The Noble

The Noble
Hari Vestival #1



❏ #The Noble


↳ Hari Vestival #1


Suara hujan deras menerjang ke daerah sekeliling rumahnya dan William terbangun dari mimpinya, dia langsung saja melihat ke sekelilingnya yang tampak gelap dan hanya sekecil cahaya saja yang menerangi kamarnya. Dia lalu mengambil ponselnya dan melihat jam berapa dia terbangun, ternyata dirinya terbangun jam dua pagi. Karena masih terlalu dini untuk bangun dan masih merasa lelah, dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk mengambil air minum terlebih dahulu sebelum tidur kembali.


“.. Hujan, aku tidak melihat perkiraan cuaca.. Untung rumah baik baik saja..”


“Lebih baik aku tidur lagi..”


Setelah minum William kembali ke kamarnya dan langsung meletakan tubuhnya di atas kasur, dia mengangkat selimutnya dan melanjutkan tidurnya kembali. Walaupun hujan deras di luar namun dirinya memutuskan untuk tidur apapun terjadi karena besok badannya harus siap untuk beraktivitas, lama kelamaan dia tertidur dengan sendirinya dan bangun di pagi hari oleh alarm ponselnya.


William terbangun lagi dan sekarang oleh alarm ponselnya, dia membuka matanya dan langsung saja berdiri di samping kasurnya. Namun karena baru bangun tidur dia tidak bisa berjalan dengan bebas dan harus menunggu hingga badannya bisa bergerak, setelah menunggu beberapa saat dia baru bisa berjalan dengan tenang menuju ke kamar mandinya.


Dia membasuh mukanya dan menggosok giginya, setelah itu dirinya kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan membawanya ke ruang depan. William duduk di sofanya dan menyalakan televisinya, setelah itu dia bangun kembali dan berjalan ke arah pintu rumahnya. Dia melihat keluar jendela dan hari tersebut cerah tanpa mendung atau gerimis sekalipun.


“Mungkin karena tadi malam hujan.. Baguslah kalau begitu, aku tidak susah untuk menuju ke sana..”


“Tunggu, apa aku harus bekerja setengah hari di pagi hari atau libur saja hari ini? Aku bilang ke paman kalau aku mengambil ijin libur bukan?”


Karena merasa bingung dengan pilihannya, William memutuskan untuk duduk di kursinya dan menunggu jam di mana kegiatan paginya di mulai. Tanpa sadar dia mulai tertidur kembali di sofanya dan tiba tiba ponselnya berdering membangunkannya, langsung saja dirinya mematikan ponselnya dan melihat pesan yang di terimanya.


“Siapa.. Oh Melody, ada apa?”


“Itu William.. Kamu ke kampus jam berapa?”


“Karena harus bersama Nia, mungkin sore hari sampai malam..”


“Kalau begitu boleh bersama ke sana, ibu juga ikut..”


“Jam empat aku akan ke sana, jadi kamu tunggu jam segitu saja dan bantu ibumu..”


“Baiklah.”


Setelah itu William melihat pesan lain yang masuk ke dalam ponselnya, ada beberapa pesan termasuk dari Candy yang dia hiraukan semalam. Karena merasa bosan dia melanjutkan tidur di pagi harinya, masih jam enam pagi dan suasana jam segitu membuat dirinya nyaman untuk tidur kembali. Satu jam berlalu dan dia bangun dari tidurnya, karena sudah terlalu siang dia mulai melakukan kegiatan di pagi harinya.


Beberapa hal dia lakukan seperti membuat sarapan, olah raga maupun membersihkan rumahnya. Tidak lupa juga dia setiap hari menyempatkan waktunya untuk mencuci pakaiannya dan menjemurnya di luar rumah, William ingin sekali membeli pengering untuk pakaian ke depannya. Setelah itu dia keluar dari rumah untuk melihat bunganya, sudah tampak mekar dan bisa di petik.


Dia ingin sekali membawa bunga tersebut ke pemakaman ke dua orang tuanya. Dirinya ingin pergi ke sana hari ini setelah kegiatan hariannya selesai semua, karena sudah berkeringatpun dia ingin mandi terlebih dahulu.


Setelah memetik taksi pesanannyapun datang dan berhenti di depan rumahnya, dia langsung saja masuk ke dalam mobil tersebut.


Tidak lama supir taksi tersebut menjalankan mobilnya, mereka berangkat menuju ke pemakaman umum. Selama perjalanan William memikirkan ke dua orang tuanya apalagi ibunya yang menyukai bunga yang dia bawa, ibunya selalu merawat bunga tersebut sampai banyak di pekarangannya tempat tinggalnya dulu.


