The Noble

The Noble
Episode 24



Sesampainya di jalan raya William menunggu taksi untuk lewat, karena jarak dari rumah dan kampus yang ingin di tujunya lumayan jauh. Dia menunggu taksi untuk lewat di depannya namun tidak ada yang datang dan memutuskan untuk berjalan ke sana, walaupun jarak yang harus di tempuh lumayan jauh tapi William merasa bersemangat karena bisa mendapatkan pengalaman saat berjalan dengan jarak tersebut. Dia melewati berbagai toko dan berbagai tempat makan, dia melihat lihat sekitar toko yang ada di depannya dan toko tersebut menjual bungan. Saat melihat salah satu bunga yang terpajang di depan teras membuatnya teringat dengan ibunya, ibunya sangat menyukai bunga tersebut dan selalu merawat bunga tersebut sama dengan merawat dirinya. Ibunya William dulu pernah sedih karena bunga yang dia rawat layu dan akhirnya mati, saat melihat ibunya yang sedih dia langsung meminta kepada ayahnya untuk membelikan bunga yang baru dan yang sama. Ayahnya menyetujui idenya William dan langsung mengantarnya ke toko bunga terdekat, mereka langsung membeli beberapa bunga tersbut dan membawanya pulang. Setelah sampai di depan rumah mereka ibunya William masih tampak sedih karena bunganya layu, lalu William menghampirinya dan memberikan bunga yang sama kepada ibunya.


“Nih ibu.. aku kasih lagi bunga untuk ibu.. biar ibu tidak sedih lagi..” ucapnya.


“Eh.. ini.. terima kasih ya.. anak ibu bisa aja.. jadi kamu tadi pergi bersama ayah membeli bunga ini…” tanyanya.


“Iyaa.. oh iya aku membeli beberapa bunga yang sama untuk ibu.. jadi ibu jangan sedih lagi yaa..” ucapnya.


“Baiklah.. terima kasih ya.. apa kamu lapar?” tanyanya.


“Iyaa ibu aku lapar.. aku mau makan masakan ibu..” katanya.


Mereka langsung masuk kedalam rumah dan ayahnya William meletakan beberapa bunga sambil menyusul mereka berdua, seperti itulah masa lalu William dulu teringat karena sebuah bunga. Dia berniat ingin membeli bunga tersebut untuk di berikan kepada ibunya di pemakaman nanti, namun dia memutuskan terlebih dahulu untuk pergi ke kampus dan melihat lihat kampusnya seperti apa. Dia melanjutkan perjalanannya dan masih sama dengan berbagai toko saling berdekatan, dia berhenti lagi di depan rumah makan. Rumah makan tersebut menjual makanan laut yang paman Willy sukai, dia teringat dengan pertama kali bertemu dengan paman Willy. Saat masih kecil dan di rawat oleh pamannya, William ikut ke tempat kerja pamannya. Dia bertemu paman Willy di sana, dia memberikan makanan laut yang baru saja dia beli dan ingin dimakan kepada Wiliam. Dia menerimanya dan menyukai makanan tersebut, paman Willy memberikan makanan terus menerus kepada William. Dia ingin membeli makanan yang ada di rumah makan tersebut dan ingin memberikannya kepada paman Willy, namun karena dia harus pergi terlebih dahulu dan karena jika ingin membelinya sekarang dan membawanya ke kampus makan makananannya akan dingin dan tidak enak. Makanya dia akan membelinya nanti setelah pulang dari kampus yang ingin dia lihat.


“Namun aku harus membeli berapa.. di sana pasti ada kak Lia juga.. namun kak Lia tidak suka makanan laut.. jika aku hanya membelikan untuk paman Willy maka kak Lia mungkin saja ingin sesuatu juga..” pikirnya.


