
❏ #The Noble
↳ Pengenalan kampus #4
Setelah itu mereka bertiga memakan makanan yang dibawa oleh William, tidak lama kak Dea kembali ke tempat mereka sambil membawa makanannya. Dia menaruh makanannya di atas meja dan langsung duduk di kursi yang kosong yang berada di sampingnya William, setelah itu dia ikut makan bersama mereka bertiga.
“Hm… Apa kalian menikmati kampus ini?”
“Iya kak, aku menyukai tempat ini..”
“Baguslah kalau kamu menyukainya, kalau William?.. Kurasa dia sibuk makan.. Oh iya ini siapa?”
“Maaf belum memperkenalkan diri.. Namaku Amelia, salam kenal kak..”
“Aku Dea.. Salam kenal ya..”
Mereka bertiga saling berbicara dan mengenalkan diri mereka, sementara William masih sibuk memakan makanannya. Karena merasa lapar dirinya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanannya, setelah itu William tidak tahu ingin berbuat apa.
Dia melihat ke tiga orang tersebut sedang asik berbicara dan dirinya tidak ingin mengganggunya, karena itu dia kembali membuka catatannya. Dia melanjutkan mencatatnya karena belum selesai, dirinya hanya fokus kepada buku catatannya sampai tidak sadar ada orang yang memanggilnya.
“William..”
“Maaf.. Ada apa?”
“Aku mau pulang.. Kamu mau di sini?”
“Bagaimana dengan yang lainnya?”
“Kak Dea pergi karena ada yang harus dia urus dan Amelia pulang ke rumahnya..”
“Begitu ya, maaf kalau aku tidak sadar.. Aku juga pulang saja..”
William bangun dari tidurnya dan berjalan bersama Melody keluar dari kantin tersebut, mereka berjalan melewati beberapa gedung yang masih banyak oleh para mahasiswa. Mereka berbicara tentang kampus tersebut sampai di depan gerbang, setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah mereka.
Perjalanan kali ini lebih melelahkan karena siang hari dan kegiatan mereka pada waktu tadi pagi yang lumayan melelahkan, mereka sempat beristirahat sebentar di berbagai tempat di perjalanan mereka. Karena panas memuat mereka semakin mempercepat perjalanan mereka agar cepat sampai di rumah, akhirnya mereka sampai di jalan masuk ke daerah rumah mereka.
“Aku mau membantu ibuku hari ini, bagaimana denganmu William?”
“Hm.. Aku tidak tahu.. Ini masih jam dua belas.. Aku bantu ibumu saja kalau begitu..”
Setelah itu mereka berjalan kembali menuju ke tempat ibunya Melody berjualan, mereka sampai di sana dan banyak orang yang sedang mengantri. Melody langsung membantu ibunya melayani para pelanggan sementara William membantu merapikan tempat untuk para pelanggan di sana, satu persatu pelanggan mulai mengurang dan lama kelamaan tempat tersebut kembali sunyi. Orang orang yang membeli di sana biasanya karena istirahat makan siang, setelah itu pembeli di sana kembali ke orang orang yang lewat pada jam tersebut.
“Terima kasih nak William sudah mau membantu tante..”
“Tidak apa apa tante..”
“Melody juga terima kasih sudah membantu ibu, oh iya bagaimana dengan hari ini?”
“Kampusnya bagus ibu, kurasa Melody akan betah di sana..”
“Baguslah kalau begitu..”
“Apa kalian sudah makan siang?”
“Belum tante.. Saya pesan satu tante.. Makan di sini..”
Ibunya Melody langsung menerima pesanannya dan membuatnya, Melody mendekatinya dan berbisik kepadanya.
“Bukannya kamu sudah makan di kantin tadi?”
“Hm.. Tidak apa apa, aku masih lapar kok..”
“Ini nak sudah siap..”
“Terima kasih tante..”
Dia bangun dari tempat duduknya dan menerima makanan tersebut, dia kembali duduk dan mulai memakan makanan tersebut. Melody melihatnya merasa bahagia karena temannya tersebut selalu membantu ibunya, dia merasa senang mempunya teman seperti William .
