
Pagi tiba dan William bangun karena alarm ponselnya, dia membuka matanya dan melihat sekitar ruangan tidurnya. Dia meraih ponselnya yang jatuh tepat di sampingnya, William melihat ke ponselnya dan langsung mematikan alarmnya. Lalu dia melihat apakah ada pesan yang masuk ke ponselnya, pesan dari kak Dea semalam masih ada dan belum dia baca karena William ketiduran.
“Hari ini akan lebih berat dari kemarin.”
“Lebih baik aku bersiap siap terlebih dahulu.”
William bangun dari kasurnya dan sebelum dia pergi dari kamar, dia merapikan tempat tidurnya dan membuka jendelanya. Dia membiarkan udara masuk ke dalam kamarnya agar ruangan tersebut tidak terlalu pengap, William berdiri di depan jendela beberapa menit sambil menikmati udara yang lewat. Setelah beberapa menit dia menutup jendelanya dan berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang dapur, karena masih merasa kacau William memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan berkumur.
“Kurasa sudah cukup, aku haus dan lapar.”
William keluar dari kamar mandi dan langsung mencari apa yang bisa dia makan di pagi hari, satu persatu lemari dia buka bahkan lemari pendinginnya. Karena tidak ada yang bisa di makan, dia memutuskan untuk membuat sesuatu. Dia mengambil telur yang ada di lemari pendinginnya dan menaruhnya di suatu tempat, William menyiapkan alat alatnya. Setelah dia membuat sarapannya, William membawa makanannya ke arah sofa. Dia menaruh makanannya di meja dan sebelum dia memakan makanan tersebut, dia menyalakn televisi untuk melihat berita atau hiburan yang ada di televisi.
“Tidak ada yang bagus hari ini dan nampaknya keadaan masih sama seperti hari hari biasa.”
Dia duduk di sofa dan meraih piring berisis makanan, dia mulai memakannya sambil melihat hiburan yang ada di televisi. Setelah William memakan makanannya, dia membawa piring kotornya ke dapur dan langsung mencucinya. Setelah mencuci piring dan menaruh priring tersebut ke temap semula, dia berjalan keluar dari rumahnya. William mengambil kunci yang ada di meja samping pintu, dia membuka pintunya dan berjalan keluar.
“Masih segar tanpa ada suara bising yang datang.. kelebihan tinggal di pinggir kota.”
William berjalan ke pekarangannya dan melihat bunga yang dia taman bersama Melody kemarin, dia berpikir bahwa bunga yang dia tanam akan hancur karena hujan kemarin.
“Kumohon jangan hancur..”
Dia melihat ke arah bunga yang ditanamnya dan masih dalam keadaan bagus walaupun ada beberapa tanah yang hilang di sekeliling bunganya, William mengambil alat berkebunnya dan merapikan tanah yang ada di sekeliling bunganya.
“Ibu.. aku akan menjaga bunga yang ini.”
Beberapa menit dia pandang bunga tersebut sambil mencari cari apakah ada yang kurang ataupun rusak dari bunganya, karena tidak ada hal yang aneh dia meninggalkan bunga tersebut sendirian. Dia berjalan ke arah jalan yang ada di depan rumahnya dan melihat ke kiri dan kanan, tidak ada orang sama sekali yang lewat bahkan binatang pun tidak ada. William berpikir bahwa orang orang yang ada di lingkungannya sudah pergi bekerja ataupun pergi ke pasar, karena di lingkungannya banyak ibu ibu rumah tangga.
“Aku juga harus bersiap siap, kurasa sudah cukup untuk pemanasannya. Sekalian aku juga mau minta maaf kepada kak Dea nanti pas sampai di sana, tapi apakah aku bisa bertemu dengan dia? Dia bilang hari ini akan sibuk.”
William berjalan menuju rumahnya, dia masuk ke rumahnya dan mengambil ponselnya yang berada di sofa. Dia membuka pesan dari kak Dea semalam yang belum sempat dibaca, kak Dea bilang kalau dirinya kemungkinan besar tidak akan bisa bertemu dengan William. William mengirimkan pesan kepadanya bahwa dia tidak apa apa, dia juga bilang akan membelikan makanan jika bertemu untuk permintaan maafnya.
William menaruh ponselnya kembali di atas sofa dan berjalan ke arah kamarnya, dia mengambil pakaian baru dan membawanya ke kamar mandi. Dia mandi terlebih dahulu dan seperti biasa dia mencuci semua pakaiannya yang kotora dan mengeringkannya, setelah melukakn kegiatannya sehari hari dan akhirnya semua kegiatannya selesai. Dia duduk terlebih dahulu di sofanya dan mengambil ponselnya kembali, William melihat jam yang ada di ponselnya masih menunjukan jam delapan pagi. Dia berpikir untuk pergi ke kampus pada siang hari karena William tau kalau pagi hari akan sangat ramai, dia memutuskan untuk membuka pesan emailnya. Banyak yang masuk dari kemarin karena hari ini sudah dua hari dia tidak bekerja, dia membaca semua email tersebut dan akhirnya dia memutuskan untuk mengerjakan tugas dari tempat pekerjaannya sembari menunggu siang hari.
