
William berjalan keluar dari restoran dan menuju mobil taksi yang sedang menunggunya, dia membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalamnya. Dia meminta sopir taksi tersebut untuk pergi ke alamat dirinya berikan, sopir tersebut melihat alamat yang diberikan olehnya dan langsung menyalakan mesinnya dan lansung pergi ke tempat tersebut. Karena tempat yang ingin dia datangi cukup jauh, William meutuskan untuk mengambil ponselnya dan membuka ponsel tersebut. Ada beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya, Dia membuka satu persatu pesan yang masuk dan beberapa ada yang hanya dia balas. Salah satu pesan tersebut dari temannya Melody, dia membuka pesan tersebut dan membacanya. Melody meminta maaf kepadanya karena kejadian tadi pagi, dia menghiraukan William karena sedang terburu buru. Melody menjelaskan kenapa dia terburu buru, dia harus segera pergi ke tempat karena keperluan kuliahnya.
“Tapi aku penasaran di mana Meody akan berkuliah?”
Mereka saling membalas pesan dan tanpa sadar tempat yang ingin William tuju sudah sampai, setelah itu dia mematikan ponselnya sambil mengeluarkan uangnya dan membayar biaya perjalanannya kepada sopir tersebut. William bilang sekali lagi kepada sopir taksi tersebut untuk menunggu dirinya di sana, dia keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke dalam pemakaman. Tempat di mana orang tuanya di kubur dekat dengan pintu masuk, jadi dia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari tempat tidur tenang orang tuanya. Setelah menemukan tempat orang tuanya, dia langsung duduk dan berbicara kepada setumpuk tanah.
“Ibu.. aku bawakan bungan kesukaan ibu.. aku juga punya satu di rumah.. aku baru saja membelinya.. jadi masih segar dan cantik seperti ibu.. ah maaf ayah.. hanya untuk ibu saja..” ucapnya sambil menaruh bunga di atas makam ke dua orang tuanya.
William berbincang bincang di depan makam orang tuanya, dia menceritakan apa saja yang terjadi kepadanya akhir akhir ini. Setelah cukup lama dia memutuskan untuk menyudahi pembicaraannya kepada orang tuanya, dia mengucapkan perpisah kepada orang tuanya dan berjalan keluar dari pemakaman tersebut. Mobil taksi yang dia naiki tadi masih ada di sana, dia lalu menghampiri mobil tersebut dan membuka pintu. William masuk ke dalam mobil tersebut dan meminta sopir taksi tersebut untuk mengantarkannya kembali ke rumahnya, sopir taksi tersebut lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya ke arah jalan raya. Saat dalam perjalanan William berpikiran untuk menyiapkan keperluan untuk masuk ke kampus yang dia datangi tadi pagi, setelah sampai di depan rumahnya William langsung membayar dan keluar dari taksi tersebut. Mobil taski tersebut meninggalkan dirinya, lalu dia berjalan ke pekarangannya dan melihat lihat pekarangannya karena dia juga ingin menanam bunga yang tadi dia belinya.
“Tapi aku mau taruh di mana ya?” ucapnya.
“Aku tidak bisa menaruh sembarangan, karena menanam bunga ini lumayan susah.. ibu dulu bersusah ayah agar bunganya tidak mati.. apa aku taruh di pot saja ya..” ucapnya.
Saat sedang berpikir untuk menanam bunga tersebut, tiba tiba Melody datang ke rumahnya, Melody menyapa William dan dia pun menjawab sapanya. Melody datang ke rumahnya untuk meminta maaf sekali lagi karena dia pikir tidak baik kalau meminta maaf hanya lewat sebuah pesan, William bilang tidak apa apa karena semua orang juga punya waktu sibuk yang tidak bisa di ganggu. Melody yang dari tadi penasaran dengan tingkah laku William yang berbicara kepadanya sambil melihat sekitar membuatnya apakah perminta maafnya terlalu biasa, lantas dia bertanya kepadanya.