Karena tidak tahu mau berbuat apa karena hanya melihat William saja, dirinya bangun dari tempat duduknya dan mulai membantu ibunya mencuci piring. Setelah makanannya habis William menyerahkan piring dan uang, seperti biasa ibunya Melody hanya mengambil piringnya saja dan tidak menerima uangnya.
“Melody, ini ambil.. Seperti biasa..”
“Hehe.. Seharusnya aku tidak menerima uangnya karena ibuku sepertinya tidak mau kamu membayarnya, tapi akan aku ambil dan akan kumasukan diam diam..”
“Terima kasih.. Oh iya tante aku pulang dulu.. Aku mau masuk kerja..”
“Kamu masih mau kerja siang siang begini?”
“Hati hati..”
William meninggalkan tempat tersebut dan berjalan ke arah jalan utama rumahnya, dia berjalan sambil memegang perutnya yang sudah penuh tersebut. Dia ingin cepat cepat sampai rumah dan beristirahat sebentar supaya bisa berangkat bekerja, akhirnya dia sampai di depan rumahnya.
Dia melihat ada sebuah kardus di depan rumahnya, dia membuka pintunya terlebih dahulu dan setelah itu membawa kardus tersebut ke dalam. Dia menutup pintunya dan melepaskan sepatunya, sesudah itu menaruh kardusnya di atas meja dan karena penasaran William membuka kardus tersebut.
“Ini dari siapa? Tidak ada namanya.. Aku buka saja..”
“Isinya baju… Dari kak Lia ya? Dia bilang kalau Nia akan menginap malam minggu nanti sampai minggu sore dan ini pakaiannya ya.. Kalau begitu aku isitarahat terlebih dahulu..”
Dia menaruh kardus tersebut di kamarnya dan setelah itu dirinya ke kamar mandi dan mencuci kakinya, selesai mencuci kakinya dia pergi ke ruang depan dan memasang posisi tidur di sofanya. Tidak lupa William memasang alarmnya untuk membangunkannya, dirinya langsung tertidur dengan tenang.
Alarm berbunyi keras dan membuat William bangun dari tidurnya, dia meraih ponselnya dan mematikan alarm tersebut. Setelah itu dia bangun dari sofa dan melihat jam yang ada di ponselnya, jam satu kurang lima belas menit dan dia langsung bersiap siap. Tidak lupa dia membawa berkas berkasnya dan catatannya tadi, setelah selesai dia berangkat ke tempat kerja. William berjalan ke tempat kerjanya dan dia ingin tepat sebelum jam istirahat selesai, dia mempercepat langkahnya dan sampai di depan tempat kerjanya.
“Untung saja masih ada beberapa menit sebelum buka kembali, masih sepi ya.. Aku cek mesinnya kalau begitu, paman Willy bilang kalau hari ini dia menaruh mesin pesanan agar mudah menerima para pelanggan.. Oh itu ya..”
William mendekat ke arah sebuah mesin, dirinya melihat mesin tersebut dan mengeceknya.
“Oh seperti ini ya.. Wah hebat juga, mari lihat.. Sepertinya sudah banyak yang pakai mesin ini ya..”
“Permisi..”
“Eh iya maaf?”
“Apa anda sedang mengantri?”
“Ah bukan, saya bekerja di sini.. Silahkan gunakan mesin ini jika ingin memesan..”
“Baru ya? Aku belum pernah melihatnya, kalau begitu
apa kamu bisa jelaskan bagaimana menggunakannya?”
“Tentu saja.. Pertama pilih menunya, pilih berapa yang ingin di pesan, setelah itu masukan uangnya dan sebuah kertas keluar dari mesin.. Ambil kertasnya dan tinggal menunggu, jika sudah masuk dan duduk tinggal berikan kertasnya kepada para pelayan.. Begitu..”
“Wah mudah ya.. Terima kasih..”