“Banyak sekali.. namun kurasa beberapa yang berat sudah di ambil oleh kak Lia, jika besok aku bisa masuk maka aku akan ditagih makan siang.. percayalah..”
William mengerjakan semua pekerjaannya dan jam masih menunjukan pukul sepuluh, dia merasa harus dan meninggalkan pekerjaannya yang setengahnya sudah dia kerjakan. Dia mengambil segelas air dan membawanya dan menaruhnya di atas meja, dia meminumnya sampai habis dan langsung melanjutkan mengerjakan tugasnya yang belum selesai. Tidak terasa sudah tengah hari tanpa William sadari, dia melihat ke ponselnya dan sudah jam dua belas.
“… Kurasa aku terlalu fokus pada satu pekerjaan..”
Dia langsung menunda pekerjaannya yang hampir selesai itu dan langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil berkas berkas yang dia butuhkan, William memasukannya semua berkasnya ke dalam tas dan membawa tasnya keluar dari kamarnya. Dia mengambil semua keperluannya dan sekalian ponselnya untuk dibawa keluar rumah, dia membuka pintunya dan keluar dari rumah. Tidak lupa dia mengunci pintunya dan langsung berjalan menuju ke kampus, stelah keluar dari pekarangannya dan karena menurutnya akan terlambat dia langsung berlari ke arah jalan raya.
“Aku ingin sepi tapi jika sampai terlambat akan membuat kak Dea kecewa.. aku akan berlari sambil mencari taksi nanti.”
William berlari menuju ke arah jalan raya dan akhirnya sampai, taksi yang dia cari dari ponselnya sudah datang di depannya. Dia masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut langsung berjalan ke arah tujuannya, sesampainya di depan kampus dia melihat masih ada beberapa mahasiswa di sana tapi lebih sedikit dibandingkan dari kemarin. William langsung berlari ke arah ruangan pendaftaran, sampailah di depan ruangan pendaftaran dan masih ada beberapa orang yang menunggu giliran mereka di panggil. Dia langsung mendaftarkan dirinya dan tidak lupa mengelurkan berkas berkasnya, setelah selesai dia ikut menunggu untuk di panggil dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
‘Huh.. kurasa aku akan beristirahat terlebih dahulu dan menyiapkan tubuhku.’
Saat dia sedang duduk dan mengatur nafasnya, ada seseorang yang sedang mengobrol di belakangnya dan suranya sangat familiar baginya. William langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sedang berbicara, saat dia menoleh dan melihat ke arah suara tersebut ternyata dari seseorang yang dia tidak kenal.
‘Aku terlalu lelah untuk percaya..’
Dia kembali ke posisinya dan mengatur nafasnya kembali, William menunggu duduk di sana sampai lima belas menit. Seseorang keluar dari ruangan dan memanggil mahasiswa baru sama sepertinya, dia melihat bahwa mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang mendaftar terlebih dahulu sebelum dirinya. Dia merasa akan di panggil selanjutnya dan sekitar lima menit ada yang keluar dari ruangan kembali.
‘Apakah satu ruangan bisa dua orang lebih?’
Seseorang kembali ke luar dan sekarang giliran dia di panggil.
“Atas nama William silahkan masuk ke dalam ruangan.”
William berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruangan, ada beberapa mahasiswa yang menunggu di dalam juga termasuk orang yang tadi di panggil sebelum dirinya. Ada tiga orang yang menunggu giliran termasuk William di sana, seseorang memanggil tiga orang tersebut untuk masuk ke ruangan dan menyuruh mereka duduk di kursi yang sudah disediakan. Saat di dalam ruangan dan di suruh duduk, dia melihat ada tiga penguji yang duduk di depan mereka dan ada seseorang yang dia kenal. Dia terkejut karena kak Dea yang ada di depannya untuk mengetes dirinya, kak Dea hanya tersenyum kepadanya. Seseorang memberikan kertas tes kepadanya dan salah satu penguji memberi aba aba untuk memulai tesnya, William sekali lagi melihat ke arah kak Dea dan masih tersenyum kepadanya.
‘.. Kenapa aku malah gugup..’
William menghela nafasnya dan seketika tesnya dimulai, dia langsung meraih kertas tesnya dan melihatnya. Dia langsung mengambil alat tulis yang disediakan dan menjawab pertanyaannya, satu persatu soal yang dia lihat langsung di jawab. Lima beleas menit berlalu dan dia selesai dengan semua soalnya, tes yang di berikan berjumlah dua puluh dan waktu yang di berikan adalah tiga puluh menit. Setelah selesai menjawab semua pertanyaanya, William menaruh alat tulisnya dan melihat ke arah para penguji.
“Ah tidak.. aku sudah selesai.”
