The Noble

The Noble
Episode 32



William berolah raga beberapa menit dan membuat tubuhnya lelah, dia berhenti berolah raga dan duduk di lantai rumahnya. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan olah raganya kembali, dia haus karena terlalu banyak bergerak. Sambil menunggu tubuhnya beristirahat, dia mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya. Dia duduk sebentar di kursinya sambil memikirkan apa yang ingin dia lakukan besok hari, dia ingin bekerja karena urusan kuliahnya sudah selesai.


Setelah beberapa menit berlalu William melanjutkan olah raganya, dia tidak sadar bahwa sudah berolah raga sampai sore hari tepatnya pukul lima sore. Selesai dengan olah raganya William langsung mengambil pakaian yang bersih yang ada di kamarnya dan berkeinginan untuk mandi terlebih dahulu.


“Huhh.. Aku tidak memaksakan diri kan? Aku taku jika besok aku akan kelelahan…”


“Tapi tidak apa apa, aku masih punya empat hari libur jika aku perlu.”


Setelah mandi dia langsung membuka lemari pendinginnya dan mengambil satu minuman yang dia beli tadi, dia langsung meminumnya sampai habis tanpa tersisa satu pun. William mengambil bahan bahan masakan sekalian karena dia merasa lapar habis berolah raga, dia memasaka makan malamnya sekalian karena dia rasa akan melelahkan nanti jika harus membuatnya pada malam hari.


Setelah selesai memasak, William menaruh makanannya di atas meja. Sebelum dia memakana makan malamnya, dia mengambil ponselnya. Dia mengecek apakah ada pesan yang masuk, ada beberapa pesan yang masuk termasuk dari paman Willy.


“William.. Apakah kamu akan masuk besok hari?”


William membalas pesan tersebut karena dia merasa tidak enak mengambil libur panjang lagi.


“Iya paman.. Karena aku sudah di terima maka kemungkinan besok aku akan masuk kerja, kurasa aku akan dimarahi oleh kak Lia.”


Dia menutup ponselnya dan berjalan menuju ke arah meja makan untuk memakan makan malamnya, setelah memakan makanannya dia langsung mencuci semua piringnya dan sekalian pakaiannya yang kotor. Setelah semua kegiatannya sudah selesai, William memutuskan untuk beristirahat di sofa sambil menonton televisinya. Dia tidur di sofanya dan sesekali membuka ponselnya, dia lupa kalau masih ada beberapa pesan yang belum dibaca.


“Dari siapa.. Aku tidak mengenal nomor ini…”


William membuka pesannya.


“Maaf mengganggu.. Apakah nomor ini punyanya William?”


Dia bingung karena mendapatkan pesan dari nomor yang dia tidak kenal dan lantas dia membalas pesan tersebut.


“Iya? Ini siapa ya?”


Setelah itu pesannya langsung dibalas.


“Maaf.. ini pengawas dari ujian kuliah yang kemarin.. aku memintanya dari Dea.”


“Oh.. temannya kak Dea ya? Ada apa kak.”


“Perkenalan dulu, namaku Vivi.. Aku meminta nomormu dari Dea karena aku lihat kamu lulusan dari sekolah Newxville.. Aku ingin bertanya kepadamu, apakah aku sedang tidak mengganggu waktumu?”


“Aku William dan tidak apa apa kak.. Aku lagi sedang istirahat sambil menonton Televisi, jadi apa yang ingin kakak tanyakan?”


“Baiklah kalau begitu.. Apakah kamu mengenal anak bernama Zea?”


“Zea ya? Hm.. Dia tidak ada di kelasku kak.. Tapi namanya familiar, akan aku tanyakan kepada temanku yang satu kelas.”


“Begitu ya..”


William mencari kontaknya Fauna dan mencoba mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan anak bernama Zea karena William ingat mereka satu kelas, setelah mengirim pesan dia mendapatkan pesan balasan dari Fauna.


“Iya aku tau Zea.. Ada apa kamu mencarinya? Apakah kalian saling mengenal?”


“Iya ada di kelasku.. Dia lumayan pendiam di kelas.”


William mengirim pesan balasan kepada kak Vivi dan membalasnya jika ada anak bernama Zea bersekolah di sana, kak Vivi mengirim pesan lagi kepadanya.


“Baguslah.. Kurasa anak itu beneran ada di sana.. Terima kasih ya William.”


“Eeee.. Sama sama kak..”


William bingung karena kak Vivi menanyakan nama seseorang dan ketika tau orang tersebut ada dia malah terlihat tenang, dia berpikir apakah ada hubungannya Zea dengan kak Vivi. Karena dia tidak mau pikir panjang dan memikirkan urusan orang lain, dia melanjutkan melihat pesan pesan yang masuk ke ponselnya. Satu persatu pesan yang dia terima dibalasnya, dia juga mengecek emailnya. Ada beberapa pekerjaan yang masuk ke emailnya walaupun tidak sebanyak yang kemarin, William langsung mengerjakan pekerjaannya.


“Kurasa aku tidak bisa tidur tenang malam ini.”


