The Noble

The Noble
Episode 50



William memikirkan apa yang bisa membuat paman Willy terbantu dan tanpa sadar dirinya sudah sampai di depan rumahnya, dia membuka pintunya dan masuk ke dalam rumah. William melepaskan sepatunya dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci kakinya, setelah itu dirinya langsung duduk di sofa yang berada di ruang depan dan tidak lupa menyalakan televisinya. Dia ingin beristirahat sebentar dan sambil memikirkan idenya, William mencari saluran yang bisa saja memberikannya sebuah ide.


“Hm.. Sepertinya agak susah.. Apa aku mencarinya saja di internet? .. Kalau masalah seperti ini seharusnya aku menanyakannya kepada seseorang yang lebih tahu.. Candy? Kurasa dia tidak terlalu suka pergi ke caffe.. Yang lain siapa.. Kurasa cuman Nixie yang suka ke caffe.. Hm.. Aku harus melupakannya, dia sudah mendapatkan orang yang lebih baik lagi..”


William selesai dengan mencari saluran yang ingin dia cari dan tidak ada hasil sama sekali, dirinya memutuskan untuk mencarinya di ponselnya. Tapi sebelum itu dia ingin minum terlebih dahulu, dirinya bangun dari sofanya dan berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas. William menuangkan air ke dalam gelasnya dan meminumnya, tiba tiba dia menemukan sebuah ide saat sedang minum. Dia langsung berlari ke kamarnya dan mengambil buku catatannya, dirinya mencarinya di lemari. William langsung membuka buku catatan tersebut dan mencari sesuatu di dalamnya.


“Ini.. Aku dulu pernah mencatatnya saat bersama paman Willy di tempat kerjanya yang lama.. Waktu itu temannya paman Willy banyak membicarakan tentang caffe, aku sengaja mencatatnya siapa tau akan butuh di masa depan.. Kurasa paman Willy yang membutuhkannya.. Kalau begitu aku akan menyiapkan segera mungkin.”


William membawa buku catatannya tersebut ke ruangan depan, dirinya meletakan catatan tersebut di atas meja yang ada di depan sofa. William duduk di sofa dan mulai membaca buku catatannya tersebut, dia membaca buku tersebut dan tidak sadar sudah pukul sepuluh malam.


“…Aku ingin langsung membuat rancangannya, tapi sudah jam segini.. Lebih baik besok saja… Aku akan tidur saja malam ini..”


Dia membawa buku catatannya tersebut kembali ke kamarnya, sebelum tidur dia kembali ke depan dan melihat ke seluruh ruangan dan tidak lupa mematikan lampunya. Setelah itu dirinya pergi ke kamar mandi untuk menggosok giginya terlebih dahulu, susudah itu William kembali ke kamarnya untuk tidur.


Pagi hari dan sinar matahari mulai mengubah suhu di bumi, William bangun dari tidurnya dan langsung membuka jendelanya. Dia mengambil pakaiannya dan langsung mandi, setelah itu dia sarapan sebentar dengan makanan yang selalu dia sediakan yaitu roti lapis dengan isian yang berbeda tiap harinya. Sesudah sarapan dia langsung pergi keluar dari rumahnya dan mengunci pintunya, William berangkat ke tempat kerjanya. Seperti biasa dirinya melewati rumah temannya dan William menyapa ibunya Melody yang duduk di depan rumahnya.


“Pagi tante..”


“Pagi nak William.. Berangkat kerja ya.. Semangat kerjanya.”


“Terima kasih tante..”


William pergi meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju ke tempat kerjanya, setelah sampai dia masuk ke dapur dan langsung membersihkan area yang masih terlihat kotor baginya walaupun sudah di bersihkan oleh orang lain. Di sana sudah ada paman Willy dan kak Lia yang menunggu para pekerja datang dan William menghiraukan mereka berdua dan fokus pada pekerjaannya, semua selesai dia bersihkan dan setelah itu dia langsung menuju ke posisinya. Dia duduk diam sambil menunggu para pekerja lain sampai, tanpa ada pembicaraan ataupun kegiatan yang lain. Seperti itulah tempat para pekerja yang diketuai oleh paman Willy.