Ibunya dulu mempunya berbagai banyak tanaman di pekarangan rumahnya dan yang paling banyak adalah bunga yang ada di tangannya saat ini, walaupun begitu semua tanamannya bisa di rawat dengan baik.


“Dulu bahkan ibu ingin menanam buah juga di halaman rumah, ayah melarang karena sudah tidak ada tempat lagi untuk melangkahkan kaki di halaman.. Namun ibu tetap memaksa dan akhirnya ayah membeli tanah di belakang rumah yang masih kosong belum terisi apapun, cukup banyak mengeluarkan uang untuk membeli tanah tersebut.. Ibu bahagia sekali dan ingin cepat cepat menanam bunganya, namun karena ada suatu masalah ibu harus banyak bekerja dan membereskan masalah di tempat kerjanya.. Tidak lama ibu dan ayah pergi meninggalkanku sendirian.. Jadi tanah yang ada di belakang rumah masih kosong sampai saat ini, aku jarang sekali pergi ke rumah lama.. Mungkin kapan kapan aku akan pergi ke sana, sekalian pergi ke tempatnya Cecile karena dekat dengan rumah..”


Tidak terasa perjalanannya dengan taksi tersebut akan berakhir, William sudah bisa melihat pagar pemakaman. Sampailah dia di depan gerbang pemakaman, dia membayar ongkos ke sopir taksi tersebut dan setelah itu keluar dari mobilnya. Dirinya langsung pergi menuju ke lokasi orang tuanya di makamkan, saat sampai di dekat pemakaman ke dua orang tuanya dia melihat ada seseorang yang terdiam di depannya. Dia langsung saja mendekat ke makam dan menaruh bunganya di atas ke dua makam orang tuanya.


“Paman Willy tidak bilang kalau mau ke sini..”


“Maaf, paman kebetulan lewat sini.. Jadi sekalian saja, aku tidak tahu kalau kamu mau ke sini..”


“Lain kali aku akan mengirim pesan ke paman jika mau ke sini, aku sudah ijin kalau hari ini libur..”


“Kamu mau membawa Nia kan ke kampusmu.. Apa perlu paman antar?”


“Boleh saja.. Melody juga akan ikut bersama ibunya…”


“Kalau begitu nanti paman antar..”


“Jam empat..”


Setelah perbincangan lama paman Willy pamit kepadanya dan ke dua orang tuanya, paman Willy lalu meninggalkan tempat tersebut. Dia masih ada di sana untuk berbicara satu dua kata untuk orang tuanya dan berdoa untuk mereka, dirinya sempat sempat membersihkan makam ke dua orang tuanya walaupun sudah di bersihkan oleh orang makam dan menaruh bunganya dengan rapi agar ibunya bahagia melihatnya. Karena jam sudah menunjukan pukul sembilan dia ingin pulang ke rumah dan kembali membersihkan pekarangannya, dia berpamitan kepada ke dua orang tuanya dan meninggalkan tempat tersebut.


“Aku akan ke sini lagi nanti, ayah dan ibu.. Ke rumah kita yang dulu juga..”


William keluar dari pemakaman dan melihat ke sekitar daerah tersebut, namun sebelum pergi dia mengambil uangnya dan memasukan uang tersebut ke kotak pemakaman untuk orang orang yang sudah mengurus pemakaman tersebut. Karena sudah siang dia memutuskan untuk memanggil taksi lagi untuk dirinya pulang ke rumah, dia menunggu di sana sambil membuka ponselnya kembali.


“Candy.. Sepertinya dia sedang asik di kampusya.. Untuk yang lainnya juga, Nixie juga kelihatan senang di sana.. Semoga saja dia bisa bahagia bersama tunangannya.. Ayolah William, lihat ke depan.. Kamu harus bisa melupakan seseorang yang tidak mendukungmu lagi..”


Sebuah mobil berhenti di depannya dan ternyata taksinya sudah sampai, William masuk ke dalam dan mobilnya berjalan menuju ke rumahnya. Diperjalanan dia membuka lagi ponselnya dan melihat pesan yang masuk ke ponselnya, tidak banyak yang masuk di karenakan masih pagi dan orang orang sibuk dengan urusan mereka masing masing. Tidak terasa dia sudah sampai di jalan raya daerah rumahnya, karena masih lapar dia memutuskan untuk berhenti di depan ibunya Melody berjualan.


“Berhenti di sini saja pak.. Terima kasih..”


─⋅✧⋅ Terima kasih untuk yang sudah membaca ⋅✧⋅─