Para penguji dan dua orang yang ikut tes bersamanya terkejut karena dirinya bisa menjawab dengan cepat, karena rata rata orang menjawab soal yang diberikan paling cepat adalah dua puluh lima menit dan karena William bisa mengerjakannya dalam lima belas menit membuat mereka jadi terkejut. Sepuluh menit lebih cepat dari rata rata orang yang ikut ujian, salah satu penguji berdiri dari kursinya dan mendekatinya. Dia melihat kertas jawaban William dan membawanya ke tempat duduknya dan melihat jawabannya, setelah selesai melihat kertas jawabannya dia memberikannya kepada penguji kedua dan sampailah ke kak Dea.
“Hm.. memang tidak diragukan lagi darimu.. benar semua ya dan kamu yang tercepat.. bahkan kamu memberikan jawaban yang lain.. hanya ada dua orang termasuk kamu yang memberikan jawaban tambahan..”
“Kamu mengenalnya Dea?”
“Iya aku mengenalnya, kemarin dia ke sini untuk melihat lihat dan tanpa sengaja kita bertemu dan aku mengajaknya berkeliling..”
“Kamu tidak memberikan jawaban kepadanya kan?”
“Buat apa? Jika kamu tau dia dari mana, mungkin saja kamu akan semakin terkejut.”
“Maksudnya?”
“Nanti juga kamu akan tau.. oh iya William, karena sudah menjawab tesnya kamu bisa lanjut untuk tes wawancara di ruangan sebelah.. silahkan meninggalkan tempat dudukmu..”
“Terima kasih..”
William bangun dari duduk sambil dilihat oleh para penguji dan kedua orang yang ikut tes bersamanya, dia berjalan keluar dari ruangan tersebut dan bertemu dengan seseorang yang yang memanggilnya tadi. Seseorang yang memanggilnya tadi juga bingung kenpa William keluar dari ruangan lebih cepat dan hanya seorang diri, dia menjelaskannya dan seseorang tersebut terkejut sama seperti penguji yang ada di dalam. Lalu seseorang tersebut mengantarkannya ke ruangan sebelah dan di suruh duduk di kursi untuk tes wawancara, sepuluh menit berlalu dan akhirnya selesai juga dengan wawancaranya.
‘Lumayan susah ya.’
Dia keluar dari ruangan tersebut dan tampak ke dua orang yang ikut tes bersamanya ada di depan ruangannya, salah satunya di suruh untuk masuk ke dalam sedangkan William di suruh untuk menunggu di luar sambil menunggu hasil dari tesnya. Saat keluar dari ruangan dia melihat seseorang yang dia kenal sedang menunggu di depan ruangannya. Lalu dia mendekatinya dan menyapanya.
“Melody?”
“Eh William? Kenapa ada kamu di sini? Dan tanda itu..”
“Aku yang seharusnya bertanya kepadamu.. dan kamu juga punya tanda itu..”
“Dari sekolah menengah sampai berkuliah kita juga bersama..”
“Ya kurasa..”
“Apakah kamu sudah tau kalau aku akan masuk ke sini? Apakah rahasia yang kamu maksud itu untuk mengejutkanku?”
“… Bukan.. ya tapi baguslah.. aku juga sekarang tau kamu berkuliah di mana, jadi aku tidak susah lagi untuk mencari teman mengobrol di tempat baru.. tapi kenapa aku tidak bertemu denganmu?”
“Aku baru saja tes wawancara, mungkin kita tidak bertemu.”
“Berarti waktu aku ujian kamu sedang wawancara.. jadi begitu ya..”
Mereka saling mengobrol dan orang orang yang menunggu panggilan lama kelamaan tinggal sedikit, banyak dari mereka meninggalkan tempat tersebut tanpa menunggu hasilnya. Hanya ada beberapa saja yang menunggu hasilnya termasuk Melody dan William, para penguji keluar dari ruangan dan membawa hasil dan para orang orang mendaftar. Kak Dea lewat di depan mereka dan menyapa William.
“Woo.. kamu baru masuk sudah dapat pacar ya..”
“Hm? Oh Melody itu teman sekelasku dulu..”
“Selamat siang kak..”
“Eeee? Jadi begitu ya? Makanya kalian ini cepat.. oh iya untuk hasilnya akan di umumkan besok, karena banyak yang daftar jadi akan memakan waktu lama.. kurasa aku akan begadang lagi.. kalian berdua pulanglah.. akan aku beri tau hasilnya besok dan kalian tidak perlu datang ke sini.. Melody tanya saja kepada William ya.. aku pergi dulu.”
Kak Dea meninggalkan mereka berdua dan mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah, mereka berjalan bersama ke luar kampus tersebut. Mereka saling bertanya kenapa berkuliah di tempat tersebut sambil berjalan pulang, tanpa sadar sudah sampai di depan rumah makan yang kemarin sempat William beli. William mengajak Melody untuk makan siang bersama, Melody bingung karena dia tidak membawa uang lebih. Karena William juga tidak membawa uang lebih dia bertanya kepada Melody.
“Apakah ibumu masih berjualan? Kalau masih aku ingin makan di sana saja.”
“Ibu ya? Kalau jam segini masih.. kurasa masih beberapa..”
“Baiklah kalau begitu kita ke sana saja.”
Mereka berjalan bersama ke tempat ibunya Melody berjualan makanan.