan santai saja karena tidak mau berkeringat atau membuat pakaiannya lusuh.


Sampailah dirinya di sana dan dia melihat sekitar, ada sebuah mobil yang terpakir lalu dia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada temannya. Sebelum mengirim pesan ada seseorang yang berteriak kepadanya sambil menyebut namanya dan arah suara tersebut dari mobil yang William lihat, dia langsung berjalan ke arah suara tersebut.


“Oh.. Kamu sudah di sini.. Bagaimana dengan orang tuamu? Apa kamu mendapat omelan?.. Pfftt..”


“Tenang saja.. Aku tidak mendapatkan omelan kok.. Tapi.. Kamu telihat berbeda dengan pakaian tersebut William.. Saat bermain denganku ataupun yang lain kamu tidak pernah berpakaian seperti ini.. Apa kamu pergi untuk kencan dengan wanita?”


“Aku menyimpan semua pakaian untuk digunakan di waktu yang tepat saja.. Aku memang ingin bertemu dengan wanita sih, tapi ada banyak di sana..”


“Begitu ya.. Kurasa mereka akan langsung jatuh cinta kepadamu saat mereka melihatmu.”


“Apakah termasuk dirimu?”


“Aku? Pfft… Aku hanya mencintai makanan manis..”


“Sudah cukup.. Aku tidak mau mendengar cerita panjang yang akan kamu ceritakan..”


“Maaf.. Kalau begitu naik..”


William naik ke mobil tersebut dan Candy meminta sopirnya untuk begeran menuju ke tempat tujuan mereka, mereka saling bercerita di dalam mobil sambil Candy memakan kue yang ada di mobilnya. William hanya bisa menerima obrolan dari temannya agar tidak di ceritakan seribu satu makanan manis di dunia ini, tidak terasa tempat tujuan mereka sudah dekat. Sekolah lama mereka mulai terlihat dan itupun masih di pagar paling ujung dan belum gerbang sekolah.


“E… Sekolah serasa masih hidup ya walaupun udah malam..”


“Memang kamu tidak pernah datang ke sekolah malam hari?”


“Buat apa?”


Mereka sudah melewati daerah sekolah dan sekarang menuju ke tempat tujuan mereka, Candy bilang hanya butuh beberapa belokan saja untuk sampai di cafenya. William mengambil ponselnya untuk melihat dirinya di kamera sebelum dirinya sampai di sana.


“Sepertinya kamu beneran kencan ya? Merapikan rambut dan pakaian segala..”


“Apa… Oh iya, makan nanti gratis ya buatku..”


“Enak saja gratis.. Bayar dong..”


“Aku ganti dengan kue istimewa nanti..”


“Janji ya..”


“? Cepat ya..”