Tiga jam berlalu dan akhirnya William selesai dengan pekerjaannya, dia mengecek pekerjaannya sekali lagi sebelum dia kirim. Karena dia rasa sudah selesai, William mengirim pekerjaannya dan beristirahat kembali. Dia berjalan ke arah lemarinya dan mengambil beberapa makanan ringan yang dia beli, dia membawanya ke sofa dan menaruhnya di atas meja. William mengganti siarannya dan melihat tayangan yang ada sambil memakan makanan ringannya, berjam jam dia lewati dan sudah jam sebelas malam. William merasa mengantuk dan ingin tidur, dia mematikan televisinya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci tangannya dan kakinya.


“Aku tidur terlalu malam.. Kuharap besok tidak akan terlambat lagi.”


Setelah mencuci semuanya, dia berjalan ke arah kamarnya dan bersiap siap untuk tidur. Dia mengeacek sekali lagi ke arah luar dari pintu kamarnya apakah ada yang masih menyala, ada beberapa lampu yang masih menyala tapi dia menghiraukannya. William langsung tidur di kasurnya tapi sebelum itu dia meraih ponselnya, dia mengatur banyak alarm pagi karena dia takut bangun kesiangan. Setelah mengatur alarm, dia meletakan ponselnya dan langsung tidur. Bunyi alarm pertama membuatnya bangun dari mimpinya, William langsung mematikan alarm yang dia pasang di ponselnya. Setelah itu dia membuka jendelanya dan menghirup udara segar pada pagi hari.


“Hu…. Kurasa aku tidak bisa berolah raga pagi karena pekerjaanku bisa sampai malam.. Tapi tidak apa apa karena pekerjaanku sudah cukup melelahkan dan bisa dianggap olah raga.”


Dia berjalan keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumahnya, dia berjalan keluar untuk berjemur sebentar di bawah sinar matahari pagi hari yang sangat hangat. Beberapa menit berlalu dan dia rasa sudah cukup hangat baginya, dia berjalan masuk kedalam rumahnya dan mematikan beberapa lampu rumah yang sudah tidak dibutuhkan pada pagi hari. Setelah itu dia langsung berjalan ke arah lemari untuk mengambil sarapannya.


“Aku membeli ini kemarin tapi belum aku makan.. Tapi kurasa bagus untuk pagi hari karena aku tidak perlu membuat sarapan.”


William mengeluarkan satu bungkus roti isi yang dia beli kemarin dan lupa dia makan, dia mengambil dua lapis roti isi dan memakannya. William rasa sudah cukup untuk sarapannya dan berjalan ke arah kamar mandinya untuk mengambil pakaian untuk pergi bekerja, setelah itu dia langsung mandi dan sesudah mandi dia langsung berangkat ke tempat kerjanya. Dia mengunci pintu rumahnya dan berjalan ke arah tempat kerjanya.


“Apakah hari ini aku yang paling awal.. Jika iya pasti aku mendapatkan bonus.. Hehe.”


Dia berjalan dengan tubuh dan perasaan yang bahagia karena bisa bekerja kembali, sampailah William di tempat kerja. Dia berjalan lewat belakang dan membuka pintunya yang terkunci, dia terlihat bahagia karena bisa datang lebih awal. Dia membukanya dan langsung masuk ke dalam, dia mengecek semua satu persatu dan beberapa menit kemudian seseorang masuk dari pintu belakang. William langsung menoleh ke suara langkah kaki orang tersebut.


“Oh William.. Kamu masuk kerja ya.. Dari mana kamu selama tiga hari?”


“Hahaha… Kak Lia.. Itu.. Aku hari pertama mengecek kampus.. Hari kedua aku mendaftar ke sana.. Dan hari ketiga aku terlambat karena mengerjakan pekerjaan yang paman Willy berikan pada waktu hari kedua.. Haha..”


“Begitu ya? Ya karena kamu sudah masuk ya baiklah.. Tapi jarang sekali kamu bisa datang jam segini.. Ini baru jam enam.. Biasanya kamu masuk jam tujuh.”


“Hehe.. Hari ini aku yang pertama..”


“Tidak usah bangga.. Aku tiap hari juga selalu pertama.. Lebih baik kamu tiap hari seperti ini..”


“Kurasa tidak akan bisa… Hehe..”


Mereka saling mengobrol dan obrolan mereka sampai tentang kampusnya Willaim, mereka berdua menunggu para pekerja yang lain datang dan paman Willy untuk membuka Restorannya. Satu jam berlalu dan semua orang sudah sampai semua, paman Willy datang juga dan memerintahkan semuanya untuk bersiap siap. Paman Willy hari ini tidak akan turun tangan karena dia ada urusan jadi kak Lia yang memegang restorannya.


Paman Willy membuka restorannya dan orang orang mulai masuk ke restoran tersebut, kak Lia langsung memerintahkan semuanya bergerak termasuk William. Kak Lia memerintahkan William untuk membuat kue karena orang orang banyak memesan kue, semua yang kak Lia perintahkan William kerjakan dan tidak lupa harus sempurna.