“….”


Para pekerja satu persatu mulai masuk dan yang terakhir sudah datang, paman Willy pergi keluar untuk mengecek dan setelah beberapa menit dia kembali ke dapur dan mulai memerintah para pekerjanya mulai bekerja. Satu persatu pesanan datang menghujani mereka dan satu persatu pesanan mulai dihidangkan, tempat kerja tersebut sangat bersemangat karena jika tidak kak Lia akan memarahi mereka. Para pekerja sudah jarang membuat masalah di dalam dapur karena kak Lia, termasuk William yang selalu di bawah bimbingan kak Lia.


“William ambil pesanan ini..”


“Baik kak..”


William mengambil pesanan dan mulai membuatnya, dia membuatnya secara berhati hati dan cepat agar tidak membuat masalah juga lambat dalam membuatnya. Setelah selesai dia langsung menyerahkannya kepada kak Lia, karena dia tidak mendapat perintah dari kak Lia dirinya membantu pekerja lainnya. Pekerjaannya William seperti itu sampai malam hari datang, hari semakin siang dan istirahat bagi mereka yang bekerja datang. William dan pekerja lainnya beristirahat dan mulai memakan makan siang mereka yang sudah disediakan oleh paman Willy.


“… Enak.. Memang makanan buatan paman Willy tidak pernah mengecewakan..”


“E.. Bukan begitu kak.. Makanan kak Lia lebih enak kok.. Aku tidak bohong..”


“…”


William tidak tahu ingin mengatakan apa karena takut salah, dia melanjutkan memakan makanannya dan setelah itu dia membantu nenek Widia mencuci peralatan memasak. Jam istirahat selesai dan mereka mulai membuka tempat tersebut dan kembali bekerja, mereka bekerja sampai tempat tersebut tutup tanpa ada masalah yang datang. Restoran sudah di jam akan tutup dan tinggal menunggu pelanggan terakhir selesai dengan makanan mereka, para pekerja membersihkan dapur dan setelah bersih mereka mulai pulang ke rumah mereka masing masing. William juga selesai dengan urusannya dan ingin pulang ke rumahnya namun kak Lia ingin mengajaknya berbicara sebentar.


“Ikuti aku..”


William mengikutinya dari belakang dan setelah mengikuti kak Lia dari belakang dia mulai berhenti.


“Sepertinya paman Willy sudah menyetujui idemu.. Tapi dia butuh rancangannya..”


“Wahh baguslah kalau begitu.. Untuk rancangannya aku sudah punya kak, kebetulan dulu aku ikut paman Willy dan dia berbicara kepada temannya yang mengelola café.. Aku mencatatnya, jadi aku tinggal menyusunya.. Tapi untuk para pekerjanya bagaimana kak?”


“Baguslah kalau begitu.. Untuk para pekerja biarkan paman Willy yang memilihnya atau kamu punya teman yang membutuhkan pekerjaan?”


“Melody mungkin? Akan aku tanyakan..”


“Oke kalau begitu.. Pulanglah.”


“Baik kak.. Selamat malam.”


William meninggalkan kak Lia dan pulang ke rumahnya, saat di perjalan dia memikirkan rancangannya kembali. Sebeum pulang ke rumah dia mampir terlebih dahulu di rumahnya Melody, dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Melody kalau dia sudah ada di depan rumahnya. William menunggunya dan tidak ada yang keluar sama sekali, dia menunggunya sebentar lagi dan pintu rumah tersebut terbuka. Ibunya Melody keluar dari rumah dan menemuinya.


“Maaf nak William.. Melody sedang sakit jadi tidak bisa keluar rumah, dia memberi tahu tante untuk menemuimu..”


“Maaf kalau menggangu tante.. Kalau begitu lain kali saja, semoga cepat sembuh untuk Melody ya tante.. Saya pulang terlebih dahulu.”


“Hati hati nak..”


William meninggalkan rumahnya Melody dan berjalan pulang ke arah rumahnya.