“Sama sama..”
Setelah menjelaskannya kepada palanggan tersebut William langsung masuk ke dalam restoran, dia masuk ke dalam dan melihat ruangannya sudah bersih dan para pelayan sudah ada di tempat mereka. Dia langsung saja berjalan ke arah dapur dan bersiap siap, para pekerja menyapanya dan dirinya masuk ke dalam dapur.
Sontak semua orang melihat ke arah pintu yang dibuka dan ternyata William yang datang, mereka hanya melihat ke arahnya dan tidak berbicara kepadanya. Namun kak Lia datang dan menyapanya agar suasana tidak tegang kembali.
“Baru datang?”
“Itu kak.. Aku kan harus ke kampus..”
“Benarkah?”
“Iya kak.. Aku sudah ijin paman Willy..”
“Baguslah kalau begitu, kamu masih bisa masuk kerja.. sana pergi..”
William langsung pergi dan mengganti pakaiannya, setelah itu dirinya kembali ke tempatnya dan menunggu restoran kembali di buka. Tidak begitu lama restoran mulai di buka kembali dan mereka bekerja kembali, seperti biasa mereka bekerja keras setiap hari sampai restoran tersebut tutup.
Jam tujuh malam dan restoran selesai beroperasi, para pekerja mulai membersihkan restoran dan pulang satu persatu.
Sementara itu William ijin kepada kak Lia untuk memberikan berkas berkasnya ke ruangan paman Willy, dirinya sampai di depan ruangnya dan membuka pintunya. Paman Willy mempersilahkan dirinya masuk dan William masuk ke dalam ruangan tersebut, dia langsung memberikan berkas berkasnya sekaligus catatannya tadi. Setelah itu mereka membahasnya sampai selesai, mereka selesai sampai jam delapan malam.
Dia keluar dari ruangannya paman Willy dengan keadaan kelelahan, tiba tiba seseorang menyentuh pundaknya dari belakang. William terkejut dan menoleh, ternyata kak Lia yang mengejutkannya. Dia mengajak William untuk naik ke atas untuk membersihkan lantai atas yang ingin di gunakan, William mengikutinya dari belakang kak Lia. Mereka sampai di atas dan ternyata masih ada beberapa pekerja yang tinggal di sana dan ikut membersihkan tempat tersebut, tidak mau kalah dirinya ikut membersihkan tempat tersebut.
“Kalau sudah kalian boleh pulang, ini tugas kalian karena telat..”
“Aku kira semua orang di sini membantuku, ternyata karena mereka kena hukuman… Tunggu, aku juga terlambat.. Jadi aku kena hukuman juga..”
“Iya.. Jangan berbicara dan bersihkan saja..”
Tidak butuh lama tempat tersebut selesai, para pekerja membuang sampah yang mereka kumpulkan dan pulang satu persatu. Di sana tinggal William dan kak Lia, mereka mengobrol tentang tempat tersebut sambil beristirahat. Mereka membahas tempat tersebut sampai larut malam dan William mulai mengantuk, kak Lia melihatnya dan menyuruh dirinya pulang.
Dia pamit kepada kak Lia dan turun dan berjalan pulang ke rumahnya, dia sampai di rumahnya dan membuka pintunya dengan keadaan mengantuk. Tidak lupa untuk melepaskan sepatunya dan mencuci kakinya, setelah itu menggosok giginya dan sesudah itu dia berjalan ke kamarnya. Dia berbaring di kasurnya dan sebelum tidur dirinya mengecek ponselnya.
“Pesan apa kali ini..”
“Kurasa tidak ada yang penting, bagaimana dengan grup.. Banyak yang mengirim pesan.. Oh ada foto.. Kurasa fotonya Nixie dan tunangannya? Oh dia foto sendirian, dia tidak mau membuatku merasa tidak enak.. Dan ini, Candy… Berapa banyak foto yang kamu ambil hey, kamu kirim ke sini semua.. Awas ya.. Tapi lebih baik aku tidur..”
─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─