“A.. Maaf.. tapi apakah permintaan maafku terlalu biasa atau kamu beneran marah kepadaku?” ucapnya.
“Ah tidak Melody.. aku tidak marah kok…” balasnya.
“Tapi kenapa kamu dari tadi melihat sekitar..” tanyanya.
“Aku sedang mencari di mana tempat yang tepat untuk menanam bunga ini.. karena bunga ini lumyan susah untuk di urus..” jawabnya.
“Bunga? Kamu membeli bunga.. aku tidak tau kamu suka bunga..” katanya.
“Ini bunga kesukaan ibuku.. jadi aku juga ingin menanam bunga ini di pekarangan rumah.. apakah kamu punya ide?” tanyanya.
“Aku juga tidak tau tentang bunga.. kenapa kamu tidak tanya Fauna saja? Dia suka dengan tanaman.. mungkin dia bisa membantumu..” ucapnya.
“Fauna yaa.. hmm baiklah akan kuhubungi dia..” kata William.
“Hmm jadi begitu ya.. kalau begitu apakah bisa ditanam di pot?” tanyanya.
“Tidak bisa.. akar dari bunga tersebut sedikit special jadi lebih baik di tanam di tanah yang luas..” balasnya.
“Terima kasih Fauna.. oh iya apakah kamu ingin melanjutkan berkuliah?” tanynya.
“Iya.. ibuku memintaku untuk berkuliah dan meneruskan penelitian ibuku nanti..” balasnya.
“Yaa memang sih.. ibumu itu peneliti hebat.. oh iya terima kasih yaa.. aku mau menanam bunga ini.. dahh..” katanya.
William mematikan ponselnya dan memberi tau kepada Melody bagaimana menanm bunga tersebut, Melody paham bagaimana dengan menenam bunga tersebut dan bilang ingin membantu dirinya. William bilang terima kasih kepadanya dan mulai mengambil peralatan untuk menanam bunga tersebut, dia berjalan ke pintu rumahny dan membuka pintu tersebut. Lalu dia masuk ke dalam dan mencari alat alat yang di butuhkan, dia keluar dari ruangan peralatan membawa alat alat dan berjalan ke luar rumah. Tidak lupa William membawa bunga yang ada di depan terasnya, dia membawa semuanya ke tempat yang sudah dia tandai. Dirinya mulai menggali tanah sedangkan Melody membantu untuk membersihkan bunganya dari tanah kotoran yang menempel. Setelah lubang cukup dalam, Melody meletakan bunga tersebut ke dalam lubang tersebut. Tidak lupa William menaruh pupuk khusus di dalamnya lalu mereka menguburnya dengan tanah, mereka saling menutup tanah dan akhirnya selesai.
“Huhh.. selesai juga.. bagaimana denganmu Melody?” tanyanya.
“Cukup menyenangkan.. ini pertama kalinya bagiku.. oh iya kamu beli bunga ada di mana?” ucapnya.
“Itu ada toko bunga di jalan raya yang menuju ke arah kota..” jawabnya.
“Jauh juga ya.. kamu ke sana hanya membeli bunga?” tanyanya.
“Ah tidak.. aku ada urusan di daerah sana.. jadi sekalian saja aku membeli bunga ini.. kalau boleh tanya kamu tadi pagi pergi kemana?” tanyanya.
“Aku pergi ke tempat pendaftaran untuk masuk kuliah, karena aku takut banyak orang jadi aku pergi pagi hari.. dan saat pulang aku langsung membeli kebutuhannya.. saat aku lewat depan rumahmu dan mau meminta maaf kamu tidak ada di rumah, makanya aku ke sini lagi..” jawabnya.
“Begitu ya.. baguslah.. aku juga mau membeli kebutuhan buat pendaftaran juga..” ucapnya.
“Wah.. kamu mendaftar di mana?” tanyanya.
“Rahasia.. kalau sudah bisa masuk akan kuberi tau..” jawabnya.