
William merasa dia sedang diawas oleh kak Lia, setelah meletakkan adonan yang direbutnya tadi dia mulai menuangkan adonan tersebut ke dalam cetakan. Satu persatu cetakan terisi oleh adonan, dia menaruh adonanya setengah cetakan karena ingin mengisi tengah adonan dengan sesuatu. Dia mengisi satu persatu dengan bahan rahasia dan seketika dia meliahat kak Lia yang sudah berada dekat disampingnya sambil melihat William meletakkan isi dari adonan tersebut. Karena William merasa gugup dan tidak enak dia berbicara kepada kak Lia.
“Kak bisakah menjauh sedikit.. aku merasa gugup jika kakak ada disampingku..” tanyanya.
“Ahh tidak apa apa.. aku hanya melihat.. lanjutkan saja..” jawabnya.
“Tapi…”
William akhirnya melanjutkan mengisi semua adonannya ke dalam cetakakan, cetakan terakhir sudah dia isi penuh dan siap untuk diletakannya kedalam oven. Dia meletakannya di dalam oven dan menutupnya, dia mengatur suhu oven dan mengatur berapa lama oven tersebut selesai. Karena tidak ada yang bisa dia kerjakan dan di sampingnya ada kak Lia yang sedang melihatnya, dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya karena keringat muncul dari mukanya. Setelah membasuh mukanya, dia melihat kak Lia mengambil kursi dan meletaknnya di depan oven yang sedang digunaknannya. Dia duduk sambil meminum minumannya yang dibelikan oleh William tadi. Karena kak Lia sedang menunggu kue miliknya dan duduk di depan ovennya, William memutuskan untuk melihat latihan Melody. Dia melihat Melody sedang membuat kuenya, dia menghampirinya dan menyapanya.
“Kamu sudah sampai mana Melody..” tanyanya.
“Ahh William… oh aku sudah sampai mengaduk adonan.. dan kamu sedang apa..” katanya.
“Aku menunggu kueku matang.. tapi sebenarnya bukan aku sih yang menunggu.. itu lihat..” jawabnya sambil menunjuk ke arah kak Lia.
“Haha.. jadi kamu juga membuat kue yaa.. dan sepertinya kak Lia juga penasaran dengan kue buatanmu..” kata Melody.
“Yaa dia memang seperti itu.. jika kamu kenal kak Lia lama pasti akan merasakan perasaan yang sama..” kata William sambil melihat adonan Melody.
Mereka berbicara tentang kue yang dibuat melody dan saling bertanya satu sama lain, karena Melody sedang belajar William memutuskan untuk membantunya beberapa hal seperti menyiapkan cetakannya dan menyiapkan ovennya. Melody selesai dengan adonannya dan ingin menuang adonannya ke dalam cetakan. Sebelum Melody sempat menuangkan adoannya kak Lia mendatanginya dan mengajari beberapa cara untuk menghias kuenya. William yang melihat kak Lia mendekat ke Melody memutuskan untuk kembali ke ovennya. Karena dia sudah meninggalkan oven tersebu sudah lama akhirnya kue buatanya selesai. Dia mengambil sarung tangan dan mengeluarkan kuenya dari dalam oven. Dia meletakannya di atas meja dan menyingkirkan beberapa barang yang ada disampingnya. Ketika dia sedang mendinginkan kuenya tiba tiba kak Lia sudah ada didepannya.
“Halo… kue apa nih…” katanya.
William terkejut akan kedatangannya dan sontak menjawab “Kuetanya aja sama dirimu”. Kak Lia yang mendengar kata tersebut hanya bisa tersenyum di depan William. Dia tidak bisa berkata apa apa dan hanya bisa menunggu kue tersebut dingin. Karena mendinginkan kuenya membutuhkan waktu dia memutuskan untuk menyiapkan bahan tambahan yang sudah dia siapkan tadi. William mengambil toples yang sudah dia ambil tadi dan meletakannya disaming kue. Setelah lama menunggu akhirnya kue tersebut dingin dan siap untuk dikasih bahan tambahan. Sebelum dia sempat menaruh kuenya kedalam toples tiba tiba tangan seseorang mengambil salah satu kuenya. Dia melihat tangan tersebut berasal dari depannya, siapa lagi kalau bukan kak Lia.
“… Enak kan.. hehe.. pasti enak yaa..” tanyanya dengan perasaan yang tidak enak.
“Hmm.. enak juga.. emang tidak pernah mengecewakan kamu yaa..” jawabnya sambil mengambil satu kue dari toples.
Karena kak Lia bilang kue tersebut enak William pun mencoba kue buatannya juga, dia mengunyah perlahan dan merasakan rasa yang belum pernah dia coba sebelumnya. Dia ingin mengambil satu lagi kue dari toples namun tangan kak Lia duluan mengambil kue tersebut.