Dia melanjutkan perjalanannya sambil memikirkan apa yang akan di berikan kepada kak Lia jika dia nanti akan ke sana, dia berpikiran untuk memberikan sebuh coklat kepada kak Lia namun dia masih memikirkan hal lain. Dia menyimpan idenya tersebut dan lebih baik fokus kepada pikirannya yang sekarang, tidak begitu lama dia sampai di depan kampus yang ingin dirinya datangi. Tampak biasa dari depannya dan tidak begitu bagus namun reputasi yang beredar tentang kampus tersebut sangat bagus, lalu dia masuk kedalam gerbang kampus tersebut dan mencari di mana papan pengumumannya. Dia berjalan ke dalam dan nampak cukup luas daerah kampus tersebut, luasnya hampir mirip dengan sekolahnya dulu namun kali terlihat biasa saja. Saat sedang mencari papan pengumuman William melihat banyak orang yang sedang berkumpul di depan papan, karena dia berpikir bahwa mereka sedang melihat papan pengumuman untuk mahasiswa baru makan dirinya juga mendekat ke arah papan tersebut. Saat sudah dekat dengan papan tersebut dia melihat bahwa pengumuman yang ada di papan tersebu adalah pengumuman untuk mahasiswa yang sudah berkuliah di sana dan bukan untuk mahasiswa baru, saat dia menyadari bahwa tebakannya salah salah satu mahasiswa mendekatinya.


“Kamu jurusan apa di kampus ini?” tanyanya.


“Ah maaf.. aku belum berkuliah di sini.. aku baru melihat lihat, kukira ini pengumuman untuk mahasiswa baru..” ucapnya.


“Oh kamu mau mendaftar ke sini.. aku kira kamu mahasiswa di sini.. kalau begitu akan aku antar di mana pendaftarannya..” katanya.


“Terima kasih kak…” ucapnya.


William langsung mengikuti mahasiswa tersebut ke tempat yang benar, sesampainya di sana mahasiswa tersebut menunjuk ke arah tempat pendaftaran. William melihat banyak orang yang berada di sana yang sedang melihat lihat, dia terkejut karena banyak orang yang ingin berkuliah di sini, sebelum menuju ke arah kerumunan tersebut dia mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa tersebut. Setelah itu dia berjalan ke arah kerumunan tersebut dan melihat apa yang sedang orang orang lakukan, mereka semua sedang menunggu giliran mereka untuk wawancara dan test masuk ke kampus tersebut. Karena William datang ke sana tanpa persiapan dan hanya memutuskan untuk melihat terlebih dahulu memutuskan untuk menjauh dari tempat tersebut dan ingin berkeliling kampus terlebih dahulu sambil melihat lihat sekitar sebelum dia pulang.


“Ada di situ..” ucap seseorang dari dari belakangnya.


William terkejut dan memutar badannya, dia melihat seorang perempuan yang terlihat seperti mahasiswi di kampus tersebut. Lantas dia menanyakan tentang kampus tersebut kapadanya, dia menjawa semua pertanyaannya William dengan jelas. Karena William penasaran kenapa kampus ini terkenal maka dia menanyakannya kepada mahasiswi tersebut.


“Entahlah.. aku juga tidak tau.. namun orang orang berpikir bahwa kampus ini bagus untuk orang kalangan bawah yang tidak bisa berkuliah di tempat orang kaya dan juga di sini bisa mendapatkan beasiswa kuliah gratis juga dan menerima beasiswa dari apapun.. begitulah..” jawabnya.


“Bgitu yaa… oh iya nama kakak siapa kalau boleh tau..” tanyanya.


“Oh iya aku lupa mengenalkan diri.. namaku Dea.. aku mahasiswi tahun ke dua.. lalu siapa nama kamu?” tanyanya.


“Kak Dea ya.. aku William kak.. salam kenal..” ucapnya.


“Lalu kamu jadi untuk masuk ke kampus ini? Apa ada yang mengganjal pikiranmu tentang tempat ini..” tanyanya.


“Kurasa aku akan masuk ke kampus ini kak.. karena pamanku juga dulu masuk ke sini dan kampus ini yang tedekat ke dari rumahku.. tadi kak Dea juga bilang bahwa kampus ini memberikan dan menerima beasiswa sangat baik.. karena aku punya maka akan kugunakan di sini..” ucapnya.


“Baguslah kalau begitu, karena aku lihat kamu anak yang baik.. rumahmu dekat yaa.. lalu sekolahmu di mana?” tanyanya.


“Terima kasih kak.. ah sekolahku dulu ada di Newxville..” jawabnya.


“Newxville… newx.. tunggu.. bukannya itu sekolah elite? Tapi kenapa kamu ingin berkuliah di sini?” tanyanya.


“Yaa seperti tadi kak.. dekat dengan rumah.. lagian aku masuk ke sekolah itu juga lewat beasiswa.. aku hanya dari keluarga biasa saja..” jawabnya.


Lalu mereka berbicara panjang lebar.