“Melody.. kesini sebentar.. coba kue buatan William..” katanya sambil berteriak.
Melody yang tadi sedang menuangkan adonan kuenya ke cetakan dan memasukannya ke dalam oven sambil menunggu terpanggil oleh panggilan kak Lia. Melody mendekat dan mengambil kue yang berada ditangan kak Lia yang sedang mengarah ke dia. Melody mengambil kue tersebut dan mulai mengunyah sambil melihat ke arah William.
“Wah ini enak sekali.. ini buatanmu William.. bagaimana kamu membuatnya..” tanyanya.
“Haha.. nanti aku kasih bahannya dan cara membuatnya.” Jawabnya.
“Ahh mana ada kak.. lagian lebih mahir kakak…” katanya sambil mengambil kue.
“Kamu lupa.. menu di sini beberapa dari idemu lohh.. walaupun paman Willy yang menyempurnakannya..” katanya.
“Wah jadi William hebat ya dalam penemuan hal baru..” kata Melody yang senang memakan kue tersebut.
Mereka bertiga memakan kue tersebut satu persatu dan membaginya sama rata. William teringat dengan nenek Widia jadi dia memutuskan untuk menyimpan beberapa dan memberikannya kepada nenek Widia. Tidak lupa dengan paman Willy dia juga menyiapkan beberapa untuk diberikan kepadanya, dia mengambil beberapa kuenya dan berjalan meninggalkan mereka berdua yang sedang asik memakan kuenya dan menuju ke tempat tinggalnya nenek Widia. William sama sekali tidak melihat nenek Widia dibalik pintu karena dari tadi dia ada di sana. Dia mencarinya dan ternyata nenek Widia sedang duduk didepan kamarnya. Dia menghampirinya dan memberikan kuenya.
“ini buat nenek Widia.. aku yang membuatnya.. walaupun tanpa jelas..” katanya sambil menyodorkan kuenya.
“Ahh kue buatan nak William.. pasti enak.. nenek terima.. terima kasih yaa..” jawabnya.
William meninggalkan nenek Widia dengan sekantong yang penuh dengan kue dan melanjutkan menuju ke dapur. Dia melihat kak Lia masih memakan kue buatannya, dia mendekat untuk memakan kue buatannya lagi namun ketika sudah dekat dia sama sekali tidak melihat satupun kue yang berada di toples.
“Loh mana kuenya..” tanyanya.
“Hilang mungkin…” kata kak Lia.
William hanya bisa diam tanpa sepatah kata dan hanya bisa duduk di kursinya, karena dia tidak bisa berbuat apa apa dan dia juga tau kalau kak Lia lah yang mengambil kuenya. Melihat Melody yang masih menunggu kuenya matang membuat William kasihan dan memberikan minuman yang dibelinya tadi. Dia bangkit dari tempat duduknya menuju ke meja mengambil sebuah minuman dan bermaksud memberikannya kepada Melody. Dia mendekat dan memanggilnya.
“Melody.. bagaimana dengan kuemu? Apakah baik baik saja..” tanyanya.
“Iya.. ah aku sedang menunggu kuenya matang.. berkat bantuan kak Lia kuenya tidak ada masalah.” Jawabnya.
“Kalau begitu sambil menunggu kuenya selesai kamu minum aja ini..” katanya sambil memberikan minuman.
“Ah terima kasih William..” jawabnya sambil mengambil minuman tersebut dan meminumnya.
William menemani Melody menunggu kuenya matang, mereka berbincang bincang banyak hal tentang keseruan dan kepenasarannya Melody tentang kuenya William. Dia bertanya apakah William selalu membuat yang enak, namun tidak banyak yang bisa Melody tangkap dari perbincangan mereka karena dirinya masih belajar dan hanya tau dasarnya saja. Melody melihat ke ovennya dan tinggal beberapa menit lagi untuk selesai, sedangkan William melihat ke sekitar apakah ada yang perlu dia bereskan sebelum pembelajarannya selesai. Saat dia melihat sekitar nampaknya kak Lia sudah tidak ada di sana dan pintu belakang terbuka, pikirnya kak Lia berada di kamar mandi ataupun keluar untuk menghirup udara segar.
“Yaa mumpung kak Lia tidak ada mending aku beres beres sisa dari membuat kue maupun alat yang sudah kupakai tadi.” Katanya sambil berdiri dari kursi.
“Eh emang kak Lia kemana? Bukannya tadi dia di sana..” kata Melody.
“Yahh emang dia seperti itu.. tidak ada yang tau dia akan kemana dan di mana.. dia lahir di jaman yang salah.. jika dia lahir di masa perang mungkin dia akan jadi assasin yang terhebat..” kata William sambil membayangkannya.
“Jadi aku lahir di jaman yang salah yaa… maaf jika aku lahir di jaman yang salah.” Kata seesorang dari belakang William.